SUPERBIA

SUPERBIA
Bod*h



"Dihukum ... kenapa?"


Nafla sudah susah payah menyelesaikan pertanyaannya. Namun, Az dengan menyebalkannya menjawab, "Karena dihukum."


Mungkin namanya bukan Azariel Firdaus kalau menjawab pertanyaan orang dengan benar. Nafla sampai mendecih kecil, saking jengkelnya. Namun, raut wajahnya kembali berubah saat melihat Bianca meraih tangan kanan Az dan menggenggamnya.


"Temani aku. Aku mau kamu ikut."


Az yang awalnya memandang Nafla, mulai menurunkan pandangannya dan menatap Bianca yang memegang tangannya. Sebuah senyum lembut terulas di bibir Az, tetapi sesaat kemudian kepalanya menggeleng tegas.


"Aku nggak bisa," ucap Az sembari melepaskan pegangan tangan Bianca dari tangannya. Kemudian, pamit keluar dari sana. Mengabaikan wajah kecewa Bianca yang terus menatap kepergiannya yang menjauh.


Nafla juga melakukan hal yang sama. Ia juga memandang kepergian Az, lalu menyusulnya dengan langkah lebar. Meninggalkan Daniel yang memandangnya dengan sorot mata tidak terbaca. Sedangkan, Bianca kini memilih menundukkan kepalanya.


"Az!" Nafla sedikit berlari menyusul langkah Az. Sehingga, membuat Az menghentikan langkah dan memutar tubuhnya menghadap Nafla.


"Kamu dihukum kenapa?" tanya Nafla tidak sabaran. Rupanya gadis itu masih penasaran, hingga membuat Az tersenyum kecil.


"Gara-gara kamu," balas Az ringan.


"Jadi beneran gara-gara aku?" Nafla membulatkan matanya, lalu melanjutkan, " Gara-gara kita ... pelukan?"


Az mengangguk tanpa melepas senyum di bibirnya. Bisa-bisanya es balok itu tersenyum di saat-saat seperti ini.


"Nggak mungkin! Masa cuma pelukan dihukum, Az?"


"Setiap tempat punya peraturannya sendiri, kan?"


Nafla masih tidak habis pikir. Jadi, ia terus bergumam dengan dirinya sendiri, hingga membuat Az mencubit pipinya gemas. Eh?!


"Az!" Nafla memekik kaget, lalu memundurkan kakinya selangkah. "Kamu mau dapat hukuman lagi?"


"Nggak apa-apa, asal hadiahnya kamu."


Uhuk!


Seketika wajah Nafla bersemu merah. Namun, ia sadar sekarang bukan saatnya untuk malu-malu.


"Az?"


"Hm?"


"Tolong temani Bianca ke Singapura."


Akhirnya senyum yang betah bertengger di bibir Az siang ini pudar juga. Ia menatap Nafla dalam, lalu menggeleng. "Aku nggak bisa."


"Kenapa?" Nafla melangkahkan kakinya lagi, mendekati Az, lalu melanjutkan, "Karena masih di masa hukuman?"


Az tidak menjawab pertanyaan itu. Ia masih menatap Nafla dalam.


"Kalau nggak bisa menemaninya sebagai perawat, seenggaknya temani dia sebagai Azariel Firdaus," lanjut Nafla.


Az masih saja bungkam. Tatapannya masih saja terpaku pada wajah Nafla.


"Apa hatimu nggak sakit?" tanya Az tiba-tiba. "Karena hatiku sakit kamu perlakukan begini."


Az memutar tubuhnya, lantas melangkahkan kakinya menjauh. Meninggalkan Nafla yang diam-diam meneteskan air mata.


Siapa bilang nggak sakit? Aku sampai susah bernapas karena rasanya terlalu sakit, Az.


***


Bianca sudah duduk bersandar di atas ranjang. Sorot matanya tampak kosong saat menarik pengait dan melepas jam hitam di pergelangan tangannya. Kemudian, meletakkannya begitu saja di atas nakas.


Daniel yang cukup peka dengan situasi yang telah terjadi, memilih duduk di kursi samping ranjang, lantas mengambil sebuah jeruk di atas meja. "Mau jeruk?"


Bianca menganggukkan kepalanya pelan. Kemudian, tangis yang sejak tadi mati-matian ia tahan akhirnya pecah juga, hingga membuat Daniel kelabakan. Ayah satu anak itu sontak berdiri, lantas memeluk Bianca, mencoba menenangkan.


"Nggak apa-apa. Semua hal nggak harus selalu seperti yang kita mau," ucap Daniel sembari menepuk punggung Bianca.


***


Cukup lama Nafla berhasil untuk menenangkan dirinya sediri di toilet. Ia membiarkan dirinya menangis hingga puas, lalu mencuci wajahnya. Hatinya patah karena ulahnya sendiri.


Saat Nafla masuk kembali ke ruang inap, Daniel sedang membukakan jeruk untuk Bianca. Sejenak, Bianca menatap Nafla, lalu kembali mengunyah jeruknya lagi tanpa bicara.


"Mas lebih baik pulang dulu. Kasian Jia," ucap Bianca akhirnya. "Aku ... mau bicara sama Nafla."


Daniel mengerti, jadi ia memilih patuh dan pamit pada kedua adik-kakak tersebut. Ternyata hubungan mereka dengan perawat bernama Azariel Firdaus itu begitu rumit.


Setelah kepergian Daniel, suasana terasa canggung. Keduanya sama-sama diam, hingga perhatian Nafla terfokus pada jam hitam di atas nakas. "Kamu lepas?"


"Iya."


"Kenapa?"


"Buat apa juga?" Bianca menatap Nafla, lalu melanjutkan, "Kak Azar udah tau semuanya, kan?"


Nafla bungkam. Ia tidak mau sampai Bianca salah paham.


"Dari awal, aku udah curiga Kak Azar sadar kita udah bertukar jiwa," lanjut Bianca. Sorot matanya tampak sedih saat melanjutkan, "Aku aja yang selalu bodoh sampai terus-terusan membohongi diriku sendiri cuma untuk mendapatkan perhatian Kak Azar."


"Bia?"


Air mata Bianca perlahan menetes. "Maafin aku, ya, Naf. Berkali-kali aku jadi penghalang antara kamu dengan orang yang kamu cintai. Dulu papa, sekarang Kak Azar."


Nafla bangkit, lantas menarik tubuh Bianca ke dalam pelukannya. Kemudian, ikut menangis bersama. "Bianca, kehadiran kamu jadi salah satu hal yang aku syukuri di dunia ini."


Nafla melonggarkan pelukannya, lalu mengecup kening Bianca. Kemudian, melanjutkan, "Jangankan Papa dan Az, kamu minta diriku sendiri, aku juga nggak akan keberatan."


"Nafla bod*h!" desis Bianca, lalu ia kembali menyandarkan kepalanya ke dalam pelukan Nafla dengan tangis terisak. "Aku juga beruntung punya kakak sebodoh kamu, Naf."


"Hei!"


Bianca tertawa, lalu melanjutkan, "Aku harap kamu bisa mencintai dirimu sendiri, Naf. Aku harap ... kamu bahagia."


***


Jika : Hai, hai, hai! Kali ini aku mau promo nopel sendiri.


Readers: Hah? Novel baru lagi, Jika? Yang ini dulu tamatin!


Jika: Tenang! SUPERBIA, kan, udah mau tamat, Kakak.


Readers: Kok bisa? Kan baru rilis.


Jika: Diem aja napa 😒


Readers: Oke-oke. Nopel satu lagi nggak pake mikir, kan, Jika?


Jika: Kagak


Readers: Nggak hantu-hantuan lagi, kan, Jika?


Jika: Kagak


Readers: Nggak ada malak-malak vote lagi, dong?


Jika: Oh, kalau yang ini jawabannya ... MASIH! Jika nggak malak bukan Jika namanya, wkwkw


Udah, ah! Cus paporitin dulu~


Aku pantau kalian 👀