SUPERBIA

SUPERBIA
Berjalan Mundur



Tangan Nafla terulur dan meraih salah satu kado di dalam lemari. Ukurannya tidak terlalu besar, bahkan bisa dibilang kecil. Namun, ada kartu ucapan yang terkait disana. Nafa membacanya.


Selamat ulang tahun ke-21 untuk buah hati yang kami harapkan selalu sehat dan bahagia: Nafla Afanin Tirta.


Harusnya Nafla tersenyum bahagia membacanya. Namun, entah kenapa ia justru menitikkan air mata. Tetesan air mata yang perlahan berubah menjadi sesegukan.


Perlahan Nafla merobek kertas kado yang sedikit berdebu tersebut. Rupanya sebuah kotak kayu terbungkus di sana. Kemudian, ia membuka kotak tersebut hati-hati dan menemukan sebuah jam tangan dengan rantai berwarna hitam di dalamnta. Nafla menghapus air matanya, lantas mengeluarkan jam tangan tersebut dari kotak.


Ia memperhatikan jam digital yang tidak lagi menampilkan angka meski ia menekan tombolnya. Mungkin baterainya habis. Setelah meletakkan kotak ke atas ranjang, Nafla memakaikan jam tadi pergelangan tangannya.


"Terima kasih, Pa."


Tiba-tiba layar jam tangan tersebut menyala dan menunjukkan angka 72:00. Angka yang cukup aneh untuk ditunjukkan oleh penunjuk waktu. Anehnya lagi, angka di jam itu bergerak mundur. Kini angkanya sudah menunjukkan 71.57.


Kening Nafla mengernyit. Namun, ia memilih tidak ambil pusing. Ia menarik pengait jam dan hendak membukanya, tetapi tidak bisa. Jam itu seolah terkunci di pergelangan tangan kirinya.


Nafla panik. Ia mencobanya menarik pengaitnya lagi, tetapi pengait rantai jam tetap terkunci. Di dorong ke atas juga tidak bisa.


"Bagaimana ini?"


Sudah menjadi rutinitas papa, jika pulang langsung menuju lantai dua. Selain karena ruang kerja dan pustaka pribadinya ada di sana, ia juga rutin memasuki kamar Nafla.


Mata papa tampak melebar saat melihat dari jauh pintu kamar putri sulungnya itu sedikit terbuka. Ia melangkahkan kakinya cepat mendekati kamar Nafla dan menyingkap pintunya. Selama ini tidak ada yang pernah memasuki kamar itu selain di waktu-waktu tertentu untuk dibersihkan.


"Bianca?" Kening papa berkerut saat mendapati Bianca ada di sana. Gadis itu tampak tersentak kaget.


Papa berjalan mendekat, matanya melirik ke arah pintu lemari yang terbuka, lalu ke atas ranjang. Di sana ada sobekan kertas kado dan sebuah kotak kayu yang di buka Nafla tadi. Kini tatapan papa beralih pada jam berantai hitam yang di pergelangan tangan Nafla.


"Kamu juga kan punya jam itu."


Nafla tampak terkejut. "Aku juga punya, Pa?"


"Tentu," balas papa. Tatapannya terlihat sedikit curiga. "Kamu sering memakainya."


Nafla hanya nyengir saja. Ia bingung harus bagaimana dan entah kenapa jam hitam itu tidak mau lepas dari tangannya. "Jamku rusak, jadi aku pinjam punya Nafla."


Meski masih curiga, tapi papa memilih menganggukkan kepala. Kemudian, membalikkan tubuhnya. "Nanti kunci lagi pintunya."


"Pa?"


Langkah kaki papa yang hendak keluar kamar terhenti. Ia membalikkan tubuhnya lagi dan tampak terkejut saat Nafla berlari, lalu memelukknya.


"Kenapa, Bia?"


Nafla menggelengkan kepalanya. Ia hanya mengeratkan pelukannya. "Aku sayang Papa."


Papa tersenyum, lalu mengusap belakang kepala putrinya yang manja. "Papa juga sayang kalian."


Sementara, angka yang ditunjukkan jam yang terkunci di pergelangan tangan Nafla sudah menunjukkan angka 71.50.


Waktu terus bergerak mundur.


***


Seharian ini Az belum mendengar kabar Nafla. Usai salat, ia meraih ponselnya dan tidak menemukan pesan apapun atas nama Nafla. Harusnya kan gadis itu memberi kabar.


Azariel Firdaus


Sedang apa?


Uwu! Mata Nafla membulat saat membaca pesan penuh unsur perhatian tersebut. Ia menungkurapkan tubuhnya di ranjang, lalu berpikir kata-kata yang tepat untuk membalasnya.


Azariel Firdaus


Jangan ngetik terus, tapi ga dikirim-kirim!


20.10 WIB


Uhuk! Nafla jadi tidak bisa menahan senyumnya. Ia merasa ada gelitik di dadanya yang membuat bibirnya melengkung sendiri.


Nafla Afanin


Kangen?


20.11 WIB


Lama menunggu, tetapi tidak ada jawaban. Padahal statusnya masih online. Dasar frezeer nggak bisa diajak ngebucin.


Azariel Firdaus


Sedang apa?


20.17 WIB


Maunya jawab, lagi mikirin kamu, tetapi Nafla takut Az benar-benar tidak menjawab pesannya lagi. Jadi, ia hanya mendengkus jengkel. Kemudian, mengambil foto jam hitam yang melingar di tangannya. Kemudian, mengirimnya pada Az.


Nafla Afanin


Nggak bisa dibuka.


20.18 WIB


Az memandang foto jam yang dikirim Nafla dengan penuh perhatian, hingga pesan Nafla selanjutnya kembali masuk.


Nafla Afanin


Perhatikan angkanya. Aneh, kan? Tadi 72:00, sekarang 69.50


20.20 WIB


Az tidak lagi menbalas pesan Nafla. Ia masih memperhatikan gambar jam yang dikirim gadis itu.


Waktunya berjalan mundur?


***


Hai, hai, hai


Sambil nunggu bab selanjutnya update, yukk mampir ke novel teman aku dulu. Jangan lupa tinggalkan jejak juga ...