Snouw White's magic

Snouw White's magic
EPS 30# INGATAN FEX !



Bintang-bintang kecil itu keluar kembali, dan langsung tertawa riya' mengelilingi tubuh Alfarani seraya menurunkan tubuh Alfarani secara perlahan ke atas tanah, "Putri salju telah kembali!" itu lah yang mereka ucapkan bersama-sama.


Setelah selesai dengan tugasnya, mereka pun kembali terbang ke luar dari tenda lalu melesat secepat cahaya ke atas langit, dan seketika itupun awan kembali cerah benderang, dan waktu kembali berjalan seperti sedia kala.


"Ahh ... apa yang terjadi kepadaku ...?" lirih Alfarani dengan bibir serta wajahnya yang kembali berseri di tambah tubuhnya seketika sehat dan bugar.


"Alfarani!" ujar Gabriel yang terhentak kaget melihat pakaian Alfarani yang telah mengering beserta wajahnya yang tak lagi pucat.


'Kedua bibir pucat nya, telah berubah warna menjadi pink alami yang sungguh dapat menggoyahkan imanku!' batinnya yang kini tak bisa memalingkan pandangannya.


Alfarani yang menyadari ada laki-laki asing di sebelahnya yang sedang terpana melihat kecantikan wajahnya dari jarak dekat, ia segera bangun dan berjalan keluar dari tenda.


"Ini ... dimana?" gumamnya keheranan, saat melihat sekelilingnya yang terasa asing.


"Hujannya ... telah berhenti?!" ujar seorang wanita berambut panjang sepinggang yang masih mengenakan jas hujan keluar dari salah satu tenda lainnya.


Dinda melihat ke arah tenda Gabriel, yang terdapat seorang wanita berhijab syar'i tengah berdiri dengan wajah bingung di sana.


"Wanita itu telah sembuh? cepat sekali!" gumam Dinda, seraya menghampirinya.


"Hay!" sapanya.


Alfarani menoleh ke arahnya, seraya mengangguk dan menggulung senyuman di bibirnya.


"Nama kamu siapa?" tanya Dinda ramah.


"Namanya adalah Alfarani!" ujar seseorang yang juga keluar dari tenda sembari bola matanya menatap tajam ke arah Dinda.


Gabriel berdiri di sebelah Alfarani dengan jarak yang sedikit jauh, agar Alfarani merasa nyaman.


'Cih! di belain terus! ' batin Dinda kesal.


"Hah?!" kejut seorang mahasiswi yang sebelumnya mengecek keadaannya, "Bagaimana mungkin bisa secepat itu sembuhnya?!" tanyanya, dengan mulut menganga tak percaya.


Alfarani yang di tanya seperti itu, mengernyitkan dahinya, keheranan, "Memangnya apa yang telah terjadi kepadaku?" tanya Alfarani.


Gabriel melirik ke arah Alfarani yang kebingungan. seraya berkata, "Sudah! tidak usah memberikan pertanyaan yang tak di mengerti siapapun, yang penting dia telah kembali sehat!"


Mahasiswi tersebut menjadi diam, tanpa berani menjawabnya. Walau banyak sekali pertanyaan yang terlontar di pikirannya.


"Dan kamu ... siapa?" tanya Alfarani kepada Gabriel yang menjaga jarak di sebelahnya.


"Gabriel! aku teman masa SMP mu!" jawabnya.


Alfarani terdiam, saat mendengar lelaki tersebut terus saja menyebut 'masa SMP' yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. 'Atau jangan-jangan, aku lupa?' batinnya.


Di lain tempat, tepatnya di tempat camping teman-temannya Alfarani di puncak gunung kartawara.


Di saat semua orang tengah sibuk membereskan semua barang-barang mereka, Kirana tiada hentinya masih mencemaskan keselamatan Alfarani, Rendra serta Niko yang masih belum kembali.


"Bagaimana ini?!" gumam Kirana, yang berjalan bolak-balik tanpa henti sembari sesekali menggigit-gigit jari telunjuknya.


"Hey! kalian!" tegas Vania kepada kedua laki-laki yang sebelumnya bersama Rendra serta Niko.


Kedua laki-laki itu yang sedang menjemur pakaian di atas ranting pohon menghentikan aktivitasnya seraya menoleh ke arahnya.


Kedua laki-laki itu pun hanya bisa diam.


"Haahh! ternyata kalian tidak bisa menjawabnya!" ujar Vania dengan menghembuskan nafas kasar seraya mengeluarkan sesuatu di dalam tas ranselnya.


"Kirana ..., mau ikut gak?" tanyanya kepada Kirana yang masih berdiri tak jauh darinya, dan membuat orang yang di panggil itu menoleh ke arahnya dengan keheranan.


"Kemana?"


"Mencari sahabatmu!"


Setelah mendengarkan kata-kata yang di lontarkan Vania kepadanya, kedua mata Kirana berbinar dengan tubuhnya yang berlari menghampirinya.


"Bagaimana caranya? kita tidak tau mereka berada di mana ..." ujar Kirana yang menjadi lesu.


"Tenang saja! aku sudah sangat paham jalan mana yang aman dan yang sudah pasti di lewati mereka," ujar Vania yang membuat Kirana tersenyum.


"Panah? untuk apa?" tanya Kirana saat melihat sebuah alat yang berada di genggaman Vania.


"Untuk berjaga-jaga, kamu juga pakailah!" ujar Vania seraya melemparkan sebuah alat memanah serta kantung panahnya ke arah Kirana.


"Tapi ..., aku tidak tau bagaimana caranya ...?" ujar Kirana setelah alat pemanah itu berada di tangannya.


"Nanti akan ku ajarkan, sekarang kita pergi! sebelum matahari terbenam!" ujar Vania seraya berlari memasuki hutan yang lebat.


Kirana mengikutinya dari belakang.


Salah satu teman wanitanya ingin mencegahnya. Namun ..., "Sudahlah! biarkan saja, dia adalah wanita yang kuat! hewan buas manapun akan tunduk padanya," ujar teman perempuan lainnya.


Di sebuah rumah tua nan kecil yang terlihat telah termakan usia karena bertahun-tahun tak di tinggali oleh pemiliknya, serta rerumputan liar mulai menutupinya dengan sangat lebat.


Namun, ternyata rerumputan liar itu bukanlah rerumputan biasa yang tumbuh dengan sendirinya, melainkan rumput robot otomatis yang memiliki sebuah tombol.


CHET! Terlihat seorang lelaki yang mengenakan kemeja putih dengan belahan dada yang terbuka, ia berjalan mendekati depan pintu rumah tua itu sembari menekan sebuah tombol yang tak terlihat di balik pintu rusak tersebut,


Pintu yang terlihat telah termakan usia dari luar itu seketika terbuka lebar dengan memperlihatkan suasana dalam rumah tersebut yang sangat mewah.


Dengan kakinya yang panjang, ia melangkahkan selangkah demi selangkah memasuki rumah tersebut.


Lelaki itu memiliki poster tubuh tinggi nan sixpack, dengan bahunya yang selalu tegap nan tegas di tambah dengan manik mata tajamnya yang dapat mematikan hingga menusuk jantung sang pemilik lawan matanya.


Ia terduduk di atas kursi kemegahan miliknya seorang saja, tepat di depan semua kandang besi yang mengelilinginya, ada berbagai macam hewan telah punah di dalam kandang tersebut sehingga hanya tersisa tulang belulangnya yang masih utuh.


"Kirim mereka semua ke tuan Qidhox!" tegas lelaki tersebut, yang tak lain adalah Fex.


"Baik, Bos!" jawab pria bertato kalajengking tersebut, seraya membuka sebuah kain tebal yang menutupi kandang besar terbuat dari besi di depan matanya.


SREK! Terlihatlah di dalam kandang itu, ada tiga manusia berbadan mungil dengan pakaian kuno dari masa kerajaan, yang dua di antaranya sedang gemetar ketakutan melihat para manusia di depannya.


Kecuali Sleepy, yang masih terpejam dengan sangat nyenyak nya di atas kain alas yang terasa kasar nan menusuk siapa saja yang tersentuh.


"Kita harus menyelamatkan tuan putri salju!" ujar Sleepy dengan tubuhnya yang tiba-tiba terduduk dalam ke adaan matanya yang masih terpejam, mengigau.


Tatapan tajam Fex menoleh ke arahnya, 'Putri salju?' batinnya yang seketika membuat ingatan aneh muncul berjalan dengan cepat di dalam pikirannya dan menghilang dalam sekejap mata.