Super Systems

Super Systems
Ch 21:Berpetualang Bersama



Muve dan Lucy kemudian memulai petualangan mereka bersama.


Karena ingin melihat kemampuan yang dimiliki oleh Lucy, Muve membawa Lucy memasuki hutan untuk bertarung dengan Monster.


Tidak lama setelah memasuki hutan mereka dihadang oleh Slime hijau yang begitu mungil.


“Wah! Monsternya cukup menggemaskan!” ucap Lucy luluh melihat Slime tersebut.


Slime adalah Monster lendir yang kecil dan lemah, mereka bukanlah Monster yang bisa melukai manusia karena makanan mereka hanya dedaunan dan serangga.


“Lupakan tentang menggemaskannya, misimu adalah membunuh Slime itu.” tegur Muve.


“Tapi kak! Lucy tidak sanggup membunuh Monster semenggemaskan ini!” jawab Lucy dengan wajah memelas.


“Hah... Lalu bagaimana untuk mengetes kemampuanmu?” tanya Muve.


“Uh... Seingat Lucy Elf hanya ada 3 Job, yang pertama Archer, Mage dan Warrior tetapi Lucy sepertinya tidak masuk dalam 3 job ini.” jawab Lucy.


“Berarti kau adalah Jobless sepertiku.” tebak Muve.


“Be-belum tentu sih.” jawab Lucy.


“Lalu?”


“Sebentar!” jawab Lucy.


Lucy kemudian mendekati Slime tersebut dan meletakkan tangannya diatas kepala Slime.


“Hei!" tegur Muve khawatir kalau Slime tersebut melukai Lucy.


“Slime yang menggemaskan! Maukah kamu menjadi teman Lucy.” ucap Lucy sambil memejamkan matanya.


Seketika tangan Lucy mengeluarkan cahaya terang dan meninggalkan sebuah tanda dikepala Slime tersebut.


“B-berhasil!! Kakak Muve lihat!” teriak Lucy kesenangan sambil menunjuk tanda dikepala Slime.


“Apanya yang berhasil?” tanya Muve sedikit bingung dengan yang dimaksud Lucy.


“Jobku adalah Tamer,kak!” jawab Muve tersenyum riang.


“Tamer? Apa itu aku belum pernah mendengarnya” tanya Muve.


“Ibu pernah bercerita kalau dahulu kala ada sebuah Job kuat yang berasal dari High-Elf dan itu adalah Tamer. Job ini juga yang membuat Elf menjadi ras yang kuat.” jawab Lucy.


“Kenapa kau begitu yakin kalau Jobmu adalah Tamer?”


“Uh... Kakak Muve tidak lihat ini? Ini sangat mirip dengan tanda diperut Lucy!” ucap nya menunjuk kembali tanda dikepala Slime.


“Hoo jadi Jobmu adalah membuat Monster menjadi rekan yang bertarung untukmu?”


“Iya kak!” jawab Lucy.


“Kuakui itu Job hebat tetapi memangnya kau yakin bisa membuat Monster lain menjadi rekanmu juga?”


“Lucy tidak tahu tapi setidaknya sekarang Lucy tahu apa Job Lucy.” jawabnya.


“Ya sudah kalau begitu.”


Karena tujuannya selesai Muve kemudian berjalan kearah utara bersama Lucy dan Slimenya yang berada dibahu Lucy.


Disepanjang jalan tidak banyak Monster yang ditemui, hanya beberapa Goblin biasa dan Serigala yang tentu saja sangat mudah dikalahkan oleh Muve.


“Huummm... Kakak Muve kenapa tidak membiarkan Lucy untuk membantu!” ucap Lucy terlihat kesal karena Monster yang ditemui selalu diselesaikan oleh Muve sendiri.


“Itu berbahaya.” jawab Muve.


“Tapi Lucy juga ingin membantu kakak!”


“Kau yakin bisa mengalahkan Goblin hanya bermodal Slime lemah itu?” tanya Muve menunjuk Slime dibahu Lucy.


“Tidak sih, hehehe. Ta-tapi Lucy merasa tidak enak dengan Kakak Muve.” jawab Lucy.


“Sudah tidak apa! Ini bukanlah hal yang merepotkan bagiku. Lagipula lumayan mendapatkan beberapa Exp.”


“Exp?”


“Lupakan.” jawab Muve.


Mereka terus berjalan cukup lama sampai akhirnya memutuskan untuk istirahat karena Lucy cukup kelelahan mengejar Muve yang berjalan dengan cepat.


“Lu-Lucy capek kak.” ucapnya dengan nafas terengah-engah.


“Nih.” ucap Muve memberikan sebuah kantong air yang diambil dari Inventory.


“Terima kasih ka... Eh kakak dapat air ini darimana? Seingatku kakak tidak membawanya.” ucap Lucy mengambil kantong air yang diberikan Muve.


“Dari sini.” ucap Muve menunjuk ke invetorynya tetapi itu hanya membuat Lucy tambah kebingungan.


“Dimana?” tanya Lucy kembali.


“Hah... Anggap saja aku memiliki Skill yang dapat menyimpan barang.” jawab Muve.


“Woah! Itu pasti Skill langka!” ucap Lucy.


“Sudah-sudah sebaiknya kau cepat saja minum itu air.”


Lucy pun meminum air itu dengan puasnya membuat air dikantong tersebut habis tanpa sisa setitik pun.


“Padahal kita baru berjalan beberapa jam tetapi rasa hausmu seperti orang yang tidak minum selama sehari.”


Kruk....


“Hm? Sekarang malah lapar?”


“Eheheh.”


“Hah... Nih.” ucap Muve memberikan satu roti kepada Lucy.


“Terima kasih kak!” jawab Lucy.


“Eum... Enak!” ucap Lucy saat mengigit roti itu dan langsung menghabiskan hanya dalam beberapa gigitan.


“Untung saja aku membeli banyak roti untuk persediaan darurat.” batin Muve saat melihat Lucy yang makan dengan lahap.


“Walau Lucy terlalu kenyang tetapi ini seperti cukup untu... Ah! Tidak perlu Kak! Sebaiknya ini disimpan untuk nanti saja.” ucap Lucy saat Muve memberikannya roti lagi.


“Makan saja! Daripada kau nanti pingsan karena kelaparan.”


Lucy pun mengambil roti dan memakannya lagi.


Setelah selesai berisitirahat cukup lama, mereka berdua pun melanjutkan perjalanannya tetapi tidak lama saat mereka berangkat, Muve mendengar suara langkah kuda yang cukup banyak di depannya.


Dengan cepat Muve menggendong Lucy dan melompat keatas pohon untuk bersembunyi.


“Ada apa ka...”


”Ssstt!” potong Muve menahan mulut Lucy dengan satu jarinya.


Tidak lama kemudian ternyata memang benar ada sekelompok orang berpakaian seperti Ksatria melewati tempat itu menggunakan kuda.


Mereka lewat begitu saja dengan cepat “Siapa mereka kak?” tanya Lucy saat orang-orang itu telah sedikit jauh.


“Aku tidak tahu tapi yang jelas itu bukan Ksatria dari kerajaan Calvary.” jawab Muve menggelengkan kepalanya.


Muve pun turun dari pohon tersebut dan menganggap tidak melihat apapun dihutan itu hanya terus berjalan tanpa tujuan yang jelas.


Hari pun mulai petang dan Muve masih saja berada di hutan itu karena belum menemukan ujung dari hutan tersebut.


“Lucy kalau kita bermalam dihutan yang gelap seperti ini apa akan membuatmu takut?” tanya Muve.


“Tidak, lagipula alam adalah tempat asli para Elf apalagi kalau hutan yang hijau seperti ini.” jawab Lucy tersenyum.


“Syukurlah.”


“Mem... Ahahah! Geli-geli! Hentikan... Ini menggelikan.” ucap Lucy terpotong saat Slime yang dibahunya menggosokkan badannya keleher Lucy.


“Haruskah aku membunuhnya!” ucap Muve terlihat kesal sambil menggenggam Dagger miliknya.


”Ja-jangan!” jawab Lucy mengambil Slime tersebut dan memeluknya.


“Ada apa tuan Slime?” tanya Lucy.


Slime tersebut membengkokan badannya kebawah, melihat itu Lucy pun meletakkannya ditanah dan Slime tersebut kemudian pergi kearah semak-semak.


“Apa yang kamu lakukan tuan Slime?” tanya Lucy sedikit bingung dengan Slime tersebut.


“Mungkin dia ingin pipis.” tebak Muve.


“Slimekan tidak memiliki gender kak, jadi mana bisa pipis.” jawab Lucy.


“Lalu kenapa kau memanggilnya pakai tuan?” tanya Muve.


“Hmm... Pengen aja.” jawabnya.


Tidak lama kemudian Slime tadi keluar dari semak-semak bersama 2 ekor Slime dibelakangnya.


“Lah dia malah membawa keluarganya.” ucap Muve.


“Kakak! Sepertinya tuan Slime ingin Lucy membuat Slime dibelakang untuk menjadi teman Lucy juga.” ucap Lucy melihat tuan Slime bergoyang-goyang.


“Yah itu terserah padamu, lagipula yang menjadi tuannya adalah kau bukan aku.” jawab Muve.


Mendengar itu Lucy pun membuat 2 Slime tersebut menjadi temannya dan kemudian mereka bertiga pun bergabung menjadi satu Slime yang lebih besar.


“Baru pertama kali ini aku melihat Slime bisa sebesar ini.” ucap Muve.


“Lucy juga.”


Slime tersebut kemudian kembali bergoyang-goyang dan berjalan kearah semak-semak tadi.


“Kenapa lagi sekarang? Mereka ingin memanggil keluarga lagi?”


“Sepertinya bukan, kak. Mereka seperti ingin kita mengikutinya.” jawab Lucy memutuskan mengikuti Slime itu.


Karena Lucy memutuskan untuk mengikuti Slime itu, Muve terpaksa ikut juga dan ternyata benar yang dikatakan oleh Lucy, Slime itu sungguhan menuntun mereka kearah sebuah gua yang besar.


“Mereka sepertinya menyuruh kita bermalam disini, kak.” ucap Lucy saat masuk kegua itu.


“Kau yakin ingin bermalam disini?” tanya Muve.


“Setidaknya kita tidak akan kehujanan.” jawab Lucy.


Karena sudah seperti itu Muve kemudian berkeliling sebentar untuk mengambil beberapa ranting kayu dan batu untuk membuat api.


Setelah membuat api, mereka pun duduk disekitar api tersebut untuk menghangatkan diri.