
Selama 1 jam perjalanan santai mereka akhirnya kembali ke kota Calvary dan pergi menuju suatu bangunan yang besar bernama Guild.
Guild adalah tempat beradanya orang-orang kuat yang biasanya mengejar kekayaan dengan menyelesaikan Misi/Quest yang diberikan oleh Guild.
Bayarannya pun tergantung dengan tingkat bahayanya Misi tersebut mulai dari Peringkat F-E-D-C-B-A dan S dan tidak hanya misi yang diberi peringkat, petualang juga diberikan peringkat tergantung kekuatannya jadi semakin rendah peringkat seseorang maka semakin mudah pula misi yang diberikan oleh Guild.
Kebetulan orang-orang yang menyelamatkan Muve adalah kelompok Hunter yang berperingkat D kalau saja yang membantu Muve adalah Hunter peringkat E atau F kemungkinan besar mereka akan mati.
Sesampainya di Guild mereka menemui resepsionis yang berada dimeja depan.
“Bagaimana patroli kalian? Apakah memang sungguhan ada Hobgoblin dihutan tadi?” tanya resepsionis.
“Ya tapi ada yang aneh dari Hobgoblin tersebut.” jawab pria yang mengendong Muve.
“Aneh? Aneh bagaimana?” tanyanya kembali.
“Sebaiknya kau minta Ren saja yang jelaskan, aku akan pergi kekamarku dulu.” jawabnya.
“Hei! Itu tidak asik meninggalkan tugasnya kepada kawannya sendiri!” tolak temannya.
“Urus sajalah! Aku perlu mengantar anak ini dulu!” bentak pria itu.
Pria itu pun meninggalkan kawan-kawannya dan pergi menuju kamarnya dilantai 2.
“Hm? Siapa anak itu? Jarang sekali aku melihatnya baik dengan orang asing?” tanya resepsionis saat melihat Muve yang digendong oleh pria tadi.
“Dia adalah bocah yang kami temui dihutan tadi, saat kami datang dia sedang dibakar hidup-hidup oleh para Goblin.” jawab pria yang memegang tombak.
“Hah? Dibakar-bakar hidup? Tapi kenapa dia terlihat tidak terluka sama sekali?” ucap resepsionis terkejut.
“Aku telah memberikannya Potion Health V jadi lukanya berhasil disembuhkan tapi dia belum sadar juga.” jawab gadis yang membawa tongkat.
“Hoo...”
Mereka pun mulai berbincang tentang kejadian dihutan tadi dengan serius.
***
“Dengan tubuh yang kecil ternyata kau cukup berat juga bocah!” ucap pria yang menggendong Muve membaringkannya dikasur miliknya.
“Kau masih ingin pura-pura tidur bocah?”
“Hm kau yang memaksaku.”
Dia pun mengambil sesuatu didalam laci dan mendekati kaki Muve.
Itu adalah bulu burung dan ternyata dia mencoba untuk menggelitik telapak kaki Muve dengannya.
Terlihat sekali kalau wajah Muve sedikit tersenyum karenanya tapi Muve sama sekali tidak membuka matanya.
“Kalau kau tidak bangun juga, aku akan terus menggelitik.” ucapnya.
Pria itu terus menggelitikkan Bulu burung itu sampai akhirnya membuat Muve tidak tahan lagi.
“Su-suda... Hahahahah hentika... Hahaha itu geli Paman!” ucap Muve langsung bangun.
Benar dugaan si pria itu kalau Muve hanyalah pura-pura tertidur.
“Akhirnya kau bangun juga, kau pikir bisa membodohiku dengan mudah.” ucap pria itu berhenti menggelitik sesaat Muve bangun.
“Sebenarnya kau sudah sadar saat kami masuk ke Guildkan!”
“Bagaimana Paman tahu?”
“Kau mengeratkan peganganmu pada pundakku, mana ada orang tidur bisa seperti itu, paling tidak biasanya orang tidur itu mencekik.” jawab pria itu.
“Hah? Mencekik? Ada orang yang seperti itu?”
“Tentu saja ada!”
***
“Achoo” bersin Ren.
“Sepertinya menjadi terkenal bukanlah hal baik.” ucapnya.
***
“Jadi karena aku sudah sadar Paman ingin melakukan apa?”
“Aku hanya ingin bertanya apa yang kau lakukan dihutan itu sendirian dan kenapa kau bisa berakhir ditangkap oleh Hobgoblin itu.”
“Sebenarnya aku malas menceritakan ini tapi aku berhutang budi pada Paman.” jawab Muve.
Muve pun menceritakan kalau dirinya seorang anak haram dan juga Jobless, dia juga bercerita dia yang pergi dari kota untuk menjadi kuat dengan berpetualang sendirian ke hutan.
Dia juga menceritakan tentang pertarungannya dengan Goblin dan juga tentang dia yang tidur digua berakhir ditangkap para Goblin tetapi dia menyembunyikan tentang dirinya yang mengamuk saat bertarung dan juga tentang System yang didapatnya.
“Tunggu dulu? Kau seorang Jobless kan? Bagaimana bisa kau berhasil membunuh 2 Goblin sendirian?” tanya pria itu sedikit tidak percaya dengan cerita Muve.
“Mungkin itu keberuntungan saja Paman.” jawab Muve.
“Tidak, tidak! Kau tahu tidak kalau tengkorak Goblin itu cukup keras jadi bahkan misalkan seorang Jobless menggunakan kapak besar pun tidak dapat membuat kepalanya pecah karena kekuatannya tidaklah cukup besar untuk melukai Goblin!”
“Tapi memang seperti itu ceritanya Paman.” ucap Muve.
“Sepertinya kau bukanlah seorang Jobless!” ucap pria itu.
“Aku Jobless, Paman. Banyak orang yang menyaksikanku saat itu, kalau Paman tidak percaya, bisa ditanyakan keseluruh murid disekolah Bangsawan.” jawab Muve.
“Hm... Kalau begitu coba kau berdiri dulu dan coba pukul ini sekuat tenagamu.” ucap pria tersebut mengambil perisai kayu kecil yang berada dibawah kasurnya.
“Tidak! Orang bodoh mana yang mau disuruh seperti itu.” jawab Muve.
“Ini hanya terbuat dari kayu jadi tidak akan sakit.” ucapnya.
“Hanya kali ini saja ya!” ucap Muve.
Muve pun mengepalkan tangan dan memukul perisai kayu itu dengan kuat.
Krakk.
Tangan Muve berhasil menempus perisai itu dengan mudah tanpa membuat luka sedikit pun pada tangannya.
“Eh tidak sakit sama sekali Paman! Kau ben... Paman?” ucap Muve kebingungan melihat pria itu terdiam.
“Kau tau tidak, perisai ini padahal perisai yang kugunakan untuk melawan Goblin dan dari semua serangan mereka tidak ada yang membuat perisai ini hancur, kenapa? Karena perisai ini terbuat dari kayu yang cukup padat dan keras tapi kau menembusnya dengan mudah!” ucap pria itu.
“Uh... Mungkin saja itu sudah rapuh Paman!” ucap Muve mencoba mengelak.
“Sepertinya ada yang aneh saat kau memeriksa Jobmu, biarkan nanti aku meminta Lilian untuk memeriksa Jobmu.” ucapnya.
“Lilian? Siapa itu Paman?” tanya Muve.
“Kau tadi lihatkan gadis cantik yang terlihat pemarah? Dia itu Lilian, penyihir kami, kemudian gadis satunya adalah Nata, kalau pria yang disebelahku tadi itu teman masa kecilku Ren dan aku adalah Kapten mereka Alex.”
“Sebenarnya aku cuman penasaran dengan Lilian saja tapi Paman malah menyebutkan semuanya... Oh iya kalau namaku Muve.” ucap Muve.
“Tidak apa sekalian perkenalan! Sekarang ayo kita turun daritadi perutmu itu sangat berisik.” ucap Alex.
“Heheh maaf Paman.” jawab Muve sedikit malu.
“Oh iya bisa tidak kau jangan panggil aku Paman, aku baru berumur 20 tahun.”
“Tapi hanya Paman-paman yang memiliki kumis tebal seperti itu!” tunjuk Muve kearah kumisnya.
“Benarkah? Memangnya siapa yang beritahumu?”
“Ibuku.”
“Oh kau mempunyai ibu? Kenapa kau tidak menceritakannya tadi? Bukankah dia akan khawatir kau pergi tanpa kabar?” tanya Alex.
“Ibuku telah meninggal Paman.”
“Tidak apa Paman, lagipula kematian seorang selir adalah hal membahagiakan bagi para istri raja.” jawab Muve sambil tersenyum kepadanya.
Alex tidak berkata-kata lagi, hanya menggenggam tangan Muve dan kemudian membawanya ketempat makan yang berada di Guild itu.
“Bibi! Aku pesan yang seperti biasa! tapi kali ini aku pesan dua!” teriaknya.
“Oke.” jawab seorang wanita tua yang menjadi koki ditempat itu.
“Paman, bukankah tidak sopan berteriak seperti itu untuk meminta makanan?” tegur Muve.
“Sudah seperti itu kebiasaan kami saat memesan makanan, biar greget!” jawab Alex.
“Greget? Apa itu?”
“Entah, aku sering Ren mengatakan itu jadi aku mengikutinya saja. Mungkin artinya biar tambah menantang.” jawab Alex.
“Tapikan kita mau makan bukan mau berkelahi??”
“Uh... Entahlah nanti aku tanyakan saja ke Ren mengapa dia selalu mengatakan itu.” jawab Alex.
Tidak lama kemudian akhirnya pesanan Alex pun datang dan mereka makan bersama sampai kenyang.
“I-ini kebanyakan Paman! Aku sudah tidak bisa melanjutkan makan lagi!” ucap Muve sesaat makanan dipiringnya masih tersisa sedikit.
“Bukankah itu sangat tanggung kalau tidak dihabiskan?”
“Tapi aku sudah kenyang Paman.” jawab Muve.
“Bagaimana kau bisa cepat besar kalau makanmu sedikit.” gumam Alex.
Alex pun memakan makanan Muve yang sedikit itu dan lanjut menghabiskan makanannya.
Sesaat hendak pergi dari tempat itu teman-teman Alex pun datang “Sudah mau pergi saja? Kami baru saja datang!” ucap Ren menepuk bahunya.
“Salah kalian begitu lama mengurus laporan.” jawab Alex.
“Bukankah ini seharusnya tugasmu Kapten? Jadi kenapa kami yang disalahkan?” tanya Nata.
“Tahu.” sambung Lilian.
“Baiklah-baiklah aku yang salah!” ucap Alex terpaksa.
“Hei bagaimana tubuhmu nak? Masih ada yang sakit?” tanya Ren.
“Tidak ada apa-apa Kak, semuanya baik-baik saja.” jawab Muve.
“Eh tunggu-tunggu! Kau memanggilnya kak sedangkan aku Paman?!”
“Hahahaha Paman! Ahahah Paman Alex!! Itu pasti karena kumismu benarkan nak?”
“Iya.” jawab Muve.
“Sebaiknya kucukur saja kumis sialan ini!” gumam Alex.
“Biarkan saja! Aku cukup suka melihatnya.” tegur Lilian.
Mereka langsung menatap Lilian dengan tatapan terkejut sesaat mendengarnya “Baiklah kalau begitu aku akan mencoba menumbuhkan kumis dan janggut!!” ucap Ren dengan tegas.
“Kusarankan kau tidak melakukannya karena kalau sungguh kau lakukan, aku tidak akan pernah mau dekat lagi denganmu.” ucap Nata.
“Sial...”
“Oh iya ngomong-ngomong bisakah kau bantu aku Lilian?” tanya Alex.
“Hm? Bantu apa?” jawabnya.
Alex pun membisikkan tentang Muve dan memintanya untuk menggunakan Skill Appraisalnya kepada Muve.
“Ya sudah kalau begitu, sebaiknya jangan dilakukan disini.” jawab Lilian berbalik dan pergi dari ruang makan.
Alex dan Muve pun mengikutinya dibelakang, meninggalkan Ren dan Nata.
“Lah? Katanya kau ingin makan, Lilian?” tanya Ren.
“Duluan saja.” jawab Lilian melambaikan tangannya.
“Mereka kenapa sih?”
“Sudahlah biarkan saja! Aku sudah lapar!” ucap Nata.
Nata pun memesan makanannya dan duduk bersama Ren.
***
Sementara itu dikamar Alex.
“Ini perisai yang dipukulnya tadi?” tanya Lilian mengangkat perisai yang sudah berlubang itu.
“Iya.” jawab Alex.
“Hmm coba sinikan tanganmu.” ucap Lilian.
Muve pun mendekatkan tangannya ke Lilian.
“Appraisal”
Seketika sebuah lingkaran sihir berwarna biru kecil muncul dikedua mata Lilian.
“Woah!! Kau lihat itu System! Itu keren!!” batin Muve sesaat melihat lingkaran sihir dimata Lilian.
[Terdeteksi Seseorang Sedang Mencoba Memeriksa Statusnya Anda, System Akan memberikan Informasi Palsu]
“Aneh, Statusnya biasa-biasa saja, ini benar-benar hanya Status seorang Jobless.” ucap Lilian memberhentikan Skill Appraisalnya.
“Tapi itu mustahil! Kau lihat perisai yang dilubanginya ini??” ucap Alex tidak percaya dengan yang dikatakan oleh Lilian.
“Mungkin benar katanya kalau perisaimu ini sudah rapuh.” jawab Lilian.
“Bagaimana bisa rapuh? Perisai ini terbuat dari kayu yang kuat!” ucap Alex dengan tegas.
“Sudahlah tidak perlu dibahas, aku ingin pergi makan!” ucap Lilian meninggalkan kamar Alex.
“Paman tidak percaya sih, sudah kubilang kalau aku ini seorang Jobless biasa.” ucap Muve.
“Padahal jelas-jelas ada yang aneh tapi dia tidak percaya!! Ya sudah kalau begitu aku terpaksa ikut percaya kalau tidak ada apa-apa padamu.”
“Dan sekarang apa yang ingin kau lakukan?” tanya Alex.
“Tentu saja melanjutkan perjalananku untuk menjadi kuat!” jawab Muve dengan tegas.
“Kau yakin melanjutkan berpetualang seorang diri?? Kemungkinan kedepannya kau akan mendapati hal yang bahaya seperti hari ini?” tanya Alex.
“Itu adalah resiko dari perjalananku Paman.” jawab Muve.
“Bagaimana kalau kau tinggal dulu disini?”
“Tidak, aku tidak ingin merepotkan Paman untuk merawatku!” tolak Muve.
“Bagaimana kalau kau tinggal disini ditambah kau akan kulatih bertarung, bagaimana?”
Muve terdiam sesaat mencoba memikirkan tawaran Alex yang cukup bagus “Baiklah” jawab Muve.
Alex terlihat senang mendengar jawaban Muve yang menyetujui sarannya.
“Tapi hanya selama 3 bulan! Setelah itu aku akan bebas pergi atau tidak!” sambung Muve.
Raut wajah Alex sedikit kecewa mendengarnya tapi dia menganggukkannya karena itu lebih baik daripada tidak sama sekali.
Siang hari itu pula mereka langsung pergi ketempat latihan untuk memulai pelajaran mereka.