Super Systems

Super Systems
Ch 28:Bertemu Vampire



Blood Wizard kemudian pergi dari kastil bersama dengan pasukan Skeleton soldier untuk mencari seseorang yang menarik perhatian raja Vampire sebelumnya.


“Kalian berpencarlah! Kalau ada yang melihat manusia maka kembali kesini, aku akan menunggu kalian." ucap Blood Wizard memerintahkan para Skeleton soldier.


Skeleton soldier berpencar kesegala arah dihutan itu dengan cepat dan tanpa disengaja salah satu dari mereka bertemu dengan Mive dan Lucy.


“Kakak ada Skeleton!" tunjuk Lucy.


Skeleton yang melihat adanya manusia langsung berlari kearah Blood Wizard untuk memberitahukannya.


Tetapi saat dirinya berlari Muve melemparkan sebuah batu yang membuat tengkoraknya pecah dan berakhir mati.


[Mendapatkan 450 Exp Dari Skeleton Soldier]


“Itu monster pertama yang kita temui ditempat ini." ucap Muve.


“Lucy juga merasa aneh karena tidak melihat satupun monster dihutan ini, apa sebenarnya cerita yang sering didengar itu hanya bualan ya?” ucap Lucy.


“Entahlah tapi biasanya suatu rumor sangatlah berbeda dengan kenyatannya." jawab Muve.


Mereka melanjutkan lagi perjalananya mencari monster ditempat itu dan bertemu dengan Skeleton soldier lagi tetapi sama seperti sebelumnya Skeleton itu malah memilih lari saat melihat Muve dan berakhir dengan keadaan yang sama seperti Skeleton sebelumnya.


[Mendapatkan 450 Exp Dari Skeleton Soldier]


“Entah kenapa aku merasa ada yang aneh dengan Skeleton yang kita temui... Biasanya mereka akan memutuskan untuk menyerang tetapi yang kita temui malah melarikan diri.” ucap Muve mendekati mayat Skeleton soldier.


“Kan sudah Lucy pernah bilang, kakak itu adalah monster kalau dari sudut pandang mereka, jadi itu membuat mereka takut.” jawab Lucy.


“Mana ada yang seperti itu Lucy, itu hanyalah pendapatmu saja.” ucap Muve.


“Ya siapa tahukan.” jawab Lucy.


***


Sementara itu Blood Wizard yang menunggu Skeleton soldiernya kembali merasakan perasaan tidak enak yang membuat cukup gelisah.


“Ada apa denganku? Instingku seperti menyuruhku pergi dari sini. Memangnya apa yang terjadi disini.” ucapnya menoleh kekiri dan kanan untuk mencari sebab kegelisahannya tersebut.


Dan benar saja tepat didepannya dia melihat dua orang sedang berjalan kearahnya dan ternyata itu adalah Muve dan Lucy.


Saat dirinya melihat Muve, Blood Wizard merasakan tekanan yang kuat padahal jaraknya antara Muve dan dirinya sedikit jauh.


“Sepertinya ada monster baru... Ini kesempatan bagus untuk mengetes kekuatan monster ini.” gumam Muve.


Muve melompat kearah Blood Wizard dan menyerangnya menggunakan pukulan biasa.


“B-Blood Shield!”


Tepat sebelum pukulan mengenai Blood Wizard tiba-tiba sebuah darah merah pekat muncul didepannya menbentuk sebuah perisai untuk menahan pukulan Muve.


Tetapi perisai itu tidak cukup kuat untuk menahan pukulan Muve “Mu-mustahil!!” batin Blood Wizard saat melihat perisai miliknya pecah dan membuat pukulan Muve mengenai wajahnya.


Blood Wizard terpental dan merasakan sakit yang tidak pernah dirasakannya selama ini, setengah wajahnya seperti mati rasa akibat pukulan Muve itu.


“Aku belum pernah melihat skill seperti itu... Mungkin karena ini pertama kalinya aku melawan monster yang menggunakan sihir.” ucap Muve setelah meninju Blood Wizard.


“Blood Cain!”


Seketika 3 rantai panjang muncul yang bagian ujungnya terlihat cukup tajam, menyerang Muve ditiga arah sekaligus.


Muve tidak bergerak dari tempatnya sama sekali dan malah memilih untuk menangkap rantai itu dengan tangannya.


“Kau melupakan satu rantai.” ucap Blood Wizard.


“Maksudmu ini?” ucap Muve mengarahkan tangan kanannya yang memegang dua rantai sekaligus ke Blood Wizard.


“B-bagaimana mungkin?! Bukannya tadi aku melihat kau hanya menangkap dua rantai!” ucap Blood Wizard terkejut.


“Hmph.”


Muve menggunakan rantai itu untuk membuatnya melayang langsung kearah Blood Wizard dan menendang tubuh Blood Wizard.


Akh!! rintih Blood Wizard.


“Padahal kau adalah monster yang belum pernah kulihat tapi kenapa begitu lemah.” ucap Muve menekan tubuh Blood Wizard dengan kakinya.


“S-sialan kau manusia! Li-lihat saja rajaku pasti akan membalaskan dendamku.” ucapnya.


“Baiklah kalau begitu aku akan mengirimmu lebih dulu kealam baka, nanti rajamu akan menyusul.” ucap Muve sambil tersenyum dan menekan kuat tubuh Blood Wizard hingga membuat dadanya berlubang karena kaki Muve yang menekannya.


[Mendapatkan 1000 Exp Dari Blood Wizard]


“Jadi namanya Blood Wizard, itu menjelaskan kenapa perisai dan rantainya tadi berwarna merah.” gumam Muve.


“Kakak tidak takutkah tentang raja yang dibicarakannya tadi?” tanya Lucy mendekati Muve.


“Takut? Seingatku aku belum pernah merasa takut bahkan saat aku hampir mati pun tidak pernah, aku heran juga kenapa bisa seperti itu.” jawab Muve.


“Berarti kakak sungguhan ingin melawan raja mereka?” tanya Lucy.


“Menurutmu?” jawab Muve.


“Sudah pasti kakak mau melawannya.” jawab Lucy.


“Nah itu tahu.”


Setelah itu mereka berjalan kembali dan sedikit terkejut saat sampai ditempat yang tidak ada apapun disekitarnya kecuali tanah dan rerumputan yang layu.


“Kakak tempat apa ini?” tanya Lucy.


“Entahlah tapi aku merasakan fisarat buruk ditempat ini.” jawab Muve.


“Hahaha sepertinya memang benar yang dikatakan raja kalau kau adalah orang yang menarik, aura dibadanmu terlihat sangat lewat.” tawa seorang gadis iblis yang sedang terbang diatas Muve.


“Siapa kau?” tanya Muve.


“Aku s-”


“Dia Succubus! Iblis yang selalu memangsa para laki-laki.” potong Lucy.


“Jahatnya... Tapi mau bagaimana lagi para laki-laki lah yang lebih dulu menggodaku, benarkan bocah tampan.” ucap gadis itu mengedipkan matanya kearah Muve.


“Kakak! Jangan melihat matanya!” teriak Lucy saat melihat gadis itu mengedipkan matanya.


“Memangnya kenapa?” tanya Muve.


“Eh? Kak-kakak baik-baik saja?” ucap Lucy terlihat bingung.


“Tentu saja! Lagipula dia kan belum menyerang.” jawab Muve.


“A-aneh sekali! Seingatku tidak pernah ada laki-laki yang tidak terhipnotis karena Eye Charmku!” batin gadis itu melihat Muve yang baik-baik saja.


“Kuakui kau hebat juga manusia, karena tidak terpengaruh oleh Skillku.” ucap gadis itu dengan sombong.


“Skill? Lucy kau lihat tidak dia tadi menggunakan Skill?” ucap Muve yang terlihat bingung.


“Saat dia mengedipkan matanya tadi itu adalah Skillnya kak.” jawab Lucy.


“Sungguh? Tapi aku tidak terluka tuh.” ucap Muve memeriksa tubuhnya kalau memang sungguhan ada yang terluka karena kedipan mata gadis itu.


“Lust Whip!”


Gadis itu memunculkan sebuah cambuk pink yang panjang dan menyerang Muve menggunakan itu tetapi Muve berhasil menangkap cambuk itu dengan tangannya.


“Ja-jangan dipegang!” tegur Lucy.


“Terlambat!” ucap gadis itu tersenyum licik.


“Ada apa sih dengan kalian? Aku sedikit bingung.” ucap Muve semakin bingung melihat tingkah mereka yang aneh.


“Ke-kenapa bisa kakak/kau baik-baik?!” bentak Lucy dan gadis itu secara bersamaan.


“Hah?” ucap Muve bingung.


“Cih! Nanti sajalah mengurus hal membingungkan!” sambung Muve mulai serius dan menatap gadis iblis yang terbang itu.


“Aku cukup lelah harus menoleh keatas terus!” ucap Muve menarik kuat cambuk yang dipegangnya membuat gadis itu jatuh kearahnya.


Muve langsung menangkap lehernya dan menatapnya dengan serius “Nah harusnya seperti ini daritadi.” ucap Muve.


Gadis itu mencoba terbang dengan mengepak sayapnya dengan kuat tetapi sama sekali tidak bisa karena Muve memeganginya cukup kuat.


“A-apa maumu!” bentak gadis itu sambil bergerak-gerak mencoba lepas dari cekraman Muve.


“Yang jelas membunuhmu.” jawab Muve dengan santainya.


“K-kau te-tega membunuh gadis cantik sepertiku.” ucap gadis itu mulai panik.


“Tidak, lagipula kau duluan yang menyerangku.” jawab Muve.


“Aku penasaran siapa raja yang kau sebutkan itu, mungkin akan menarik bertarung melawan raja.” ucap Muve.


Seketika saat Muve mengatakan itu muncul banyak kelelawar ditempat itu dan berkumpul menjadi yang kemudian berubah menjadi seorang iblis yang terlihat sedikit menyeramkan.


“Akulah raja yang dia maksud.” ucap iblis itu.


“Ya-yang mulia!” ucap gadis yang dicekik Muve.


Melihat rajanya telah muncul Muve kemudian melepaskan gadis itu karena ada musuh yang lebih menarik.


“Ya-yang mulia apa yang anda lakukan kemari?” tanya gadis itu mendekati iblis tersebut.


“Tentu saja untuk melawannya, lagipula kalian tidak becus kalau diberi tugas.” jawabnya.


“Ta-tapi saya rasa ada yang aneh dengan manusia itu Yang mulia.” ucap gadis itu.


Srakk


“Y-yang mulia, kenapa anda?” ucap gadis itu terkejut melihat iblis yang dipercayainya menusuk perutnya hingga tembus.


“Ini hukuman karena ketidak berguna dirimu sampai bisa kalah hanya melawan manusia lemah sepertinya.” ucapnya mendorong gadis itu jatuh ketanah.


“*Slurrp* Rasa darahnya biasa saja, mungkin darahmu lebih nikmat.” ucapnya menatap kearah Muve setelah menjilat darah gadis itu.


“Itu cukup menjijikan tau.” jawab Muve.


“Kakak hati-hati dia adalah Vampire, iblis yang suka menghisap darah manusia hingga kering entah itu perempuan atau laki-laki.” ucap Lucy menarik baju Muve.


“Sudah santai saja, dari yang kulihat dia lebih lemah daripada Volcan.” ucap Muve tersenyum kearah Lucy.


“Le-lemah... Hahaha aku akan lihat sampai mana kesombonganmu itu bertahan.” ucap Vampire itu mengkerutkan dahinya.


“System, tambahkan semua Poin statku ke Agility.” batin Muve.


[Menambahkah 10 Poin Ke Agility]


“Hm? Kenapa diam saj...” Vampire itu terkejut melihat Muve tiba-tiba menghilang.


“Bo!” ucap Muve yang muncul diatasnya dan memukul kepalanya hingga terbentur tanah.


“Illusion.” tubuh Vampire itu berubah kembali menjadi kelelawar dan terbang kebelakang Muve tetapi disaat itu Muve sempat menangkap salah satu kelelawar dan menggenggam hingga mati.


“Kuakui kau hebat juga manusia.” ucap Vampire yang terlihat terluka.


“Banyak omong.” ucap Muve menyerang Vampire itu.


“Blood Domain.” seketika kolam darah muncul dibawah mereka membuat Muve pergerakan Muve sedikit melambat karenanya.


“Cara yang sama tidak akan berguna untuk kedua kalinya.” ucap Vampire itu tersenyum lebar.


“Cih.”


Muve memutuskan untuk melompat mundur dari kolam darah itu “Blood Prison.” kolam darah itu menjadi naik lebih tinggi membuat sebuah penjara yang mengurung mereka berdua.


“Kakak!” teriak Lucy.


“Tidak apa! Aku baik-baik saja.” ucap Muve.


“Baik-baik saja? Hahaha kau harusnya sadar saat kau menginjakkan kakimu di Blood Domainku itu berarti dirimu telah tamat.” ucap Vampire itu terlihat sombong.


“Blood Slash.”


Pedang-pedang mulai muncul dari kolam darah dan menyerang Muve tanpa henti tetapi bagi Muve itu bukanlah hal yang menyulitkan untuk menghindar.


“Kau terlalu fokus pada pedang itu!” ucap Vampire yang tiba-tiba muncul dibelakangnya dan ingin mengigitnya


“Akhirnya kau maju juga.” ucap Muve menahan mulutnya yang terbuka lebar dan menekan rahangnya hingga patah.


“Argh!!” teriaknya karena rasa sakit itu.


Karena dirinya yang kesakitan membuat Skill Blood Slashnya terbatalkan dan masuk kedalam kolam darah.


“Kau terlalu banyak bicara.” ucap Muve memukuli wajah Vampire itu tanpa henti hingga hancur tak berbentuk lagi.


[Mendapatkan 2750 Exp Dari Vampire]


[Karena Membunuh Penguasa Hutan Iblis System Akan Memberikan Hadiah]


[Mendapatkan Skill - Illusion]


“Lumayan... Tapi itu belum cukup.” ucap Muve mengambil sedikit daging Vampire dan memakannya.


“Hm? System?”


[Ya,Host?]


“Mana pilihan stat yang dapat kuambil?” tanya Muve.


[Monster yang anda makan tidak bisa diambil statnya karena hanya pada beberapa monster saja.]


“Yah... Padahal kukira bisa dapat Stat tambahan.” ucap Muve.


Blood Prison itu pun mulai menghilang lenyap bersamaan dengan Blood Domain, dan Muve kemudian mendekat kearah Lucy.


“Bagaimana? Bukankah kubilang kalau aku bisa mengatasi rajanya.” ucap Muve merasa bangga.


“Iya-iya tapi kenapa kakak tadi memakan daging Vampire itu? Bukankah manusia tidak bisa mengkonsumsi daging iblis? Yang ada malah membuat sakit perut.” tanya Lucy yang tanpa sengaja melihat Muve memakan daging Vampire itu tadi.


“Sial dia melihatnya... Aku terlalu fokus pada bertarungan.” batin Muve.


“Eeee... It-itu karena aku lapar!” jawab Muve sedikit gugup.


“Hmmmmm tapikan kakak punya beberapa roti?” tanya Lucy dengan sedikit mencurigai.


“Ah sudahlah jangan bahas itu, yang penting kita selamat.” ucap Muve.


“Ya sudah." jawab Lucy.


“Lalu sekarang apa?” tanya Lucy.


“Mungkin sebaiknya kita kembali saja, bajuku sudah kotor dan bau darah.” jawab Muve mencium bajunya.


“Lalu bagaimana dengannya?” tanya Lucy menunjuk kearah gadis yang terluka sebelumnya.


“Memangnya ada apa dengannya? Bukankah dia sudah mati?” jawab Muve.


“Tapi kata tuan Slime, gadis itu masih hidup dan hampir mati.” jawab Lucy.


“Terus kenapa?” tanya Muve.


“Kakak tidak ingin membantunya? Bukankah dia cukup kasihan karena dikhianati oleh tuan yang dia layani.” jawab Lucy.


“Untuk apa membantu iblis yang menyerangku sebelumnya?”


“Tapi kak! Dia pasti juga ingin hidup.”


“Tidak!”


“Ayolah...” Lucy mulai memohon.


“Tidak,tidak!”


“Ayolah....” Lucy terus memohon.


“Hah... Iya-iya.” ucap Muve terlihat terpaksa.


Muve mendekati gadis iblis itu dan mengeluarkan Potion Penyembuh yang pernah dibelinya.


Dengan terpaksa Muve meminumkan Potion itu kepada gadis tersebut dan tidak lama kemudian lubang diperut gadis iblis itu berangsur-angsur sembuh.


“Lihat, dia masih tidak bangun juga.” ucap Muve kepada Lucy.


“Ya sudah kakak gendong saja.” jawab Lucy.


“Kita tidak pernah setuju untuk membawanya! Tadi hanya untuk menyembuhkannya.” ucap Muve mulai kesal.


“Jadi kakak ingin meninggalkannya begitu saja?”


“Iyap.” jawab Muve.


“Kakak yang terburuk!” ucap Lucy berpura-pura marah.


“Hah... Iya-iya.”


Muve kemudian mengendong gadis iblis itu untuk dibawanya keluar dari hutan iblis.