SUPERBIA

SUPERBIA
Nggak Masalah



"Saya kira kamu menyukai Nafla." Papa tersenyum hangat sembari melipat kedua tangannya ke belakang, lalu melanjutkan, "Rupanya yang kamu suka Bianca."


Bibir Az tampak bergerak hendak menampik ucapan papa tersebut. Namun, akhirnya ia memilih mengatup kembali mulutnya. Lagi pula jawaban seperti apa yang harus ia berikan?


Obrolan mereka terintrupsi saat nenek keluar dengan alasan ingin memberikan Nafla waktu untuk beristirahat. Padahal ia sudah tidak sanggup lagi menahan tangis setiap kali melihat wajah pucat sang cucu. Hatinya lagi-lagi teriris menerima takdir sepahit ini. Dulu suaminya, setelah itu putri semata wayangnya dan sekarang justru cucunya tersayang.


Nenek mendudukkan tubuhnya di kursi tunggu dengan tubuh gemetar akibat isak tangis, membuat papa tidak melanjutkan obrolannya dengan Az dan memilih mendekati ibu mertuanya itu. Kemudian, berusaha menenangkannya.


Az menolehkan kepalanya ke arah pintu. Lewat kaca pintu ia bisa melihat Bianca masih berdiri di sisi ranjang Nafla tanpa bicara. Kedua gadis bertukar jiwa itu tampak sibuk dengan pikirannya masing-masing.


Az menekan handel pintu, lantas masuk kembali ke ruang rawat. Ia harus pamit pada Nafla dulu sebelum pergi.


Saat Az masuk, baik Nafla maupun Bianca sama-sama menoleh. Sama-sama menunggu pemuda itu mendekat. Namun, raut wajah salah satu wanita itu berubah saat Az hanya memandang ke satu arah yang sama.


"Aku kerja dulu, ya, Nafla," ucap Az saat berdiri tepat di samping ranjang. Tatapan pemuda itu hanya terkunci pada wajah Nafla. Ia seolah tidak menyadari jika masih ada orang lain di sana, yaitu Bianca.


Nafla mengangguk. Entah mendapat keberanian dari mana, gadis itu mengulurkan tangan kirinya, lantas meraih sebelah tangan Az yang tergantung di kedua sisi tubuh pemuda itu. Kemudian, dengan lembut memainkan jemari Az. "Besok kita ketemu lagi, ya."


Az tidak menjawab karena kerongkongannya terasa begitu pahit. Akhirnya, ia hanya mengangguk saja. Kini tatapannya beralih pada jemari Nafla yang masih bermain dengan jemarinya, seolah enggan membiarkannya pergi.


"Hm, besok kita bertemu lagi," balas Az pelan. Ia meraih tangan Nafla yang dari tadi tampak asik memainkan jemarinya. Kemudian, menggenggam tangan pucat itu sembari mengusap punggung tangan Nafla dengan jempolnya.


Raut wajah Az tampak tidak nyaman saat matanya menangkap angka yang ditunjukkan jam hitam di pergelangan tangan kiri Nafla. Sekarang angkanya sudah jauh berkurang dari yang terakhir kali ia lihat, yaitu 28:36.


Nafla yang menyadari perubahan raut wajah Az, langsung menarik tangannya. Kemudian, berkata dengan sebuah senyun yang entah apa artinya. "Sekarang aku tau maksud angka ini."


Sungguh, untuk saat ini Az sama sekali tidak ingin tersenyum. Jadi, ia kembali menjawab tanpa senyum di bibirnya. "Apa?"


"Aku akan kembali ke tubuhku sendiri saat angka di jam ini tepat menujukkan angka 00:00," balas Nafla yakin.


Az tidak langsung memberikan respons terhadap tebakan gadis yang dicintai itu. Ia tampak diam sejenak, lalu berujar pelan, "Semoga."


***


Setelah meminta sopir mengantar nenek pulang, papa pergi menemui dokter di ruangannya. Seperti biasa, ia harus menguatkan hati untuk menerima apapun hasil yang disampaikan dokter. Sedangkan, di ruang rawat ada Bianca yang menjaga Nafla.


"Bagaimana, Dok?"


Dokter tidak langsung menjawab. Ia memandang papa cukup lama. Begitu banyak orang tua hebat seperti Tirta yang ia temui selama masa pengabdiannya. Orang tua yang tidak pernah menyerah untuk memperoleh kesembuhan sang anak.


"Perkembangan sel kankernya sangat cepat," ucap Dokter akhirnya. "Sehingga, kemoterapi harus segera dilakukan."


Papa mengusap wajahnya kasar. Namun, ia masih mencoba menguatkan hati. Semenjak beranjak dewasa, Bianca memang menolak melakukan kemoterapi karena hal itu pelan-pelan akan menganggu organ tubuhnya yang lain.


"Tubuh Bianca semakin melemah. Untuk saat ini yang bisa kita lakukan hanya melakukan transfusi darah demi menyelesaikan satu masalah, tetapi masalah lain juga butuh segera ditangani."


Papa menundukkan pandangannya. "Apa yang harus saya lakukan sekarang?"


"Saya sudah berkonsultasi dengan profesor saya dulu. Beliau merekomendasikan rumah sakit untuk Bianca di Singapura. Perlengkapan dan pengalaman mereka sangat ...."


"Lakukan apapun asal nyawa putri saya selamat," balas papa getir.


***


Malam sudah larut saat Nafla membuka matanya. Sejak kepergian Az tadi, ia memang langsung terlelap. Ia merasa tubuhnya begitu lelah dan tidak bertenaga.


Bianca yang tampak termenung, sontak mengalihkan pandangannya ke arah Nafla. Kemudian, bergumam. Gadis itu tidak terlalu banyak bicara hari ini.


"Papa mana?"


"Setelah menemui dokter, Papa pergi."


Kali ini Nafla yang mengangguk. "Nenek?"


"Pulang."


Nafla mengangguk lagi. Sebenarnya ia tidak tega melihat wajah sedih sang nenek saat bertemu tadi. "Biarin nenek istirahat," balasnya.


Hening beberapa saat. Rasanya saat ini tidak ada topik yang menarik untuk dibahas. Keduanya, tampak terperangkap dengan pikiran masing-masing.


"Gimana kalau tebakanmu salah?" Tiba-tiba Bianca bicara saat Nafla nyaris memejamkan mata. Ia merasa tubuhnya terasa begitu lemah, hingga membuatnya mudah mengantuk. "Tebakan apa?"


"Jam itu." Bianca melirik jam hitam legam yang melingkar di pergelangan tangan Nafla. Diikuti oleh Nafla yang memandang ke arah yang sama.


Kini angka yang ditunjukkan jam itu adalah angka 24:17 dan semakin berkurang setiap waktunya. Nafla mengangkat kedua bahunya ringan seolah tidak mau ambil pusing, hingga membuat Bianca menatapnya dengan pandangan tidak terbaca.


"Gimana kalau sebaliknya?" lanjut Bianca.


"Maksudnya?"


"Bagaimana kalau angka itu bukan menunjukkan waktu kembalinya roh ke tubuh kita masing-masing, tapi ...." Bianca menjeda ucapannya sejenak. "Batas terakhir sebelum pintu pertukaran jiwa tertutup?"


Bianca penasaran dengan reaksi Nafla. Namun, tampaknya kakaknya itu masih biasa-biasa saja, hingga Bianca kembali melanjutkan, "Dan ... Selamanya kita terjebak di tubuh yang salah."


Nafla tetap tidak bereaksi. Ia hanya menatap Bianca dengan mata sayu. "Benarkah?"


"Aku cuma mengandai-andai."


"Ya sudah."


"Kamu nggak masalah?" Bianca menatap Nafla, lalu dengan hati-hati melanjutkan, "Setiap hari minum obat, melakukan kemoterapi dan pada akhirnya ... nyawamu tetap nggak selamat."


Nafla tampak termenung. Kemudian, menoleh, menatap Bianca. "Kalau aku mati di tubuhmu, kamu tetap akan baik-baik saja di tubuhku, kan?"


Kening Bianca mengernyit, tidak mengerti.


"Kalau nggak berpengaruh buruk untukmu, ya ... nggak masalah," lanjut Nafla santai.


"Nafla?"


Nafla mengulum senyum lemah, lalu menggenggam tangan Bianca. "Kamu adikku."


***


Sambil menunggu SUPERBIA update, aku punya rekomendasi novel menarik, nih, buat kamu. Kepoin dan tinggalkan jejak di sana, ya.