SUPERBIA

SUPERBIA
Harus Sama Aku



Cepat datang, Kak Azar!


Nafla sudah merasa tangannya sulit dikendalikan akibat gemetar. Sehingga, Faiz dengan mudah menepis alat setrum itu, lalu terpental ke lantai. Kemudian, tertawa menang saat berhasil mengunci leher Nafla dengan lengannya, saat gadis itu mencoba kabur.


Tubuh kekar Faiz, membuatnya tidak kesulitan menyeret paksa tubuh Nafla memasuki ruko dengan sebelah tangan lainnya membekap mulut gadis itu. Mau berteriak pun percuma, hanya terdengar suara teredam yang mungkin semut pun tak mampu mendengar.


Nafla masih mencoba segala upaya yang ia bisa. Ia mencengkram sekuat tenaga sisi pintu besi yang sedikit terbuka, tetapi dengan kasar Faiz menyentaknya, hingga kuku panjang Nafla patah.


Saat melihat Faiz mendorong pintu besi itu dan ingin menguncinya dengan sebelah tangan, Nafla menggelengkan kepala, ketakutan. Ia akan kehilangan harapan, jika sampai pintu itu tertutup.


Memanfaat kesempatan perhatian Faiz yang terbagi, dengan segala kekuatan yang tersisa, Nafla menyikut kuat tepat di ulu hati laki-laki tidak waras itu, hingga terhuyung ke belakang. Faiz mengumpat kesakitan. Kemudian, kembali mencoba menggapai Nafla yang mencoba kabur.


Sebagain tubuh Nafla sudah berhasil keluar dari celah pintu besi ruko. Namun, Faiz berhasil menarik rambutnya. Sekali lagi, Nafla mengepalkan tinjunya dan menghantamkannya ke dagu Faiz dengan tenaga yang tersisa.


Tersengar suara gigi Faiz bergemerak, hingga pemuda itu meninju pintu besi kesakitan. Sialnya, Nafla yang mencoba berlari keluar ruko, justru kaget dan jatuh terkulai ke lantai teras akibat lututnya yang sudah gemetar hebat. Kakinya lemas, tidak lagi bisa digerakkan.


Faiz melangkah maju dengan langkah lebar. Kemudian, membungkukkan tubuh, lantas mencengkam wajah Nafla dan menamparnya dengan keras.


"Brengs*k!" Tidak lama setelah terdengar teriakan itu, tubuh Faiz terjungkal kebelakang, akibat seseorang yang menendang pundaknya dengan keras.


"Berani kau menyentuhnya, ha?!" Az merangsek maju dan tidak membiarkan Faiz punya kesempatan untuk melawan. Ia langsung, melayangkan bogem mentah berkali-kali ke wajah Faiz, hingga dar*h menyembur dari mulut mantan mandor Nafla tersebut.


Az menarik kerah baju Faiz dengan mata berkilat marah. Tidak peduli Faiz berdiri dengan sempoyongan, ia mengeluarkan alat suntik dari tasnya. Kemudian, menancapkannya di pundak pemuda itu, lalu melepaskan cengraman tangannya di kerah baju Faiz, hingga Faiz jatuh berlutut di lantai.


"Apa yang kau suntikan?!" tanya Faiz ketakutan.


Az menyimpan alat suntiknya lagi dengan santai. Kemudian, menjawab dengan tidak kalah santai. "Bius gorila."


Mata Faiz melebar. Ia hendak berdiri, tapi sekujur tubuhnya terasa mati rasa, hingga beberapa laki-laki berpakaian serba hitam datang dan menyergap Faiz. "Jangan main-main kau!"


"Kau yang jangan main-main!" ucap Az tajam. Kemudian, berjalan cepat mendekati Nafla, lalu melipat lututnya ke lantai, tepat di depan Nafla.


"Aku sudah bilang, tunggu aku!"


Nafla yang masih gemetar ketakutan, mengangkat wajahnya, lalu menatap Az yang bersimpuh di depannya. Kemudian, dengan bibir bergetar berkata, "Jangan marah-marah."


Air mata Nafla akhirnya tumpah. Ia mencondongkan tubuhnya, lalu menyenderkan kepalanya ke dada Az dengan tangan yang mencengkram bagian depan baju pemuda itu. Kemudian, tangisnya mulai pecah.


Tubuh Az menegang. Ia meneguk ludah, lalu menggerakkan tangannya pelan untuk mendekap Nafla. "Aku nggak marah," ucapnya lembut.


Az menganggukkan kepalanya saat pria-pria berpakaian serba hitam tadi pergi dengan membawa Faiz. Sedangkan, ia sediri masih membiarkan Nafla selesai dengan tangis dalam pelukannya. Kemudian, mengusap belakang kepala gadis itu dengan lembut tanpa bicara lagi.


Setelah cukup tenang, Az membawa Nafla pergi dari sana. Ia membelokkan mobilnya dan singgah ke apotek terlebih dahulu untuk membeli obat. Namun, saat Az akan keluar dari mobil, Nafla menarik ujung bajunya dan menggeleng.


"Sebentar, ya."


Sekali lagi Nafla menggelengkan kepala. Ia tidak ingin ditinggal Az.


Nafla tampak terkejut, hingga tanpa sadar ia mengendurkan cengkraman tangannya di ujung baju Az. Saat itulah, Az melangkahkan kakinya keluar mobil dan berlari memasuki apotek.


Sembari menunggu Az, Nafla mengedarkan pandang ke segala penjuru arah. Hatinya masih was-was usai insiden tadi. Saat dirasa cukup aman, ia mengeluarkan ponsel dari tasnya dan menemukan ada puluhan panggilan tidak terjawab dari Az dan beberapa pesan.


Azariel Firdaus


Tunggu aku


16.50 WIB


Azariel Firdaus


Jangan pergi tanpa aku!


16.53 WIB


Azariel Firdaus


Angkat telponnya!


16.55 WIB


Azariel Firdaus


Jangan membuatku khawatir, Nafla


17.00 WIB


Tanpa sadar sebuah senyum terulas di bibir Nafla. Ia mengusap foto yang ada di kontak nama Az, lalu tersenyum lagi. Kemudian, buru-buru memasukkan ponselnya ke dalam tas saat pintu kemudi mobil terbuka.


"Minum dulu." Az menyodorkan botol air mineral yang sudah ia buka tutupnya pada Nafla. Kemudian, tampak sabar menunggu gadis itu minum.


Setelah selesai minum, Az langsung membersihkan luka di sudut bibir Nafla dan mengoleskan salep dengan hati-hati. Diam-diam, Nafla memperhatian setiap inci wajah Az. Ia bahkan baru tahu, jika Az punya hidung yang mancung.


"Hidung kamu mancung," ucap Nafla tanpa sadar.


Az yang telah selesai mengobati luka di bibir Nafla, kini tampak beralih memeriksa memar di pipi gadis itu. Kemudian, menutup obat salepnya dengan santai dan menatap Nafla dalam.


"Kalau mau anakmu punya hidung seperti ini, nikahnya harus sama aku."


UHUK!


***


Siapa kemarin yang nagih bab bucin 😏