SUPERBIA

SUPERBIA
Belum Tentu Tidak Ada



Nafla melangkahkan kakinya mundur. Tatapannya masih terpaku pada sosok Papa yang sedang menggenggam tangannya di atas ranjang sembari menghapus air mata.


Kamu ikut Nenek dulu, ya, Nak. Nafla segalanya bagi Papa.


Nafla menutup telinganya dengan kedua tangan, lalu menggelengkan kepalanya berkali-kali. Kemudian, membalikkan tubuhnya cepat, beniat segera pergi dari sana. Namun, ia justru tidak sengaja menabrak seorang perawat wanita.


"Maaf," ucap Nafla lirih tanpa menatap perawat yang baru disenggolnya tersebut.


Perawat wanita itu tersenyum maklum. "Ada yang bisa dibantu?"


Tatapan Nafla masih tampak kosong. Ia hanya menggelengkan kepalanya pelan, lalu melangkahkan kaki melewati perawat tersebut. Awalnya, ia memang berniat pergi secepat mungkin dari sana, tetapi tiba-tiba ia berubah pikiran dan membalikkan tubuhnya lagi.


"Sus?"


"Iya?"


Sejenak Nafla tampak termenung. Pikirannya masih kacau. Ia hanya menolehkan kepalanya pelan ke arah pintu ruang ICU, tempat dimana tubuhnya dirawat. Kemudian, berkata, "Apa ... orang itu sering ke sini?"


Perawat wanita itu tampak tidak mengerti, hingga ia mengikuti arah pandang Nafla dan mendapati seorang laki-laki paruh baya duduk di dalam sana. Kemudian, menatap Nafla lagi. "Tuan Tirta? Tentu saja. Dia orang tua pasien."


Nafla menatap perawat itu tidak percaya. Mana mungkin papa mengkhawatirkannya.


"Seberapa sering?" tanya Nafla memastikan.


"Hampir setiap hari. Ada apa?"


Sekali lagi Nafla menggelengkan kepalanya, lalu benar-benar beranjak pergi dari sana. Meninggalkan perawat yang menatapnya bingung.


Nafla kembali memacu cepat mobilnya. Kali ini, ia tidak sabar untuk segera sampai ke rumah. Ada sesuatu yang harus ia pastikan.


Selama di perjalanan, ponsel Nafla tidak berhentinya berdering. Namun, Nafla sengaja mengabaikannya dan terus saja fokus mengemudikan mobil.


Saat tiba di rumah, tempat pertama yang Nafla tuju adalah kamar papa. Ia melangkahkan kaki tergesa ke arah kamar yang sudah belasan tahun tidak dilihatnya itu. Namun, sayangnya kamar itu terkunci, hingga ia berteriak memanggil Dini, asisten rumah tangganya.


Dini tampak bingung, tetapi karena terus didesak, akhirnya ia menyerahkan kunci cadangan kamar papa kepada Nafla. Tidak sabaran, Nafla memutar anak kunci yang diterimanya dari Dini, lalu membuka pintu kamar. Sekali lagi tubuhnya dibuat menegang.


Nafla melangkahkan kakinya pelan memasuki kamar papa. Kamar yang tidak terlalu banyak berubah dari 15 tahun yang lalu. Kamar yang sebagian dindingnya kini dihiasi banyak sekali foto.


Langkah kaki Nafla tampak semakin lemah dan akhirnya berhenti tepat di depan dinding yang dipenuhi foto dari atas, hingga bawah. Ia mengulurkan tangannya pelan, lalu meraih salah satu foto yang terpajang di sana. Kemudian, menatapkan lama.


Lututnya terasa semakin lemas, hingga ia membiarkan tubuhnya merosot ke lantai. Pandangannya masih terpaku pada foto berfigura putih di tangannya. Foto papa, mama, Bianca, dan dirinya yang sedang tersenyum ceria. Ia ingat foto ini. Foto saat ia dan keluarganya sangat bahagia ketika piknik di taman belakang rumah.


Setetes air mata Nafla jatuh, tepat mengenai kaca figura foto di tangannya. Dengan tangan gemetar, Nafla mengapus butiran air mata itu. Bibirnya juga tampak bergetar saat bergumam, "Mama."


Ia mendongakkan kembali kepalanya, menatap satu persatu deretan foto di atas sana. Air matanya kian mengalir deras saat menyadari semua foto itu merupakan foto-foto lama mereka.


Ada foto Nafla dan Bianca saat kecil, foto papa dan mama. Ada juga foto mereka berempat. Semuanya terlihat sangat bahagia.


Nafla merasakan dadanya sakit, hingga napasnya tersengal. Namun, tiba-tiba pintu kamar terbuka dan papa berjalan cepat ke arahnya. Kemudian, mengambil figura foto dari tangan Nafla dan meletakkannya secara asal ke atas nakas.


"Kamu nggak apa-apa, Bia?" Papa bersimpuh di hadapan Nafla, sembari memegang kedua pundak gadis itu. Raut wajahnya tampak begitu cemas. Sedangkan, Nafla mulai terisak dengan wajah yang telah basah oleh air mata.


"Bia?" Papa kian khawatir. Ia menggenggam tangan Nafla yang gemetar dengan erat. "Ada apa, Nak?"


Tatapan Nafla perlahan beralih. Ia menatap dalam ke manik mata papa meski bibirnya masih bungkam.


Sebenarnya ada apa?


Apa yang tidak diketahui Nafla?


Nafla merasakan napasnya kian sesak. Ia mencengkram kuat bagian depan bajunya, hingga perlahan pandangannya menggelap dan akhirnya kesadarannya menghilang.


Terkadang, sesuatu yang tidak terlihat belum tentu tidak ada, Nafla.