
Setelah beberapa jam terlewatkan Valen bersama Demian akhirnya melihat sebuah kota dari kejauhan dan dengan segera Demian turun kemudian berubah menjadi manusia, kalau sampai ada yang melihat Naga terbang ke kota pasti akan membuat keributan.
Sesampainya mereka dikota mereka melihat kotanya sangat besar dan ramai dengan orang-orang yang berjalan kesana-kemari sambil membawa barang, kemungkinan besar itu barang yang akan mereka jual atau mungkin digunakan untuk bekerja.
“Pertama kita perlu menginap, aku sangat mengantuk karena tidurku malam tadi sangat sebentar.” ucap Demian.
“Maaf saja tapi aku tidak mempunyai uang.” jawab Valen menarik keluar kantong celananya.
“Tenang saja. Aku selalu membawa uang banyak didalam kantongku.” ucap Demian mengeluarkan sekeping koin emas dari kantongnya.
“Aku heran kenapa itu masih berada disana setelah kau berubah menjadi Naga dan kembali lagi menjadi manusia.” ucap Valen.
“Yang penting kita punya uang.” jawab Demian.
“Sudahlah tidak perlu dipikirkan, aku sangat mengantuk sekarang.” ucap Demian.
“Hah... Sepertinya dia ini tukang tidur...” batin Valen.
Mereka kemudian berjalan untuk mencari penginapan dikota tersebut, tidak perlu waktu lama mereka sudah menemukan sebuah penginapan sederhana yang hanya terlihat seperti rumah biasa pada umumnya.
“Kau yakin ini penginapan? Aku rasa ini rumah orang.” ucap Valen setelah Demian mengajaknya masuk.
“Sudahlah, percaya saja.” ucap Demian.
Mereka pun masuk dan benar saja memang sungguhan ada meja serta resepsionis yang melayani mereka setelah masuk.
“Baiklah kalau begitu kamar kalian adalah dua kamar yang berada dipojok kanan.” ucapnya.
“Nah kalau begitu aku duluan! Terserah kau mau apa lagi sekarang.” ucap Demian langsung berjalan kearah yang ditunjukkan oleh resepsionis.
“Hah... Dasar.” gumam Valen.
“Ya sudah kalau begitu sebaiknya berkeliling saja siapa tahu ada hal menarik dikota ini.” gumam Valen yang kemudian keluar dari penginapan.
Valen memutuskan untuk berjalan ketempat orang-orang yang berjualan barang dan makanan dipinggir jalan.
[Perhatian!! Terdeteksi Terdapat Artefak Didekat Host]
“Hm? Ada Artefak? Ditempat seperti ini?” batin Valen.
[Mendeteksi Artefak Disekitar]
[Menemukan Artefak - Mimic Mask]
“Dimana?” tanya Valen.
[Tepat berada disamping anda]
“Dimana? Disini tidak ada orang yang menjual topeng tahu!” batin Valen saat dirinya menoleh ke kiri dan kanan.
[Artefaknya sedang digunakan oleh anak kecil yang berada disamping host]
Valen pun melirik kebocah yang disampingnya dan ternyata benar kalau dia sedang menggunakan topeng diwajahnya tapi Valen sedikit tidak tega untuk mengambil benda yang dimiliki oleh anak kecil.
“Hah... Biarkan sajalah.” gumam Valen dengan berat hati menghiraukan Artefak tersebut dan melanjutkan berkeliling.
[Anda yakin?]
[Walau itu hanya Artefak biasa tapi cukup berguna.]
“Aku tidak suka mengambil barang milik orang lain.” jawab Valen.
[Baiklah kalau begitu.]
Tidak ada yang menarik dikota itu kecuali Artefak yang dilihat oleh Valen sebelumnya, mungkin kota itu tidak menarik karena Valen belum sepenuhnya mengelilinginya.
“Kalau begitu sebaiknya aku berhenti disini saja, mungkin beberapa ada makanan enak.” ucap Valen saat berada didepan sebuah bangunan yang bertulisan “Bar”.
Suasana didalam tempat itu tidak terlalu buruk karena Valen awalnya berpikir kalau orang yang akan ada didalam bar itu adalah orang-orang dengan wajah menyeramkan yang suka mengganggu orang lain.
Valen dengan santainya duduk dikursi kosong kemudian mengangkat tangannya, tidak lama kemudian datanglah seorang pelayan yang bertanya Valen ingin memesan apa.
Setelah Valen menyebutkan pesanannya pelayan kemudian pergi dan sekitar 15 menit terlewat makanan pun datang, dari aromanya saja Valen sudah tahu kalau makanan itu pasti enak.
Valen makan dengan lahapnya menghabiskan seluruh makanan yang dipesannya hingga membuatnya kekenyangan.
“Aku kenyang...” ucap Valen setelah bersendawa karena kenyang.
Melihat makanan Valen telah habis pelayan pun datang dan mengambil seluruh piringnya sambil mengucapkan total biaya untuk makanan tersebut.
“Semuanya 50 koin tembaga.” ucapnya sambil tersenyum.
“Sial... Aku langsung kehabisan seluruh uangku hanya dengan sekali makan.” batin Valen.
“Rasa nikmat makannya cukup sepadan dengan harganya tapi sayangnya sekarang aku tidak punya uang sama sekali... Kalau begitu sebaiknya kembali ke penginapan saja.” gumam Valen memutuskan untuk kembali ke penginapan.
Sesampainya disana Valen melihat ada seorang wanita bersama dengan anaknya tepat dimeja resepsionis dan tanpa sengaja mendengar perkataan mereka saat dirinya lewat.
“Tolong izinkan kami menginap malam ini! Aku janji saat suamiku datang besok akan aku bayar dua kali lipat.” ucap wanita itu.
“Tidak bisa, karena bisa saja anda lari sebelum membayar biayanya.” jawab resepsionis.
“Aku tidak berbohong! Tolonglah...” ucap wanita itu.
“Tidak bisa, lebih baik datang besok saja saat suami anda datang.” jawabnya.
“Kalau seperti itu kami tidur dimana malam ini...”
“Maafkan saya, tapi itu bukan urusan saya.” jawabnya.
“Tidur dikamarku saja.” ucap Valen menyela percakapan mereka.
“Maaf tapi aku sudah menikah.” ucap wanita itu menatap sinis Valen.
“Tidak-tidak aku tidak bermaksud seperti itu.” ucap Valen mencoba membenarkan.
“Lalu?”
“Maksudku kalian tidur saja dikamarku dan aku bisa tidur dikamar lain.”
“Kau yakin?”
“Tentu saja.” jawab Valen.
“Lagipula tidak ada aturan kalau orang yang menyewa tidak boleh membiarkan orang lain menginap dikamarnya bukan? Dan tidak ada batasan orang didalam satu kamar juga.” ucap Valen.
“M-memang benar sih tapi....” jawab resepsionis.
“Ya sudah kalau begitu, aku akan tunjukkan yang mana kamarnya.” ucap Valen.
Valen menuntun mereka ke kamarnya untuk beristirahat sambil meletakkan barang yang dibawa oleh mereka.
Wanita itu sangat berterima kasih kepada Valen karena telah membantunya sampai-sampai dia berkata kalau dirinya akan memberikan apapun pada Valen kalau ada yang dia inginkan.
“Kau sungguh ingin akan memberikan apapun?” tanya Valen.
“Tentu.” jawabnya.
“Kalau begitu apa boleh topeng yang dipakai anakmu sebelumnya diberikan padaku?” tanya Valen.
“Tent... Eh? Topeng? Kau hanya ingin topeng itu? Sungguh?” jawab wanita itu sedikit bingung.
“Tentu saja, memangnya anda berharap saya meminta apa?” jawab Valen.
“Ti-tidak-tidak. Kalau begitu tunggu sebentar.” ucapnya masuk kedalam kamar dan kemudian kembali sambil membawa topeng yang dipinta oleh Valen sebelumnya.
Wanita itu tanpa pikir panjang langsung memberikannya pada Valen tapi anehnya dia malah mengatakan kalau Valen boleh meminta hal lainnya lagi tapi Valen menolak dan memutuskan untuk masuk ke kamar Demian setelah menerima topeng tersebut.
“Aku sungguh beruntung! Tidak kusangka anak yang kulihat sebelumnya adalah anak wanita itu.” ucap Valen terlihat senang saat mendapat topeng tersebut.
[Bukankah anda bilang kalau anda tidak suka mengambil barang dari anak kecil?]
“Ini bukan mengambil tapi aku diberi jadi beda.” jawab Valen.
[Tapikan anda yang lebih dahulu memintanya?]
“Kalau begitu ini aku dapatkan dengan meminta bukan mengambil.” jawab Valen.
“Sudahlah! Sekarang ayo serap ini Artefak.” ucap Valen.
[Berhasil Menyerap - Mimic Mask]
[Efek Menyerap Artefak Mendapatkan 5 Intelligent]
[Mendapatkan Skill - Mimic]
“Sepertinya dengan memutuskan kembali ke penginapan bukanlah hal buruk.” ucap Valen sambil tersenyum.
“Tapi aku sedikit bingung kenapa kau jarang sekali berkata kalau ada Artefak disekitarku? Dan anehnya kau tidak memberikan peringatan kalau ada Artefak didekatku saat aku diikat Weakness Chain?”
[Saya hanya bisa mendeteksi Artefak Biasa-Langka dan diatasnya tidak bisa, itu hanyalah mengandalkan Host tapi kalau saya ditanya tentang benda itu adalah Artefak atau bukan pasti saya jawab.]
“Berarti selama ini ada banyak Artefak yang terlewatkan olehku!”
[Tepat sekali]