
Sesampainya dikota mereka langsung pergi ke Guild untuk mencari informasi tentang Twelve Mask.
Saat mereka masuk ke Guild mereka dipandangi dengan tatapan tidak nyaman dari orang-orang yang berada Guild, yah walaupun bagi Valen itu sudah biasa karena dirinya pernah mengalaminya saat tinggal di Kota Calvary.
“Ada yang bisa kubantu?” tanya resepsionis.
“Aku ingin mencari informasi.” jawab Demian.
“Maaf tapi disini tidak menjual Informasi. Kami hanya memberikan misi kepada Hunter.” jawabnya.
“Aku ingin mencari informasi tentang Twelve Mask.” ucap Demian bersikeras mencari informasi darinya.
Resepsionis itu terlihat sedikit terkejut mendengarnya dan kemudian perlahan mendekatkan mulutnya ke telinga Demian.
“Sebaiknya kau mencari Informasi tentang hal itu di toko seberang itu.” ucapnya menunjuk kebangunan yang diseberang Guild.
“Kenapa tidak disini saja?” tanya Demian.
“Sayang sekali anda bukanlah Hunter jadi kami tidak bisa memberikan Informasi tentang itu sedikit pun.” jawabnya.
“Sudahlah ikuti saja apa katanya.” ucap Valen.
Mereka kemudian keluar dari Guild dan pergi ke bangunan yang ditunjukkan oleh Resepsionis sebelumnya.
Cring!!
Saat mereka masuk mereka melihat barang-barang antik dan kuno dirak yang berada di bangunan tersebut.
“Tumben ada pelanggan di siang hari seperti ini.” ucap nenek yang datang dari belakang sambil membawa sebuah buku.
“Apa benar disini kami bisa mendapatkan Informasi?” tanya Valen.
“Benar tapi kalian harus membayar untuk itu.” jawabnya.
“Harusnya segini cukup kan?” ucap Demian menghentakkan 3 koin perak kemeja.
“Tidak! Kalian harus membayar 20 koin perak untuk 1 Informasi.” jawabnya.
“20 perak!! Bukankah itu terlalu mahal?!” ucap Valen terkejut saat mendengarnya.
“Tenang saja, kalau segitu aku punya.” jawab Demian mengeluarkan 17 Koin perak.
“Ah aku salah mengucapkannya. Harusnya 40 Koin perak.” ucap nenek itu.
“Nih!” ucap Demian mengeluarkan 20 Koin perak lagi.
“Apa aku baru saja berkata 40 perak? Maksudku 80 Koin perak.” ucap nenek itu lagi.
“Apa kita punya sebanyak itu?” bisik Valen.
“Nih!” ucap Demian mengeluarkan 40 Koin perak lagi.
“Sepertinya kalian memang sangat memerlukan informasinya, jadi informasi apa yang kalian mau?” tanya nenek itu.
“Twelve Mask.”
Nenek itu terdiam sesaat ketika mendengarnya dan seketika raut wajahnya berubah menjadi cukup serius.
“Memangnya apa yang kalian mau dari mereka? Mereka bukanlah orang yang kalian bisa ganggu begitu saja.” ucap nenek itu.
“Aku ingin memukul mereka.” jawab Demian.
“Sebenarnya tadi kami bertemu dengan 2 orang yang mengaku sebagai Twelve Mask dan ternyata kejadian tentang Troll sebelumnya juga akibat ulah mereka.” potong Valen.
“Dimana kalian bertemu mereka?” tanya nenek itu.
“Diluar kota tapi mereka terlalu lemah dan kami berhasil membunuhnya.” jawab Valen.
“Kalian membunuhnya! Kalian tidak bercandakan?” ucap nenek itu.
“Tentu tidak.” jawab Valen.
“Baiklah kalau begitu.”
“Sebenarnya Twelve Mask itu adalah organisasi yang diciptakan oleh seorang Jenius yang pernah tinggal dikota ini yaitu Merlin.”
“Dia sangat berbakat bahkan dapat memahami semua pelajaran yang dia baca hanya dalam sekali baca.”
“Sampai-sampai dia pernah mencoba untuk membuat sebuah ramuan penyembuh dan tentu saja dengan berhasilnya dia membuat itu menjadikan namanya terkenal tapi sayangnya dia sangat bernafsu untuk meneruskan percobaannya tersebut dan memutuskan untuk membuat ramuan yang bisa membuat tubuh kebal dari penyakit.”
“Sayangnya itu gagal dan membuat seorang pria tua meninggal dengan tubuh yang meleleh. Setelah kejadian itu orang-orang dikota banyak yang menghujat dan memburuk-burukkan namanya.”
“Merlin berusaha memperbaiki nama baiknya dengan sebuah ramuan baru lainnya yaitu bisa memperkuat tubuh seseorang, tentu saja tidak ada yang mau mencoba setelah mendengar rumor buruk tentangnya.”
“Sampai pada akhirnya datang seorang anak kecil kepada Merlin dan berkata kalau dia ingin mencoba ramuan barunya.”
“Ternyata ramuannya ampuh dan berhasil membuat anak itu menjadi kuat dan besar seketika tapi sayangnya di keesokan harinya anak itu meninggal karena tubuhnya semakin membesar setiap saat sampai berakhir meledak.”
“Karena hal itu orang-orang yakin kalau Merlin bukanlah seorang Jenius lagi dan mereka memutuskan mengusirnya dari kota.”
“Tapi setelah puluhan tahun terlewat tiba-tiba terdengar lagi nama familiar yang sudah lama menghilang itu.”
“Saat itu ada 12 orang yang menggunakan topeng dengan ukiran yang berbeda-beda berdiri diatap Guild sambil berteriak kalau pembalasan Merlin akan tiba.”
“Kejadian itu banyak mengorbankan nyawa orang dikota termasuk Hunter Rank E.”
“Warga kebingungan kenapa bisa Monster yang seharusnya berada digurun pasir bisa berada dikota mereka, padahal jarak antara gurun pasir dan kota Asteria sangatlah jauh.”
“Mereka pun teringat tentang ucapan 12 orang bertopeng diatas Guild seminggu yang lalu kalau Pembalasan Merlin akan tiba.”
“Semenjak hari itu setiap awal 3 bulan sekali kota selalu diserang oleh bermacam-macam monster yang seharusnya tidak ada disekitaran ini.”
“Jadi sebenarnya tentang asal monster itu semua orang juga tahu kalau disebabkan oleh Twelve Mask tapi karena tidak ada orang yang berani melawan mereka jadi banyak yang memutuskan untuk diam dan pasrah dengan yang terjadi.” jawab nenek itu.
“Dan sekarang setelah mendengar ini apa kalian yakin ini melawan mereka?” tanya nenek itu.
“Tentu saja! Laki-laki tidak boleh menarik perkataannya.” ucap Demian.
“Lalu dimana kita bisa menemukan markas mereka nenek?” tanya Valen.
“Aku tidak tahu pasti tapi ada orang yang bercerita kalau mereka tinggal di kastil terbengkalai yang berada jauh dibarat kota Asteria.” jawab nenek itu.
“Kastil? Kenapa ada kastil didaerah sini?” tanya Valen.
“Entah, aku juga tidak tahu karena aku seumur hidup tidak pernah berjalan keluar kota.” jawabnya.
“Tidak perlu basa-basi Valen! Ayo kita hajar mereka!” ucap Demian.
“Iya-iya sabar sedikitlah!” ucap Valen.
“Kalau begitu aku pergi dulu nek, terimakasih tentang informasinya.” ucap Valen.
“Hei tunggu! Ini ambil sisanya, harga aslinya hanya 3 koin perak.” ucap nenek itu mendorong semua koin perak yang di keluarkan oleh Demian sebelumnya setelah mengambil 3 koin perak.
“Terimakasih nek.” ucap Valen tersenyum.
“Datanglah lagi.” jawabnya.
Setelah Demian selesai mengambil seluruh koinnya mereka pun berlari keluar dari kota dan pergi menuju barat untuk menghajar para bajingan bertopeng berserta Merlin.
Sekitar 1 jam berlari mereka akhirnya menemukan kastil yang disebutkan oleh nenek sebelumnya.
Memang benar kastil itu terlihat terbengkalai karena banyak rumput yang menjalar di dindingnya serta juga banyak lumut diatap-atapnya.
Tapi walaupun begitu lantainya terlihat sedikit bersih dari rumlut mungkin karena adanya orang yang melewatinya.
“Entah ini perasaanku saja atau memang aku mencium bau menyengat dari obat-obatan disekitar ini.” ucap Demian.
“Aku juga menciumnya. Sepertina berasal dari dalam situ.” ucap Valen menunjuk sebuah pintu.
“Ayo kita periksa.”
“Maaf tapi ayah sedang bereksperimen disana.” ucap seseorang dibelakang mereka.
“Sepertinya kita kedatangan pengunjung” ucap orang yang disampingnya.
“Lagi-lagi orang bertopeng.” ucap Demian.
“Lagi-lagi? Berarti kau pernah bertemu salah satu dari kami?” ucapnya.
“Tentu saja bahkan sekarang mereka sedang menunggu kalian diatas sana.” jawab Demian.
“Apa maksudmu kau membunuhnya? Hmph sepertinya kau sedang mengigau.”
“Benar! Kami tidak selemah yang kalian kira jadi jangan mau coba-coba membohongi kami.”
Whosh!
Valen dan Demian setelah muncul didepan mereka dan mencekik masing-masing darinya dengan kuat.
“Jadi maksudmu yang seperti ini yang tidak lemah?” ucap Valen dan Demian bersamaan.
“Le-lepaskan aku!!” ucapnya menggeliat-geliat mencoba melepaskan cengkraman Valen.
Krak!!
[Mendapatkan 2.000 Exp Dari Manusia]
“B-boar!” ucap orang yang dicekik Demian dengan suara pelan.
“Aku tidak ingin membuang-buang waktu cukup lama disini.” ucap Valen melemparkan tubuh orang itu.
“Ya sudah.”
Krak
Demian juga mematahkan leher orang yang dicekiknya dan melemparnya diatas tubuh orang yang dibunuh oleh Valen.
“Sekarang ayo kita masuk.”
Brak!!
Demian meninju pintu tersebut karena tidak bisa dibuka, sepertinya orang yang didalamnya tidak ingin diganggu sampai-sampai pintunya dikunci.
“Siapa kalian?!” ucap seseorang yang diruangan tersebut mengkerutkan dahinya saat melihat Valen dan Demian masuk kesana.