Super Systems

Super Systems
Ch 40:Kota Sailand I



Karena dirinya sama sekali tidak merasa mengantuk Valen memutuskan untuk terus berjalan dimalam hari yang cukup dingin tersebut.


Sudah berjam-jam dirinya berjalan akhirnya Valen keluar dari gurun pasir tersebut dan mulai melihat jalan setapak yang mungkin saja mengarah kekota atau desa.


Benar saja setelah terus mengikuti jalan setapak tersebut Valen akhirnya sampai disebuah kota yang cukup besar.


“Aku cukup asing dengan kota ini...” batin Valen saat berada digerbang masuk kekota tersebut.


Valen masuk kekota itu dengan mudahnya karena para penjaga terlihat ketiduran, yah kelelahan berjaga seharian mungkin.


Kota tersebut cukup sunyi mungkin karena sudah tengah malam dan waktunya bagi orang untuk tidur.


Disaat berjalan Valen sedikit terganggu mendengar ******* dimana-mana dikota iru, yah wajar sih tengah malam terlebih lagi karena sepinya malam itu jadi suaranya terdengar jelas.


“Hah... Berisik sekali...” gumam Valen.


Tidak lama Valen akhirnya menemukan sebuah toko yang masih buka karena lampunya menyala terang didalam toko tersebut.


Cring!!


Valen memutuskan untuk memasukinya dan didalam Valen melihat seorang pemuda yang mungkin sedikit lebih tua darinya sedang duduk dimeja tempat melayani tamu.


“Selamat datang.” ucapnya sambil tersenyum hangat.


Ternyata itu adalah toko buku yang cukup besar, toko tersebut begitu banyak buku tersusun diraknya bahkan kalau dihitung mungkin bisa ribuan buku ditempat itu tapi walaupun begitu toko itu cukup mencurigakan karena sampai buka larut malam padahal tidak mungkin ada orang yang membaca atau membeli buku dijam seperti itu.


“Hm? Sepertinya anda orang yang baru sampai dikota ini, karena wajah anda terlihat asing.” ucapnya kepada Valen.


“Ya aku baru saja sampai beberapa saat sebelumnya.” jawab Valen.


“Anda berjalan-jalan ditengah malam seperti ini? Kalau ada seorang prajurit melihat anda pasti anda sudah dicurigai sebagai penjahat.” sambungnya.


“Aku hanya perlu lari.” jawab Valen.


“Anda orang yang menarik... Saya Mehis pemilik toko buku ini, jadi perlu apa anda ditoko saya?” ucapnya.


“Aku sebenarnya tidak memiliki minat untuk membeli buku, awalnya kukira ini adalah restoran.” jawab Valen.


“Sayang sekali tidak ada restoran yang buka dijam seperti ini tapi kalau tidak salah Blacksmith yang berada diujung jalan sini masih buka dijam seperti ini.” ucapnya


“Blacksmith? Sungguh? Kalau begitu sebaiknya aku kesana saja, aku permisi dulu.” ucap Valen berbalik berjalan kearah pintu keluar.


“Kenapa anda tidak membawa salah satu buku saya untuk dibaca dijalan nanti? Akan saya pinjamkan bukunya anggap saja salam perkenalan dari saya.” ucapnya saat Valen berbalik.


“Maaf tapi aku bukanlah orang yang suka membaca buku.” jawab Valen.


“Mungkin anda akan berubah pikiran setelah membaca ini!” ucapnya mengeluarkan sebuah buku dengan sampul polos.


“Memangnya apa isi buku itu?” tanya Valen.


“Sebaiknya anda lihat sendiri karena kalau saya sudah memberitahukan isinya, mungkin akan tidak menarik lagi.” jawabnya.


Valen sedikit mencurigainya saat mendengar dia berkata seperti itu tapi disaat yang sama Valen juga merasa penasaran dengan buku yang dipegangnya oleh Mehis.


“Tidak-tidak! Aku tidak boleh tergoda! Aku tidak ingin membuang-buang waktu untuk membaca buku.” batin Valen.


“Tidak, terima kasih. Mungkin lain kali saja aku kemari untuk membacanya.” ucap Valen melambaikan tangannya dan pergi keluar dari toko.


Cring!!


“Baiklah kalau begitu, sampai jumpa.” ucap Mehis tersenyum hangat.


“Padahal aku telah menggunakan skill Charmku agar dia tertarik membaca disini tapi sepertinya tidak mempan kepadanya, aku tidak sabar melihatnya datang kembali.” ucap Mehis.


***


Valen memutuskan pergi ke Blacksmith yang disebutkan oleh Mehis sebelumnya dan memang benar ternyata ada sebuah bangunan yang masih menyala lampunya.


Valen mengetuk pintu rumah tersebut dan tidak lama kemudian ada seorang pria tua kerdil yang membukakan pintu dengan raut wajah yang tidak ramah.


“Siapa kau? Ada perlu apa kau ditempatku?” tanyanya.


“Aku dengar dari seseorang tempat ini adalah Blacksmith, jadi apa itu benar?” jawab Valen.


“Iya, lalu?”


“Aku ingin belajar cara membuat senjata.” jawab Valen dengan percaya diri.


“Hah? Kau pikir mudah membuat senjata? Lebih baik kau pergi saja.” ucapnya.


“Aku mohon! Setidaknya biarkan aku sekali saja ajarkan aku dasarnya!” ucap Valen memohon.


“Hah... Anggap saja kau beruntung nak, kalau begitu ayo.” ucapnya.


“Terima kasih... Uh...”


“Tael, namaku Tael.”


Valen kemudian masuk ke Blacksmith milik Tael tersebut untuk belajar cara menempa senjata.


“Memangnya kau ingin menempa senjata seperti apa?” tanya Tael.


Valen mengeluarkan Shark Dagger dari Inventorynya dan memberikannya kepada Tael.


“Tu-tunggu! Darimana datangnya Dagger itu? Bukankah kau sebelumnya tidak ada membawa senjata sama sekali?” tanya Tael yang terkejut melihat Dagger tiba-tiba muncul ditangan Valen.


“Uh... Anggap saja itu adalah Skillku.” jawab Valen.


“Ya sudah. Hm Dagger ini cukup unik dan dilihat dari bentuknya ini terbuat dari taring Hiu, dimana kau mendapatkannya?” tanya Tael setelah melihat-melihat Dagger tersebut.


“Aku mendapatkannya setelah membunuh Bos dungeon.” jawab Valen.


“Setahuku Bos Dungeon tidak bisa menjatuhkan senjata? Biasanya hanya material saja.”


“Mungkin itu keberuntunganku,hehe.”


“Kalau kau ingin membuat Dagger bisa saja tapi Dagger yang mirip seperti ini cukup sulit karena membuat Dagger seperti ini tidak semudah Dagger biasa. Kau perlu membuatnya dari Material yang kuat dan kerasnya hampir sama dengan taring Hiu.” ucapnya memberikan Dagger tersebut kembali kepada Valen.


“Setidaknya aku mempunyai dasaran untuk menempa senjatanya.” jawab Valen.


“Kalau begitu ayo aku akan perlihatkan caranya.”


Tael berjalan melelehkan besi dengan api yang begitu panas ditungku dan setelah besinya telah menjadi besi cair yang panas Tael kemudian menuangkan besi cair tersebut kecetakan untuk menjadi besi tipis dan sekarang hanya menunggunya dingin dan mengeras.


Kemudian setelah mengeras Tael mengambilnya dan kembali memanaskannya tetapi tidak sampai meleleh, setelah cukup panas Tael memukul Dagger tersebut dengan palu, dia mengulang-ngulang itu cukup banyak dan sampai akhirnya Dagger pun telah jadi, walau terlihat mudah tapi sebenarnya itu cukup sulit karena hal yang paling menyulitkan adalah saat memukul besi panasnya dan membentuk Dagger.


“Bagaimana kau paham sekarang?” tanya Tael.


“Sedikit, sekarang bolehkah aku mencobanya?” jawab Valen.


“Lakukanlah tapi karena sebentar lagi pagi jadi batas waktumu hanya sampai matahari terbit, setelah itu kau harus pergi.” jawab Tael.


“Baiklah.”


Valen kemudian mencoba mengikuti apa yang telah diperagakan oleh Tael sebelumnya, awalnya Valen sempat membuat kesalahan karena terlalu cepat mengangkat besi yang dilelehkan.


“Kau harus sabar... Jangan terburu-buru.” tegur Tael.


Valen mengulang kembali melelehkan besi dan dia melakukan kesalahan lagi saat menuangkan besi cair yang tidak rapi menjadi besi tipis.


“Sudahlah lanjutkan saja, besi itu sudah bisa ditempa walau nanti bentuknya sedikit berbeda.”


Mendengar itu Valen kemudian melakukan tahap selanjutnya yaitu pembentukan senjatanya, Valen mencoba menahan kekuatannya agar tidak mementalkan besi itu kemana-mana.


Memukul besi itu bukanlah hal mudah karena Valen harus memukul dibagian yang tepat bersamaan dengan menahan kekuatannya.


Sekitar 1 jam berlalu akhirnya Valen selesai membuat senjata pertamanya sendiri tapi bentuknya sedikit berbeda dari Dagger yang dipakai selama ini.


[Mendapatkan Skill - Blacksmith]


“Hahaha Dagger apa itu? Bentuknya sangat tidak teratur.” ucap Tael yang tertawa melihat senjata yang ditempa oleh Valen telah selesai.


“Hehe membuatnya sendiri ternyata lebih sulit daripada melihatmu.” ucap Valen tersenyum canggung.


“Tapi itu awalan yang bagus karena kebanyakan orang pada awalnya selalu gagal dalam tahap memukulnya.”


“Terima kasih pak Tael.”


“Lalu mau kau apakan Dagger itu?”


“Aku akan menyimpannya... Ini adalah karya pertamaku.” jawab Valen.


“Kalau begitu kau perlu mengasah untuk lebih tajam terlebih dahulu karena Dagger itu terlihat sangat tumpul, sini.” ucapnya meminta Dagger tersebut.


Valen memberikan Daggernya dan Tael membawanya untuk diasah, tidak memakan waktu lama Daggernya telah selesai diasah.


Tael menyuruhnya untuk mengetes Dagger tersebut pada batang kayu yang biasanya dia pakai untuk mengetes ketajaman senjata buatannya.


“Tidak terasa ternyata sudah pagi... Maafkan aku pak Tael karena telah menyita waktu malammu.” ucap Valen.


“Tidak apa, lagipula mengajari seseorang bukanlah hal buruk.” jawab Tael.


“Kalau begitu aku izin pamit dulu pak Tael, terima kasih atas bantuanmu.” ucap Valen menundukkan kepalanya.


“Iya, lain kali datang lagi tapi aku belum tahu namamu.”


“Valen! Namaku Valen!”


“Baiklah Valen sampai jumpa.”


Valen keluar dari tempat Tael dan sekarang mungkin saatnya dirinya untuk pergi ke Guild atau mungkin ke penginapan.