Super Systems

Super Systems
Ch 22:Dungeon Tersembunyi



Melihat Lucy yang sudah mulai mengantuk Muve menyuruhnya untuk mendekat dan tidur dipangkuannya.


“Ka-kakak tidak perlu melakukan itu! Lucy bisa berbaring diatas tuan Slime saja.” ucap Lucy menolak tawaran Muve.


“Kau yakin?” tanya Muve.


“Iya kak.” jawabnya dengan tersenyum manis.


Lucy kemudian berbaring sambil menggunakan Slime sebagai bantalnya dan mulai tertidur.


Melihat wajah polos gadis itu tertidur membuat hati Muve merasa simpati karena dengan tubuh sekecil itu harus berpetualang.


“Summon:Fighting Puppet.”


Muve memanggil puppetnya untuk menjaga mereka yang ingin tidur kalau-kalau ada Monster yang mencoba masuk kegua.


“Kalau Statnya memang setengah dari milikku berarti itu sudah cukup untuk mengatasi Goblin atau monster biasa lainnya.” gumam Muve.


Muve kemudian bersandar di dinding gua dan mulai tertidur.


Malam pun berlalu dengan damainya untuk mereka berdua tanpa ada gangguan dari monster atau binatang buas.


Keesokan Paginya.


Terik pagi matahari yang menyilaukan masuk kedalam gua membuat Muve yang tertidur pun terbangun karena silaunya.


“*Hoaam* Hari yang melelahkan dimulai lagi.” gumam Muve.


“Hm? Yah karena Lucy belum bangun, sebaiknya aku mencari air untuk membasuh muka. Kau jaga tempat ini.” ucap Muve saat melihat Lucy masih tertidur pulas dan memutuskan untuk keluar dari gua.


“Sudah lama aku tidak mengerjakan Misi harian, System.” ucap Muve saat berjalan-jalan mencari sungai.


[Jadi anda ingin mengerjakan Misi?]


“Kalau ada.” jawab Muve.


[Sayangnya anda sekarang tidak bisa mendapatkan Misi harian lagi karena Stat anda sudah cukup besar dan System memutuskan untuk berhenti memberi Misi harian.]


“Jadi aku sekarang hanya berfokus menaikan level untuk menjadi kuat?” tanya Muve.


[Benar. Semua Misi yang di dapat juga tidak akan memberikan Poin Stat tambahan lagi.]


“Hah... Pada akhirnya semua tergantung aku juga.” ucap Muve menghela nafasnya.


Muve terus berjalan dan setelah cukup lama Muve sama sekali tidak menemukan sebuah sungai dan memutuskan untuk kembali saja.


“Kakak Muve!” teriak Lucy saat melihat Muve kembali dan langsung memeluknya.


“Ada apa Lucy?” tanya Muve.


“Lu-lucy kira kakak meninggalkan Lucy terlebih lagi ada monster kayu ini yang membuat Lucy semakin takut.” jawabnya menunjuk kearah Fighting Puppet.


“Sudah jangan berpikiran yang aneh, mana mungkin aku meninggalkanmu dan ini bukan monster tetapi boneka, salah satu skillku.” ucap Muve tersenyum sambil mengelus kepala Lucy.


“Sk-skill kak Muve? Memangnya kakak Muve punya berapa skill?” tanya Lucy.


“Hm? Kalau tidak salah ada delapan.” jawab Muve.


“De-delapan?! Banyak sekali! Setahu Lucy skill seseorang hanya sebatas 4-6 saja itupun sangat jarang ada yang mencapai 6.” ucap Lucy sedikit terkejut saat mendengar jawaban Muve.


“Yah anggap saja aku istimewa.”


“Tentu saja kakak istimewa! Karena hanya kakak satu-satunya manusia yang mau membantu Lucy.” jawab Lucy tersenyum lagi.


“Sudah-sudah sebaiknya kita pergi dari tempat ini sekarang.” ajak Muve.


“Iya kak.” jawab Lucy.


Muve kemudian memberikan Lucy satu roti dan satu untuk dirinya dan mereka pun makan bersama.


Setelah selesai makan Muve dan Lucy pun memutuskannya untuk pergi tetapi saat mau berangkat, Lucy malah kehilangan Slimenya padahal sebelumnya Slime itu berada disampingnya.


“Tuan Slime! Tuan Slime! Dimana kamu?” teriak Muve digua ini.


“Dia pergi mungkin.” ucap Muve.


“Tidak mungkin! Karena monster yang telah dijadikan teman oleh Tamer tidak akan pernah pergi kecuali memang monsternya menolak dari awal.” jawab Lucy terlihat mulai panik.


“Kyu!”


Terdengar suara yang kecil dari belakang mereka membuat mereka berbalik dan ternyata suara itu berasal dari Slime yang dicari oleh Lucy tadi.


“Tuan Slime!” ucap Lucy menangkapnya dan memeluknya dengan wajah gembira.


“Kau kemana saja tuan Slime.”


“Tunggu! Tadi dia baru saja mengeluarkan bunyi 'kyu' bukan? Apa Slime sebelumnya memang bisa mengeluarkan suara?” tanya Muve sedikit heran dengan Slime milik Lucy.


“Entah, memangnya sejak kapan tuan Slime bisa berbicara?” tanya Lucy kepada Slimenya.


“Kyu!” jawabnya.


“Sejak tadi? Bukannya tadi tuan Slime belum bisa mengeluarkan suara seperti itu?” tanya Lucy kembali seperti memahami perkataan Slime tersebut.


“Kyu!”


“Jadi karena tuan Slime bergabung kemaren dan setelah melewati malam hari kalian tidak akan berpisah lagi dan mengalami perubahan sedikit demi sedikit.”


“Bagaimana caranya kau memahami perkataannya Lucy?” tanya Muve yang memperhatikan Lucy dengan sedikit bingung karena tidak paham apa yang mereka bicarakan.


“Eh iya ya? Hm mungkin ini karena tuan Slime jadi teman Lucy.” jawab Lucy juga baru menyadari itu.


“Kyu!” Slime itu berbunyi lagi sambil bergoyang-goyang.


“Apa? Mengikuti tuan Slime? Kemana?” tanya Lucy.


“Kakak! Tuan Slime meminta kita mengikutinya.”


“Memangnya ada apa didalam celah kecil itu?” tanya Muve.


“Entah.” jawab Lucy.


“Ya sudah, sebaiknya minggir dulu.” ucap Muve.


Muve memanggil Fighting Puppet yang masih duduk dipintu gua untuk menghancurkan dinding gua yang dimaksud oleh Slime tadi.


Duar!!


Dinding batu tersebut langsung hancur membuat sebuah lubang yang sedikit besar dan benar saja memang ada sebuah jalan di balik gua tersebut.


Sesaat Muve melangkahkan kakinya melewati lubang itu seketika batu yang berserakan bekas dinding gua tadi bergerak dan menutup lubang tempat Muve bersama Lucy sebelumnya.


[Menemukan Dungeon Tersembunyi]


Diwaktu yang sama pula disetiap obor disepanjang jalan itu seketika menyala dengan sendiri menerangi jalan.


“Ka-kakak! Se-sepertinya kita terjebak ditempat ini!” ucap Lucy terlihat panik dan sedikit ketakutan.


“Iya dan seperti ini adalah Dungeon tersembunyi. Kita tidak bisa keluar dari tempat ini sebelum membunuh Boss Dungeon.” jawab Muve.


“D-dungeon! Lalu sekarang kita harus apa kakak!”


“Kita tidak ada pilihan selain menyelesaikan Dungeon ini.” jawab Muve.


“Tuan Slime! Kenapa kamu membawa Lucy ketempat ini!” bentak Lucy menyalahkan kejadian itu kepada Slimenya.


“Sudah jangan kau salahkan Slimemu, lagipula kita memang sudah memutuskan untuk mengikutinya.” tegur Muve.


“Sebaiknya kita bergegas, semakin cepat selesai semakin baik.” ucap Muve.


Muve pun berjalan didepan bersama Fighting Puppet dan Lucy mengikuti dibelakang untuk menyusuri Dungeon tersebut.


“*Huff*Huff* Hump! Bau apa ini! Seperti daging busuk.” ucap Lucy saat mencium sesuatu yang sangat menyengat hidungnya.


“Sepertinya bau itu berasal dari mereka.” jawab Muve menunjuk kearah depan.


“G-Ghoul!” ucap Lucy.


Ghoul adalah monster Type Undead yang sering berada ditempat-tempat gelap dan mereka juga termasuk monster yang susah dibunuh kecuali dilukai dibagian kepala mereka.


“Ya terlebih lagi mereka ada 3.” ucap Muve.


Muve mengambil Daggernya dan maju bersama Fighting Puppet untuk menghabisi Ghoul tersebut.


Graa!!


Dengan menjadikan Fighting Puppet sebagai tameng yang digigit oleh Ghoul membuat Muve menjadi lebih mudah untuk mengincar leher Ghoul.


“Matilah.” ucap Muve menebas leher Ghoul yang mengigit Fighting Puppet.


[Mendapatkan 800 Exp Dari Ghoul]


Gra!!


Ghoul itu terlihat marah melihat kawannya mati karena Muve, membuat mereka berhenti menyerang Fighting Puppet dan malah mengincar Muve.


“Kakak! Awas!” teriak Lucy saat salah satu Ghoul melompat kearah Muve untuk berusaha mengigitnya.


Bum!


Pukul Fighting Puppet kearah kepala Ghoul tersebut membuat kepalanya hancur karena terhantam dinding.


[Mendapatkan 800 Exp Dari Ghoul]


“Eii!!” ucap Lucy melihat kepala Ghoul yang hancur bertebarakan kemana-mana.


Sekarang tinggal satu Ghoul tersisa dan tentu saja Ghoul itu mati bahkan sebelum Muve menyerang karena terlebih dahulu dibunuh oleh Fighting Puppet.


[Mendapatkan 800 Exp Dari Ghoul]


“Woah! Monster kayu ini kuat juga kak! Tapi lagi-lagi Lucy tidak bisa berbuat apa-apa.” ucap Lucy mendekati Muve saat pertarungan telah selesai.


“Sudah tidak apa. Aku membawamu ikut denganku bukan untuk bertarung jadi wajar saja aku yang melakukan pertarungannya.” jawab Muve mengelus kepala Lucy.


“Tapi...”


“Sudah jangan dipikirkan.” tegur Muve.


Setelah itu mereka pun melanjutkan menjelajah dan menemui beberapa Ghoul lagi tetapi sama seperti sebelumnya pertarungan itu selesai dengan cepat.


Mereka terus berjalan sampai pada akhirnya berhenti karena jalannya telah buntu tetapi dijalan yang buntu tersebut terdapat sebuah pintu kayu yang terlihat cukup tua dan berdebu.


Muve tanpa pikir panjang mendekati pintu tersebut karena terdapat sebuah tulisan dipintu.


“Makam Raja Elf.” baca Muve pada tulisan dipintu.


“A-apa? Mana-mana Lucy ingin melihatnya!” ucap Lucy sangat terkejut.


“Lucy tidak sampai untuk melihatnya! Kakak Muve! Gendong...” ucap Lucy melompat-lompat berusaha untuk melihat tulisan tersebut.


“Nih!” ucap Muve mengangkat Lucy.


“Tulisannya sungguhan Makan Raja Elf!”


“Sebaiknya kita lihat apa yang ada dibalik pintu ini.” ucap Muve menurunkan Lucy untuk membuka pintu tersebut.


Pintu itu terbuka dengan mudahnya sesaat Muve mendorongnya dan di balik pintu itu terdapat sebuah ruangan seperti kamar tidur seseorang.


“Lucy, lihat! Sepertinya ini adalah tengkorak dari kakek moyangmu.” ucap Muve saat melihat sebuah mayat yang tersisa tulangnya saja sedang duduk dikursi.