Super Systems

Super Systems
Ch 32:Balas Dendam Dimulai



Mungkin karena itu pengalaman pertamanya berada dilangit yang cukup tinggi jadi Muve sedikit gemetar dan sedikit mual.


Sesampainya didarat, burung besar itupun pergi meninggal Muve dan yang lainnya.


“Hei Muve sepertinya kau adalah orang pertama yang diperlakukan oleh Dark elf seperti itu.” ucap Lia.


“Memangnya seperti apa perlakuan para Dark elf biasanya?” tanya Muve.


“Biasanya para Dark elf itu tidak pernah melepaskan manusia dengan mudah dan setahu Lucy mereka sangat suka menyiksa manusia.” jawab Lucy.


“Benar! Aku saja sedikit bingung dengan apa yang terjadi sebelumnya.” sambung Lia.


“Sepertinya dia takut padaku, hahaha.” ucap Muve dengan bangganya.


“Itu sebenarnya terdengar konyol tapi entah kenapa aku merasa sepertinya memang karena itu.” ucap Lia.


“Hah? Sungguh?”


“Mungkin.” jawab Lia.


“Lalu sekarang kita harus pergi kemana?” tanya Lia.


“Aku sebenarnya ingin pergi kesuatu tempat tapi aku hanya ingin pergi sendirian.” jawab Muve.


“Kemana?” tanya Lia.


“Kau tidak perlu tahu.” jawab Muve.


“Jadi kakak sekarang ingin meninggalkan Lucy? Apa Lucy terlihat tidak berguna untuk kakak?” ucap Lucy dengan raut wajah sedih.


“Woah... Dia sangat pandai berakting...” batin Lia melihat Lucy.


“Aku hanya pergi sebentar, untuk sekarang sebaiknya kau pergi bersama Lia.” jawab Muve.


“Ternyata benar, kakak sudah tidak menyukai Lucy lagi.” ucap Lucy mulai menitikkan air matanya.


“Maafkan aku.” jawab Muve.


“Kalau begitu Lia, aku titip Lucy kepadamu.” ucap Muve.


Muve kemudian berjalan sedikit jauh dari mereka “Kakak Muve!!! Pastikan kakak kembali!!!” teriak Lucy.


“Tentu saja!” jawab Muve.


[Membeli Teleport Scroll]


[Membeli White Mask]


Muve merobek kertas itu “Kota Calvary” dan seketika dirinya menghilang sekejap mata dari pandangan Lucy dan Lia.


“Hah... Kakak sungguhan pergi. Entah pergi kemana.” ucap Lucy seketika merubah raut wajahnya yang terlihat sedih menjadi datar.


“Ma-mau berapa kalipun aku melihat tetap saja aktingmu itu terlalu sempurna.” ucap Lia.


“Yah cukup sulit sebenarnya bertingkah seperti bocah.” jawab Lucy.


“Sekarang hanya tinggal kita berdua, apa yang kita lakukan sekarang?” ucap Lia.


“Sebaiknya aku pergi kekota Altair karena disana aku bisa tinggal dengan nyaman, kalau iblis mungkin tidak jadi sebaiknya kau sembunyikan lagi ekor dan sayapmu itu.” jawab Lucy.


“Oke.” jawab Lia.


***


“Haruskah kita mulai sekarang.” Ucap Muve memakai White Mask dan kemudian mengambil Shark Sword untuk memulai pertarungannya.


Muve berjalan mendekati gerbang kota Calvary yang dijaga oleh dua orang prajurit “Oi lihat! Ada orang aneh bertopeng yang sedang kemari.” ucap salah satu penjaga itu menujuk kearah Muve.


“Biarkan saja, palingan hanya Hunter.” jawab kawan penjaga itu.


“Kau yakin?” tanyanya.


“Iya.”


Mereka berdua membiarkan Muve lewat begitu mudahnya tanpa ditanya-tanyai sedikit pun.


Setelah melewati gerbang Muve berhenti dan mulai mengangkat pedangnya dan dengan mengfokuskan tenaga yang cukup besar pada tangannya “Slashing Wave.” dengan sekali ayunan tersebut mengeluarkan sebuah angin tajam yang bergerak dengan cepatnya memotong rumah-rumah disisi kirinya membuat begitu banyak nyawa tak bersalah melayang.


[Mendapatkan 50 Exp Dari Manusia]


[Mendapatkan 50 Exp Dari Manusia]


[Mendapatkan 50 Exp Dari Manusia]


[Mendapatkan 50 Exp Dari Manusia]


Pemberitahuan itu bermunculan terus menerus tanpa henti “Hah... Bahkan dari manusia pun bisa mendapatkan Exp...” gumam Muve.


Seluruh kota langsung menjadi kacau melihat kejadian itu tidak mereka ketahui dari siapa asal serangan tersebut.


“Semua! Cepat pergi dari sini!!! Kota kita sedang diserang!!” teriak seorang Ksatria yang terlihat kuat mengenakan armor mengkilau.


“Siapa yang berani-beraninya menyerang kota kita ini.” gumamnya.


Ksatria itu terus berteriak memerintahkan orang-orang yang berlarian tidak karuan dan dikejauhan dia melihat seseorang yang berjalan dengan santainya.


“Hei! Apa yang kau lakukan? Sedang pergi dari sini!” teriak Ksatria itu.


Orang itu tidak mendengarkannya dan setelah melihat dengan seksama sosok orang pun mulai terlihat jelas.


“Siapa orang bertopeng itu?” tanya batinnya.


“Slashing Wave.”


Orang yang dilihatnya itu mengayunkan pedang dan membuat angin besar yang bergerak cepat kearahnya “Ga-gawat!” ucapnya mencoba menangkis serangan itu dengan Perisainya tetapi percuma karena serangannya membuat Perisai miliknya langsung terbelah dengan rapinya begitu juga dengan tubuhnya.


“Si-sial.” ucapnya.


Serangan kedua itu lagi-lagi menghancurkan rumah-rumah besar termasuk Guild tempat orang yang menolong Muve sebelumnya berada.


Lagi-lagi pemberitahuan itu muncul begitu banyaknya dan membuat Muve naik level dengan cepat.


“Tambahkan 2 Poin stat ke Strength.”


[Menambahkan 2 Poin Stat Ke Strength]


Muve terus berjalan perlahan semakin memasuki daerah tengah dari kota Calvary dan disana dia melihat begitu banyak prajurit biasa, Knight dan juga Mage yang berkumpul mengelilinginya.


“Jadi orang itu yang membuat kekacauan dikota ini?” tanya seorang Knight


“Dari yang kudengar dari orang yang melihat serangan kedua tadi sepertinya benar.” jawab seorang Mage.


“Hah... Merepotkan saja, sebaiknya kita selesaikan ini dengan cepat karena aku ada janji dengan pacarku malam ini.” ucap salah seorang Mage.


“Semuanya serang!!!” teriak Knight tadi.


Prajurit yang mengelilingi Muve langsung berlari kearah Muve dan disaat yang sama pula para Mage mulai merapalkan mantra dan menyerang Muve dengan banyak serangan sihir.


“Illusion.”


Tubuh Muve berubah menjadi beberapa kelelawar dan pergi terbang kearah belakang para Mage.


“Hei! Menghindar!!!” teriak salah seorang Knight.


Tetapi semua telah terlambat, Muve membunuh para Mage dengan cepatnya tanpa rasa kasihan sama sekali melihat orang sebangsanya bersimbah darah begitu banyak karenanya.


“Ap-apaan dia ini! Aku belum pernah melihat orang yang bisa menggunakan Pedang dengan hebat dan Dagger secepat dirinya.” batin salah seorang Knight yang melihat Muve saat selesai menghabisi para Mage.


“Siapa orang ini?!”


Muve menatap keorang-orang yang masih hidup tersebut “Selanjutnya kalian.” ucap Muve dan seketikw menghilang dan muncul kembali disamping Knight yang berteriak sebelumnya.


Srak


Lehernya seketika putus hanya dengan sekali tebas Muve, para prajurit dan Knight yang melihat itu mulai sedikit gemetar ketakutan.


Beberapa dari mereka memilih untuk maju menyerang dan beberapa melarikan diri tetapi bagi Muve siapapun yang berniat menyerangnya maka tidak akan pernah dibiarkan lari begitu saja.


Seluruh prajurit dan Knight yang tersisa dibunuh oleh Muve dan sekarang saatnya melanjutkan penghancurannya lagi.


Tetapi saat dirinya hendak mengganti senjata tiba-tiba disebuah anak panah dengan kecepatan tinggi menyerangnya dari belakang.


Srak!


Anak panah itu menembus bahu Muve tapi Muve menahan sakitnya agak tidak menunjukkan kalau dirinya sedang lengah.


“Kau beruntung itu tidak mengenai kepalamu.” ucap seorang gadis yang suaranya terdengar Familiar.


“Sepertinya skill memanahmu sekarang cukup memburuk.”


“Mungkin karena dia sering tidur sekarang.”


“Ayolah teman-teman, kita harus fokus.”


Mendengar suara-suara itu membuat Muve tersenyum dan saat berbalik, benar dugaan Muve kalau suara itu adalah suara dari orang-orang yang menyelamatkan dari Hobgoblin beberapa bulan yang lalu.


“Aku sarankan kalian tidak membuang-buang nyawa kalian dengan melawanku.” ucap Muve dengan sombongnya.


“Hmph kau pikir hanya dengan mengalahkan beberapa Knight saja membuatmu sangat kuat?” jawab Nata.


“Harusnya kau yang jangan membuang nyawa melawan kami.” sambung Ren.


“Kalian terlalu banyak bicara.” ucap Lilian


“Rain Sword.”


Ratusan pedang tiba-tiba muncul dilangit dan turun menyerang Muve dengan cepatnya dan disaat yang sama pula Nata juga menembakan 3 anak panah yang bergerak cepat kearah Muve “Wind Arrow.”


“Sebenarnya aku tidak ingin melawan tapi karena kalian menghalangi jadi terpaksa aku melakukan ini.” batin Muve.


Muve bergerak menghindar serangan Lilian dan Nata kemudian melompat cukup cepat kearah Nata yang berada dibelakang mereka dan tentu saja bagi seorang pemanah, pertarungan jarak dekat adalah kelemahan mereka.


“Maaf kak.” ucap Muve saat Daggernya berada tepat dileher Nata dan kemudian menebasnya membuat Nata mati seketika.


“Nata!!!!!” teriak Ren dengan kerasnya.


“Sialan!!!!” ucap Ren dengan wajah yang sangat marah dan tanpa pikir panjang berlari kearah Muve.


Saat Ren melompat cukup tinggi dan menggenggam tombaknya cukup kuat disaat yang sama pula angin mulai muncul disekitar tombaknya.


“Piercing Strike!!!” teriak Ren melemparkan tombak itu kearah Muve.


Bum!!!


“Skill yang cukup menarik.” ucap Muve yang menangkap tombak itu dengan satu tangannya.


“B-berhasil ditahan?!” ucap Ren cukup terkejut.


“Yah itu bukanlah serangan yang cukup kuat jadi aku menangkapnya.” jawab Muve.


“Mu-mustahil...”


Muve melemparkan kembali tombak itu kearah Ren dan menantangnya untuk melakukan serangan lagi tetapi Ren terlihat tidak mau menyerang lagi “Itu adalah serangan terkuatku... Kalau itu saja tidak bisa melukainya lalu apa gunanya aku bertarung.” jawab Ren.


“Cih! Lilian bawa Ren pergi dari sini!” teriak Alex yang berjalan kedepan Ren dan mengarahkan pedangnya ke Muve.


“Biarkan dia pergi! Lawanmu adalah aku.” ucap Alex dengan tangan yang gemetar.


“Kau yakin Alex melawannya sendirian?” tanya Lilian.


“Tenang saja, lagipula akulah yang paling kuat diantara kalian.” jawab Alex dengan tersenyum.


“Baiklah.” jawab Lilian mengangkat Ren dan membawa pergi dengan terbang.


“Nah sekarang saatnya kita bertarung.” ucap Alex.


“Sebelum itu ingin bertanya dimana Hunter Rank S kalian?” tanya Muve.


“Mereka sudah mati...” jawab Alex.


“Mati?”


“Bukankah kau yang membunuh mereka dengan serangan tiba-tiba sebelumnya!!” bentak Alex.


“Serangan tiba-tiba? Oh maksudnya Slashing Wave? Hah... sedikit mengecewakan aku tidak bisa bertarung dengan Sonia.” batin Muve.


Muve kemudian berbalik dan berjalan mendekati rumah-rumah yang masih berdiri meninggalkan Alex yang bersiap mati untuk bertarung dengannya.


“Hei! Kenapa kau tidak menyerang?” tanya Alex.


“Lupakan! Aku tidak ingin bertarung dengan orang bahkan tidak bisa memegang pedang dengan normal.” jawab Muve sambil terus berjalan.


“Ap-apa dia menyadari kalau aku sedang gemetar?” batin Alex.


“Tetapi kalau dibiarkan begitu saja, dia pasti akan terus membunuh orang yang tidak bersalah...”


Walaupun tubuhnya masih semakin gemetar Alex memutuskan menyerang Muve “Triple Slash!”


“Masih saja menyerang.” batin Muve.


Muve dengan mudahnya menangkis setiap serangan Alex karena gerakan itu adalah gerakan andalan dirinya semenjak mulai menjadi kuat dan diserangan Alex yang terakhir Muve menangkap pedangnya dan menendang Alex hingga terjatuh.


“Alex aku sarankan kau untuk tidak menyerangku lagi.” ucap Muve melepaskan topengnya.


Alex yang terjatuh langsung terkejut melihat anak kecil yang pernah ditolongnya dan bahkan dianggapnya sebagai adik sendiri adalah dalang atas penyerangan itu.


“Mu-muve... Ap-apa maksudnya ini?” ucap Alex terlihat gugup.


“Kau lupa atau memang aku belum menceritakan kalau aku adalah Anak haram dari raja kota ini dan seharusnya kau tahu seperti apa nasib seorang anak haram dikota sampah ini.” jawab Muve mengenakan kembali topengnya.


“M-mustahil... I-ini tidak mungkin terjadi... M-muve bukanlah orang yang seperti itu.” ucap Alex dengan gugupnya.


Muve membiarkan Alex dan lanjut pergi menghancurkan seluruh rumah-rumah di kota Calvary dan sekarang hanya tinggal istana besar dengan para Bangsawan didalamnya.