Super Systems

Super Systems
Ch 23:Kisah Raja Elf



Aku Eustass, raja pertama para elf yang memimpin selama lebih dari ratusan tahun tetapi sebagai raja pertama aku telah melakukan sesuatu kesalahan besar yang membuat para rakyatku gugur sia-sia.


Semua itu karena hubungan yang kubangun dengan para manusia... Aku berpikir kalau hubungan itu memang akan membawa hal baik tetapi sebaliknya malah membuat kekacauan bagi bangsaku.


Pembalasan yang kulakukan untuk rakyatku yang diperlakukan tidak adil oleh raja Deimurd menjadi awal kehancuran bangsa elf, karena mengalami kekalahan yang sangat besar.


Tidak kusangka kalau kerajaan itu memiliki kekuatan tempur yang kuat terlebih lagi raja Deimurd, dia adalah monster yang menghabiskan pasukan garis depan milikku dengan mudahnya. Awalnya kupikir dia hanya anak manja yang diperlakukan istimewa karena akan diangkat menjadi raja tetapi ternyata dugaanku lagi-lagi salah.


Perang tersebut memang memakan waktu lama tetapi pada hari pertama kami menyerang saja sudah membuat kami merasakan artinya kekalahan, tentu saja adalah hal memalukan bagi kami untuk mundur dimedan perang.


Perang terus berlanjut sampai pada akhirnya hanya tersisa aku sendiri dijatuh ditanah melihat prajurit, teman dan keluargaku tergeletak ditanah bersimbah darah.


Aku berteriak sangat keras,menangisi kematian mereka dan itu semua adalah karena kebodohanku yang memutuskan berperang kepada kerajaan tersebut tanpa pikir panjang, karena aku yang terlalu impulsif.


“Bukankah sudah kubilang! Kalian itu hanya makhluk rendahan yang harusnya mematuhi perintah kami para manusia.” ucap raja Deimurd menatapku dengan tatapan merendahkan sambil berada dikudanya.


Tentu saja aku tidak bisa berkutik dihadapan raja Deimurd dan pasukannya yang sudah mengepung karena aku bukanlah seorang petarung, selama ini aku hanya bergantung pada Familiar-Familiarku yang berhasil kutundukkan dengan skill Tamerku dan tanpa mereka aku hanyalah Elf biasa.


“Hmph melihatmu seperti ini saja membuatku muak.” ucap raja Deimurd memutuskan pergi meninggalkanku yang tidak berdaya.


Saat itu perasaanku campur aduk antara senang karena tidak mati dan marah karena tidak bisa membalaskan dendam saudara-saudarku yang gugur.


Mereka melepaskanku begitu saja tanpa melukai sedikit pun pada tubuhku,mungkin dia memiliki sedikit perasaan simpati saat melihatku yang seperti itu.


Aku menahan rasa malunya diriku dan pergi berlari dari tempat itu sambil menangis...


Tapi lagi dan lagi dugaanku salah! Tidak jauh saat aku berlari tiba-tiba sebuah pedang besar menembus perutku membuat aku berteriak kesakitan dengan kerasnya.


“Sebagai seorang raja kau sangatlah memalukan karena lari dari medan perang.” ucap raja Deimurd berbalik menoleh kearahku.


Aku mencoba untuk melepaskan pedang besar tersebut tetapi karena tidak memiliki tenaga lagi, aku hanya bisa pasrah menunggu ajalku karena luka itu.


Tetapi sepertinya takdir berkata lain. Saat aku memejamkan mataku aku mendengar seseorang berkata padaku “Sungguh menyedihkan melihat kondisi raja elf seperti ini.”


Aku berpikir itu adalah salah satu prajurit raja Deimurd yang hendak menyiksaku.


Orang itu mencabut pedang besar yang menancap diperutku dan membawa tubuhku entah kemana perginya.


Aku menikmati angin yang berhembus saat dia membawaku dan karena penasaran siapa orang tersebut aku mencoba membuka mata tetapi mataku terasa sangat berat.


Tidak lama kemudian angin yang berhembus seketika menghilang dan sepertinya dia sudah sampai ditempat dia ingin membawaku.


Aku merasakan lembutnya benda tempat dia membaringkanku “Mungkinkah ini rumahnya?” batinku saat itu.


“Mungkin ini bisa membantu.” ucapnya.


Dia menyiram lubang diperutku dengan air dan bukannya merasa perih saat air itu menyentuh lukaku malahan aku merasakan perasaan hangat menyelimuti perutku tapi anehnya itu malah membuatku mengantuk.


Setelah itu aku tidak sadarkan diri lagi karena tertidur yang mungkin efek dari air yang disiramnya pada perutku.


Saat aku terbangun aku cukup terkejut saat menyentuh perutku yang tadinya berlubang sudah sembuh dan sama sekali tidak ada bekas luka.


Aku melihat sekeliling ruangan tersebut tetapi tidak ada orang lain selain diriku diruangan itu.


“Tempat apa ini? Dimana orang yang membawaku kemari?” tanyaku.


Tapi sepertinya memang tidak ada seseorang diruangan tersebut kecuali diriku, mungkin orang yang menyelamatkanku sebelumnya sudah pergi.


Karena merasa sedikit bosan aku membaca buku-buku yang berada dirak tepat disebelah kasur.


Buku-buku terlihat cukup usang dan berdebu “Kenapa orang yang tinggal disini tidak merawat buku-buku ini?” ucapku saat mengambil salah satu buku dirak tersebut.


Yah mungkin sejam berlalu aku pun selesai membaca buku tersebut dan ingin melanjutkan membaca buku yang lain tetapi perutku malah meminta untuk diisi.


“Memangnya ada makanan ditempat ini?”


Karena tidak menemukan makanan sama sekali, aku mencoba untuk keluar dari ruangan tersebut dan benar saja yang berada dibalik pintu itu hanyalah kegelapan, aku pun langsung menutup pintu dengan cepat.


Aku sangat lapar... Semua yang kulihat seperti sebuah makanan dimataku bahkan dagingku sendiri.


Tetapi aku mencoba menahan rasa nafsu makanku dengan membaca buku dan tidur tetapi setelah beberapa minggu berlalu tubuhku pun berubah menjadi seperti mayat hidup yang berjalan karena menjadi kurus dan tulang-tulang ditubuhku mulai kelihatan.


Itu membuatku sangat stress dan karena tidak tahan lagi aku tanpa pikir panjang mengoyak daging ditanganku dan memakannya.


Tentu saja rasa sakit yang kudapat karena diriku sendiri menghilang saat daging itu masuk keperutku dan saat ingin mengigit dagingku lagi entah kenapa tangan kananku mengambil sebuah buku dan menahan mulutku dengan buku tersebut.


Aku mulai merasa kalau diriku menjadi gila bahkan sampai-sampai seperti tubuhku menjadi dua bagian setengah adalah kewarasanku dan setengah adalah kegilaanku karena terkurung diruangan itu sendirian tanpa makanan.


“La-lapar..”


Aku merasa ingin mati saja karena tidak tahan lagi hidup seperti orang mati tetapi aku mengurungkan niatku itu saat tanpa sengaja menarik sebuah buku kosong dengan sebuah pena dengan tinta basah yang tidak bisa kering didalamnya, kemungkinan itu sengaja ditinggalkan seseorang yang menyelamatkan sebelumnya.


Dengan begitu aku lalu mempunyai ide untuk menuliskan ceritaku yang bodoh ini dibuku itu dan yang menemukan ini adalah salah satu dari keturunanku aku harap kau dapat memaafkan kakek moyangmu ini yang membuat hidup para elf menderita.


Aku harap ada seseorang yang menemukan buku ini dan kalau memang ada seseorang membaca ini aku harap kau mau mengambil cincin ditanganku sebagai hadiah.


***


“I-ini sungguhan mayat kakek moyang Lucy!!” ucap Lucy sedikit terkejut setelah membaca buku yang ditemukan oleh Muve tertindih dibawah tangan mayat itu.


“Mungkin, soalnya dijarinya memang ada cincin.” jawab Muve menunjuk kearah jari mayat itu.


Muve kemudian mengambil cincin tersebut dan memberikannya kepada Lucy “Sebaiknya kau saja yang menggunakannya karena kau adalah salah satu keturunan aslinya.” ucap Muve.


“Ka-kakak yakin? Bukankah ini adalah benda berharga, jadi harusnya kakak yang memilikinya.” ucap Lucy.


“Sudah, ambil saja.” ucap Muve langsung memasangkan cincin itu kejari manis Lucy.


“I-ini kebesaran kak.” ucap Lucy.


Tetapi tidak lama kemudian Cincin tersebut malah menciut dan menyesuaikan ukuran jari Lucy.


“Tuh muat.” jawab Muve.


“Tapi tadi kebesaran loh.” ucap Lucy sedikit heran.


“Tapi yang penting sekarang muat.”


Karena berpikir mereka telah menyelesaikan Dungeon mereka pun keluar dari ruangan itu tetapi saat membuka pintu mereka terkejut melihat tempat yang berada diluar ruangan menjadi lebih besar dan luas.


“Bukannya tadi jalannya tidak sebenarnya ini ya kak?” ucap Lucy.


“Sebaiknya kita berhati-hati.” jawab Muve berjalan maju kearah jalan yang luas tersebut.


Sama seperti sebelumnya obor disetiap pinggiran gua menyala dengan sendirinya dan menerangi tempat itu.


“Ka-kakak Muve! Ja-jangan bilang kita harus menga-mengalahkan monster itu kan.” ucap Lucy dengan gugup melihat sesosok monster besar saat obor menyala.


“Sepertinya dungeonnya belum selesai dan kita harus mengalahkannya dulu untuk keluar.” jawab Muve mengeluarkan Dagger miliknya bersiap untuk bertarung.


[Memasuki Ruangan Boss - Great Ghoul]