Super Systems

Super Systems
Ch 51:Bertemu Dengan Sosok Terkuat



Ruangan yang penuh dengan mayat yang terpotong-potong serta tergeletak dan bau busuk tercampur dengan obat-obatan yang sangat menyengat diruangan tersebut sangat menganggu indra penciuman Valen dan Demian yang tajam.


Tidak hanya itu juga masih terdapat beberapa orang yang tergeletak pingsan didekat Merlin yang sedang bekerja untuk eksperimennya.


Mereka terlihat seperti manusia yang tidak mati dan tidak pula hidup, mungkin karena sebab ekperimen dari Merlin yang membuat mereka tidak bisa berbuat apa-apa kecuali pasrah menerima obat-obatan darinya.


“Apa kau adalah Merlin?” tanya Demian.


“Memangnya kenapa? Apa kalian ada perlu denganku?” jawabnya.


“Tapi... Dimana anak-anakku?! Bukankah seharusnya ada Boar dan Dog yang menjaga diluar?!” bentaknya.


Demian ingin menjawabnya tetapi terdiam terkejut sesaat melihat Valen yang menatap orang itu dengan penuh kesal hingga mengeluarkan sedikit tekanan yang membuat dirinya gemetar. Mungkin yang membuat Valen seperti itu adalah akibat ulahnya yang mempermainkan tubuh seseorang untuk dijadikan bahan percobaan.


“Biar aku yang mengurusnya.” gumam Valen sambil menatap Merlin.


“Baiklah. Aku mengurus anak buahnya saja kalau ada yang datang.” jawab Demian yang sadar kalau Valen sedang kesal.


“Hei! Kenapa kalian diam saja!” bentak Merlin.


Whosh!!


Valen menghilang dan muncul seketika setelah menebas leher Merlin hingga terpenggal jatuh menggelinding menuju orang-orang yang tergeletak diruangan itu.


“Aku tidak tahan melihat ada orang sepertimu yang mengingatkanku kepada si raja sialan itu!” ucap Valen menatap tubuh Merlin yang tergeletak mengeluarkan darah terus menerus dari lehernya.


“A-ayah...” ucap salah seorang yang terbangun saat melihat kepala Merlin mengarah kepadanya.


“A-ayah m-mati...” sambungnya.


“H-hei... A-ayah mati...” ucapnya dengan suara yang pelan.


Tidak lama kemudian orang-orang yang tadinya tergeletak langsung berdiri dan menatap Valen.


“Di-dia... Yang membunuh... Ayah...” tunjuknya kepada Valen.


“B-bunuh...”


“Bunuh orang yang membunuh ayah...”


Mereka berjalan perlahan dengan tatapan yang layu menuju Valen.


Valen sempat tidak percaya kalau orang-orang itu malah membela Merlin yang memperlakukan hidup mereka sebagai alat.


“Kenapa kalian membelanya! Dia itu adalah orang yang membuat kalian seperti ini!!” bentak Valen sambil perlahan mundur.


“B-bunuh...”


“B-balaskan dendam ayah...”


Mereka seolah-olah tidak mendengar perkataan Valen dan terus saja menggumamkan perkataan yang sama terus-menerus sambil mendekati Valen.


“Sudahlah sebaiknya kita pergi saja dari sini! Biarkan saja mereka yang seperti itu, lagipula tidak ada yang bisa kau lakukan juga.” tegur Demian.


Valen sedikit tidak tega melihat mereka tapi yang dikatakan Demian memang benar, tidak ada yang bisa dirinya lakukan karena hal yang seperti itu bukanlah keahliannya.


Valen kemudian melewati mereka dengan mudahnya dan sampai dipintu masuk keruangan itu.


“Aku pikir dengan membunuh orang itu akan membuat mereka menjadi bahagia tapi malah sebaiknya.” ucap Valen menoleh kearah orang-orang yang masih berjalan kearahnya perlahan.


“Mereka tidak minta diselamatkan.” sahut Demian menepuk bahu Valen.


“Kau benar...”


Mereka kemudian keluar dari Kastil karena urusannya sudah selesai tapi sedikit membingungkan kenapa tidak ada orang bertopeng yang menjaga itu selain dua orang yang sebelumnya.


“Kemana ya orang bertopeng lainnya?” tanya Valen saat mereka sudah jauh dari daerah kastil tersebut.


“Manaku tahu, seharusnya kau tanya itu kepada orang yang tadi.” jawab Demian.


“Bukannya dia sudah mati?” ucap Valen.


“Kalau begitu tanya ke rohnya saja.” jawab Demian.


“Kau bisa berbicara dengan roh?”


“Tidak.”


“La...”


“Elephant Fist!”


Seseorang tiba-tiba menyerang Demian dari kanannya hingga membuat Demian bersama Valen yang ikut terdorong karenanya.


“Ugh... Menyingkirlah!” ucap Valen mendorong tubuh Demian yang menindihnya.


“Siapa yang menyerangku tadi!” teriak Demian sambil mencoba berdiri perlahan.


“Aku.” ucap seseorang yang bertubuh sangat besar dan bertopeng.


“Orang bertopeng lainnya!” ucap Valen.


“Kalian cukup beruntung tidak langsung mati setelah terkena pukulanku tapi seharusnya itu membuat tulang tangan kalian patah.” ucapnya mengangkat tangannya yang besar.


“Tidak tuh. Lihat tanganku baik-baik saja.” ejek Demian menggerak-gerakan tangannya yang terkena pukulan sebelumnya.


“Padahal kau sudah curang dengan menyerang tiba-tiba tapi malah tidak berhasil melukaiku.” ucap Demian.


“Hahaha sepertinya kau sudah mulai melemah Elephant!” ucap seseorang yang muncul dibelakang orang besar itu.


Orang itu juga besar tapi tidak sebesar orang yang pertama menyerang mereka dan dia juga menggunakan topeng, sepertinya mereka adalah anggota Twelve Mask yang lainnya.


“Apa maksudmu Tortoise? Kau mau mencoba pukulanku?!” ucap Elephant sedikit kesal dengan candaan Tortoise.


“Hei apa kalian juga orang-orang Twelve Mask?” tanya Demian.


“Tentu! Aku Tortoise dan sibesar ini Elephant.” jawabnya dengan bangga.


“Dimana Twelve Mask lainnya?” tanya Valen.


“Memangnya ada urusan apa kau mencari kami?” jawab Tortoise.


“Tidak terlalu penting. Hanya untuk mengalahkan kalian saja.” jawab Valen.


“Hahahaha! Kau dengar itu Elephant! Dia mau mengalahkan kita!” ucap Tortoise yang langsung tertawa saat mendengarnya.


“Diamlah! Kau seharusnya sadar yang dikatakannya itu bukanlah candaan.” ucap Elephant.


“Kau bodoh atau memang tidak menyadari kalau ditubuh mereka tercium salah satu dari saudara kita?” sambungnya.


“Benarkah? Sepertinya ayah telah mengurangi efek penciumanku.” jawab Tortoise.


“Memangnya tercium ya? Huff*Huff*” ucap Demian mencium bajunya.


“Yah itu tidak penting, lagipula nantinya bau kalianlah yang akan mengantinya.” sambung Demian.


“Memangnya kenapa?” jawab Demian.


“Karena dia belakang kita ada tamu baru.” jawan Valen.


“Tamu?”


Mendengar Valen mengatakan langsung membuat dua orang yang daritadi diam dibelakang mereka keluar bersama.


“Kau cukup hebat bisa menyadari keberadaan kami.” ucapnya.


“Mungkin dia memiliki Indra yang tajam.


Orang yang pertama memiliki perawakan manusia pada normalnya tapi anehnya ditubuhnya penuh dengan bulu, dia juga memegang sebuah tongkat ditangan kanannya.


Untuk orang lainnya lebih aneh karena tangannya berbentuk sayap burung yang besar serta kakinya juga mirip dengan cakar burung.


“Monkey! Eagle!” ucap Tortoise terlihat senang saat kedua orang itu muncul.


“Yoo! Tortoise.” jawab Monkey.


“Tumben kalian lebih cepat menyelesaikan misinya.”sambungnya.


“Cih kalau tidak karena orang ini jalannya lambat pasti sudah selesai pagi tadi.” ucap Elephant menunjuk kearah Tortoise.


“Hah?! Aku?”


“Hahahaha sebaiknya kau cepat-cepat menurunkan berat badanmu.”


“Aku heran kenapa kalian masih bisa bercanda saat ada orang yang membunuh saudara kita disini.” ucap Eagle.


“Tidak apa lanjutkan saja reuninya, aku juga sering seperti itu saat berkumpul saudaraku.” jawan Demian.


“Tidak-tidak! Harusnya kita mulai sekarang, karena sudah sore dan aku perlu kembali sebelum malam.” ucap Valen.


“Memangnya ada yang menunggumu?”


“Tid...”


Tringg!!


“Hoo! Kau cukup cepat juga!” ucap Monkey yang tiba-tiba menyerang Valen.


“Demian kau urus dua orang gendut disana.” ucap Valen mendorong balik Monkey.


“Human-Form Batalkan!”


Demian berubah menjadi Naga dan menangkap Elephant dengan Tortoise kemudian dimasukannya kemulutnya.


Setelahnya Demian kembali lagi kewujud manusia dan pertarungan miliknya selesai begitu cepatnya bahkan tidak sampai 20 detik.


“K-kenapa ada Naga disini!!” ucap Monkey yang ketakutan melihat kejadian tadi.


“Sepertinya kita sedang sial Monkey.” sahut Eagle.


“Santai saja! Aku tidak ikut bertarung dengan kalian karena pertarungannya mili...”


“Selesai.” ucap Valen setelah selesai menusuk jantung mereka dengan cepatnya.


“Mereka bahkan tidak sempat bergerak...”


“Kau juga seperti itu tadi, bahkan sampai harus menggunakan wujud nagamu.” jawab Valen.


“Yah karena lebih praktis seperti itu, lumayan juga untuk mengisi perut.”


“Dengan begini kita sudah membunuh 8 dari 12 anggota mereka.”


“Tapi aku rasa kita bahkan tidak menikmati sama sekali pertarungan yang terjadi hari ini.” ucap Demian.


“Karena musuhnya lemah.” jawab Valen.


“Ya begitulah.”


Kemudian mereka memutuskan untuk kembali ke kota Asteria untuk berisitirahat disana untuk malam ini.


Sesampainya disana mereka terkejut melihat kosa yang ramai dan besar sebelumnya sudah rata dengan tanah padahal hanya ditinggal beberapa jam saja.


“A-apa yang baru saja terjadi?” tanya Valen.


“Sepertinya ada pertempuran hebat disini.” jawab Demian.


“Tidak, ini bukanlah pertempuran tapi penghancuran.” sahut Valen.


“Apa maksudmu?”


“Kota ini rata hanya karena satu serangan.”


“Satu serangan? Darimana kau tahu Valen?”


“Aku tidak melihat sedikitpun tulang belulang manusia disekitar sini, kalau terjadi pertempuran setidaknya pasti ada tubuh yang masih utuh atau setidaknya tulang mereka tapi ini tidak ada.” jawab Valen.


“Aku rasa ini mirip seperti serangan yang kau ceritakan tentang kerajaan Calvary.”


“Orang yang bertopeng hitam itu?” tanya Demian.


“Mungkin saja.” jawab Valen.


“Kalau itu memang benar, apa yang membuatnya menyerang kota ini? Bukannya kota ini cukup jauh dan terpencil jadi seharusnya tidak ada hal mencurigakan yang sampai membuatnya perlu dihancurkan.” tanya Demian.


“Hoo... Masih ada manusia yang hidup disini, padahal seingatku serangan tadi sudah membunuh semua orang yang ada.” ucap orang yang terbang dibelakang mereka.


“I-iblis?!” ucap Demian sedikit terkejut saat berbalik melihatnya.


“Jadi ini semua adalah ulahmu?” tanya Valen menatapnya.


“Iya, lalu?”


“Apa salah mereka sampai kau harus menghancurkan kotanya.”


“Salahnya karena mereka menjadi manusia, kalau saja mereka juga iblis sepertiku pasti aku tidak akan menghancurkan mereka.” jawabnya.


“Aku rasa tidak seperti itu... Aku rasa kau tetap akan membunuh mereka walaupun mereka adalah iblis.” sahut Valen.


“Hm? Kenapa kau berpikir seperti itu?” tanyanya.


“Karena kau terlihat seperti iblis yang suka menindas orang lemah dan kalau iblis yang tinggal disini adalah iblis yang lemah, kau tetap akan membunuhnya.” jawab Valen.


“Ya kau tidak salah, karena menjadi iblis memang harus menjadi kuat kalau kau lemah berarti kau bukanlah iblis.” ucapnya


“Hoi Valen aku merasa dia itu bukanlah lawan yang sanggup kita lawan!” bisik Demian.


“Kau benar karena dia/aku adalah RAJA IBLIS.” jawab Valen dan orang itu secara bersamaan.