
Nafla mulai bisa mengikuti alurnya. Baru saja semalam ia merengek ingin kerja, pagi ini ia sudah diperkenankan langsung datang ke pabrik.
Papa sedikit terkejut mendengar permintaan Nafla yang ingin bekerja di pabrik. Padahal Nafla bisa bekerja di kantor pusat dengan jabatan tidak main-main.
Siang harinya Nafla baru datang untuk mengantar berkas lamaran sebagai formalitas saja. Besok ia baru akan mulai bekerja sebagai tim HRD.
Nafla mempersiapkan dirinya dengan menggunakan blouse polos dan rok span hitam di atas lutut. Rambut ikalnya, ia biarkan tergerai indah, hingga ke pundak.
Ia juga sudah memakai urutan skincare dan make up sederhana bersadasarkan tutorial Youtube. Itulah sebabnya, ia baru bisa berangkat ke pabrik siang ini karena sejak pagi sibuk mencoba make up, hingga gagal berkali-kali.
Nafla menepuk pelan rok span yang ia gunakan, lalu beranjak tegak dari kursi meja rias. Ia sempat dibuat takjub oleh penampilan dirinya sendiri saat menatap cermin.
"Benar-benar superbia."
Tidak ingin terlambat lebih lama, Nafla mengibaskan rambut cokelatnya. Kemudian, berjalan melenggang ke luar kamar setelah menyambar slingbag dan berkas lamaran pekerjaannya.
"Sudah bisa berangkat sekarang?"
Nafla terlonjak kaget saat mendapat intrupsi dari Az waktu ia baru saja menutup pintu kamar. Pemuda itu sedang tidak memakai seragam perawatnya. Kali ini, ia memakai kaus hitam dengan jaket jeans biru denim.
"Kamu mau kemana?" tanya Nafla semari menunjuk penampilan Az. Pemuda itu memang tampak berbeda. Sekarang, ia lebih mirip pembalap jalanan di televisi.
"Kamu lupa kesepakatan tadi malam?"
Nafla menatap Az sebentar, lalu menepuk keningnya sendiri. Ia baru ingat syarat yang diajukan papa, "harus selalu ditemani Azariel."
Nafla berjalan mendekati Az, lalu berbisik. "Kamu di rumah aja, sembunyi. Masalah gaji aman. Aku nggak akan bilang-bilang papa."
Kening Az berkerut. Ia menjauhkan wajahnya dari Nafla, lalu berkata tenang. "Kita pergi sekarang atau nggak sama sekali?"
Pipi Nafla langsung menggembung. Kebiasaannya, jika sedang kesal. Kemudian, ia menghentakkan kakinya berjalan melewati Az. Sedangkan, Az hanya menatapnya datar. Kali ini, ia tidak akan gegabah lagi menerima tawaran suap.
Sepanjang perjalan, Nafla memikirkan cara untuk menyingkirkan Az selama ia bekerja di pabrik. Jika ada Az yang mengawasi, mana bisa ia leluasa menggoda Faiz nanti.
"Kamu udah makan?" tanya Nafla. Ia menolehkan kepalanya pada Az yang tampak serius menyetir.
"Saya puasa."
Mata Nafla tampak melebar, tidak percaya. "Puasa sunah Senin-Kamis?"
"Puasa nebus dosa," balas Az tanpa menoleh. Membuat Nafla mencibir dan mengalihkan kembali perhatiannya ke depan.
Ia ingat, dulu juga pernah dengan begitu percaya diri membawa ijazah Strata 1 yang baru diterimanya datang ke sini untuk mendapatkan pekerjaan. Ia juga bahkan rela antri berpanas-panasan demi menunggu sesi wawancara kala itu. Namun, ia gagal di meja HRD dan justru ditawarkan bekerja sebagai buruh pabrik.
Tidak ada koneksi, tidak ada hoki seperti sekarang. Nafla benar-benar melewatinya seorang diri.
"Mbak Bia udah bisa bekerja mulai besok, ya. Kalau sekarang mau lihat-lihat dulu juga boleh." Seorang wanita berkaca mata menjelaskan dengan ramah tanpa memeriksa berkas lamarannya terlebih dahulu. Jelas-jelas tercium aroma nepotisme di sini, hingga membuat Nafla jengah.
Satu alasan untuk membeci papa kembali Nafla dapatkan. Ternyata pabrik tempatnya bekerja sebagai buruh dulu merupakan salah satu kekayaan milik papa.
Kerongkongannya terasa pedih. Bagaimana bisa papa memperlakukannya sekejam ini?
"Mbak Bia?"
"Iya, saya mau lihat-lihat dulu." Nafla beranjak dai kursi, lantas pergi begitu saja tanpa pamit. Ia tidak butuh ditemani karena ia sudah hafal betul seluk-beluk tempat ini.
Antara gedung perkantoran dan gedung pabrik dipisahkan oleh halaman luas. Halaman yang tampak bersih dengan paving block ini biasanya dijadikan tempat berkumpulnya para karyawan untuk apel pagi dan sebagainya.
Pikiran Nafla kembali mengawang. Sebenarnya, kenangan di tempat ini tidak semuanya buruk. Ia cukup banyak mendapatkan ilmu dan pengalaman di sini. Upah yang ia terima juga sangat layak, sehingga bisa ia bagi juga untuk sang nenek yang kerap menolak.
Ah! Nenek. Kenapa ia sampai lupa dengan sosok yang paling berjasa itu?
Saat teringat pada Nenek, Nafla mengurungkan niatnya untuk berkeliling. Ia membalikkan tubuhnya dan berniat kembali ke laman parkir. Namun, sosok laki-laki gagah bertopi putih yang berjalan dengan langkah lebar memaku pandangannya.
"Permisi."
Faiz menghentikan langkahnya, lalu menolehkan kepala pada Nafla. Seketika senyum manis terkembang di bibirnya. Benar-benar sosok yang ramah, kepalang ramah.
"Jalan menuju parkir di mana, ya? Aku tersesat," ujar Nafla tak kalah manis.
"Mbak orang baru, ya?"
Nafla mengangguk, lalu mengulurkan tangannya yang putih mulus. Kemudian, memperkenalkan dirinya dengan suara lembut, "Kenalkan, aku Bia. Mas siapa?"
***
Baca juga novel kece ini. Jangan lupa tinggalkan jejak.