
"Ada apa?" Tanya Ramdan, saat Fex menghentikan langkahnya.
"Ada apa ini? Mengapa aku merasakan sesuatu yang aneh di dalam tubuhku?!" Batin Fex terkejut.
Tanpa meninggalkan sepatah kata pun, Fex berbalik arah lalu berlari kencang menuju suatu tempat.
"Ada apa dengannya?" Batin Ramdan keheranan, ia pun segera berlari untuk mengikutinya.
"Dia dalam bahaya!" Batin Fex, dengan nafas terengah-engah akibat berlari tiada hentinya ke suatu tempat yang entah di mana itu, namun kakinya terus berlari kencang tanpa henti.
Brekk! Akhirnya, Kakinya berhenti tepat di depan sebuah bangunan tua besar nan tingkat yang berada di belakang sekolah SMPN 2 Rayakarta dan di batasi oleh tembok tinggi nan kokoh.
"Tempat apa ini?" Batin Fex, seraya berjalan perlahan melewati rerumputan yang basah nan becek akibat hujan melanda sekolahnya pagi tadi.
Krekk! Terdengar suara langkah kaki yang menginjak sebuah benda berbahan plastik di tanah dari arah belakangnya.
Ia pun menoleh dengan cepat ke arah belakang, "Dia!" Batin Fex, saat melihat Ramdan yang sedang menjadi patung setelah menginjak plastik tersebut.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" Bisik Ramdan, karena di lihat dari cara berjalan Fex yang pelan. membuat dirinya menyadari, bahwa ada sesuatu dan mereka tidak boleh ketahuan.
Fex hanya memasang wajah tanpa ekspresi di balik masker hitam yang ia kenakan, lalu pandangannya kembali teralihkan ke depan sembari berjalan selangkah demi selangkah.
"Dia memang sangat sulit untuk di dekati!" Batin Ramdan, yang merasa kesal karena pertanyaannya tak di jawab sedikit pun oleh Fex.
"Kau, telah mengganggu diriku! Kau, harus mati di tanganku!" Suara serak nan melengking yang terdengar cukup keras memenuhi sudut rumah tua yang cukup besar dan tingkat itu, Fex yang mendengar itu pun mengangkat satu alisnya.
"Padahal ini masih siang. tetapi, mengapa rumah ini terlihat gelap dengan hawa yang terasa mencekam?" Batin Fex, Kini kakinya kembali berlari kencang menaiki tangga menuju lantai dua.
"Fex! Dimana dia?" Batin Ramdan, dengan bulu kuduknya yang telah berdiri saat merasakan hawa yang sangat dingin di dalam rumah tua itu.
"Dingin sekali! Bukankah ini masih siang?" Batinnya kembali seraya berjalan menuju pintu keluar. baru beberapa langkah melewati pintu itu, secara tiba-tiba pintu serta semua jendela-jendela rumah besar itu tertutup rapat hingga meninggalkan suara yang sangat keras.
BRAAKK! "Astaghfirullah! suara apa itu?!" Kejut Ramdan, seraya menoleh ke belakang dan ternyata! Rumah tua itu telah menghilang entah kemana.
"Kemana rumah itu?!" Lirihnya tak percaya, dan menoleh sekelilingnya. Tak ada Fex di sana, berarti benar! jika ia dan Fex sebelumnya benar-benar memasuki rumah tua tersebut.
"Woy! Fex! Kau, dimana?!" Teriak Ramdan, dengan mencari-cari keberadaan Fex, padahal ini masih di lingkungan sekolah. Bukankah tidak mungkin, jika Fex tersesat?
Tikk...
TRAKK!!
Setitik demi setitik butiran air hujan menyirami bumi, berawal air yang lembut mengenai tubuh sekian lama semakin terasa keras dan menyakitkan.
Mengapa cuaca tiba-tiba berubah? Seperti sang raja es yang tengah marah menghadapi sesuatu, sehingga tanpa sengaja membuatnya menurunkan air yang terbentuk sebongkah es kecil, ialah yang di sebut hujan es. (Hanya khayalan, bukan kenyataan!)
"Sebenarnya apa yang membuat dirinya berlari ke sini?!" Batinnya khawatir, ia segera berlari menuju sekolahnya lalu memberitahukannya kepada guru BK.