SUPERBIA

SUPERBIA
Sudah Tahu



"Sudah menemukan jawabannya?"


Nafla tidak menjawab. Ia hanya terus menatap Az yang berdiri di sampingnya. Sedangkan, pemuda itu justru menatap lurus ke depan sana, bicara tanpa menatapnya. Setelah jawaban Nafla tidak juga terdengar, barulah ia menolehkan kepala ke arah gadis itu.


"Nafla Afanin Tirta," panggil Az. Raut wajah dan intonasi suaranya begitu serius saat melanjutkan, "Sudah menemukan jawabannya?"


Nafla hanya membiarkan pandangan mereka beradu sebentar karena ia yakin hatinya akan semakin lemah jika menatap mata itu terlalu lama. Kini sorot matanya beralih ke arah botol air mineral di tangannya. Memandang botol air mineral yang tadi diberikan Az itu dengan pandangan tidak terbaca.


"Harusnya kamu ngasih aku es krim," ucap Nafla sembari tersenyum pahit.


Sebelah alis Az terangkat saat mendengar ucapan Nafla tersebut. Tiba-tiba ia menyadari sesuatu. Kemudian, mendengkus pelan. "Kamu nggak kaget?"


"Apa?"


"Aku tau kalian sudah kembali ke tubuh masing-masing. Kamu nggak kaget?" ulang Az tidak habis pikir.


"Aku terlalu peka Az. Lagi pula ...." Nafla tertawa kecil, lalu mengerling ke arah Az sebelum melanjutkan, "Kamu cuma berani megang tangan aku, kan?"


Keduanya kemudian tertawa, tetapi sorot mata mereka tetap tidak bisa berbohong. Ada kesedihan di sana.


Benar kata Nafla, Az memang hanya berani menggenggam tangan Nafla saja, kecuali tangan pasien tentunya. Hanya pada Nafla, ia memposisikan dirinya sebagai pria bukan sebagai perawat.


"Kamu sedih?" Nafla menghentikan tawanya lebih dulu. Kemudian, memandang Az, menunggu jawaban. Namun, belum sempat pemuda itu menjawab, ia sudah melanjutkan ucapannya lagi. "Aku sedih."


Bibir Nafla tampak bergetar saat lagi-lagi ia bicara, "Mau memelukku sebentar, Az? Aku ...."


Az tidak bisa lagi menunggu Nafla menyelesaikan kalimatnya. Ia melangkahkan kakinya maju, lantas menarik wanita bermata indah itu ke dalam pelukannya. Kemudian, mendekapnya dengan perasaan tidak menentu.


Tangis Nafla tidak bisa dibendung lagi. Ia menumpahkan segala kepedihannya di pelukan Az, hingga terisak. Kemudian, membenamkan wajahnya ke dada pemuda yang entah sejak kapan ia cintai itu agar tangisnya teredam.


Nafla merasakan hatinya sakit sekali. Terlalu sakit, hingga ia tidak mau berhenti menangis. Ia tidak tahu saja, jika tangisnya juga berhasil mengoyak hati yang lain.


Azariel menarik napasnya dalam, mencoba membulatkan tekad. Kemudian, mengusap belakang kepala Nafla sayang. "Aku nggak akan melepasmu, Anin."


Sebenarnya tidak terlalu etis berpelukan dengan keluarga pasien di lingkungan rumah sakit begini, tetapi kali ini biarlah. Kali ini Azariel Firdaus ingin melanggar komitmennya hanya untuk ... Nafla Afanin Tirta.


Hal pertama yang dilakukan Idan tentu saja memanggil perawat andalannya itu. Kemudian, mendecak kesal.


"Jadi ini alasanmu bimbang?" Idan melempar sebuah amplop ke atas meja, lalu melanjutkan, "Jernihkan otakmu tiga hari di rumah. Kamu di skors."


Az tidak menyangkal. Tidak juga mencoba menawar. Ia sadar, yang ia lakukan memang sebuah pelanggaran. Terlebih saat itu, ia sedang memakai seragam kerjanya.


"Saya kira kamu nggak akan tersandung cinta Az. Ternyata laki-laki sama aja," gerutu Idan. Kemudian, ia melotot saat Az mengangkat kepala dan membalas tatapnya. "Apa? Jangan belajar pada saya! Saya emang pecinta wanita."


Az memilih bungkam dan menggelengkan kepala. Idan memang sudah tiga kali gagal mempertahankan rumah tangganya akibat mudah tergoda dengan wanita. Itu sebabnya, ia kagum pada sosok Az yang sanggup menahan godaan para wanita yang terang-terangan menyatakan suka padanya.


"Tapi syukurlah! Sebenarnya selama ini saya takut kamu menyukai saya." Idan melanjutkan sambil nyengir. Sedangkan, Az memilih meraih amplop di meja Idan setelah mendelik tajam pada dokter seniornya itu.


"Saya permisi."


"Silakan."


Saat Az sudah sampai di ambang pintu, Idan kembali bersuara. "Jangan lupa tawaran beasiswa kemarin! Kesempatan tidak datang sesuka hati Az."


Az memutar badan, lalu membungkukkan tubuhnya sedikit. Sebagai simbol, ia benar-benar berterima kasih untuk kesempatan itu.


"Berusahalah jadi pantas untuk gadismu," lanjut Idan. Kali ini suaranya terdengar bijaksana, hingga berhasil membuat Az bergeming.


***


Vote-nya jangan lupa, Bestie.


***


Baca novel temanku, yuk! Yang suka konflik berat, merapat. Yang suka mafia tampan, mendekat.