Snouw White's magic

Snouw White's magic
EPS 44



Di lain tempat, di hutan gunung kartawara.


Terlihat bawah harimau tersebut, berjalan di sebelah Vania dengan satu kaki depannya pincang.


Namun, dirinya menjadi bersemangat dan bisa kembali berdiri setelah Vania memberikan makanan berupa daging mentah yang ia bawa sebelumnya.


"Daging lezat yang akan kumakan saat pulang, telah kamu makan sampai habis!" kesal Vania, dengan menoleh ke arah harimau tersebut yang ia beri nama, Escort. Yang sedang mengelus-elus kan kepalanya ke bahunya sebagaimana seekor kucing.


"Van, dia menyukaimu!" ujar Kirana, yang merasa gemas dengan tingkah Escort dan ingin menyentuhnya namun rasa takut akan di makan tak bisa di pungkiri di dalam diri.


Secara tiba-tiba, tubuh besar Escort menghalangi jalan Vania dengan suara menggeram nya yang terdengar sangat jelas. "Dia mau ngapain?" tanya Vania bingung.


"Mungkin, dia ingin Lo menaikinya," ujar Rendra, yang berada di belakangnya.


"Benarkah?" gumam Vania, seraya mengangkat satu kakinya ke samping untuk menaiki punggung Escort.


Secara tiba-tiba, Escort langsung berlari mengelilingi mereka bertiga dengan suara geraman nya yang terdengar cepat nan jelas.


Kirana terus saja menjauhi tubuhnya dari Escort, ia menatap dengan penuh kengerian kepada Vania yang terlihat sangat bahagia berada di atas tubuh Escort.


'Apa dia tidak merasakan ketakutan?' batin Kirana, dengan kepalanya yang ikutan menjadi menoleh ke kanan-kiri sambil melihat Escort.


"Kalian ..., Naiklah! di depan akan ada lebih banyak jalanan yang curam nan licin, lebih baik kita menaiki tubuh Escort ini!" ujar Vania, yang membuat Kirana melotot ke arahnya dengan heran.


"A-apa ..., maksud lo ..., gue harus menaiki harimau liar itu?!" kejut Kirana, dengan kepalanya yang secara refleks menggeleng-geleng.


"Cepatlah! kita tidak ada waktu, sebelum hujan turun!" tegas Vania, yang mencoba menyakini dirinya.


Secara bersamaan, pandangan mereka semua menatap ke atas langit yang telah di penuhi oleh awan hitam nan tebal.


Niko dan Rendra pun akhirnya langsung mengiyakannya, sembari menaiki tubuh Escort.


"Lahh ...!! kok kalian gitu sih?!" gertak Kirana, yang tak terima saat mereka mau menaiki tubuh Escort.


"Sudahlah! kita harus cepat untuk kembali, Kirana ...," ujar Rendra dengan lembut.


"E-emangnya kuat ...?" tanya Kirana dengan grogi.


KHUAR!


Escort bagaikan mengisyaratkannya. Bahwa ia kuat menanggung mereka berempat di atas punggungnya, "Tuh! Escort saja mengiyakannya!" ujar Vania.


"Be-benarkah ..., Escort?" ujar Kirana, yang mulai mendekati tubuh Escort dengan tubuh yang sedikit bergetar namun seketika itu ia terhenti kembali.


"Tapi ..., tunggu sebentar!" ujar Kirana, yang membuat Vania mengepalkan kedua telapak tangannya. "Apa lagi, Kirana! ...," jawab Vania penuh penekanan di akhir katanya.


"Gue? Gue duduk di mana ...?!" ucap Kirana, yang ingin menangis saat melihat tak ada tempat untuknya.


"Sini, gue bantu," ujar Rendra, seraya mengulurkan kedua tangannya ke arah Kirana untuk berniat menggendongnya.


"Eitss ..., Apa-apaan Lo!" jawab Kirana, tanpa ia sadari tubuhnya telah di angkat oleh Rendra dengan tangan kosong dan membuatnya terduduk di pangkuannya.


"Sudah! duduk diam di sini!" tegas Rendra, yang sama-sama merasa canggung saat menaruh tubuh Kirana layaknya seorang gadis kecil yang di pangku oleh sang ayahnya.


"Ekhem!" Niko yang terduduk di belakang Rendra itu pun Berdehem melihat posisi mereka.


"Lepaskan gue!" ujar Kirana sambil meronta-ronta dengan rona merah yang sudah terlihat jelas di kedua pipinya.


SHERK!


Namun, Escort yang telah berlari kencang itu pun membuat Kirana tak lagi bisa mengelak dari takdir.


"Huhh! menyebalkan sekali!" Kirana mendengus dengan kesal.


GLEK!


'Gawat!' batin Kirana, saat tangan Rendra yang menahan tubuhnya agar tak terhempas kemanapun itu, terasa seperti menarik hijab bagian depannya.


Sehingga mengakibatkan peniti yang berfungsi sebagai penyatu hijabnya itu pun tertarik dengan cukup keras.


SREK!