
'Dimana dia ...?' batin Gabriel khawatir, dengan pandangannya teralihkan kepada seorang pria bertubuh tinggi dan berjas hitam yang berjalan keluar dari pintu yang terlihat gelap sembari mengisap rokok.
Para manusia berbadan besar yang berjumlah 6 orang itu, langsung dengan sigap berjejer rapi dengan menundukkan kepala mereka bersama.
"Bod*h! mengapa kalian juga membawa mereka?!" tegas Fex, dengan nafasnya yang mengeluarkan asap tebal yang berhembus mengenai wajah para anak buahnya tersebut.
"Mereka sudah mengenali wajah kami, bos!" jawab si tampang bod*h itu, posisi tubuhnya istirahat di tempat, sebagaimana seorang prajurit melapor ke bosnya.
"Ck! dasar tidak berguna!" bentak Fex, seraya menghempaskan tangannya untuk menyuruh mereka segera pergi dari hadapannya.
Dengan cepat, mereka pun langsung berjalan menuju pintu keluar dengan sedikit membungkukkan tubuhnya di depan Fex.
Setelah mereka semua pergi, tatapan tajam nan mencekam yang di tujukan Fex kepada para rombongan pendaki itu, berhasil membuat bulu kuduk mereka berdiri dengan tegang.
GLEK!
"Siapa pria itu?!" gumam Gabriel pelan.
Fex berjalan selangkah demi selangkah mendekati penjara yang berada tepat di depannya itu, Namun ekor matanya menangkap sesosok bersinar yang berada di kegelapan sebelah kanannya.
Dengan gerakan cepat, kedua matanya melirik ke kanan dan melihat wajah cantik seorang wanita yang bersinar di sana walau sekelilingnya gelap gulita.
'Wanita itu?!' batin Fex, langkah kakinya berbelok arah ke kanan dengan perlahan namun pasti.
Tubuh Alfarani yang lemas karena belum tersadar itu, tengah terduduk di atas kursi dan belakangnya adalah sebuah kandang singa yang sedang tidur.
Kedua mata Gabriel melirik sesuatu yang membuat Fex teralihkan ke arah kanan itu.
'Dia ..., Alfarani!' batinnya terbelalak kaget, saat melihat pria asing itu mulai mengulurkan tangannya saat sudah berada di depan Alfarani.
"Woy! jangan berani kau mendekatinya!!" teriak Gabriel, yang membuat tangan Fex yang tadinya ingin menyentuh wajah bersinarnya Alfarani itu, menjadi terdiam sembari menoleh ke arahnya.
Gabriel meronta-ronta lagi, setelah ia berteriak yang cukup kencang tadi. Hal itu membuat segerombolan hewan kecil itu kembali mendekati dirinya.
"MENJAUHLAH! hewan menjijikkan!" gertak Gabriel, dengan tubuhnya yang berguling-guling tak karuan.
Fex tersenyum miring melihatnya, sembari membuang puntung rokoknya di lantai dengan sembarangan.
Tanpa basa-basi, Fex langsung mengangkat tubuh Alfarani dan membawanya menuju pintu keluar.
Vino hanya terdiam, melihat Alfarani yang di gendong oleh Fex menuju suatu tempat. 'Bila diriku gegabah, sudah di pastikan diriku akan sama sepertinya!' batinnya dengan melihat Gabriel.
Secara perlahan, Fex menurunkan tubuh Alfarani di atas sebuah ranjang yang empuk nan besar dengan sprei berwarna merah tua.
Ia menatap lekat-lekat, wajah cantik Alfarani yang bersinar di kegelapan tanpa lampu itu, bagaikan sang bintang yang juga bersinar di kegelapan malam.
'Wanita cantik ini, bernama Alfarani?' batinnya yang teringat sesuatu, "Ternyata benar! dia wanita yang sebelumnya kupasangkan gelang!"
Pandangannya kini, teralihkan ke arah sesuatu yang bersinar pula di pergelangan tangan kanan Alfarani.
'Gelang itu ...,'
"Sejak kapan memancarkan cahaya berwarna ungu?!" gumamnya sedikit terkejut, seraya menyentuh gelang tersebut untuk melepaskan.
'Ada apa dengan gelang ini?!' batinnya keheranan, saat gelang tersebut tak dapat terlepas dari pergelangan tangan Alfarani.
Alhasil, kedua punggung tangan mereka berdua bersentuhan tanpa sengaja, membuat Fex terpaku.
GLEK!
'Mulus sekali ...,'
Ada sesuatu di bawahnya yang terasa mengganjal, ia pun segera menjauhkan tangannya dari tangan Alfarani dan berlalu pergi meninggalkannya.
'Aku harus berhati-hati dengan wanita itu!' batinnya dengan menghentikan jalannya, saat jantungnya yang tiba-tiba berdegup kencang tanpa sebab.
'Jantungku ..., apakah penyakitku kambuh?!' batinnya, saat merasakan detak jantungnya berpacu dengan cepat namun nafasnya tak sesak.
"Aku harus segera mendapatkan gelangku kembali!" gumamnya seraya menoleh sekilas ke belakang lalu kembali berjalan dan menutup pintu.
"Bawa mereka semua kepada tuan Qidhox dengan segera!" tegas Fex dengan penuh tekanan.
"Baik, bos!" jawab para anak buahnya, yang langsung melaksanakan tugas mereka masing-masing.
Terlihat, bahwa Fex tersenyum menyeringai menatap depan dengan intens. "Kita lihat, siapa yang akan menang!"