
Mereka pun berbalik melihat kearah orang yang menyahut perkataan mereka sebelumnya, ternyata orang itu adalah seorang Beastmen singa yang terlihat kuat karena tubuhnya yang cukup kekar.
“Leon? Apa yang kau lakukan diwilayahku?” tanya Demian.
“Aku juga tidak ingin kemari, tapi anakku bersikeras memintaku untuk datang kemari karena katanya orang yang menolongnya sedang dalam bahaya.” jawab Leon.
“Sayangnya kau tidak perlu menolongnya karena aku sudah kalah sekarang.” ucap Demian
“Aku tidak menyangka Naga terkuat bisa dikalahkan oleh manusia biasa.”
“Dia mungkin kelihatan lemah tapi sebenarnya dia sangat kuat.” jawab Demian.
“Jangan melebih-lebihkan, aku hanya sedikit lebih kuat. Ngomong-ngomong Paman sungguhan ingin mengajak kami pergi ketempatmu?” ucap Valen.
“Ya anggap saja itu balasan karena telah menolong anakku walaupun sebenarnya salah dirinya sendiri yang memutuskan untuk lari dari desa.” jawab Leon.
“Oi maksudnya anaknya itu apa bocah yang lari tadi?” tanya Demian terlihat bingung.
“Tentu saja, memangnya siapa lagi?” jawab Valen.
“Sial... Kalau bocah itu tadi mati karena seranganku pasti aku sudah diamuk oleh para Beastmen...” batin Demian.
“Sudahlah jangan terlalu dipikirkan, aku juga tahu kalau sebenarnya kau tadi hampir membunuh anakku.” ucap Leon menepuk bahu Demian.
“Hehehe.” ucap Demian dengan tersenyum canggung.
Leon kemudian menuntun mereka kedesanya yang berada cukup jauh dari tempat tersebut.
Hari pun mulai malam dan mereka sekarang sudah disampai didesa yang cukup besar yang penuh dengan ratusan Beastmen yang sedang berkeliaran kesana kemari sambil membawa kayu bakar.
“Ah! Kakak!!” teriak Demis langsung berlari dan memeluk Valen, ternyata daritadi Demis menunggu kedatangan mereka tepat diluar desa.
“Sepertinya kau lebih menyukai orang ini daripada ayahmu ini, nak.” ucap Leon yang terlihat iri kepada Valen.
“Haha maafkan aku Paman...” ucap Valen saat mendengar itu.
“Tentu saja Demis lebih menyukai kakak! Ayah nomor 2.” jawab Demis.
“Demis kau tidak boleh seperti itu! Kau harus menjadikan ayahmu itu nomor 1, karena dia orang tuamu selama-lamanya.” tegur Valen.
“Ba-baiklah kakak.” jawab Demis melepas pelukannya dan menunduk sambil berjalan kearah Leon.
“Maafkan, Demis ayah. Seharusnya ayah adalah yang nomor 1...” ucap Demis.
“Tidak apa nak, ayah tidak terlalu mempermasalahkannya.” jawab Leon dengan suara yang lembut sambil tersenyum.
“Demis juga minta maaf tentang Demis yang lari dari desa... Hari ini Demis belajar kalau sebenarnya menjadi kuat itu penting. Demis janji Demis tidak akan lagi bersikap seperti sebelumnya dan berubah menjadi lebih baik.” ucap Demis.
“Hahaha Bagus, seperti itulah anakku!” ucap Leon yang terlihat senang sambil mengangkat tubuh Demis.
“Kalau begitu malam ini kita akan adakan pesta!” teriak Leon dengan senangnya dan kemudian memasuki desa sambil menggendong Demis dibahunya.
“Sepertinya malam ini tidak akan berakhir dengan cepat...” gumam Demian.
“Anggap saja ini salah satu tahap penyembuhanmu.” jawab Valen.
“Penyembuhanku adalah dengan tidur.”
“Kalau begitu bagaimana kalau kau tidur selama-lamanya, itu tidak akan membuatmu sakit lagi.”
“Kau mengharapkan aku mati?”
“Bercanda-bercanda.” jawab Valen tertawa kecil.
Valen pun kemudian masuk kedesa tersebut bersama Demian untuk mengikuti pesta yang diadakan oleh Leon.
“Keluarkan semua bir dan daging yang kita miliki! Kita akan berpesta besar-besaran hari ini!!” teriak Leon sambil tersenyum lebar.
“Ya!!!!”
Para beastmen langsung berlarian kegubuk yang paling besar didesa tersebut dan keluar dengan membawa makanan serta minuman yang cukup banyak.
Mereka juga menyalakan api yang begitu besar ditengah-tengah desa menggunakan kayu api yang mereka kumpulkan siang tadi.
“Kalian berdua tidak perlu sungkan! Makanlah sesuka kalian!” ucap Leon kepada Valen dan Demian yang hanya duduk ditepian keramaian Beastmen yang berpesta tersebut.
“Terimakasih tapi sepertinya Demian sedang tidak ingin minum, dia terlihat ingin beristirahat sekarang.” jawab Valen.
“Ah membosankan.”
“Ahahaha maaf-maaf, ya sudah kalau begitu. Hei kemari!” ucap Leon memanggil salah seorang Beastmen “Bawa mereka kerumah yang kosong.”
“Baik, kepala desa.”
“Maaf aku tidak bisa ikut berpesta.” ucap Valen.
“Tidak apa.” jawab Leon tersenyum.
Valen dan Demian pun pergi menuju rumah yang ditunjukkan oleh Beastmen yang disuruh Leon sebelumnya.
“Ini dia rumahnya. Maafkan terlihat kecil soalnya hanya rumah ini yang tidak ditinggali oleh kami karena Beastmen yang sebelumnya disini telah meninggal. Oh iya didalam tidak ada yang special, hanya kasur, bak yang berisi air dan batu bercahaya yang menerangi ruangannya walau tidak terlalu terang.” ucapnya saat sampai dirumah untuk Valen dan Demian beristirahat.
“Terimakasih.” ucap Valen.
Beastmen pun pergi meninggalkan mereka untuk kembali mengikuti pesta lagi.
“Aku sedikit bingung, kenapa dari mereka tidak ada satupun yang ketakutan kepadamu. Padahalkan kau adalah monster terkuat diwilayah ini.” ucap Valen yang berbaring dikasur.
“Mungkin karena aku dalam bentuk manusia. Kalau tidak salah bentuk manusiaku membuat aku tidak mengeluarkan aura Nagaku yang menekan orang-orang dan kekuatanku juga menjadi lebih lemah.” jawab Demian sambil mencuci muka dan beberapa anggota tubuhnya yang kotor karena tanah dan darahnya.
“Berarti kalau adu jotos aku pasti kalah kalau kau dalam bentuk Naga.” ucap Valen.
“Tentu sajalah! Manusia mana coba yang bisa bertahan setelah dipukul Naga tanpa menggunakan Armor sama sekali.” jawab Demian yang bergerak ke kasur kosong disebelah Valen.
“Yah sebenarnya aku menggunakan Armor sih tapi tidak terlihat.” batin Valen.
“Mungkin aku bisa bertahan.” sambung Valen.
“Kalau kau bisa menjadi lebih kuat dari dirimu yang ini, mungkin saja itu bisa terjadi.” jawab Demian.
“Sudahlah jangan mengajakku berbicara lagi! Aku ingin beristirahat sekarang!” bentak Demian membalikkan badannya dan mulai mencoba tidur.
“Kenapa tidak mengobrol sebentar lagi?” tanya Valen.
“Semakin cepat kita tidur semakin cepat waktu berlalu.” jawab Demian.
“Hah... Ya sudah kalau begitu.”
Mereka pun melewatkan malam yang mengasikkan di desa Beastmen yang sedang berpesta, karena memilih untuk tidur lebih awal.
***
Tengah Malam.
Valen yang tertidur cukup lelap terbangun ditengah malam yang dingin karena ingin buang air kecil.
“Sial! Padahal aku belum ada makan dan minum tapi ada aja hal seperti ini.” gumam Valen saat terbangun.
Valen memutuskan untuk keluar dari rumah itu dan pergi kebelakangnya kebetulan rumah tersebut berada dipinggir desanya jadi tidak jauh untuk masuk kedekat hutan.
“Ah... Leganya, kalau tadi perlu berjalan sedikit jauh mungkin aku sudah kencing di dinding luar rumah yang disampingku.” gumam Valen setelah buang air kecil.
Setelah itu Valen pun berniat kembali masuk untuk melanjutkan tidurnya tetapi dirinya terhenti didepan rumah saat melihat api yang dinyalakan oleh para Beastmen masih menyala.
“Mereka tidak takutkah kalau api itu menyambar rumahnya dan membuat kebakaran?” gumam Valen.
“Apa sebaiknya aku matikan saja? Ah tidak perlulah mungkin saja itu kebiasaan mereka.” gumamnya lagi dan masuk kerumah tersebut.
***
Sementara itu diapi unggun yang menyala itu ternyata masih ada beberapa Beastmen termasuk Leon, terlihat dari raut wajah mereka, sepertinya sedang membicarakan hal penting.
“Kenapa anda mengizinkannya untuk tinggal!”
“Benar! Bukankah kita adalah Ras yang tinggal sendiri, belum pernah ada Ras lain yang tinggal ditempat tinggal selama puluhan tahun kecuali mereka berdua!”
“Lebih tepatnya satu manusia dan satu Naga.”
“Tetap saja, kalau mereka mengisahkan ini keluar pasti akan membuat bahaya berdatangan!”
“Tapi anakku selamat karena manusia itu! Kenapa kalian tidak mengerti sama sekali?”
“Aku mengerti anakmu selamat karenanya tapi dengan kau melakukan hal ini bisa sama membuat seluruh Beastmen didesa ini tidak selamat.”
“Benar! Kau tidak ingat apa yang terjadi pada para Kelinci bulan yang telah terbantai dan sekarang hanya tersisa kulitnya yang dipakai para manusia!”
“Hah... Baiklah kalau begitu. Jadi apa yang akan kita lakukan sekarang.”