
"Aku sangat mencintaimu ... Istriku ..." Suara lembut seseorang yang dapat menenangkan hatiku terasa begitu sangat dekat dengan telingaku.
Saat aku membuka mataku,
ku tak percaya bahwa itu nyata
Aku masih berfikir, bahwa aku masih bermimpi
Tetapi aku sadar bahwa keindahan itu
benar-benar ada di depanku
Sungguh indah kepulauan ini.
Ribuan pulau-pulau berjajar membentuk
gugusan pulau yang indah
Gunung-gunung yang berbaris dari ujung
barat ke ujung timur
Samudra luas membentang
dengan air yang membiru.
dan berisi keindahan di bawahnya.
Ya... benar saja! Aku sedang berada di salah satu pulau di negaraku, Indonesia yang sangat indah. lebih tepatnya, di dekat pesisir pantainya.
Namun, dari berbagai pulau Indonesia yang aku pelajari dari berbagai buku-buku sejarah Indonesia yang sering ku baca, Aku tetap tidak mengetahui pulau apa ini?
"Sekarang aku ada di mana?" Gumamku, yang merasa heran dengan pakaian yang aku kenakan sekarang.
"Dress? Sejak kapan aku memakai dress seindah ini?" Lirihku tak percaya, aku pun melirik sekeliling yang terasa sunyi nan sepi.
"Di pulau seperti ini, apakah ada kemungkinan manusia bisa bertahan hidup?" Ujarku seraya terbangun dan terduduk di atas permadani putih tersebut.
Aku melihat ke bawah permadani tersebut.
"Astaghfirullah! Tinggi sekali!" Gumamku yang terkejut, saat menyadari permadani yang aku duduki ini terbang melayang dari atas tanah.
"Turun!!" Ujarku yang ketakutan.
Secara perlahan permadani itu pun turun ke bawah tanah, bagaikan menuruti ucapanku barusan.
"Ada apa ini? mengapa dia seperti menuruti perintahku? Ahh! sudahlah! yang penting aku turun saja sekarang!" Batinku keheranan namun rasa takut akan ketinggian membuatku dengan cepat turun dari permadani tersebut.
"Mengapa aku merasa seperti di hormati oleh para tumbuhan di sini?" Batinku, keheranan.
Srepp! Terlihat seorang anak kecil laki-laki berpakaian layaknya seorang pangeran yang sedang menaiki permadani berwarna biru yang melayang dan melesat cepat melewati tubuhku yang hampir terjatuh karenanya.
Keseimbangan tubuhku pun tak terkendalikan kembali, dan akhirnya tubuhku tumbang ...
Bughh! Bukan kesakitan yang ku rasakan, melainkan sebuah kehangatan yang sangat lembut menyentuh belakang punggungku.
Glek!
Deg, Deg, Deg!
"Siapa lelaki tampan ini?" Batinku tak percaya, melihat wajah tampan seorang lelaki di depanku yang sangat menawan hingga membuat hatiku berbunga-bunga.
Sesosok lelaki itu menatapku dengan lekat seraya memancarkan senyuman yang sangat indah dari kedua sudut bibir tipisnya.
"Kita bertemu kembali ..." Lirih lelaki itu, yang menatapku dengan penuh cinta. terlihat dari kedua bola mata biru muda miliknya yang berkilau.
Terlihat pula kedua matanya melirik ke arah bibir ranum milikku yang berwarna pink alami.
Glek! "Kamu sangat cantik ..." Lirih lelaki itu, yang membuat kedua pipiku merah bak tomat rebus.
Kini, Aku bisa melihat jika dirinya mendekatkan wajahnya kearah wajahku dengan perlahan namun pasti lalu menyatukan kedua bib*r kami dengan sangat lama dan melahap punyaku dengan agresif.
"ASTAGHFIRULLAH!" Teriakku tak kalah terkejut saat terbangun dengan apa yang baru saja ku lihat, di dalam mimpi.
"Aku ada di mana?" Batinku bertanya, saat melihat para guru serta Rani yang berdiri di sebelahku dengan wajah cemas.
"Alfa! Kamu baik-baik saja?" Tanya Rani, khawatir.
Aku pun hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Apa yang telah terjadi kepadaku?" Lirihku.
"Tadi, kamu pingsan! Kamu, belum makan, 'ya?" Tanya Rani, seraya memberikan sebuah roti kepadaku.
"Pulang dan beristirahatlah setelah itu ..." Ujar Bu Resti seraya mengelus lembut pucuk kepalaku yang berbalut hijab.
"Baik, Bu." Jawabku terharu, sembari mataku berkedip dengan setitik air mata yang menetes.
Sherp! Secara tiba-tiba, tangan Bu Resti yang sebelumnya masih mengelus kepalaku menjadi terdiam tanpa bergerak sedikit pun.
"Ada apa ini?" Batinku keheranan, saat melihat mereka semua yang ada di dalam ruangan UKS menjadi patung kecuali diriku sendiri.