
Demian menghantamkan tangan naga besarnya kearah Valen dengan raut wajah marah karena rumahnya yang dihancurkan oleh Valen.
“Oi bocah lari!” teriak Valen kepada Demis sambil meloncat kesambil untuk menghindari serangannya Demian.
Bum!!
“Hanya karena hantaman tangannya saja sudah membuat tanah bergetak apalagi kalau dia menggunakan Skillnya!” batin Valen.
“Sial sebaiknya lari saja!”
Valen berlari kearah Demis yang terduduk gemetar tepat disebelah tangan Demian yang menghantam tanah sebelumnya.
“Ayo pergi dari sini!” ucap Valen menggendong Demis kemudian berlari untuk meninggalkan tempat itu.
“Kau pikir bisa lari semudah itu!”
“Wave Destruction.”
Sebuah bola kegelapan muncul ditengah-tengah mulut Demian yang sedang menganga yang kemudian terus membesar dan membesar “Matilah!” bola kegelapan tersebut seketika menjadi sebuah sebuah serangan yang begitu besar dan panjang.
“Gawat!” Valen mencoba menghindari serangan tersebut tapi karena sedikit terlambat Valen harus kehilangan tangan kirinya dan membuat dirinya bersama Demis terjatuh.
Serangan tersebut sangat luar biasa sampai meratakan apapun yang ada dijalurnya hanya menyisakan tanah yang berlubang karenanya.
Tetapi walaupun Valen menghilangkan satu lengannya dia tidak beraksi seperti orang kesakitan sama sekali, bahkan langsung berdiri dan menggendong Demis dibahunya untuk lanjut melarikan diri.
“Pegangan yang kuat!” ucap Valen kemudian berlari lagi.
“Bagaimana mungkin dia masih bisa berlari setelah terkena serangan seperti itu?!” gumam Demian yang terkejut melihat Valen masih terus berlari.
“Kakak! Darah yang keluar semakin banyak!!” ucap Demis yang prihatin dengan tangan Valen yang terluka.
“Tidak perlu dipedulikan, terus pegangan yang kuat!” jawab Valen.
“Darkness Orb!”
Bola-bola kegelapan seketika muncul disekitaran Demian dengan jumlah yang cukup banyak, dengan tatapan marah ke Valen dia mengambil salah satu bola kegelapan dan melemparkannya Valen.
Whosshh
Bola tersebut menghisap apapun yang dilewatinya dengan cepat dan hancur setelah masuk kedalam bolanya.
“Kakak! Ada serangan yang datang!” ucap Demis menunjuk kearah bola kegelapan yang menuju kearah mereka.
“Aku tahu!” jawab Valen mempercepat larinya.
Tapi bola tersebut sama sekali tidak berhenti mengejar Valen padahal jaraknya sudah cukup jauh dari Demian.
“Sepertinya kalau satu saja tidak cukup, kalau begitu terima ini!”
Demian mengambil bola-bola kegelapan yang melayang disampingnya dan melemparkannya sekuat tenaga kearah Valen sebanyak mungkin sampai tidak tersisa lagi bola kegelapan disekitarnya.
“Kakak! Bolanya semakin banyak!!”
“Diamlah!” bentak Valen.
“Cih, dia terlalu pendendam sebagai naga.” batin Valen.
[Super Regeneration - Aktif]
“Akhirnya, aktif juga.”
“Summon - Fighting Puppet.”
“Fighting Puppet! Tahan serangan itu!” teriak Valen meninggalkannya.
Crack!
Hanya terkena satu bola kegelapan saja sudah menghancurkan Fighting Puppet seketika, dan tidak memberikan waktu untuk Valen menjauh sebentar saja.
“Kalau begitu tidak punya pilihan lain.”
[Mengambil Shark Sword]
Valen berbalik kearah bola-bola kegelapan yang mengarah padanya “Slashing Wave!”
Valen percaya kalau serangan terkuatnya tersebut bisa menghancurkan bola-bola yang mengarah padanya tapi sayangnya itu salah, bola-bola kegelapan masih tetap bergerak kepadanya namun menjadi lebih lambat dan kecil.
“Slashing Wave!”
Duar!!
Duar!!
Duar!!
Serangan kedua Valen menghancurkan bola kegelapannya dan membuatnya meledak sampai sedikit membuat Valen termundur.
“Selesai, saatnya melarikan diri lagi.” ucap Valen.
“Kakak! Tolong!!” ucap Demis yang ketakutan dan mulai menangis.
“Hoi dia itu anak kecil lho! Kau sungguh ingin membunuhnya?” ucap Valen.
“Anak kecil? Jangan anak kecil, bayi yang masih dalam perutpun aku bunuh!” jawabnya.
Wuaa!!!!
Wuaa!!!
Demis mulai menangis cukup keras setelah mendengar ucapan Demian sampai membuat Demian menjadi kesal “Diamlah!! Atau aku akan langsung memakanmu!” bentak Demian tetapi bukannya menjadi diam, tangisan Demis malahan menjadi semakin keras.
“Ayah!!!! Tolong aku!!!” teriak Demis sambil menangis.
“Diamlah!!” ucap melayangkan tinjunya kewajah Valen.
“Hah... Sudahlah lepaskan saja dia, kalau kau sungguhan ingin bertarung denganku, jangan libatkan anak kecil itu.” ucap Valen menahan tangan Demian yang tadi ingin memukul Demis, dengan kuat.
“Baiklah kalau begitu, aku lepaskan dia!” jawab Demian mendorong Demis hingga terjatuh.
“Demis, pergilah. Tempatmu bukan disini, sebaiknya kau pulang dan bertemu ayahmu.” ucap Valen tersenyum kepada Demis.
“Ba-baik kak.” jawab Demis menyapu air mata serta ingusnya kemudian pergi dari tempat itu.
“Nah sekarang sudah tidak gangguan lagi, kau harus tepati perkataanmu.” ucap Demian.
“Weakness Chain.”
Sebuah rantai besar muncul dari tanah dan langsung melilit pinggang Demian dengan kencangnya.
“Apa ini!” ucap Demian mencoba melepas-lepaskan rantai tersebut.
“Itu adalah tiket kekalahanmu.” jawab Valen.
“Human-Form - Batalkan!”
Tidak terjadi apapun setelah Demian mengeluarkan skillnya dan hal itu membuat cukup terkejut, Demian pun terus mengucapkan skill yang sama berkali-kali tapi tidak ada yang terjadi.
“Ke-kenapa aku tidak bisa berubah kewujud nagaku!” ucapnya.
“Apa jangan-jangan karena rantai ini?!”
“Yap, nah sekarang saatnya pemukulan, rapatkan gigimu ya.” ucap Valen menggenggamkan tangan kanannya dan memukul Demian bertubi-tubi.
Mungkin karena efek Weakness Chain juga sampai membuat Demian langsung pingsan hanya dalam 5 kali pukulan ditubuh dan 2 pukulan diwajah.
Tapi Valen tidak berhenti disitu, dirinya terus memukuli Demian tanpa henti hingga wajahnya sangat bonyok dan penuh darah.
“Jujur aku sangat ingin membunuhmu tapi mengingat kau adalah salah satu entitas yang berkuasa disekitaran ini jadi aku membiarkanmu, sebenarnya aku cukup bingung kenapa Dark Dragon tinggal ditempat yang seharusnya adalah Earth Dragon.” ucap Valen saat berhenti memukulinya karena sudah merasa sudah cukup.
Valen pun membatalkan Skill Weakness Chainnya dan kemudian duduk disamping tubuh Demian yang terluka parah.
Sekitar 4 jam berlalu dan hari pun mulai sore.
Setelah cukup lama duduk disamping Demian sampai tertidur untuk sesaat Demian akhirnya terbangun sambil mengeluh tubuhnya yang terasa sangat kesakitan.
“Akhirnya kau bangun juga.” ucap Valen.
“Kau!! A-apa yang kau lakukan disini! Ja-jangan kau masih ingin menyiksaku!” ucap Demian yan terkejut dan sedikit gemetar saat mengingat dirinya yang dibuat babak belur oleh Valen.
“Tentu saja tidak, aku hanya menjaga tubuhmu kalau-kalau ada monster yang mencoba membunuhmu seperti yang disana itu!” ucap Valen menunjuk ketumpukan tubuh Golbin dan Ogre yang telah mati disampingnya.
“Kau melakukan itu setelah kau sendiri yang mencoba untuk membunuhku?” ucap Demian terlihat bingung.
“Yah, kau juga yang duluan yang menyerang.” jawab Valen.
“Hei! Siapa yang duluan bertingkah sampai-sampi menghancurkan rumah orang lain, hah?!” bentak Demian.
“Lagipula kau duluan yang memancing-mancingku.”
“Kalau kau tidak mengatakan aku yang terkena Curse pasti semua ini tidak terjadi!”
“Tunggu dulu! Darimana kau tahu kalau aku terkena Curse? Padahal aku belum pernah mengatakannya kepada siapapun, bahkan kepada saudara-saudaraku.” ucap Demian.
“Untuk hal itu adalah rahasia.” jawab Valen.
“Apa jangan-jangan kau adalah salah satu anak buahnya? Seingatku belum pernah ada orang yang bisa membuatku kalah telak seperti itu kecuali dia.” tanya Demian lagi.
“Dia? Dia siapa?” jawab Valen yang sedikit bingung.
“Kau sungguh tidak tahu orang yang aku maksud?” tanya Demian.
“Aku sama sekali tidak mempunyai kenalan orang kuat, bahkan aku saja baru keluar dari suatu tempat setelah 3 tahun.” jawab Valen.
“Sebenarnya aku juga tidak tahu nama aslinya tapi dia menyebut dirinya sebagai DARK MAGICIAN.”