
Valen melarikan diri dengan begitu cepatnya karena tidak ingin menimpulkan keributan yang cukup kerepotan baginya.
Setelah merasa dirinya sudah sangat jauh dari Kota Sailand, Valen kemudian berhenti berlari dan menoleh kekiri dan kekanannya untuk melihat sekitarannya.
“Harusnya kalau sudah sejauh ini mereka tidak akan bisa mengejarku.” gumam Valen.
“Cih semua tempat sama saja, mereka selalu mementingkan orang yang berstatus daripada orang biasa.”
“Sekarang aku kembali lagi berpetualang tanpa arah.” gumam Valen sambil berjalan perlahan mengikuti jalan yang ada didepannya.
“Aku harap diperjalanan kali tidak terjadi hal buruk.”
Tidak lama saat Valen berjalan dikejauhan dirinya mendengar suara seseorang yang berteriak minta tolong.
“To-tolong aku!!!” teriak seseorang.
“Ah... Tidak lagi...” batin Valen saat mendengar teriakan tersebut.
Dikejauhan sebelah kanannya Valen melihat seorang bocah yang terluka sedang berlari dari kejaran 3 ekor serigala.
“Ah! Ada orang! Tolong aku!!!” teriaknya.
Valen dengan berat hati mengeluarkan Daggernya dan menebas serigala yang mengejar bocah tersebut.
“Hah.... Hah... Terimakasih kakak! Aku terselamatkan..” ucapnya terbaring ditanah dengan nafas yang terengah-engah.
“Sudah tidak perlu berterimakasih, kalau begitu sampai jumpa.” ucap Valen kepadanya dan kemudian melanjutkan jalannya.
“Ah! Jangan tinggalkan aku kak!” ucapnya langsung bangun.
“Bukankah kau seharusnya bisa menjaga dirimu sendiri, terlebih lagi kau adalah Beastmen.” ucap Valen terus berjalan.
Beastmen adalah manusia setengah hewan, mereka terbilang cukup kuat dalam bertarung jarak dekat, insting mereka juga lebih tajam daripada manusia atau makhluk lainnya. Tidak seperti Elf, para Beastmen tidak bermusuhan dengan para manusia tetapi tidak juga saling berbaikan, karena Beastmen memiliki wilayahnya sendiri jadi jarang terjadi konflik antara Beastmen dan manusia.
Bocah Beastmen itu mencoba berdiri perlahan dan mendekati Valen yang mulai menjauh darinya “Tapi aku baru berumur 8 tahun! Kekuatanku belum tumbuh diumur segitu.” ucapnya.
“Itu bukan urusanku.” jawab Valen.
“Kalau bukan urusan kakak, kenapa kakak menyelamatkanku barusan?” tanyanya.
Valen berhenti dan berbalik menghadap bocah tersebut “Kalau kau tidak membawa serigala itu kepadaku, siapa juga yang mau menolongmu!” ucap Valen.
Bocah tersebut terdiam setelah mendengar tersebut dan kemudian Valen meninggalkannya sendirian berdiri membeku disitu.
Brak!!
Bocah tersebut pingsan ditanah, mungkin karena darah yang terus keluar dari lengannya yang sebelumnya tergigit serigala.
“Hah... Merepotkan saja.” ucap Valen berbalik kearah bocah tersebut.
Melihat lukanya yang sedikit parah Valen merasa tidak tega dan memutuskan membantunya, dengan merobek sedikit pakaian milik dirinya Valen mengikatkan kain tersebut ke luka bocah tersebut agar darah tidak keluar terus menerus.
“Aku tidak memiliki Gold jadi aku tidak bisa membelikanmu Potion.” gumam Valen.
Valen kemudian menggendong bocah tersebut dan membawanya berjalan karena pada akhirnya sama sekali tidak tega melihatnya seperti itu.
Sekitar 2 jam berjalan dan dengan beberapa kali berisitirahat, bocah Beastmen tersebut terbangun dengan tubuh yang telah pulih kembali, mungkin itu juga salah satu kelebihan para Beastmen, memiliki regenerasi yang lumayan cepat.
“Di-dimana aku?” tanyanya saat mulai perlahan sadar.
“Jangan tanya, aku saja tidak tahu kita dimana.” jawab Valen.
“Ah kakak yang tadi!” ucapnya sedikit terkejut saat melihat dirinya digendong oleh Valen.
“Iya aku memang orang yang membantumu tadi, bahkan sampai sekarang aku juga membantumu.” jawab Valen.
“Katanya bukan urusan kakak tapi kenapa kakak tetap memutuskan untuk menyelamatkanku?” tanyanya.
“Kau pakai Drama pingsan segala.” jawab Valen.
“Hehe.”
“Memangnya apa yang terjadi padamu sebelumnya? Sampai dikejar oleh serigala tersebut?” tanya Valen.
“Sebenarnya serigala itu adalah peliharaan ayahku, dan mereka ditugaskan untuk membawaku kembali kedesa.” jawabnya.
“Hm? Jadi kau lari dari desamu? Bukankah kalian para Beastmen tidak pernah keluar dari wilayah kalian.”
“Memang benar tapi aku sangat tidak cocok menjadi seorang Beastmen.”
“Apa maksudmu? Tidak cocok?” tanya Valen sedikit bingung.
“Aku tidak tega membunuh hewan dan aku tidak suka makan daging buruan sendiri, aku lebih baik membeli daging yang telah masak daripada harus memakan daging yang kudapat saat berburu.” jawabnya.
“Hm? Bagaimana ceritanya bisa seperti itu?”
“Semua bermula saat...”
***
Sekitar beberapa hari yang lalu didesa tempat para Beastmen tinggal.
Pemimpin para Beastmen, Leon saat itu berniat untuk berburu rusa atau hewan lainnya yang biasanya mereka jadikan sebagai makanan mereka.
Kebetulan hari itu anaknya berulang tahun yang ke-8 jadi sebagai hadiah darinya Leon mengizinkan anaknya tersebut untuk ikut berburu dihutan, mungkin terdengar konyol tapi bagi seorang Beastmen kecil ikut berburu adalah hadiah paling istimewa karena hanya Beastmen yang telah berumur 15 tahun baru bisa ikut berburu secara resmi.
Anaknya terlihat sangat senang mendengar itu dan dihari pertamanya Leon berpesan “Nak sebenarnya ini sedikit awal tapi ayah harap kau nantilah yang membunuh hewan buruan kita.” ucapnya sambil tersenyum hangat.
“Iya,ayah! Aku akan usahakan!" jawab anaknya dengan tersenyum.
Mereka pun mulai memasuki hutan diwilayahnya mencari binatang dan kebetulan sebelumnya mereka telah memasang perangkap dihutan.
Benar saja setelah dicek-cek ternyata ada rusa gemuk yang masuk perangkat mereka, para Beastmen yang melihat itu terlihat cukup senang.
“Kalau begini kita seharusnya tahan untuk beberapa hari.” ucap Leon.
Mereka pun menarik keluar rusa tersebut menggunakan tali dan setelah mengunci seluruh anggota gerak kecuali kepala, Leon menyuruh anak satunya-satunya untuk membunuh hewan buruan mereka.
“Ayo nak lakukan tugasmu.” ucap Leon memberikan sebuah pisau tajam anaknya.
“Ayo lakukan nak!” ucap ayahnya penuh percaya diri kepada anaknya.
Anak Leon mencoba mengores sedikit kulit rusa tersebut dan tentu saja itu membuat terluka dan mengeluarkan sedikit darah, anak Leon yang melihat itu sangat ketakutan dan melemparkan pisau tajam tersebut lalu berlari pulang kerumahnya dengan wajah ketakutan.
Leon yang melihat itu sangat merasakan malu yang luar biasa, padahal dia adalah anak satu-satunya tapi malah membuatnya dipermalukan.
Karena anaknya lari Leon meminta temannya untuk membunuh rusa tersebut dan sedangkan dirinya pergi kerumah untuk mendatangi anaknya.
Dengan penuh amarah dia mendatangi anaknya yang mengurung diri dikamarnya.
“Keluar Demis!! Keluar!!!” teriak Leon.
“B-baik ayah.” jawabnya membuka pintu perlahan.
“Ayo ikut aku!!” ucap Leon menarik tangan anaknya.
Leon membawa anaknya kepeternakan kelinci yang berada tidak jauh dari rumahnya.
Setelah dirinya menangkap salah seorang kelinci, Leon memberikan pisau lagi kepada anaknya untuk membunuh kelinci tersebut.
“Lakukan!” bentak Lion
“Ayah aku tidak bisa...” jawab anaknya.
“Kau harus bisa nak!!!” teriak anaknya dengan penuh kesal.
Setelah hari itu Leon terus meminta anaknya untuk melakukan hal yang sama setiap hari tetapi sama sekali tidak ada perubahan, anaknya tetap saja tidak tega melihat hewan yang terlihat sedih saat hendak dibunuh.
Hari-hari itu sangat membuatnya tertekan sampai akhirnya anak itu memutuskan untuk pergi dari desanya dan memulai petualangan baru tentang dirinya.
Awalnya melarikan dari tempat itu adalah hal mustahil tapi karena dirinya adalah anak dari memimpin para Beastmen jadi membuatnya lebih leluasa dalam keluar,masuk dan jalan-jalan.
Semua berjalan lancar tanpa hambatan sama sekali anak Leon tersenyum dengan senangnya saat dirinya keluar dari desa.
Sementara itu Leon yang merasa kalau dirinya terlalu keras pada anaknya pun memutuskan untuk mencoba minta maaf kepada anaknya yang berada dikamar, karena mungkin anaknya terlalu cepat untuk disuruh membunuh binatang.
“Nak! Boleh ayah masuk?” ucap Leon mengetuk pintu.
“Nak?” sambung Leon saat tidak ada respon dari anaknya dan memutuskan untuk membuka pintu tersebut.
Leon terkejut melihat dikamar itu tidak ada anaknya “Mungkinkah dia bermain?”
Karena berpikiran seperti itu Leon keluar dari rumah dan pergi ketempat biasa anaknya bermain dan disana memang ada anak-anak Beastmen main tapi tidak ada anaknya.
“Hei kalian ada melihat Demis?” tanya Leon kepada salah seorang anak disitu.
“Tidak ada tuh, dia sudah lama tidak bermain bersama kami.” jawabnya.
Leon mulai panik dan bertanya-tanya kepada teman-temannya apakah melihat anaknya sebelumnya.
Tapi semuanya menjawab “Tidak tahu.” Leon akhirnya memutuskan bertanya kepada anak buahnya yang sering melihat-lihat orang yang masuk dan keluar dari hutan.
“Wex kau ada melihat Demis?” tanya Leon.
“Demis? Oh ada! Dia sebelumnya izin pergi untuk kehutan, entah mau apa.” jawab kawannya.
Leon sangat terkejut mendengar tersebut karena anak satu-satunya malah pergi dari desa tanpa berbicara padanya sepatah kata pun.
Leon bersiul cukup keras dan tidak lama kemudian datanglah 3 ekor serigala perak kedepannya.
“Cari anakku sampai dapat, kalau belum dapat jangan kembali.” ucap Leon dengan raut wajah kesal, para serigala langsung lari menuju hutan untuk mencari-cari anak Lion.
“Lho memangnya ada apa dengan anakmu?” tanya kawan Leon.
“Sepertinya dia ingin pergi dari wilayah Beastmen.” jawab Leon.
“Hah? Kau tidak bercandakan?”
“Entahlah tapi daritadi jantung berdetak cukup cepat jadi mungkin saja itu benar.” jawab Leon.
3 Serigala itu dengan cepatnya berlari-larian dihutan sambil mengendus bau tubuh Demis, tapi sepertinya Demis telah berjalan cukup jauh hingga membuat Serigala itu tidak dapat mencium baunya.
Mereka terus berlari mencari Demis sekuat tenaga untuk membawanya kedesa entah itu dalam keadaan terluka atau utuh sekalipun.
Sementara Demis sama sekali tidak menyadari kalau dikejauhan ada 3 Serigala yang mengejarnya.
Demis hanya berfokus untuk keluar dari wilayah Beastmen, dia memaksakan dirinya yang sudah sangat terengah-engah untuk terus berlari sekuat tenaga.
Karena merasa sudah cukup jauh Demis pun mulai berhenti berlari untuk berisitirahat karena sudah tidak sanggup lagi berlari dengan nafas yang seperti itu.
“Hah... Hah.... Hah..... Harusnya sekarang sudah aman...” ucapnya.
“Aku cukup nekat sekali untuk pergi dari desa tapi aku tidak ingin merasakan siksaan untuk melakukan hal yang tidak bisa kulakukan.” ucapnya.
Auuuu!!!!
Suara lolongan serigala yang menggema tiba-tiba terdengar dari tempat sebelumnya dia berlari.
“Jangan-jangan! serigala ay... Argh!!!” ucap Demis yang terpotong saat seekor serigala tiba-tiba muncul disampingnya dan menggigit pundak kirinya.
Siapa juga yang tidak menjerit saat tubuhnya yang tidak siap tiba-tiba diserang, tetapi walaupun dirinya menjerit, Demis juga mencoba mendorong serigala itu agar melepaskan gigitannya.
Tapi gigitannya begitu kuat dan tidak bisa dilepas hanya karena didorong biasa, Demis pun memutuskan untuk mencolok mata serigala tersebut dan ternyata bekerja, serigalanya melepaskan gigitannya dari pundak Demis, dengan memanfaatkan keadaan tersebut Demis mencoba berlari menjauh.
Auu!!!
Serigala tadi melolong dan kemudian langsung mengejar Demis, tidak lama kemudian ada lagi 2 ekor serigala muncul didepannya. Sepertinya lolongan sebelumnya adalah untuk memanggil kawannya.
“Tolong!!!”
“T-tolong aku!!!”
Demis berteriak meminta tolong karena dia merasa dirinya akan tertangkap kali ini tetapi dikejauhan dirinya melihat seorang pemuda yang sedang berjalan sendirian.
“Ah! Ada orang! Tolong aku!!!” teriak Demis kepadanya sambil terus berlari kearahnya.