
Valen melihat sudah mulai ada orang-orang yang berjalanan dikota tersebut padahal hanya beda beberapa jam tetapi suasananya sangat berbeda jauh.
Valen kemudian memutuskan untuk mencari tempat menjual senjatanya yang tidak terpakai dengan bertanya keorang yang lewat.
Orang yang ditanya oleh Valen menjawab kalau sebaiknya pergi ketoko senjata yang berada didekat gerbang kota.
Setelah itu Valen langsung mendatangi tempat yang disebutkan oleh orang yang ditanya olehnya sebelumnya.
“Selamat datang!” ucap seorang gadis yang menjaga toko tersebut dengan tersenyum.
“Aku ingin menjual senjata, apa disini bisa membeli senjataku?” tanya Valen.
“Hm... Sebenarnya tergantung senjatanya, mana coba aku lihat.” jawabnya.
Valen mengeluarkan Iron Sword dan Steel Sword dari Inventorynya dan memberikannya kepada gadis itu, melihat pedang tiba-tiba muncul ditangan Valen, gadis tersebut terkejut sama seperti saat Tael melihatnya juga sebelumnya.
“Kenapa pedangnya tiba-tiba muncul ditanganmu?!” tanya gadis tersebut.
“Anggap saja skillku.” jawab Valen.
“Skill? Memangnya ada skill seperti itu?” tanyanya kembali.
“Ada. Bukankah kau baru melihatnya?” jawab Valen.
“Ah iya ya. Hm pedangnya sudah terlihat sedikit lecet, bisa sih aku membelinya tapi harganya sangat murah.” ucap gadis tersebut setelah melihat kedua pedang yang ingin dijual Valen.
“Tidak apa, daripada pedangnya tidak terpakai.” jawab Valen.
“Bagaimana kalau kedua pedangnya aku beli 50 koin tembaga?” tawar gadis itu.
“Kau yakin membelinya seharga itu?” jawab Valen.
“Lho? Kenapa? Apa kurang tinggi harganya?” tanya gadis itu.
“Bukan seperti itu tapi bukankah harga yang kau tawar itu cukup tinggi?” jawab Valen.
“Itu sebenarnya sudah harga paling murah untuk pedang bekas seperti ini, karena biasanya pedang ini seharga 3 koin perak kalau masih baru.”
“3 koin perak!! Aku bahkan tidak pernah memegang uang sebanyak itu.” batin Valen saat mendengar ucapan gadis itu.
Valen pun mengiyakan tawaran gadis tersebut dengan menjual pedang tersebut seharga 50 koin tembaga.
“Ngomong-ngomong kau orang baru ya dikota ini? Soalnya aku belum pernah melihatmu sebelumnya.” ucap gadis itu saat memberikan uangnya kepada Valen.
“Iya aku baru datang malam tadi.” jawab Valen.
“Malam hari? Kau seperti seorang buronan saja datangnya saat kota sedang sepi.” ucap gadis itu bercanda.
“Memangnya seorang buronan selalu memasuki kota saat sepi? Bukankah seharusnya dia mencoba untuk berbaur dikeramaian agar tidak terlihat mencurigakan?” jawab Valen.
“Mungkin, lagipula tidak semua buronan bersifat sama.” sambungnya.
“Kalau begitu kau sebelumnya darimana? Dan kenapa kau memutuskan untuk bersinggah di kota Sailand?” tanyanya.
“Aku tidak mungkin bilang kalau aku sebenarnya berasal dari kota Calvary...” batin Valen.
“Aku sebenarnya berasal dari sebuah desa yang berada jauh ditimur dan aku sekarang sedang berpetualang seorang diri.” jawab Valen
“Sendirian? Wah kau hebat juga, pasti kau orang yang kuat.” ucapnya terlihat kagum.
“Tidak terlalu kuat, hanya cukup untuk membela diri.” jawab Valen.
“Ya sudah kalau begitu aku pergi dulu, terima kasih karena mau membeli senjataku.” ucap Valen berbalik.
“Iya, sama-sama! Datanglah lagi.” ucapnya tersenyum manis.
Valen keluar dari toko tersebut dan pergi ketempat pegadang yang menjual makanan ringan dipinggiran jalan.
Valen membeli makanan itu 2 tusuk dan memakannya sambil berjalan, rasa makanan yang meleleh dimulutnya sangat membuat Valen terhanyut dalam kenikmatan karena selama 3 tahun dia tidak ada makan apapun sampai akhirnya dia mendapatkan skill yang membuat tidak lagi merasa lapar dan karena skill itulah Valen dapat bertahan selama 3 tahun terakhir.
“Ini sangat enak! Sebaiknya aku membelinya lagi.” ucap Valen setelah menghabiskan dua tusuk makanan yang dibelinya dan sekarang memutuskan untuk berbalik ketempat yang sebelumnya dia membeli makanan tadi.
Buk!
Tetapi saat Valen berbalik dirinya tanpa sengaja menabrak seorang pria besar dan kekar yang membawa pedang besar dipunggungnya.
“Hoi! Lebih hati-hatilah saat berjalan!” ucapnya menatap Valen dengan raut kesal.
“Maaf aku tidak sengaja.” ucap Valen.
“Cih.” ucapnya mendecakkan lidahnya dan menyenggol bahu Valen saat hendak melewatinya.
“Hm? Ada apa denganmu?” tanya Valen.
“Minggir! Kau menghalangi jalanku!” ucapnya hendak mendorong Valen.
Valen dengan reflek menangkap tangannya dan tanpa sengaja mencekramnya sedikit kuat sambil menatap wajah orang itu dengan tatapan serius.
“Apa maksudnya ini!” ucap Valen.
“L-lep-lepaskan tangank...” ucapnya terpatah-patah karena Valen mencengkram tangannya sampai akhirnya membuatnya terbungkuk ditanah.
Melihatnya seperti itu Valen kemudian melepaskan tangannya dan lanjut berjalan kearah penjual untuk membeli makanan yang seperti sebelumnya.
Tidak lama setelah Valen berjalan pria tadi terlihat sangat marah dan mencabut pedangnya untuk menebas tubuh Valen.
“Sialan!!!!” teriaknya.
Valen menangkap pedang yang diarahkan oleh pria itu kepadanya dengan tangan kosong dan mencekramnya sampai hancur.
“Hiiii!!?” pria besar itu terlihat ketakutan saat melihat pedang besar miliknya dihancurkan begitu mudahnya.
“Apa-apaan kau ini!!” ucap Valen berbalik dan meninju perut pria besar tadi hingganya membuatnya terpental cukup jauh.
“Akh!!” rintihnya dan sedikit mengeluarkan darah dari mulutnya yang terbuka.
Orang-orang yang melihat itu langsung berteriak histeris dan berlarian dari tempat itu agar tidak terlihat.
“Oi! Ada kekacauan apa ini?” tanya seorang pria berzirah yang menaiki kuda menuju kearah Valen.
“Apa yang telah kau lakukan! Berani-berani membuat kekacauan dikota ini!” bentaknya.
“Dia duluan yang membuat masalah.” ucap Valen menunjuk kepria yang tadi terpental dan sekarang pingsan tak berdaya.
“Tapi dari yang aku lihat kaulah yang membuat masalah.” ucapnya.
“Hah?”
“Kau adalah orang asing dan kau juga melukai warga kota ini, jadi bukankah seharusnya yang disalahkan adalah kau?” jawabnya.
“Jadi sekarang sebaiknya kau ikut aku untuk dibawa kepenjara!”
“Hei ada apa dengan kau ini? Bukankah harusnya hal seperti ini tidak perlu dibawa kepenjara?”
“Diam! Ikut saja!” ucapnya membentak Valen.
“Hah... Sepertinya sudah saatnya untuk pergi dari kota ini.” ucap Valen menghela nafasnya.
Valen menunduk sesaat dan disaat yang sama pula sebuah Dagger muncul ditangan kanannya.
“Matilah...”
Valen menghilang seketika membuat Ksatria itu sangat terkejut dan dia langsung turun dari kuda dengan waswasnya memerhatikan kiri dan kanan.
Srak!!
Valen seketika lewat disampingnya menebas lehernya membuat dirinya mati dengan begitu cepat tanpa berbuat apa-apa.
Kya!!??
Teriak seorang gadis yang tanpa disengaja melihat Ksatria tersebut mati ditangan Valen.
“Tuan George telah mati!!!!” teriaknya.
“Padahal aku ingin membeli makanan itu terlebih dahulu tapi malah jadi seperti ini.” gumam Valen.
Valen langsung melarikan diri dengan cepat dari kota Sailand menuju kearah gerbang belakang kota tersebut.
Whosh!!
“Njir apa itu?!” ucap seorang penjaga yang terkejut saat mendengar suara angin yang cepat melewati tubuhnya.
“Apanya yang apa?” tanya kawannya.
“Aku rasa tadi ada yang lewat.” jawabnya.
“Mana mungkin! Itu terjadi karena kau sudah hampir tertidur.” ucap kawannya.
“Mungkin.”