
“Ada manusia!!!! Semuanya bersiap bertarung!!!” teriak salah satu Lizardmen yang melihat Valen dan Lia berdiri didekat desa mereka.
Seluruh Lizardmen langsung berkumpul didepan desa dengan menggunakan tombak mereka dan mengarahkannya kearah Valen.
“Pergilah manusia! Disini bukan tempatmu!” bentak salah seorang Lizardmen.
“Baiklah kalau begitu, sampai jumpa.” jawab Valen berbalik dan akan pergi dari tempat itu.
“Eh? Begitu saja?”
“Apa manusia memang seperti itu?”
“Tidak mungkin!”
“Tapi syukurlah...” bisik-bisik para Lizardmen.
Melihat Valen dan Lia telah pergi para Lizardmen pun kemudian bubar dan mengerjakan pekarjaan mereka yang sebelumnya.
“Kenapa kau pergi begitu saja?” tanya Lia.
“Kalau bisa menghindari perkelahian sebaiknya menghindar saja.” jawab Valen.
“Cukup langka melihat orang sepertimu.” ucap Lia.
“Tentu saja karena aku hanya ada satu didunia ini." jawab Valen.
Duar!!!
Tidak jauh dibelakang Valen dan Lia mendengar suara ledakan yang sangat amat keras dan sedikit mengagetkan mereka.
“Apa itu?!” tanya Lia.
“Sepertinya desa tadi diserang.” ucap Valen berlari kearah desa Lizardmen.
***
“Itu Manusia!!! Mereka ingin membunuh kita!!” teriak para Lizardmen yang berlarian kesana kemari.
“Semuanya tenang! Kita harus melawannya bersama!!” bentak salah seorang Lizardmen.
“Sepertinya tidak semua Lizardmen itu lemah.” gumam seorang pria yang memegang tongkat ditangannya.
Para Lizardmen yang masih ingin melawan telah berkumpul dan berlari kearah pria yang menyerang desa mereka.
“Serang!!!”
“Fire Pillar.”
3 pillar api tiba-tiba muncul dari dalam tanah membakar Lizardmen yang menyerang dirinya.
“Jangan gentar!!”
Salah seorang dari mereka memutuskan melemparkan satu tombak untuk mengalihkan perhatian pria tersebut.
Ting!
Tombaknya bukannya malah melukai tubuh pria itu malah membuatnya menjadi bengkok.
“Fire Lance.”
Sekitar 7 mata tombak yang terbuat dari api muncul disekitar pria itu dan menyerang kearah kaki-kaki para Lizardmen membuat mereka tidak bisa bergerak.
“Argh!!”
“Panas!!”
“Sakit!!”
“Ahahaha sungguh menyenangkan melihat monster seperti kalian tersik...sa...”
“Loh? Kenapa tubuhku berada disitu?” batin pria tersebut saat kepalanya tiba-tiba terpenggal.
“Melihat sikapnya membuatku teringat kepada Arthur.” gumam Valen saat melihat mayat orang itu.
“Kau tidak apa?” tanya Valen sambil membantu berdiri seorang Lizardmen yang memimpin para Lizardmen itu sebelumnya.
“Le-lepaskan aku!” dorongnya saat Valen membantu dirinya dan membuat terjatuh lagi ditanah.
“Sudahlah! Aku tidak memerlukan bantuan manusia! Bahkan tanpa kau bantupun aku pasti bisa membunuh penyihir itu.” bentaknya lagi mendorong Valen.
“Hei apa yang kau lakukan! Bukannya kami telah menolong desamu tapi kau malah bersikap seperti ini!” bentak Lia melihat Valen yang didorong olehnya.
“Sudahlah Lia, tidak perlu dipermasalahkan.” tegur Valen.
“Ya sudah kalau memang kau baik-baik saja, kalau begitu aku akan pergi.” ucap Valen tidak lagi membantunya dan memutuskan untuk pergi meninggalkan desa tersebut.
“Oi Gruff! Apa yang kau lakukan terhadap penyelamat kita? Harusnya kita berterima kasih padanya bukan malah membentaknya!”
“Iy...”
“Kalian para wanita diam saja! Sebaiknya kalian membantu para pria yang terluka!!’ bentak nya dengan wajah marah.
***
“Apa-apaan dia itu! Kalau tahu begini mending tadi kau tidak perlu Menyelamatkan mereka saja Valen!” ucap Lia sedikit kesal.
“Sudah kubilang tidak apa. Itu tidak perlu dibahas lagi.” jawab Valen.
“Tapi...”
“Sudah lupakan saja.”
“Hum... Baiklah.”
Setelah sepanjang jalan mereka tidak berbincang-bincang sepatah kata lagi.
“Berhenti.” ucap Valen menghalang jalan Lia dengan tangannya.
“Kenapa?” tanya Lia terlihat bingung.
Valen menunjuk ketanah yang akan diinjak oleh Lia sebelumnya “Ada lubang yang dalam disini.” ucap Valen.
“Lubang? Mana mungkin, kalau disini ada lubang pasti tanahnya juga ikut berlubang tapi ini tidak.” ucap Lia tidak mempercayai perkataan Valen dan tetap memutuskan melangkahkan kakinya ketanah yang ditunjuk oleh Valen.
“Nih lihat! Tidak ada lubang ka... Aaaaaaaaaa!” teriak Lia yang tiba-tiba terjatuh kedalam tanah karena tanahnya yang tiba-tiba jatuh saat Lia berdiri sesaat.
“Hah... Merepotkan saja.” gumam Muve melompat juga kedalam lubang itu.
[Memasuki Dungeon Of Anubis]
“Lagi-lagi Dungeon dan entah kenapa aku seperti pernah mengalami ini.” batin Valen.
Aaaa!!
Buk!!
Tubuh Lia terhempas cukup kuat membuatnya sesak nafas sesaat dan buruknya Valen malah jatuh keatas tubuh Lia yang masih terbaring.
“Akh.... To-tolong turun dari atas tu-tubuhku...” rintih Lia saat Valen menimpa tubuhnya.
“Ah maaf.” ucap Valen bergegas berdiri dari atas tubuh Lia.
“Aku merasa seperti akan mati...” gumam Lia mencoba berdiri secara perlahan.
“Ugh... Aku tidak percaya kalau sungguhan ada lubang ditempat tadi. Bagaimana kau bisa tahu itu? tanya Lia.
“Anggap sana beruntung.” jawab Valen.
“Hm....” ucap Lia menatap Valen dengan curiga.
“Sudah jangan terlalu dipikirkan! Sekarang kita selesaikan saja Dungeon ini! Aku ingin cepat-cepat pergi dari sini.” ucap Valen berjalan kearah suara keras yang terdengar ditelinganya.
“Hm Okelah.”
Didungeon itu Valen dan Lia menemui beberapa Skeleton, Cave Bat dan Bastet, mereka bukanlah lawan yang cocok untuk Valen karena terlalu lemah.
Sekitar beberapa jam berkeliling sambil bertarung dengan beberapa monster yang ditemui akhirnya Valen dan Lia menemukan sebuah gerbang besar yang biasanya tempat para Bos tinggal.
[Memasuki Ruangan Elite Monster]
[Ancient Bastet]