SUPERBIA

SUPERBIA
Mereka Berbeda



Az mengetuk pintu, lantas masuk ke ruang inap Bianca. Saat ia datang, nenek sudah lagi terlihat di sana. Sedangkan, Bianca tampak sedang duduk bersandar dengan senyum sumringah menyambut kedatangan Az.


"Nenek mana?"


Bianca menatap Az yang berjalan mendekat dengan pandangan was-was. Ia khawatir Az telah tahu semuanya. "Pulang. Kasihan kalau tidur di sini," jawab Bianca akhirnya.


Az telah berdiri di samping ranjang Bianca, lalu menarik kursi dan duduk di sana. Sedangkan, Bianca masih manatapnya takut-takut.


"Gimana keadaan Bianca?" Rasanya aneh sekali saat Bianca menyebut namanya sendiri, tetapi ia harus memastikan sesuatu.


"Baik," jawab Az singkat.


Bianca mengembuskan napasnya pelan. Ia menebak, Az belum tahu mengenai pertukaran jiwa mereka.


Bianca meraih tangan Az pelan, memastikan reaksi Az sekali lagi. Hati Bianca sedikit lega saat Az tidak menolaknya.


"Gimana jam kamu?"


Deg!


Resfleks Bianca melepaskan tangannya dari tangan Az. Kemudian, menarik ujung lengan bajunya, mencoba menutupi jam itu. "Aku nggak mau bahas itu, Kak. Aku takut."


"Takut apa?"


"Takut ... kalau dugaan kita salah. Gimana kalau ternyata jam ini cuma jam biasa?"


"Hm." Az menolehkan kepalanya ke arah pintu, lalu menatap Bianca lagi. "Tadi kamu mau ngomong apa?"


Bianca cukup senang karena Az tidak lagi mendesaknya tentang jam itu. Ia juga yakin kalau Nafla memang belum menceritakan pertukaran jiwa mereka.


"Aku .... " Bianca menundukkan kepalanya. Masih ada keraguan di hati untuk mengatakan ini, tetapi sisi hatinya yang lain mendesak. "Aku nggak suka kamu ketemu Bianca."


Az bergeming. Ia masih menatap Bianca dengan tatapan tidak terbaca. "Kenapa?"


"Aku nggak suka!" Bianca menarik tangan Az dan menggenggamnya lagi. "Aku takut kehilangan kamu, Az."


Az tidak menjawab. Ia hanya menarik sebelah ujungnya. Sekarang ia benar-benar yakin, wanita dihadapannya ini bukan Nafla-nya.


***


Terlalu lama membolak-balikkan tubuh, akhirnya Nafla tertidur juga. Ia baru bangun keesokan paginya saat nenek mengecup keningnya.


"Nenek udah pulang?" Nafla menggeliat, lalu menarik tubuhnya agar duduk.


"Sudah. Tadi malam." Wanita tua itu tersenyum lembut, lalu merapikan rambut Nafla yang berantakan. "Cepat mandi. Kita Solat Subuh sama-sama."


Nafla menganggukkan kepalanya kuat. Ia memang merindukan momen ini. Kemudian, dengan semangat beranjak dari tempat tidur untuk menuju kamar mandi.


Ada Mushalla di dalam rumah nenek. Tempat itu biasanya selalu dijadikan tempat salat berjamah para wanita. Mengingat penghuni rumah itu semuanya memang wanita, kecuali sopir yang lebih memilih salat di masjid dekat rumah.


Usai salat, tanpa melepas mukenanya Nafla berbaring di pangkuan nenek, bermanja seperti biasa. Sedangkan, nenek dengan penuh kasih mengusap rambutnya.


"Gimana keadaan Bianca, Nek?"


Sesaat nenek terdiam. Setiap memikirkan nasib cucunya yang satu itu, ia merasa sedih. "Cuma doa yang kita punya untuk Bia."


Nafla menganggukkan kepalanya pelan. Ia cukup tahu bagaiaman kondisi kesehatan adiknya itu.


"Tapi semalam, Bia kelihatan bahagia. Nenek senang melihatnya," lanjut nenek sembari mengingat pertemuannya dengan Bianca semalam.


"Nafla?"


"Hm?"


"Menurut kamu, Nak Daniel gimana?"


***


Semenjak siuman dan berada dalam tubuh masing-masing, Nafla belum pernah bicara dengan Bianca. Oleh karena itu, siang ini dia bertekad menemui Bianca di rumah sakit. Ia melangkahkan kakinya di pelataran rumah sakit yang tidak lagi asing untuknya.


Sebelum masuk, sesaat Nafla menghentikan langkah kakinya dan mengintip ke ruang Instalasi Gawat Darurat. Kemudian, tersenyum kecut. Apa yang sedang ia harapkan?


Nafla melanjutkan kembali langkahnya, tanpa berhasil menemukan sosok yang ia cari di IGD menuju ruang rawat. Saat pintu dibuka, ia langsung menemukan Bianca yang tampak terkejut dan langsung menyimpan kembali ponselnya di bawah bantal.


"Aku kira suster, Naf!" Bianca memegang dadanya.


"Kamu lagi ngapain?"


"Chat Kak Azar," balas Bianca sumringah yang hanya dibalas Nafla dengan senyum tipis.


Bianca yang sadar telah salah bicara, tampak merasa tidak enak hati. Ia mencoba mengubah topik pembicaraan. "Kamu sendirian aja?"


"Hm." Nafla melangkah mendekati ranjang Bianca, lalu duduk di pinggir ranjang. "Keadaan kamu gimana?"


Bianca mengangkat kedua bahunya acuh. "Nunggu hasil lab."


Nafla menganggukkan kepalanya pelan, lalu terdiam. Hingga, diam-diam Bianca menatapnya penasaran.


"Naf?"


"Hm?"


"Kamu ...." Bianca tampak ragu. Namun, ia dengan hati-hati melanjutkan, "Nggak bilang sama Kak Azar?"


Nafla membalas tatapan Bianca, lalu menggeleng.


"Kenapa?"


Kali ini Nafla yang mengangkat kedua bahunya. "Nggak apa-apa."


Ada desir pedih di hati Bianca saat melihat sorot sedih di mata Nafla. Harusnya, semalam Nafla bisa mengatakannya pada Az. Harusnya semalam waktu sehari yang ia minta berakhir.


Tanpa sadar, setetes air mata Bianca lolos. Ia terisak dalam tangisnya, hingga membuat Nafla menatapnya khawatir. "Kamu kenapa?"


Bianca menggelengkan kepalanya berkali-kali, lantas menarik Nafla ke dalam pelukannya. Tangisnya kian pecah. "Maafin aku, Naf."


Air mata Nafla juga akhirnya ikut menetes. Perlahan, tangannya terangkat, lalu mengusap punggung Nafla tanpa bicara.


Di balik pintu, seseorang laki-laki berseragam perawat tengah melihat pemandangan itu dari balik kaca. Tatapannya tampak terluka. Bukan hanya untuk dirinya saja, tetapi juga untuk Nafla.


***


Yuk, mampir ke novel temanku. Baca dulu baru tau serunya.