
Usai meminum obat rutinnya, Nafla berbaring di ranjang. Di sampingnya ada Az yang dengan cekatan langsung menyelimuti tubuh gadis itu. Sedangkan, tangan Nafla masih saja memegang ujung baju Az.
Az melirik tangan Nafla. Kemudian, mengangkat sebelah alisnya yang dijawab langsung oleh Nafla dengan gelengan kepala.
"Tidur!"
"Nanti kamu pergi," balas Nafla cepat, hingga Az hanya menghela napasnya pelan. Kemudian, memilih duduk di tepi ranjang sambil memainkan ponsel.
Nafla menatap wajah Az dari bawah. Entah kenapa jantungnya berdebar.
Melihat pemandangan indah, lama-lama membuat Nafla mengantuk juga. Ia mulai terbuai dan menejamkan matanya. Namun, sebuah usapan lembut yang terasa di kepalanya membuat Nafla membuka matanya lagi, hingga si pelaku, sebut saja Az, terlonjak kaget dan menarik tangannya kembali sambil berdiri.
"A-aku pulang dulu." Az langsung memutar tubuhnya sambil mengusap tengkuk, lalu melangkahkan kakinya cepat keluar kamar. Meninggalkan Nafla yang melongo, lalu tersenyum geli sendiri.
Beruntung papa yang baru pulang tengah malam hanya mengintip keadaan Nafla dari pintu saja. Sehingga, Nafla tidak perlu membuat-buat alasan wajahnya yang babak belur.
Terlalu cepat tidur, membuat Nafla tidak lagi mengantuk meski hari belum pagi. Ia meraih ponselnya, lalu kembali menatap foto Az di daftar kontak. Kemudian, mengetikkan sesuatu.
Nafla Afanin
Sudah tidur?
02.15 WIB
Bodoh! Tentu saja anak baik itu sudah tidur jam segini. Ia hampir meletakkan kembali ponselnya saat terdengar denting pesan balasan dar Az.
Azariel Firdaus
Sudah
02.17 WIB
Nafla mendecih. Balasan yang singkat, tetapi mampu membuat bibirnya melengkungkan senyum. Kemudian, ia mengetikkan balasannya lagi.
Nafla Afanin
Kalau lagi tidur kenapa, bisa balas pesan?
02.18 WIB
Azariel Firdaus
Kebangun
02.18 WIB
Nafla mendecak kesal. Namun, lucunya bibirnya justru tersenyum.
Nafla Afanin
Az?
02.19 WIB
Azariel Firdaus
Tidur!
02.19 WIB
Nafla Afanin
Aku serius
02.20 WIB
Azariel Firdaus
Apa?
02.21 WIB
Nafla Afanin
Sedang mengetik ....
02.25 WIB
Azariel Firdaus
Masih lama?
02.25 WIB
Nafla Afanin
Mimpi indah
02.26 WIB
Azariel Firdaus
02.27 WIB
Nafla mengerutkan keningnya. Ia menatap lama pesan balasan Az tersebut sambil mengetukkan jari telunjuk ke dagu. Maksud Az itu apa? Hm, kamu juga, begitu?
Atau ....
Argh! Nafla menyesali keputusannya mengirim pesan pada Az. Sekarang ia justru makin sulit tidur.
***
Gara-gara Az, Nafla jadi bangun kesiangan. Ia keluar kamar tanpa mandi, berniat untuk mengambil segelas air minum. Namun, rupanya yang ia dapatkan adalah si pengendali air sudah berdiri di depan pintunya. Mata Nafla mengerjap pelan, ia ingin membanting pintu kamar lagi, tapi Az keburu menangkap tangannya.
"Masih sakit?" Az menyentuh ujung bibir Nafla, lalu beralih pada memar bekas tamparan. Sepertinya tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Ingin bicara, tapi Nafla ingat ia belum gosok gigi. Jadi, ia hanya menatap Az dengan pandangan tak berkedip. Menatap dari dekat pemuda dingin yang berhasil menghangatkan hatinya tersebut.
"Aman." Az menurunkan tangannya dari wajah Nafla. Namun, sempat-sempatnya telapak tangan lebar itu mampir dan mengusap puncak kepala Nafla. Maunya apa?
"Azar?"
Az menoleh, begitu pula dengan Nafla. Ada papa yang berjalan mendekat ke arah mereka. "Bisa tolong periksa Nafla?"
Kening Az berkerut. "Nafla?" tanyanya ragu.
"Nafla udah sadar." Kali Nafla yang menjawab, hingga Az menatapnya kaget.
"Iya. Bisa tolong periksa keadaan Nafla? Saya khawatir padanya," ujar papa, hingga Az mengangguk setuju.
"Aku ikut! Tunggu aku mandi." Tanpa menunggu jawaban, Nafla langsung berlari masuk kamar dan menutup pintu. Sedangkan, Az kembali tampak berbincang dengan papa.
Tidak perlu waktu lama untuk menunggu Nafla selesai mandi. Gadis itu segera keluar dan menghampiri Az yang menunggu di halaman rumah dengan aroma sabun yang menyegarkan.
"Kamu nggak bilang udah sadar." Mereka jalan bersisian ke arah mobil. Sepeti dulu, Az membukakan pintu untuknya. Namun, kali ini pintu di samping kemudi.
"Lupa." Nafla memasang sabuk pengamannya dan menunggu Az masuk, baru melanjutkan, "Lagian bukan aku yang sadar, tapi Bianca."
Sekali lagi Az menatap Nafla terkejut. Ia benar-benar ingin tidak percaya dengan cerita ini. Melihat Az yang terlihat kaget, Nafla berinisiatif memasangkan sabuk pengaman untuknya. Namun, pemuda itu malah melebarkan matanya lebih kaget lagi.
"Aku cuma mau bantu. Kenapa kamu kayak ngelihat hantu?" protes Nafla sebal, lalu melepaskan sabuk pengaman dari tangannya. "Pakai sendiri!"
"Lebih baik begitu," ucap Az, sembari memasang sabuknya sendiri.
Nafla hanya menggerutu karena Az bisa bebas menyentuhnya, sedangkan dia tidak bisa.
***
Sesampainya di sana, Az dengan sopan menyapa nenek terlebih dahulu baru kemudian mencari keberadaan Bianca. Rupanya Bianca sedang bermain di taman belakang bersama Jia. Ada Daniel juga di sana.
Saat melihat kedatangan Nafla, Jia langsung berlari dan memeluk kakinya. Hal ini berhasil menarik perhatian Az. Terlebih saat Nafla berjongkok dan menyapa gadis kecil itu dengan manis.
Masalahnya bukan pada gadis kecil itu, tetapi pada pria yang tempo hari mengantar Nafla pulang. Pria dengan stelan rapi yang kini sedang tersenyum memandang Nafla dan Jia.
"Kak Azar!" Tentu saja Bianca mengenali Az. Pemuda itu bahkan lebih lama menjadi perawatnya.
Az mencoba mengabaikan pemandangan tadi dan berjalan mendekati Bianca dengan menjinjing tas berisi perlengkapan kesehatan. Kemudian, duduk di dekat gadis yang selalu tampak ceria itu. Sedangkan, Bianca langsung menyambutnya dengan mengedip-ngedipkan mata, hingga Az menoyor pelan kepala putri kedua keluaga Tirta tersebut.
"Eh?" Bianca tampak terkejut. "Kakak udah tau?"
Az tidak menjawab. Ia justru menyingsingkan lengan bajunya. Kemudian, memeriksa perban di kepala dan tangan Bianca, lantas menggantinya dengan mahir. Sehingga, Bianca bisa langsung menyimpulkan, jika Az mengetahui rahasia pertukaran jiwa mereka.
"Pantes nggak salting," goda Bianca lagi. Sedangkan, Az tampak masih tidak menggubris ucapannya. Pemuda itu justru melirik Nafla yang tampak sedang berbincang bersama Daniel dengan ekor matanya.
Az menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat. Kemudian, mengemasi barang bawaannya lagi setelah memastikan tidak ada luka yang terlewat. "Minum obatnya yang teratur."
"Kakak nggak usah khawatir. Tubuh ini kuat," balas Bianca sumringah.
"Jangan main-main!" delik Az tajam, hingga membuat Bianca ciut dan membungkam mulutnya. Namun, saat Az menjauh, Bianca mulai menggerutu.
"Galak, posesif!"
Nafla yang menyadari kedatangan Az langsung mengalihkan pandangannya dari Daniel. Kemudian, tersenyum pada Az.
"Sudah siap?" tanya Nafla saat Az berdiri di dekatnya.
Az mengangguk, sembari merapikan kembali lengan bajunya yang tadi ia gulung. "Ayo, pulang!"
"Em ...." Daniel bersuara. Raut wajahnya tampak tak rela. "Kalau tidak keberatan, biar nanti saya yang mengantar Bianca pulang."
Az yang telah selesai dengan lengan bajunya, tampak mengangkat wajah dan menatap Daniel tenang.
"Keberatan," balas Az singkat. Kemudian, menggenggam tangan Nafla dan menariknya pergi dari sana.
Tuh, kan! Seenaknya aja main pegang.
***
Nih, yang request bucin, tapi dingin 😒
Mau request apa lagi kalian, ha?! Lama-lama nangis, nih, aku ðŸ˜