
"TIDAK!! JANGAN!!" teriak Alfarani, lagi dan lagi yang membuat Kiana hampir saja kembali meloncat kaget.
"Alfa, bangunlah!" ujar Kiana sedikit berteriak karena khawatir jika Alfarani bermimpi buruk.
"Hah! Astaghfirullah!" lirih Alfarani saat terbangun dengan setengah duduk dan keringat yang bercucuran memenuhi sudut-sudut wajahnya hingga membasahi hijabnya.
"Ada apa, denganmu ...?" tanya Kiana lembut, seraya memeluk erat sahabatnya itu sembari sesekali mengelus lembut punggungnya.
"Kiana ... aku bermimpi buruk! sangat buruk!" lirih Alfarani di dalam pelukannya, dengan terdengar suara isakan tangis yang kini mulai semakin menjadi.
"Berdoalah ...." lirih Kiana sembari melantunkan doa setelah mengalami mimpi buruk, Alfarani pun ikut serta mengikutinya dengan suara pelan.
الله إن آدزبيكة من سوريا وما في سوريا.
Artinya: Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari mimpi buruk dan apa yang buruk di dalam mimpi.
"Sekarang tenangkan dirimu ... dan beristirahatlah ..." ujar Kiana dengan penuh kelembutan membantu Alfarani untuk kembali terbaring.
"Kiana ... aku ingin pulang ... entah kenapa setelah diriku berada di sini, hatiku selalu tidak tenang," lirih Alfarani dengan menatap sayu ke arah Kiana.
"Baiklah, aku akan bicarakan dengan teman-teman nanti ... sekarang kamu diam di sini hingga sembuh, 'ya?" ujar Kiana seraya keluar dari tenda.
Kiana segera berjalan menuju tenda Rendra untuk mempertimbangkan keinginan Alfarani tersebut, namun di saat dirinya sedang berjalan ada sesuatu yang entah apa, memasuki tenda dirinya dan Alfarani.
"Rendra!" Panggil Kiana dengan setengah berteriak saat melihat tenda milik Rendra yang tertutup.
"Iya!" jawab seseorang dari dalam tenda yang terlihat sedang kesulitan memakai sesuatu sembari membuka rel slateng tenda miliknya.
"Astaghfirullah!" kejut Kiana yang langsung memalingkan pandangannya ke arah lain saat melihat sesuatu yang tak panta ia lihat.
"Ehh ... Kiana!" ujar Rendra terkejut, pasalnya dirinya dalam ke adaan setengah berpakaian saja.
Ia pun segera memakai bajunya di saat Kiana terus memalingkan pandangannya, dan berkata, "Ada apa?" tanyanya dengan berusaha sedikit tenang.
"Alfarani, dia ingin pulang! apa keputusanmu?!" tanya Kiana tanpa melihat ke arah Rendra.
"Ingin pulang, 'yah ...? Baiklah, besok pagi kita akan pulang, tidak memungkinkan kita pulang sekarang dengan cuaca mendung seperti ini," ujar Rendra.
"Kita harus menyediakan lebih banyak lagi ranting-ranting pepohonan untuk membuat api unggun," ujar Niko, kepada teman-temannya.
"Baiklah, kami yang akan pergi!" ujar salah satu temannya yang berjaket biru muda tebal, dengan di ikuti yang lain pula.
"Iya, kami juga ikut!"
"Iya, biar kita bersama-sama mencari kayu bakarnya,"
"Baiklah, Gue juga ikut! Kalian jangan sampai tersesat, 'ya?" ujar Rendra karena dirinya yang telah berkali-kali mendaki gunung kartawara bersama kakaknya.
"Iya! Awas saja, jika malah lu yang tersesat nantinya!" ujar Niko, walau ini adalah pertama kalinya ia berada di puncak gunung kartawara, Namun pengalamannya dalam mendaki gunung lainnya tak terelakan.
"Cih! Gue jamin gue gak bakalan tersesat!" ujar Rendra percaya diri seraya mulai melangkahkan kakinya memasuki hutan.
"Iya, iya! bahkan tupai di pohon pun percaya!" ujar Niko, seraya mengikutinya, bersama teman-teman lainnya dan kini mereka berjumlah empat orang saja.
"Kiana! tolong ambil persediaan makanan di tenda sana!" ujar teman perempuannya, yang menunjuk ke arah tenda persediaan makanan di dekatnya.
"Baiklah ..." jawab Kiana ramah seraya mengambil apa yang di butuhkan.
Selang beberapa jam dan waktu telah menunjukkan pukul 17:30 WIB, setelah makanan sudah siap untuk di masak, mereka belum juga sampai.
"Dimana mereka? mengapa belum kembali?" batin Kiana yang merasa khawatir.
DORR!!
Terdengar suara tembakan yang bersahut-sahutan di dalam hutan dengan di temani suara burung-burung beterbangan memecahkan keheningan sore di atas puncak gunung kartawara.
"Apa yang terjadi sebenarnya di dalam sana ....?" ujar semua orang di tempat camping dengan pandangannya bersamaan mengarah ke arah hutan dan sumber suara tersebut.
Setelah mendengar suara tersebut, pikiran Kiana langsung teringat akan ke adaan Alfarani yang berada di dalam tenda, dan ia pun segera bergegas menuju tenda miliknya dan Alfarani.
"Alfarani ..." ujar Kiana sembari membuka rel slateng tenda miliknya tersebut, sontak dirinya pun melotot tak percaya bahwa di dalam sana tidak ada siapa-siapa.
"Astaghfirullah! Alfarani kemana?!" teriaknya yang membuat teman-teman perempuannya itu tak kalah terkejut melihat wajah cemas Kiana yang kian terlihat jelas, menandakan Alfarani benar-benar hilang!