
Pagi harinya.
Muve membangun Lucy untuk bersiap-siap mandi dan pergi dari penginapan hari itu juga, setelah semuanya selesai mereka pun keluar dari penginapan sambil disenyumi oleh resepsionis yang sudah berada dimeja kerjanya.
Mereka berdua berjalan-jalan dengan santainya menuju kegerbang untuk keluar dari kota itu yang bahkan mereka belum tahu namanya.
Sesampainya digerbang mereka dihadang oleh penjaga dengan pedang, mereka bermulai melontarkan beberapa pertanyaan kepada Muve seperti “Kau ingin kemana?” “Dimana kartu identitasmu?” “Kenapa kau bersama elf ini?” “Apa dia budakmu” Muve menjawab dengan santainya karena mengira kalau orang-orang dikota ini adalah orang baik.
Setelah itu karena mereka percaya dengan apa yang dikatakan oleh Muve, mereka pun mengijinkan Muvr lewat dan memberikan sebuah peta besar.
Dipeta tertulis kalau kota tempat mereka sebelumnya bernama Lionheart dan tentu saja itu membuat Muve terkejut karena Lionheart adalah ibukota kerajaan Altair.
Kerajaan Altair adalah kerajaan biasa yang terletak begitu jauh dari kerajaan-kerajaan lain dan hanya kerajaan ini yang berada cukup dekat dengan Hutan Iblis.
Hutan Iblis adalah hutan yang penuh kabut yang tak pernah menghilang dan salah satu tempat tinggal terbesar bagi para Iblis, karena ini pula banyak rumor mengatakan kalau orang-orang dikerajaan Altair sebenarnya adalah Iblis tapi belum pernah ada orang yang sungguh-sungguh dapat memastikan hal itu.
“Bagaimana kita bisa berada ditempat ini kak? Bukankah jarak antara kerajaan Calvary dan Altair itu sangatlah jauh? Bahkan perjalanan paling cepat pun sepertinya memerlukan waktu seminggu.” tanya Lucy saat ikut melihat isi peta.
“Entahlah... Sihir teleportasinya sangat tidak logis.” jawab Muve.
“Lalu sekarang kita kemana? Lucy sama sekali tidak terlalu kenal dengan tempat-tempat yang ada dipeta ini.” tanya Lucy.
“Bagaimana kalau kesini?” ajak Muve menunjuk sebuah desa kecil bernama Lotus.
“Tapi bukannya itu sangat dekat dengan Hutan Iblis? Atau memang itu tujuan kakak kesana?” jawab Lucy dengan tatapan mencurigai.
“Te-tentu saja tidak.” jawab Muve mengalihkan pandangannya kearah lain.
“Kakak sebaiknya mengurangi ketertarikan untuk bertarung, Lucy tidak ingin kakak menjadi maniac bertarung.” ucap Lucy.
“Hehe.”
Karena Muve sudah memutuskan Lucy pun mengikutinya dan mereka mulai pergi kearah desa Lotus sesuai dengan jalan yang ada dipeta.
Perjalanan mereka sangat damai dan tenang kali ini ditambah lagi udara dipagi hari sangatlah menyegarkan.
Siang harinya.
Mereka pun sampai didesa Lotus tetapi mereka terdiam membeku melihat kondisi desa itu sangatlah buruk.
Rumah-rumahnya sudah terlihat hampir roboh dan ada beberapa yang rusak, orang-orang ditempat itu banyak yang terluka entah apa yang terjadi didesa itu.
“Apa yang terjadi disini??” tanya Lucy.
“Entahlah.” jawab Muve.
Mereka berjalan berkeliling di desa itu dan menemukan satu rumah yang terlihat sedikit lebih baik dari rumah-rumah lainnya.
Tok Tok Tok
Muve memutuskan mengetuk pintu itu siapa tahu ada orang yang bisa menceritakan tentang desa itu.
“Ya?” jawab seorang gadis cantik membuka pintu rumah itu.
“Siapa kalian? Wajah kalian sangat asing dimataku.” tanya gadis itu.
“Ah! Aku Muve dan ini Lucy kami baru saja datang dari ibukota tetapi saat sampai disini kami terkejut melihat kondisi desanya seperti ini. Memangnya apa yang telah terjadi.” jawab Muve.
“Cih pergilah! Didesa ini tidak menerima pendatang baru lagi apalagi kalau orang itu seperti iblis!” jawab gadis itu menatap sinis kearah Lucy.
“Iblis? Lucy bukanlah iblis!” bentak Lucy tidak terima dengan yang dikatakan gadis itu.
“Dilihat darimana pun kau terlihat sama dengan Iblis yang menggunakan panas dari hutan ini! Hanya berbeda warna kulit saja.” ucap gadis itu.
“Itu Dark Elf! Kalau Lucy ini masih Elf jadi tentu saja Lucy tidak menjadi hitam.” bentak Lucy.
“Sudah-sudah jangan diperpanjang lagi Lucy.” tegur Muve langsung mengandeng tangan Lucy dan pergi dari rumah itu.
“Kenapa sih orang di desa ini!” ucap Lucy terlihat kesal.
“Sepertinya mereka diserang oleh iblis yang berada dihutan iblis.” jawab Muve.
“Kakak tahu darimana?” tanya Lucy.
“Dari sini.” ucap Muve menunjuk kepalanya.
“Lagipula cuman itu yang mungkin membuat desa ini seperti sekarang ini.” sambung Muve.
“Lalu sekarang kita harus apa? Pergi kedesa lain saja?” tanya Lucy.
“Lucy, kau tidak lupakan alasan kita kesini.” jawab Muve.
“Tapi ini hutan iblis loh kak! Kaka yakin?” tanya Lucy.
“Lagipula tidak ada salahnya mencoba.” jawab Muve.
Karena sudah seperti itu Lucy hanya ikut sajs mengikuti Muve yang berjalan untuk memasuki hutan iblis tetapi saat mereka baru mau masuk kehutan terdengar suara seseorang memanggil mereka.
“Hei! Kalian mau kemana?” tanyanya.
Mendengar itu Muve dan Lucy pun berbalik, ternyata suara itu berasal dari seorang laki-laki yang terlihat seperti Hunter sambil membawa perisai ditangan kirinya.
“Tentu saja untuk masuk kesana.” jawab Muve menunjuk kearah hutan iblis dengan santainya.
“Apa kau tidak tahu itu hutan apa?” tanyanya.
“Ini hutan iblis bukan?” jawab Muve dengan polosnya.
“Kalau sudah tahu kenapa kau masih ingin pergi kesana?” tanyanya lagi.
“Tentu saja untuk bertarung.” jawab Muve dengan polosnya.
“Hah? Kau pikir hutan itu tempat biasa seperti ditempat-tempat lain?”
“Lalu kau mau apa? Bukankah tidak pernah ada larangan masuk kehutan ini?” jawab Muve.
Laki-laki itu terlihat kesal dan mengkerutkan dahinya “Ya sudah kalau kau memang tidak sayang nyawamu pergi saja tetapi Elf itu tinggal disini.” ucapnya menunjuk Lucy.
“Apa yang kau katakan barusan?!” tanya Muve mulai kesal.
“Harusnya aku katakan ulang? Aku bilang pergi saja tetapi Elf itu tinggal disini.” jawabnya.
“Dia bisa saja ikut-ikutan mati karena mengikutimu masuk kehutan itu.” sambungnya.
Muve mengepalkan tangannya saat mendengar perkataan laki-laki itu tetapi Lucy menahan Muve “Sudahlah kak, biarkan saja orang aneh itu.” ucap Lucy.
“Aneh? Hei aku berniat baik kepadamu supaya tidak mengikuti orang bodoh ini tetapi kau bilang aku aneh?” ucap laki-laki saat mendengar perkataan Lucy.
“Iya! Kau adalah orang aneh! Bweee.” jawab Lucy mengejek orang itu.
Muve tersenyum melihat Lucy yang seperti itu dan memutuskan mengabaikan orang tadi kemudian tetap masuk kehutan iblis.
“Dasar tidak tahu terima kasih! Aku harap kalian mati saja disana!!” teriak laki-laki.
Didalam hutan itu sangat gelap dan berkabut padahal kalau dilihat dari luar tidak ada kabut sama sekali tetapi saat masuk malah tiba-tiba berkabut.
Tentu saja itu sedikit merepotkan karena membuat lebih mudah tersesat dan berputar-putar.
“Kabut seperti ini membuat Lucy tidak bisa melihat jalan dengan jelas.” keluh Lucy.
“Sebentar ada yang mau kucoba.” ucap Muve maju beberapa langkah.
Kemudian ditangan Muve seketika muncul sebuah pedang besi yang diambilnya dari Inventory.
“Slashing Wave!”
Benar saja tebasan itu sungguh membuat kabut menghilang sementara dan membuat jalan yang akan dilalui menjadi lebih jelas.
“Woah!! Kabutnya menghilang.” ucap Lucy yang terlihat kagum.
“Nah sekarang ayo kita jalan.” ajak Muve mengandeng tangan Lucy setelah menyimpang kembali pedangnya.
Mereka melanjutkan perjalanan menyusuri hutan Iblis.
***
Sementara itu jauh didalam hutan Iblis.
Terdapat sebuah kastil besar tempat tinggal para iblis hebat.
“Sepertinya ada seseorang yang menarik memasuki hutan ini.” ucap seorang iblis yang sedang duduk disinggasana dikastil besar tersebut sambil tersenyum licik.
“Huhu memang orang menarik seperti apa yang membuat anda tersenyum seperti itu raja Vampire?” tanya seorang gadis iblis yang berdiri disamping iblis tadi.
“Kalau kau penasaran sebaiknya kau pergi saja mencarinya dihutan iblis.” jawabnya.
“Sepertinya tidak dulu karena belum tentu dia seleraku.” jawab gadis iblis itu.
“Blood Wizard! Pergilah kesana untuk mengurus orang itu.” ucap iblis yang duduk disinggasana.
“Baik raja Vampire.” jawab seorang iblis bertopeng yang memegang tongkat ditangannya.