
Terlihat, bahwa Fex tersenyum menyeringai menatap depan dengan intens. "Kita lihat, siapa yang akan menang!"
Di puncak pegunungan kartawara, terlihat Vania serta Kirana yang sedang sibuk menyiapkan sarapan pagi untuk mereka berempat.
"Kiran, tolong masak air panas. Gue akan membangunkan mereka," ujar Vania, setelah semua makanan telah matang dan hanya tinggal minuman hangatnya saja yang belum tersaji.
"Baiklah," Kirana langsung memasak air menggunakan salah satu panci di antara semua panci yang telah di masukkan ke dalam tas mereka masing-masing.
"Woy! kalian! bangunlah!" Vania membangun kedua lelaki yang sedang tertidur nyenyak di dalam tenda dengan menggunakan toa.
Mereka yang asik berada di alam mimpi, tak menggubris ucapannya.
"Woy! para harimau!" ujar Vania lagi, dengan toa yang masih setia di genggaman.
"Hah?! harimau? mana-mana ...?" ujar Rendra, yang langsung berdiri di tempatnya.
"Lo, harimaunya!" jawab Vania.
'Gue?' batin Rendra, ia menggaruk kepalanya dan tak lagi menggubris ledekan Vania.
"Cepat makan! kita akan pulang setelah ini!" teriak Vania yang masih saja menggunakan toa.
"Ish! iya, iya!" jawab Rendra, dengan rambutnya yang acak-acakan dan kedua sudut bibirnya yang basah di penuhi hiasan malam khas bangun tidur, rembes.
"Woy! Niko, bangun!" teriak Rendra, saat mencoba membangun Niko yang sedang memeluk bantal guling.
Tak berselang lama, akhirnya mereka sudah selesai memakannya. Dengan Kirana yang langsung mencuci piring serta panci tersebut.
Sedangkan, Vania. ia sedang mengasah pisau lipat miliknya dengan satu kaki yang ia lipatkan, layaknya seseorang yang tengah makan di warteg.
Rendra melihatnya dengan keheranan, saat ada sebuah kantung yang di ikat Vania di pinggangnya.
'Apa isi kantung itu?' batinnya penasaran.
"Semua sudah selesai di bersihkan, marilah kita berangkat sekarang!" ujar Kirana setelah memasukkan panci serta piring plastik itu ke dalam tasnya.
"Baiklah, ayo!" teriak Vania dengan suara serak nan keras, dan berdiri lalu meninju langit dengan api semangat 45 yang menggebu-gebu di dalam dirinya.
"Bismillahirrahmanirrahim!" ujar mereka bertiga yang mulai berdoa bersama-sama, sedangkan Vania. ia berdoa sesuai ajarannya.
'Tunggulah aku, Alfarani!' batin Kirana, yang berniat untuk kembali dan mencari bantuan dari para Porter.
Sebelum berangkat, Rendra terlebih dahulu menelpon para Porter menggunakan handphone satelit.
Sebenarnya para Porter sangat ingin menjemput mereka agar tetap selamat di perjalanan. Namun, karena terjadinya longsor pada jalur pendakian, mereka akhirnya tak bisa berbuat apapun.
Dan mereka berempat sudah di beritahukan oleh para Porter untuk tetap diam di sana, dan berangkat setelah kejadian longsor terselesaikan.
"Jalur pendakian yang sebelumnya kita lewati sedang terjadi longsor, dan sebaiknya kita berjalan di jalur lainnya yang sudah di beritahukan oleh para Porter," jelas Rendra.
Jalur itu adalah jalur yang belum di uji keamanannya, dan sangat jarang para pendaki mau memilih jalur tersebut, karena terkenal pula lebih curam nan licin dari pada jalur sebenarnya.
"Apakah kita akan baik-baik saja melewati jalur itu?" tanya Niko yang terlihat sedikit ketakutan, saat mendengar di telepon satelit Rendra, bahwa jalur itu sangat jarang di lewati oleh orang-orang.
"Lihatlah ..., ke depan," ujar Rendra pelan, pandangan mereka berdua mengarah ke arah depan. Yang terdapat Kirana sedang berjalan di depan mereka.
"Hmm ...," kini Niko mulai mengerti, dan hanya menganggukkan kepalanya saja.
'Mengapa mereka bisa menghilang tanpa jejak?' batin Kirana, yang masih memikirkan teman-teman lainnya.
"Kiran, cobalah kamu pegang ini dengan benar," ujar Vania, seraya memberikan sebuah panah kepada Kirana yang terlihat kebingungan, "Untuk apa?"
"Sini, biar gue ajarkan," ujar Vania seraya menjadi contoh pergerakan yang benar dan Kirana mengikutinya.
SLEP! Satu panah melesat cepat mengenai seekor ular berwarna hijau yang nangkring di batang pohon sampai membuat reptil tersebut mati.
"Good job!" ujar Vania, dengan tersenyum ke arah Kirana yang juga membalas senyumannya.
KHEAR! Terdengar suara dengkuran dari seekor harimau yang entah berada di mana.
Mereka berempat menghentikan langkah, dengan pandangan mereka secara bersamaan tertuju ke arah sebelah kanan mereka.
Di sana terdapat jurang yang tak terlalu dalam, namun ada sesuatu yang membuat Vania berani untuk sedikit berjalan mendekatinya.
"Itu ..., harimau?!" kejut Vania khawatir, saat melihat harimau tersebut terbaring lemas dengan kesakitan, dan suara dengkuran itu seperti isyarat bahwa ia meminta pertolongan.
"Kita harus menolongnya!" ujarnya kembali, seraya berjalan dengan tersekat-sekat untuk turun ke dalam jurang tersebut.
"Apa yang dia lakukan?! itu harimau liar!" ujar Niko, yang terbelalak kaget melihat keberaniannya.
Sedangkan, Kirana dan Rendra hanya terdiam memperhatikan apa yang akan dia lakukan.
Kini, Vania sudah berada di dalam jurang tersebut, bersama seekor harimau yang masih terbaring kesakitan dengan nafasnya yang terdengar lemas.
"Jangan ..., jangan takut, aku datang untuk menolong mu ...," ujar Vania, dengan perlahan ia melangkah kakinya mendekati harimau tersebut.
Harimau itu menatap tajam ke arahnya, hal itu seperti dirinya merasa terancam akan kehadirannya.
Setelah telapak tangan Vania berhasil menyentuh dan mengelus kepala harimau tersebut, harimau itu langsung saja membuka mulutnya lebar-lebar dan mengigit pergelangan tangan Vania.
HARP! "Astagfirullah! woy! kita harus menolongnya!" teriak Niko yang menjerit-jerit tak karuan, saat melihat Rendra serta Kirana yang hanya terdiam memperhatikan Vania dengan seksama.