
“Hm? Tidak terasa hari sudah malam... Tapi sepertinya ini lebih baik daripada harus berjalan digurun saat siang hari.”
“Tapi dimana Lia? Apa dia masih didalam Dungeon? System kau tahu dia dimana?”
[Harusnya dia sudah berada diluar karena saya secara paksa membuatnya keluar dari Dungeon.]
“Mungkin dia terlalu lama menunggu dan memutuskan untuk pergi duluan... Ya sudah kalau begitu, sebaiknya aku juga melanjutkan perjalananku.”
Valen meneruskan perjalanannya digurun pasir tersebut, tidak ada yang special dari perjalanannya bahkan monster juga tidak keluar, mungkin para monster gurun tidak keluar saat malam hari.
“Langitnya cukup indah dimalam hari... Selama 3 tahun yang kulihat hanyalah atap, aku penasaran apa dibalik yang indah tersebut ada orang yang ditinggal disana.” gumam Valen saat melihat langit yang dipenuhi bintang yang terang.
[Mungkin saja.]
“Tapi sepertinya tidak mungkin ada, lagipula siapa yang bisa bernafas diluar angkasa.”
Setelah cukup lama berjalan Valen melihat cahaya dikejauhan. Valen memperhatikannya baik-baik dan ternyata cahaya tersebut berasal dari api unggun yang dinyalakan oleh orang-orang yang beristirahat ditempat itu.
“Para Pegadangkah?” tanya Valen saat melihat mereka.
Valen kemudian memutuskan untuk mendekatinya untuk menumpang beristirahat disitu, yah walaupun sebenarnya dinginnya malam hari tidak mempengaruhi Valen tapi tetap saja cukup nyaman menghangatkan diri diapi unggun.
Ditempat itu terlihat ada seorang pria tua, gadis cantik dan seorang bocah laki-laki yang sepertinya adalah adik dari gadis cantik itu, ada juga beberapa orang yang terlihat cukup kuat, mungkin mereka adalah orang yang dibayar untuk mengawal.
“Permisi! Bolehkah aku menumpang duduk disekitar api unggun kalian?” ucap Valen saat sampai didekat mereka.
“Tidak boleh! Kau terlihat mencurigakan!” ucap salah seorang yang dikira pengawal.
“Mencurigakan?” tanya Valen sedikit bingung dimana letak mencurigakannya dirinya.
“Kau lihat bajumu yang compang-camping itu! Ditambah aku mencium bau darah kering dibajumu!” ucapnya.
Huff*Huff
Valen langsung mencium bajunya setelah orang itu berbicara tentang bau darah “Ternyata benar! Tapi ini adalah darah monster, aku sebelumnya bertarung dengan monster kuat dan darahnya tidak sengaja terciprak kebajuku.” jawab Valen.
“Siapa yang akan percay...”
“Sudah tidak apa! Kau boleh duduk disini tapi kau tidak kuizinkan untuk tidur disini.” potong pria tua yang sepertinya adalah pemimpin dirombongan itu.
“Tapi...”
“Tidak apa tuan, lagipula sepertinya dia adalah orang yang baik.” sambung gadis cantik yang duduk disamping pria tua tadi.
“Hah... Baiklah kalau kalian sudah berkata seperti itu.” jawabnya hanya pasrah.
“Terima kasih, kalau begitu permisi.” ucap Valen perlahan duduk didekat api unggun dan mengarahkan kedua tangannya kearahnya untuk menghangatkan badan.
“Nivia tolong ambilkan baju dikereta untuknya.” ucap pria tua itu menyuruh gadis cantik yang disamping.
“Baik, ayah.” jawabnya.
Gadis cantik tersebut pun berdiri dan masuk ke kereta untuk mengambilkan baju untuk Valen.
“Ti-tidak perlu tuan! Aku hanya ingin menghangatkan diri saja, tidak perlu sampai memberiku pakaian.” ucap Valen saat mendengar perkataan pria tua itu.
“Tidak apa, lagipula sangat tidak nyaman melihat seseorang yang masih muda sepertimu memakai pakaian yang sudah robek.” jawabnya tersenyum hangat.
“Tapi aku tidak memiliki uang sama sekali...”
“Aku berniat memberi bukan untuk menjual.” jawabnya.
Tidak lama kemudian gadis yang sebelumnya pun datang membawa sepasang pakaian berwarna ungu dan memberikannya kepada Valen.
“Ka-kalian sungguh ingin memberikannya begitu saja?” tanya Valen sangat ragu-ragu untuk mengambilnya.
“Sudahlah ambil saja, lagipula baju biasa seperti itu bukanlah hal berharga bagi bangsawan seperti mereka.” ucap pengawal yang sebelumnya menolak Valen.
Valen pun mengambil dengan perlahan “Terima kasih tuan.” ucap Valen menundukkan kepalanya ke pria tua yang sebelumnya.
“Iya.”
“Kalau begitu tanpa ragu aku akan memakainya.” ucap Valen melepas bajunya dan celananya.
Tetapi saat baru saja hendak membuka celananya pria tua dan beberapa orang yang ditempat itu berteriak kaget “Ehhh!! Tunggu! Jangan membuka celanamu secara sembarangan! Ada gadis muda disini!!” bentak pengawal yang sebelumnya.
Valen langsung terkejut dan menarik kembali celananya “Ma-maaf!! Kalau begitu aku permisi dulu.” ucap Valen berjalan kebalik kereta untuk mengganti pakaiannya.
“Ada-ada saja. Dengan tubuh sebesar itu dia sama sekali tidak malu membuka celananya sembarangan.” ucap pengawal.
“Hahahaha mungkin dia terlalu senang mendapat baju itu.” ucap pria tua.
“Tapi ayah, kenapa burung kakak itu lebih besar daripada punyaku?” tanya bocah laki-laki yang duduk dipangkuan gadis cantik.
“Tapikan aku penasaran kakak! Apa nanti punya Gen akan sebesar itu?” sambung bocah laki-laki itu.
“Mungkin saja tapi punya kakak itu mungkin sedikit lebih besar daripada kebanyakan orang dewasa.” jawab pria tua.
“Ayah!!!” bentak gadis cantik.
“Hahahah maaf-maaf.”
Tidak lama kemudian setelah mengenakan pakaian itu Valen pun duduk lagi ketempat sebelumnya.
“Sepertinya pakaiannya terlihat cocok padamu.” ucap pria tua saat melihat Valen.
“Terima kasih tuan.” jawab Valen.
“Ngomong-ngomong siapa dirimu nak? Dan apa yang kau lakukan digurun ini sendirian?” tanya pria tua itu.
“Aku Valen dan aku ini sedang berpetualang.” jawab Valen.
“Berpetualang? Seorang diri?” ucap pria tua itu terlihat tidak percaya.
“Iya.”
“Memangnya apa yang cari sampai membuatmu berpetualang seorang diri?” tanyanya lagi.
“Sayangnya aku tidak mengetahuinya... Aku sama sekali tidak punya tujuan dan yang kupikirkan hanyalah untuk berjalan dan terus berjalan mengikuti arus yang terjadi.” jawab Valen.
“Bagaimana kalau kau ikut kami saja?” ajak pria tua itu.
“Ayah!! Kenapa ayah begitu mudahnya mengajak seseorang tidak dikenal untuk ikut bersama kita!!” bentak gadis cantik saat mendengar itu.
“Benar itu, mau seperti apa sikapnya dia tetap saja orang asing tuan, jadi tidak sewajarnya tuan mengajaknya untuk ikut dengan kita.” sambung pengawal.
“Hm... Yang kalian katakan memang ada benarnya, kalau begitu aku minta maaf nak Valen. Anggap saja ajakan sebelumnya itu tidak pernah kau dengar.” ucap pria tua.
“Tidak apa tuan, lagipula saja memang awalnya hanya berniat untuk menumpang menghangatkan diri disini bukan untuk ikut dengan anda.” jawab Valen.
“Kalau begitu sebaiknya kau pergi sekarang, karena sudah waktunya untuk kami tidur.” ucap pengawal terdengar sedikit kasar.
“Tuan! Bukankah itu yang anda ucapkan itu kasar?” bentak gadis cantik.
“Tidak apa, yang dikatakannya memang benar. Kalau begitu aku permisi dulu. Terima kasih telah mengizinkanku untuk menumpang dan bahkan kalian memberikanku pakaian.” ucap Valen menundukkan kepalanya.
Pria tua itu dan gadis cantik mengangguk sambil tersenyum hangat kepada Valen, setelahnya Valen memutuskan untuk pergi dari tempat mereka karena keperluannya telah selesai.
“Sepertinya kalian sama sekali tidak bisa menilai seseorang.” ucap pria tua itu saat Valen telah pergi meninggalkan mereka.
“Apa maksud anda tuan?” tanya pengawal.
“Pemuda tadi, dia bukanlah orang harusnya kalian perlakukan seperti itu. Sebenarnya kalau dia mau kita bisa saja dibunuhnya hanya dengan sekejap mata.” jawab pria tua.
“Anda bercandanya kelewatan tuan.” ucap pengawal.
“Iya, maka mungkinkan orang tadi bisa membunuh kita padahal disini ada banyak pengawal.” sambung gadis cantik.
“Lupakan sajalah, aku ingin istirahat saja sekarang.” ucap pria tua sambil berdiri dan kemudian masuk kedalam kereta.
***
“Entah kenapa aku merasa lidahku sangat gatal setelah berbicara begitu sopan tadi... Mungkin bukan tipeku untuk berbicara sopan kepada orang lain.” ucap Valen.
[Atau mungkin karena anda telah lama tidak berbicara dengan orang-orang.]
“Kalau seperti itu harusnya saat aku berbicara dengan Lia juga terjadi tapi itu sama sekali tidak terasa saat berbicara dengannya.”
“Hah... Aneh-aneh saja.”
“Dan sekarang aku sangat bingung akan pergi kemana karena tidak memiliki tujuan dan tempat untuk kudatangi.”
[Anda tidak ingin mencari Artefak?]
“Bukankah itu membosankan? Aku harus terus bertarung dan bertarung.”
[Tapi tidak semua Artefak anda dapatkan dalam dengan cara bertarung, mungkin contohnya Doll Fighting.]
“Iya juga tapi kemana mencarinya?”
[Anda perlu terus berjalan dan saya tinggal memberitahukan anda kalau memang ada Artefak disekitar.]
“Hah... Ya sudah.”
Valen meneruskan kembali perjalanannya kearah barat untuk mencari Artefak yang dijadikannya tujuan dalam perjalanannya.