SUPERBIA

SUPERBIA
Teritori



"Jangan salah paham." Az melepaskan genggaman tangannya, lalu membukakan pintu untuk Nafla seperti biasa. Ada sentilan kecil yang terasa di hati Nafla saat mendengar itu. Ia hanya tersenyum hambar, lalu masuk ke dalam mobil.


Pintu tidak langsung di tutup Az. Pemuda itu justru membungkukkan tubuhnya, lalu memasangkan sabuk pengaman untuk Nafla.


"Itu namanya menjaga teritori, bukan posesif," tukas Az. Wajahnya begitu dekat dengan wajah Nafla, hingga tanpa sadar Nafla menahan napasnya.


Setelah mengucapkan kalimat aneh itu, Az kembali menegakkan tubuhnya lagi. Kemudian, menutup pintu mobil. Meninggalkan Nafla yang kembali menerka-nerka maksud ucapannya barusan.


Az tampak mengelilingi mobil dan masuk di pintu kemudi, lalu duduk di sana. Kemudian, menyimpan tas perlengkapan kesehatannya ke kursi penumpang. Setelah itu, baru memakai sabuk pengamannya. Setiap pergerakan Az itu dengan khidmat Nafla perhatikan tanpa suara.


"Lapar?"


Nafla menggelengkan kepalanya, lalu tidak lama kemudian mengangguk. Perutnya tidak bisa bohong, hingga membuat Az mengulum senyum.


"Mau ke rumahku? Aku masakkan makanan sehat."


Nafla tampak menimbang. Namun, kemudian ia menganggukkan kepalanya. Sejujurnya, ia penasaran juga dengan tempat tinggal Az.


Rumah sewaan Az rupanya tidak jauh dari rumah nenek. Hanya perlu waktu sekitar 15 menit saja dari sana. Hal ini tentu saja membuat Nafla sedikit terkejut. "Kamu tinggal di sini?"


"Hm."


"Sejak kapan?"


"Sejak kuliah." Az memutar anak kunci, lalu membuka pintu dan mempersilakan Nafla masuk. Rumahnya tidak besar, tetapi terasa nyaman dan bersih. Anak keperawatan dilawan.


Nafla mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian, melangkah masuk dan dengan tidak sopannya mengamati foto-foto yang ada di dinding. Matanya seketika melebar saat melihat beberapa foto yang tertempel di sana.


"Ini aku?" Telunjuk Nafla mengarah ke sebuah foto anak perempuan kuncir dua yang tengah tersenyum lebar di atas sepeda.


"Sok tau!"


Sepertinya kalau obrolan asik bukan Az namanya. Nafla mendecakkan lidahnya kesal, lalu memperhatikan Az yang berlalu ke sebuah ruangan untuk menyimpan tasnya tadi. Cukup lama Az berada di dalam, hingga ia keluar lagi dengan pakaian berbeda. Hanya memakai kaos oblong dan celana pendek. Santai sekali.


Az langsung berjalan menuju pantry dan membuka lemari pendingin. Kemudian, mengeluarkan berbagai macam aneka sayuran dari sana. Membiarkan Nafla puas memandangi satu persatu foto yang ada di dinding.


Setelah puas, Nafla mendekati Az dan berdiri di sampingnya sembari memperhatikan pemuda itu masak. Jika dilihat dari samping begini, hidung Az mancung sekali.


Jadi pengen cubit.


Eh? Nafla menggeleng-gelengkan kepalanya dan memilih menyingkir. Sejak kapan otaknya jadi korslet begini.


"Bisa minta tolong?"


"Apa?" Nafla yang berniat pergi, mengurungkan niatnya.


"Siapkan piring dan gelas di meja." Az mengerling ke arah rak piring di dekat wastafel, lalu hendak mengusap rambutnya sendiri dengan telapak tangan. Namun, Nafla menahan pergerakan tangan Az.


"Nanti rambutmu kotor." Nafla mengambil tisu di atas lemari pendingin, lalu mengusap dahi Az yang sedikit berkeringat. "Sudah?"


Az tergelak, hingga membuatnya semakin manis. "Terima kasih."


Saat Nafla sedang menuangkan air ke gelas, Az datang dengan sebuah nampan di tangannya. Nampan itu berisi sepiring udang rebus, semangkuk saus, dan semangkuk sayur hijau tanpa kuah.


"Aku boleh makan ini?" Nafla menatap isi nampan, lalu duduk duluan di kursi. Menunggu Az menghidangkan makan siang hari ini.


Az hanya mengangkat kedua alisnya, lalu menyendokkan nasi ke dalam piring dan meletakkannya ke hadapan Nafla. Ia juga mengambilkan udang, saus, dan sayur untuk gadis itu.


"Aman," jawab Az singkat.


Meski tampak ragu, Nafla mulai menyendokkan makan tersebut ke mulutnya. Hal pertama yang ia coba adalah saus kental berwarna oranye.


"Manis. Ini ... wortel?"


Az mengangguk. "Makan saja. Nggak ada penyedap di situ."


Nafla memandang Az takjub. Walau tidak selezat makanan penuh bumbu dan rempah, tapi setidaknya makanan di hadapannya ini masih bisa diterima selera. Tidak seburuk makanan di rumah yang mirip neraka.


Keduanya mulai menyantap makanan dengan lahap dan sesekali tampak berbincang. Namun, perhatian Nafla teralihkan saat ponselnya berdenting. Gadis itu langsung mendecakkan lidahnya saat melihat pesan dari Bianca.


"Kenapa?"


"Lihat!" Nafla menujukkan layar ponselnya yang menampilkan sebuah foto ke hadapan Az. "Dia motong rambutku!"


"Cantik."


Nafla menurunkan ponselnya, lalu mendecakkan lidahnya lagi. "Dasar laki-laki!"


Ia kembali menyantap makanannya setelah menelungkupkan layar ponselnya ke atas meja. Nanti ia akan buat pelajaran pada Bianca.


"Nafla?"


Wajah Nafla yang fokus pada makanan di piringnya, perlahan terangkat dan mendapati Az sedang menatapnya.


"Cepat kembali," ucap Az pelan.


***


Sementara menunggu SUPERBIA update mampir yukk ke novel teman aku.


Maya Larasati seorang sekretaris yang sangat cantik. Kekasihnya ingin menikahinya agar tidak ada orang yang yang memilikinya dan menyuruhnya untuk berhenti bekerja.


Maya sebenarnya sayang kalau berhenti bekerja tapi karena sangat mencintai kekasihnya membuatnya berhenti bekerja dan mereka pun menikah.


Cobaan datang ketika keluarga suaminya ikut menumpang di rumahnya dan memperlakukan Maya seperti pelayan ditambah suaminya selingkuh membuat Maya mengajukan berpisah.


Di tengah keterpurukan Maya bertemu dengan sang mafia. Apakah sang mafia bisa meluluhkan hati Maya yang sudah membeku?