Super Systems

Super Systems
Ch 49:Kelompok Bertopeng



“Pangeran Lucius?!”


“Apa dia baru saja mengatakan kalau dia adalah pangeran Lucius?!”


“Apa yang dilakukan pangeran dikota kita?!”


“Apa walikota telah melakukan kesalahan sampai membuat pangeran datang kemari?” gumam-gumam para warga disekitar yang mendengar perkataan Lucius.


“Sepertinya ini bukanlah tempat yang cocok untuk berbicara, bagaimana kalau kita pergi ketempat makan saja?” ucap Lucius.


“Maaf aku tidak tertarik untuk makan sekarang.” jawab Demian menghiraukannya.


“Hei! Yang mulia berbicara denganmu!” ucap wanita disebelah Lucius menahan bahu kiri Demian.


“Sudah kubilang aku tidak tertarik!!” tatap Demian dengan penuh kesal kepadanya membuatnya sedikit takut dan melepaskan tangannya.


“Baiklah kalau tidak mau berbicara ditempat makan maka aku akan langsung keintinya saja.”


“Aku juga tidak tertarik ikut denganmu untuk membantu Pahlawan apapun yang kau sebutkan tadi.” jawab Demian.


“Sayang sekali ini bukanlah permintaan tapi perintah!” ucapnya dengan sombong.


“Hah?! Beraninya bocah kecil sepertimu memerintahku! Memangnya kau sekuat apa hah?!” ucap Demian berbalik kearahnya.


“Bukankah aku ini adalah Pangeran jadi kau sebagai rakyat biasa harusnya mengikuti perintah dariku.” jawabnya.


“Kalau aku tidak mau bagaimana?”


“Aku akan memaksamu kalaupun itu harus melukaimu.” jawabnya.


“Pfft* Hahahaha kau melukaiku? Hei dengar ya bahkan kalaupun kau memanggil banyak prajurit dan hunter tidak akan bisa melukaiku.” ucap Demian tertawa mendengar jawaban Lucius.


“Kau cukup sombong untuk seorang rakyat biasa.” ucapnya menatap Demian terlihat kesal.


“Ya ya terserah kau sajalah! Aku tidak peduli.” Demian pun pergi meninggalkannya dan pergi ke penginapan yang sebelumnya.


“Cih! Lihat saja, akan aku buat kau berlutut saat William sampai dikota ini!” gumamnya sambil menatap Demian.


***


“Sialan! Sepertinya tinggal dikota manusia bukanlah pilihan bagus.” gumam Demian saat sampai di lubang besar di penginapan tempat tinggal sebelumnya.


“Kalau begitu kau ingin tidur dimana coba? Didalam gua?” tanya Valen.


“Tentu saja! Itu adalah tempat paling nyaman untukku.” jawabnya.


“Ya sudah, ayo kita pergi saja dari sini.”


“Sedikit disayangkan sih padahal kita belum sehari tinggal disini.” sambung Valen.


“Tidak perlu, aku sudah tidak ingin tidur lagi.” jawab Demian.


“Memangnya siapa yang sebelumnya melempar batu kemari?” tanya Valen.


“Troll.”


“Troll? Lho bukannya monster itu biasanya tinggal di dekat pegunungan? Kenapa dia bisa sampai kemari?” tanya Valen lagi.


“Manaku tahu, mungkin ingin pindah rumah.” jawab Demian.


“Troll bukanlah monster yang sering berpindah-pindah! Mereka hanya tinggal ditempat yang sama bahkan sampai dia mati.”


“Lalu maksudmu ini adalah hal aneh begitu?” tebak Demian.


“Ya mungkin saja.”


“Hm... Kau bisa saja benar soalnya tadi aku juga melihat ada seorang bocah yang mengaku sebagai Pangeran dan mungkin dia kemari juga untuk melihat hal aneh ini.”


“Tapi seingatku selama kita lewat saat terbang sebelumnya aku tidak melihat adanya hal aneh.”


“Bagaimana kalau kita berkeliling saja didaerah luar kota ini?”


“Baiklah, lumayan kalau ada monster untuk melampiaskan kekesalanku.” jawab Demian.


Mereka keluar dari kota untuk memeriksa daerah disekitaran kota Asteria kalau memang ada hal aneh yang dicurigai oleh Valen.


Tapi setelah cukup lama mereka sama sekali tidak melihat adanya hal aneh kemudian mereka memutuskan untuk memeriksa daerah yang cukup jauh dari kota tersebut dan tetap saja tidak ada yang mencurigakan sama sekali.


“Lihat! Kita hanya membuang-buang waktu saja.” ucap Demian.


“Ya aku kan sudah bilang 'mungkin saja' jadi pasti ada kemungkinan kalau dugaanku salah.” jawab Valen.


“Hah... Kalau tahu begini mending tadi aku tetap dikota saja.”


“Iya harusnya kalian dikota saja dan mati dibunuh peliharaan kami yang lucu.” ucap seseorang bertopeng yang tiba-tiba muncul di dahan pohon disebelah kanan mereka.


“Kapan dia disana? Aku sama sekali tidak merasakan keberadaannya sebelumnya.” batin Valen saat melihatnya.


“Ayolah tidak perlu setegang itu! Aku hanya mampir untuk ngobrol sebentar.” ucapnya.


“Siapa kau?” tanya Demian.


“Aku? Aku sebenarnya tidak peduli mempunyai nama atau tidak tapi anggota yang lain memanggilku Snake.” jawabnya.


“Apa maksudku tentang monster yang menyerang dikota?” tanya Valen.


“Apa maksudmu tentang peliharaan kau?” tanya Valen.


“Mereka adalah monster yang menyerang kota dan mungkin sebentar lagi kotanya akan hancur.” jawabnya.


“Jadi monster yang menyerang sebelumnya adalah ulahmu?!” ucap Valen.


“Lebih tepatnya ulah Rab...”


“Sayang sekali kau salah Snake! Para Trollnya sudah mati sekitar 30 menit yang lalu.” potong seseorang bertopeng lainnya yang seketika muncul disebelahnya.


“Apa maksudmu Rabbit? Bukankah katamu kalau kota itu tidak memiliki orang kuat yang mampu membunuh mereka?” tanyanya.


“Memang begitu seharusnya kecuali ada orang kuat yang sedang bersinggah disana.” jawabnya.


“Siapa lagi orang ini?! Aku tidak merasakan hawa keberadaan saat kemari!!” batin Valen semakin terkejut melihat adanya orang lain yang sama seperti orang yang sebelumnya.


“Snake? Rabbit? Memangnya kalian binatang? Sampai menggunakan nama binatang kepada diri kalian?” tanya Demian sedikit mengejek.


“Aku tidak tahu soalnya ayah yang memberi kami nama.” jawab Snake.


“Untuk apa kau menjawabnya Snake? Bukankah itu tidak perlu?” tanya Rabbit.


“Dan apa yang kau lakukan disini? Bukankah seharusnya kau pergi ke kota selanjutnya bersama dengan peliharaan milikmu?” sambung Rabbit.


“Ini aku mau pergi kesana tapi aku tertarik saat melihat dua orang ini yang berbolak-balik seperti mencari sesuatu.” jawab Snake.


“Benar! Yang kami cari adalah sebab datangnya Troll tadi dan ternyata itu ulah kalian jadi aku tidak perlu repot kesana-kemari lagi.” ucap Demian memukulkan tangannya ketelapak tangannya.


“Lalu kau mau apa? Menyerang kami begitu?” ucap Snake.


“Lebih tepatnya membunuhmu.” jawab Demian.


“Coba saja kalau bisa.” tantang Snake.


“Hah... Kau ini suka sekali membuat masalah yang membuang-buang waktu kita.” ucap Rabbit memegang kepalanya sambil bergeleng melihat sifat Snake.


“Triple Slash.”


Valen melompat dan menyerang Rabbit menggunakan Shark Dagger miliknya sebanyak tiga kali tetapi Rabbit melompat ke belakang cukup jauh dan membuat semua serangan Valen tidak mengenai apapun.


“Hei orang bertopeng aneh! Karena temanku itu memilih temanmu, bagaimana kita bertarung disana saja!” ucap Demian menunjukkan jarinya kearah kiri.


“Hooo satu lawan satu? Boleh juga kalian.” ucapnya mengikuti Demian yang berjalan kearah yang ditunjuk olehnya sebelumnya.


“Tentu saja!” jawabnya.


Valen berdiam ditempatnya sambil melirik Rabbit yang melompat semakin cepat hingga membuat sebuah bayangan dirinya disekitarnya.


“Kau salah memilih lawan! Belum pernah ada orang yang bisa menangkapku saat melompat.” ucapnya.


“Double Kick.”


Rabbit keluar dari lingkaran lompatannya dan maju cukup cepat kearah Valen untuk menyerangnya dengan kakinya.


Buk Buk


Sayangnya Valen berhasil menangkis dengan tangannya dan Rabbit yang menyadari itu kembali lagi mundur kelingkaran lompatannya dan mulai melompat seperti sebelumnya.


“Kau beruntung bisa menangkisnya!”


“Tapi kali ini tidak akan bisa kau tangkis lagi.” ucapnya.


Karena cukup sulit untuk menyerangnya yang sedang seperti itu Valen memutuskan untuk menutup matanya dan mencoba mendengar suara langkah kaki Rabbit yang begitu keras setiap dia mendarat dari lompatannya.


“Kau sudah pasrah kah? Baiklah kalau begitu.”


“Quad Kick.”


Rabbit menyerang kembali Valen tepat dibagian belakang dan dengan kaki yang mengeluarkan cahaya merah Rabbit mengarahkan tendangannya tepat dileher Valen.


“Berakhir sudah!!” teriaknya.


Buk Buk Buk Buk.


Dengan cepatnya kaki Rabbit menendang berkali-kali dibagian yang ditargetkannya tetapi dirinya merasa tendangan lagi-lagi ditangkis.


Rabbit kemudian memutuskan untuk mundur lagi tapi dirinya malah terjatuh karena kakinya tidak bisa digerakkan.


“Dapat kau kelinci liar!” ucap Valen dengan tatapan kesal.


Ternyata Valen berhasil menangkap kaki kelinci tersebut disaat tendangan terakhirnya dan dengan genggamannya yang kuat Valen meremas kaki Rabbit.


Krakk


“Argh!! Ka-kakiku!!” teriak Rabbit.


“Itu balasan untuk rumah orang yang dihancurkan oleh monster mu.” ucap Valen.


“A-apaan kekuatannya itu! Hanya dengan satu tangan saja bisa memberikan rasa sakit seperti itu!” batin Rabbit.


“Ini untuk orang yang mati karena monstermu.”


Buk!! Buk!!! Buk!!!


Valen membanting-banting tubuh Rabbit cukup keras ketahan hingga terdengar lagi suara tulang yang retak padanya.


“A-apa yang baru saja terjadi...” batin Rabbit dengan pandangan yang bergoyang-goyang karena kepalanya terhempas.


“Sepertinya kakimu sudah tidak bisa digerakan sekarang jadi tidak ada lagi gerakan lompatan aneh itu.” ucap Valen melepaskan kaki Rabbit yang dipegangnya sebelumnya.


“D-dia monster... Aku harus lari dari sini...” batin Rabbit saat melihat Valen.


Rabbit berbalik dan berusaha merayap untuk menjauh dari Valen saat sadar kalau dirinya tidak cukup kuat untuk mengalahkan.


“Aku harus lari dan melaporkan ini pada ayah!!” batin Rabbit.


“Sayang sekali kau tidak akan bisa kabur.” ucap Valen menduduki tubuh Rabbit.


“Lah kau belum selesai juga?” ucap Demian yang kembali dari tempat bertaurng yang dipilihnya sebelumnya sambil menyeret tubuh Snake yang mati tanpa tangan dan kaki.


“Ini mau selesai.” jawab Valen.


”Sn-snake mati!! Padahal Snake lebih kuat daripada aku tapi dia bisa membunuh Snake bahkan sampai memutuskan anggota geraknya!” batin Rabbit yang terkejut melihat tubuh temannya yang diseret oleh Demian.


“Si-siapa kalian?!” tanya Rabbit dengan nada yang ketakutan.


“Kami? Kami hanya orang lewat yang tempat tidurnya kau hancurkan.” jawab Demian sambil tersenyum.


“Kau masih saja mengungkit itu.” ucap Valen.


“Hei siapa juga yang tidak kesal saat tidurnya diganggu!” bentak Demian.


“Sudahlah selesaikan saja cepat! Supaya kita bisa pergi dari sini.” sambung Demian.


“Sebentar dulu, aku memikirkan hal bagus nih.” jawab Valen.


“Hm?”


Valen kemudian menyayat salah satu jari Rabbit menggunakan Daggernya hingga putus secara perlahan, hal itu membuat Rabbit berteriak dengan kerasnya karena rasa sakitnya.


“Hei Valen bukannya kau terlalu sadis?” ucap Demian yang melihat itu.


“Sebentar dulu!”


“Nah bagaimana rasanya? Kau ingin aku melakukan hal itu lagi tidak?” tanya Valen menarik kepala Rabbit untuk melihat kewajahnya.


“Ak-aku m-mohon jangan...” ucapnya dengan suara pelan.


“Nah kalau begitu kau harus menjawab setiap pertanyaanku dan kalau kau berbohong maka satu jari lainnya akan putus.” jawab Valen.


“Ba-baiklah.” jawabnya.


“Siapa kalian? Dan kenapa kalian bisa membuat Monster Troll berada dikota itu?” tanya Valen.


“K-kami hanyalah Pion bagi ayah untuk membantunya mencapai tujuannya dan untuk monster itu sebenarnya kami membuatnya diteleportasi menggunakan sebuah kertas besar yang telah terukir lingkaran sihir diatasnya.” jawabnya.


“Teleportasi! Bukankah itu kemampuan yang sudah lama hilang? Bagaimana mungkin seseorang bisa membuatnya menjadi sebuah Lingkaran sihir?” ucap Demian sedikit terkejut mendengar itu.


“Ak-aku tidak berbohong! Ay-ayah bisa membuatnya dengan mudah! Bahkan memberikan kami 2 gulung pada masing-masing anaknya.” sambungnya.


“Baiklah, kalau begitu berapa banyak anggota kalian?” tanya Valen.


“Kalau menghitung semuanya anak buah Twelve Mask ada sekitar 12.000 orang yang siap bertarung.” jawabnya.


“Twelve Mask? Apa itu?” tanya Valen.


“Ah! Aku lupa mengatakannya kalau ayah juga memberikan kami sebutan Twelve Mas... Argh!!!!! H-hentikan!!!” teriaknya saat Valen menyayat jari lainnya dengan perlahan sampai putus lagi.


“Ke-kenapa... Pa-padahal aku sudah j-jujur...” ucapnya dengan suara yang semakin pelan.


“Itu balasan karena kau lupa.” jawabnya.


“Si-sialan kalian... Dasar mo-monsternya.” ucapnya dengan suara yang pelan dan berakhir tidak sadarkan diri.


“Lho pingsan kah?” tanya Valen meletakkan tangannya dibawah hidung Rabbit.


[Mendapatkan 2.000 Exp Dari Manusia]


“Sudah mati ternyata.” ucap Valen dengan santainya.


“Padahal aku belum selesai menanyakan semua yang ingin aku tahu.” ucap Valen berdiri.


“Ya sudah sekarang kita kemana lagi?” tanya Valen.


“Aku sedikit tertarik dengan Twelve Mask yang disebutkan olehnya tadi, jadi bagaimana kalau kita balik ke kota dan mencari informasi tentang itu?” jawab Demian.


“Boleh juga, ayo.”


Mereka kemudian memutuskan untuk kembali lagi ke kota untuk mencari informasi tentang Twelve Mask.


“Hei jujur saja tadi aku juga gemetar saat melihatmu menyiksanya. Itu cukup mengerikan tahu.” ucap Demian.