
"Anda siapa?" Nafla dan pria itu bertanya bersamaan. Kemudian, tampak terkejut bersamaan pula. Sebagai seorang laki-laki, Daniel berinisiatif mengalah dan memperkenalkan dirinya terlebih dahulu.
"Saya Alvin Daniel. Ayah dari Jia yang ditolong Nona Nafla."
Nafla langsung membulatkan bibirnya tanpa suara. Ternyata, laki-laki tampan itu adalah ayah dari gadis kecil yang ditolongnya dari kecelakaan. Sebenarnya, tidak ditolong juga, sih, karena Nafla saja yang ceroboh dan nekat.
"Anda siapa?" Gantian Daniel yang bertanya.
"Saya Bianca Zehra. Adik dari Nafla."
Setelah perkenalan singkat itu, mereka berjalan bersama menelusuri lorong rumah sakit. Daniel memang tidak memiliki waktu lama untuk menjenguk Nafla karena setelah ini ia akan ada rapat di kantornya.
"Kabar Jia bagaimana?" Nafla berinisiatif bertanya karena nampaknya laki-laki itu tidak banyak bicara, meski tidak sedingin Az.
"Shock. Jia menangis berhari-hari."
Tiba-tiba kepala Nafla sakit, hingga langkah kakinya terhenti. Ia memegang kepalanya karena pandangannya terasa berputar hebat. Sekujur tubuhnya juga terasa dingin dengan detak jantung yang berdebar kencang.
Daniel yang menyadari itu ikut menghentikan langkah dan menatap Nafla khawatir. "Anda baik-baik saja?"
Nafla mengangguk, meski rasa sakit di kepalanya belum mereda. Ia jadi menerka-nerka, mungkin sakit kepalanya yang mendadak akibat berada terlalu dekat dengan tubuh asli Nafla.
"Aku harus pulang sekarang." Nafla melangkahkan kakinya cepat. Ia tidak ingin rohnya tertukar sekarang. Masih banyak hal yang ingin ia selesaikan dulu. Namun, sekali lagi kepalanya terasa berdenyut, hingga membuat Daniel mengejarnya.
"Saya antar saja."
Nafla mengangkat wajahnya, menatap Daniel yang menatapnya khawatir. Kemudian, mengangguk setuju. Ia harus secepatnya pergi dari sini.
Daniel mengantar Nafla dengan mengendarai mobil yang dibawa gadis itu tadi. Sedangkan, mobilnya dibawa sopir dan mengikuti mereka dari belakang.
"Maaf jadi merepotkan begini."
Daniel tersenyum tipis, lalu memindahkan perseneling sebelum akhirnya menjawab. "Saya senang bisa membantu adik Nona Nafla."
Nafla menatap Daniel tidak percaya. Untuk pertama kalinya ada seseorang yang menjadikan namanya sebuah alasan. Diam-diam, sebuah senyum terbit di bibir Nafla.
Sedangkan, di kediaman Tirta, Az tampak risau. Berkali-kali ia mencoba menghubungi ponsel Nafla, tetapi tetap tidak aktif.
Laporan Pak Diman, sopir kelurga Tirta, membuat Az berniat pergi mencari keberadaan Nafla. Ia juga sudah melarang Pak Diman untuk melaporkan kepergian Nafla pada Tuan Tirta. Namun, saat Az akan memasuki mobil untuk mencari Nafla, dua mobil datang bersamaan. Satu mobil langsung masuk ke halaman, sedangkan satu mobil lagi menepi di pinggir jalan.
Az mengurungkan niatnya untuk pergi. Ia berdiri, menunggu sang penumpang mobil keluar. Benar saja, Nafla keluar bersama seorang pria dengan stelan jas rapi. Keduanya, tampak berbicara sebentar, lantas terdengar Nafla mengucapkan terima kasih. Tidak lama setelah itu, pria dengan stelan jas rapi tersebut pamit dan memasuki mobil yang menepi di pinggir jalan tadi.
Az dan Nafla tidak saling bertegur sapa. Mereka hanya beradu pandang sebentar karena Nafla memilih melangkah pergi, memasuki rumah.
Setelah lama terdiam, Az akhirnya beranjak juga. Ia memasuki rumah dan berjalan pelan melewati kamar Nafla. Kemudian, berhenti tepat di depan pintu, menatap pintu berwarna putih itu tanpa berniat mengetuknya seperti biasa.
Az tampak terkejut dan gelagapan saat handel bergerak, lalu tidak lama kemudian pintu terbuka dengan menampilkan wajah kaget Nafla. Mau lari juga percuma, jadi Az memilih berdiri kikuk dengan tampang datar andalannya.
"Mau ngapain kamu di sini?" sembur Nafla. Di tangan gadis itu tergenggam sebuah ponsel yang berhasil menarik perhatian Az.
"Hp kamu kenapa?"
"Aku lempar!" balas Nafla cepat. Mode cari perkara sedang ia aktifkan.
"Oh!" Az akan membalikkan tubuhnya untuk beranjak ke kamar saat Nafla memanggilnya.
Az tidak menjawab. Namun, ia membalikkan tubuhnya lagi, lalu menaikkan sebelah alisnya.
"Hp ku rusak!" Nafla melangkah maju, lalu menarik sebelah tangan Az. Kemudian, meletakkan ponsel nyaris hancur ke atas telapak tangan pemuda itu.
Az diam saja. Ia hanya menatap ponsel di tangannya, lalu menatap Nafla lagi. Kemudian, berbicara pelan. "Maaf."
"Ha?" Kening Nafla mengernyit. Bukannya ia tidak mendengar, tetapi ia tidak paham.
"Maaf sudah membuatmu menangis," lanjut Az. Kemudian, ia membalikkan tubuhnya dan beranjak pergi dari sana. Meninggalkan Nafla yang menatapnya sembari tersenyum tipis.
***
Sebelum syarat yang diajukannya tempo hari terpenuhi, Nafla bertekad menjauhi Faiz. Ia bahkan mulai memanas-manasi Faiz dengan menjalin hubungan akrab dengan laki-laki lainnya.
"Bia!" Faiz meraih tangan Nafla saat mereka berselisih di koridor. Namun, Nafla dengan lembut menepisnya. "Kamu serius mau menjauh dari Mas?"
Nafla hanya tersenyum kecil. "Bia nggak maksa. Terserah Mas. Bia malah senang kalau keluarga Mas harmonis lagi."
Faiz melangkah maju, membuat jarak tubuh mereka dekat sekali. "Jangan begini, Bia. Mas sayang banget sama kamu."
Faiz mengusap pipi Nafla, lalu mencoba mencium bibirnya dengan sorot mata berkabut. Namun, Nafla memalingkan wajahnya, hingga Faiz memundurkan langkahnya lagi.
"Kamu beneran mau Mas bercerai?"
Nafla menggeleng. "Bia nggak mau apa-apa. Semua terserah Mas," ucap Nafla santai, lalu melenggang pergi dari sana. Meninggalkan Faiz yang meninju dinding akibat perasaannya yang kacau.
Nafla sedikit berlari di pelataran parkir, menuju Az yang seperti biasa berdiri di sisi mobil menunggunya pulang. Wajah gadis itu tampak sumingah.
"Hari ini aku nggak bersentuhan dengan Faiz. Kamu senang?" lapor Nafla saat tiba di depan sopir pribadinya itu.
Az menatap Nafla sejenak, lalu membukakan pintu untuknya. Baru setelah itu menjawab, "Cuma hari ini?"
Nafla memutar bola matanya malas. Az memang bukan tipe orang yang asik. "Yang penting hari ini. Besok, ya, besok. Kalau pun kamu cemburu, jangan sampai segininya dong!"
Untuk pertama kalinya Az tersedak mendengar perkataan asal Nafla. Ia mencoba meredakan sesuatu yang tersangkut di kerongkongannya dengan terbatuk kecil. Kemudian, menatap Nafla datar lagi. Sedangkan, wanita di depannya itu sudah nyengir puas.
Nafla akhirnya terkekeh, lalu masuk ke dalam mobil dan menutup pintunya sendiri. Namun, tidak lama kemudian jendela mobil terbuka, hingga menyembulkan kepala Nafla di sana.
"Az?"
Az yang akan menarik handel pintu kemudi tampak menoleh pada Nafla, lantas menaikkan sebelah alisnya. Kali ini ia akan lebih berhati-hati menjaga wibawa.
"Kamu ... mau lihat Nafla Afanin Tirta?"
Jelas-jelas Az terkejut mendengar tawaran itu. Namun, ia masih diam mematung, memandang Nafla dengan pandangan tidak terbaca.
***
Jangan lupa vote SUPERBIA ❤
Ada rekomendasi novel seru nih, buat kamu. Yuk, mampir dan tinggalkan jejak, ya ...