
Setelah cukup lama berjalan Muve dan Lucy sama sekali tidak menemukan jalan keluar dari kabut yang sebelumnya menghilang telah kembali, Muve menggunakan cara yang sama untuk menghilangkan kabut tapi walaupun begitu tetap saja sia-sia karena mereka sudah tersesat dan tidak tahu arah mana yang menuju keluar hutan.
Mereka seperti berputar-putar ditempat yang sama dan terus berakhir ditempat pertarungan sebelumnya dan karena hanya ditempat itu yang tidak berkabut, Muve memutuskan untuk beristirahat sementara.
“Sekarang bagaimana kak?” tanya Lucy.
“Entahlah, aku sudah lupa jalan kembalinya yang mana.” jawab Muve.
Mereka termenung sesaat dan tidak lama kemudian gadis iblis yang digendong Muve sebelumnya terlihat bergerak.
“Uhm... Di-dimana ini?” tanyanya saat terbangun.
“Mustahil kau lupa dengan tempat ini." jawab Muve.
Gadis itu terkejut melihat Muve berada disampingnya dan langsung berdiri untuk menjauh.
“Hei! Jelaskan bagaimana aku masih hidup!? Seingatku aku harusnya sudah mati karena Yang mulia tadi melubangi perutku.” tanyanya.
“Ya kau memang hampir mati bahkan aku pun tidak ingin menyelamatkanmu tapi Lucy memaksaku untuk menyelamatkanmu.” jawab Muve.
“Tu-tunggu dulu! Dimana Yang mulia!" ucapnya.
“Maksudmu Vampire lemah yang sebelumnya? Dia sudah mati.” jawab Muve.
“Mu-mustahil... Yang mulia tidak mungkin bisa kalah semudah itu!” bentaknya.
“Terserah kau percaya atau tidak, tapi aku masih sedikit heran kenapa kau masih mau peduli dengan orang yang sudah membuatmu hampir mati.” jawab Muve.
“Itu bukan urusanmu! Dari awal hidup dan matiku memang milik Yang mulia! Memang awalnya aku terkejut tetapi aku mencoba percaya kalau yang dilakukan Yang mulia adalah untuk berkembangnya para iblis.” ucap gadis itu terlihat kesal.
“Lagipula siapa kau ini! Berani-berani memasuki wilayah kami dan mengacau begitu saja!” sambungnya.
“Aku? Aku hanya seseorang yang ingin menjadi kuat.” jawab Muve.
“Kuat? Dengan kekuatan yang seperti itu kau masih ingin menjadi kuat?” ucap gadis itu terlihat heran.
“Yap! Semakin kuat diriku semakin bagus.”
“Sudah jangan dengarkan perkataan kakak Muve. Dia dari awal hanya berniat untuk mencari pertarungan.” tegur Lucy.
“Lalu sekarang apa yang kau inginkan dariku? Sampai membuang-buang waktu demi menungguku sadar.” tanya gadis itu.
“Yah aku hanya ingin kau memanduku untuk keluar dari tempat ini dan kami ini tidak sedang menunggumu bangun tetapi sedang beristirahat.” jawab Muve.
“Kalian bisa masuk tapi tidak bisa keluar.” ucap gadis itu.
“Kalau kabut ini tidak menghalangi, sudah daritadi aku keluar dari hutan ini.” jawab Muve.
“Lalu setelah itu apa?” tanyanya.
“Tidak ada, kau bebas mau apa.” jawab Muve.
“Aku akan anggap ini hutang budi.” ucapnya.
Gadis itu kemudian sungguhan mengantar Muve dan Lucy untuk keluar dari hutan dan dengan bantuannya tidak memerlukan waktu lama untuk sampai diujung hutan.
“Ya sudah kalau begitu ayo Lucy.” ajak Muve pergi dari hutan itu mengajak Lucy.
“Iya kakak duluan saja.” jawab Lucy.
“Kau mau apa?” tanya Muve.
“Ada yang ingin Lucy bicarakan dengan kakak ini.” jawab Lucy sambil tersenyum.
“Hm okelah.”
Muve pun berjalan perlahan meninggal Lucy dengan gadis iblis itu.
“Mau apa kau gadis kecil?” tanyanya.
“Aku harap kakak untuk ikut dengan kami.” jawab Lucy tanpa basi basi.
“Hah?! Ikut dengan kalian? Untuk apa juga aku ikut dengan kalian, sama sekali tidak memberikan keuntungan.” ucap gadis itu dengan sombongnya.
Seketika sebuah dahan pohon muncul dibawah kakinya melilit gadis iblis itu dengan kuat.
“Hei! Apa-apaan in-.”
Wajah Lucy terlihat mulai serius dan sedikit menakutkan dengan tatapan tajam kegadis itu Lucy berkata “Kau tahu tidak betapa kesalnya saat aku melihatmu yang mencoba merebut Muve dariku dengan Skill menjijikan itu tetapi aku menahan emosiku karena Muve tidak terpengaruh sama sekali lalu dengan itu aku memutuskan untuk mengajakmu ikut dengan kami adalah supaya tidak ada lagi manusia yang bisa mau serap bunuh dengan Skill itu.”
Lilitan dahan pohon itu mulai mengencang membuat gadis itu terlihat kesakitan tetapi karena tidak bisa mengeluarkan suaranya dia hanya bisa membuka mulut saja seperti ingin berteriak.
“Kalau kau setuju tinggal mengangguk dan kalau menolak tinggal menggelengkan kepala.” ucap Lucy.
Dengan pasrah gadis iblis itu mengangguk dan melihat itu raut wajah Lucy seketika berubah menjadi manis kembali sambil tersenyum Lucy berkata “Nah gitu dong.”
Dahan pohon yang melilit gadis itu mulai melonggar dan masuk kedalam tanah perlahan dan disaat yang sama Lucy menjentikan kedua jarinya membuat suara gadis iblis kembali lagi.
“Ayo, tapi sebelum itu kau harus sembunyikan sayap dan ekor iblismu itu” ucap Lucy sambil tersenyum dan kemudian berjalan menyusul Muve.
“I-iya.” jawabnya.
Gadis itu memejamkan matanya dan kemudian ekor dan sayapnya mulai masuk kedalam tubuhnya secara perlahan, setelah semua sudah masuk, dia pun mengejar Lucy yang mengejar Muve saat hampir mendekati desa Lotus.
“Kakak tunggu!” teriak Lucy.
“Sudah bicaranya?” tanya Muve sambil melambatkan langkahnya.
“Iya dan sepertinya kakak itu bilang dia ingin ikut dengan kita! Sebenarnya Lucy mencoba menolak tetapi dia tetap saja bersikeras untuk ikut jadi Lucy ingin meminta pendapat kakak.” jawab Lucy menunjuk kearah gadis iblis yang mengikuti mereka dibelakang.
“Itu terserah dia, lagipula kalau kau setuju akupun tidak masalah.” jawab Muve.
“Kalau begitu kakak sekarang diterima ditim kami.” ucap Lucy mengajak gadis itu berjabat tangan sambil tersenyum.
“I-iya terima kasih.” jawabnya membalas jabatan tangan Lucy dengan gugupnya.
“Si-sial dia sangat hebat berakting didepan laki-laki ini.” batin gadis itu melihat tingkah laku Lucy.
Walaupun begitu Muve terlihat tidak terlalu peduli dengan bertambahnya satu orang ditimnya, asalkan itu tidak menganggu dan menghambatnya maka mau sebanyak apapun orang yang masuk ketimnya bukanlah masalah.
“Kenapa desa ini bisa rusak seperti ini?” tanya gadis itu saat melewati desa Lotus.
“Bukannya kalianlah yang membuatnya menjadi seperti ini.” jawab Muve.
“Tentu saja bukan! Kami tidak pernah pergi keluar dari hutan iblis, karena tugas kami hanya untuk menjaga hutan iblis bebas dari penyusup.” jawab gadis itu.
“Kalau bukan kalian para iblis yang tinggal dihutan itu, lalu siapa?” tanya Muve.
“Mana aku tahu.” bentaknya.
“Hm... Apa ini ada hubungannya dengan Dark Elf yang disebutkan gadis yang sebelumnya.
“Dark Elf? Sepertinya tidak mungkin karena tempat tinggal mereka sangatlah jauh dari sini, lagipula mereka tidak pernah meninggalkan tempat tinggalnya kecuali saat musim berburu.” jawab gadis itu.
“Lalu sekarang musim apa bagi para Dark Elf?” tanya Muve.
“Tentu saja musim berbu...ru. Sial.” jawabnya.
“Ta-tapi itu tetap saja mustahil karena tempat ini sangatlah jauh, bukannya masih ada desa-desa dan kota-kota lain.” ucap gadis iblis.
“Mungkin mereka kekurangan tempat tinggal kak! Jadi mereka ingin mengincar desa manusia yang tidak memiliki penjagaan ketat.” jawab Lucy.
“Itu bisa jadi karena populasi Dark elf terbilang banyak daripada Elf biasa.” sambung gadis iblis.
“Hm... Ngomong-ngomong kau tahu tidak tempat tinggal para Dark elf?” tanya Muve kepada gadis itu.
“Tentu saja, sudah seharusnya bagi para iblis untuk mengetahui tempat-tempat saudara sebangsa.” jawabnya.
“Kalau begitu bawa aku kesana! Siapa tahu ada seseorang yang bisa bertarung hebat denganku.” ucap Muve terlihat semangat.
“Hah? Kau yakin?” tanya gadis iblis.
“Tentu saja! Apa aku terlihat bercanda?” jawab Muve.
Gadis itu mengalihkan pandangannya sesaat kearah Lucy dan Lucy hanya mengangguk “Baiklah kalau kalian memaksa.” jawabnya.
“Nah bagus setidak ka-”
“Lia, jangan panggil aku dengan kata 'Kau'! Aku memiliki nama dan namaku Lia.”, potong Lia.
Lia pun memimpin didepan mereka untuk memandu pergi menyerang para Dark Elf.