
Kembali ke tempat ketiga kurcaci berada ...,
Terlihat, bahwa tubuh Doc yang lemas di masukkan oleh pria tersebut ke dalam Furnace.
Furnace adalah alat untuk membuat suatu zat menjadi abu atau arang. Selain itu juga berfungsi menentukan kadar C- Organik pada pupuk organik dengan cara pengabuan.
Pria tersebut berniat menjadikannya abu sebagai penguji cobaan sains buatannya sendiri, yang bernama Formation of a new form.
Sedangkan, para kurcaci lainnya yang tak berhasil di tangkap itupun masuk kembali ke dalam lorong waktu ke negeri dongeng sang putri salju, untuk mengabarkannya kepada kaisar Li.
"Buka gerbang yang mengurung Singa Toxia! dengan di bukanya pula portal ke dunia manusia tepat di depannya!" perintah kaisar Li, kepada para pendekar setianya yang sedang bersimpuh di depannya.
Doc tak dapat melawan, karena tubuhnya yang di ikat dengan erat oleh sebuah besi panas yang di pasangkan oleh pria tersebut, setelah mereka memasuki sebuah ruangan laboratorium.
"AKKHH!" teriak Doc yang tak tahan dengan siksaan yang di lakukan pria tersebut kepadanya, akhirnya tubuhnya yang telah memasuki alat Furnace itu menjadi abu dalam sekejap mata.
Abu tersebut kembali di keluarkan olehnya menggunakan Spatula untuk di letakkan secara perlahan di atas Kaca preparat.
Dengan mengenakan jas putih, sarung tangan serta kaca mata khusus. Ia mengambil sebuah cairan di dalam Labu Alas Datar, sebuah wadah gelas yang berbentuk bulat dengan alas datar dan leher silinder untuk mencampur dan menyimpan bahan kimia berbentuk cairan.
Secara perlahan-lahan, Ia menggunakan Pipet tetes untuk menyedot cairan tersebut yang akan ia teteskan di atas abu tersebut.
Dari balik Lensa okuler, ia melihat abu tersebut setelah di teteskan oleh sebuah cairan kimia berwarna ungu, menjadi terbentuk kembali makhluk kurcaci yang sebelumnya tinggi tubuhnya 73 cm.
Menjadi berdiameter 1,25 mikrometer, layaknya seperti ukuran bakteri.
Doc yang kembali hidup itu, terlihat menunduk.
"Ada apa dengannya?" gumam pria tersebut, dengan menggunakan pinset, ia memindahkan tubuh Doc di atas tanah sembari melihatnya dengan seksama.
Setelah kedua kaki Doc menginjak tanah, tubuhnya dalam hitungan detik langsung bertumbuh besar nan tinggi layaknya manusia, namun dengan wujud yang aneh.
Terlihat bahwa ujung telinganya yang berubah menjadi panjang, kulitnya menjadi keriput nan lembek, di tambah dengan wajahnya yang berubah menjadi hitam gosong yang berlumuran lumpur.
Doc menatap kedua mata pria itu, seraya berkata, "Apa yang bisa kubantu, wahai tuanku?"
Pria tersebut tersenyum menyeringai ke arahnya.
Terlihat di tempat lain, bahwasanya hijab pendek Kirana yang panjangnya sampai ke perut itu, penitinya terlepas sehingga mengakibatkan hijabnya terbang terbawa angin kencang.
'Gawat! hijabku!' batin Kirana, saat pandangannya menoleh ke belakang saat melihat hijabnya yang telah pergi terbang menjauhinya.
BREGH!
DEG!
'Astagfirullah! Apa yang dia lakukan ...?' batin Kirana, ia sebenarnya merasa gak nyaman berada di dalam jaket Rendra namun karena ke adaan membuatnya harus rela bertahan untuk menahan bau badannya Rendra.
'Astagfirullah hal'azim! Pengen muntah rasanya!' batin Kirana, sembari telapak tangan kirinya menutup mulut serta hidungnya.
BREKK!
Tubuh Escort tiba-tiba berhenti, membuat Rendra mempererat pelukannya. Sehingga, membuat wajah Kirana yang terdorong itu bersentuhan dengan dada bidang Rendra yang tembus karena berkeringat.
GLEK!
'Apa yang harus gue lakukan sekarang ...?' batin Kirana, kedua pipinya telah memerah bak tomat rebus saat merasakan detak jantung Rendra yang terdengar jelas di kedua telinganya sedang berpacu cepat.
DEG!
DEGH!
'Astaga! apakah dia mendengar detak jantung gue?!' batin Rendra, dirinya dapat merasakan bahwa telinga Kirana menempel di dada bagian kirinya.
"A-ada apa, Van?" tanya Rendra, yang tiba-tiba menjadi gagap tanpa sebab, membuat Vania keheranan sambil menoleh ke belakang.
"Ekhem! Ada sesuatu yang terjadi di belakang gue?" ujar Vania, dengan pandangannya yang mengarah ke pepohonan lalu melirik mereka berdua secara bergantian.
"I-itu hi-hijabnya lepas!" jawab Rendra dengan gugup.
'Astagfirullah! apakah dia tidak baik berbicara dengan lancar tanpa sedikitpun gagap?' batin Kirana, yang masih berada di dalam jaket Rendra.
"Hmm .., ternyata karena hijabnya lepas ..., ALASAN!" ujar Vania, dengan menekan kata terakhirnya.
Niko yang mendengar apa yang di katakan oleh Vania pun, kepalanya segera melihat mereka berdua dari samping kiri sehingga membuat Rendra memiringkan tubuhnya ke kanan.
"Ada apa?!" tegas Rendra, dengan menatap tajam ke arah Niko yang sedang menengok ke arahnya.
"Hmm ..., ternyata karena hijabnya lepas ...," ujar Niko, yang mengulang perkataan Vania sebelumnya, sambil mengangguk-anggukkan kepalanya melihat atas lalu melirik ke arah mereka kembali secara berkali-kali.
"Sudah! ada apa, Van. Mengapa Escort berhenti mendadak?" Kini, Kirana yang masih berada di dalam jaket Rendra, mengeluarkan suara.
"Ada sesuatu di depan kita ...," ujar Vania, dengan nada suaranya yang kini menjadi pelan nan lirih.