
"Bagaimana dengan teman-temanku lainnya ...?" Lirihnya kembali, dengan pandangan yang semakin lama semakin pudar.
2 Bulan telah berlalu ... Kini, Alfarani telah pulih kembali namun dalam seketika ingatannya menghilang setelah dirinya pingsan saat itu.
Dan hari ini adalah hari dimana ia bersama teman-teman barunya yang bertemu di tempat kerja sedang mendaki gunung kartawara.
Gunung yang memiliki berbagai macam puncak dan bukit yang tinggi, ramping dan curam serta dapat menguji nyali siapa saja yang ingin mendakinya.
Hanya ada beberapa orang saja yang berani dan salah satunya ialah, seorang wanita muslimah berhijab syar'i namun tak bercadar bersama teman-teman seperjuangannya.
"Semangat!! Kita pasti bisa!!" Terdengar seruan keras dari sang pemimpin barisan saat pandangannya telah melihat puncak gunung sebagai tujuan mereka.
"Alfa, Kamu tidak apa-apa?" Tanya seorang wanita berhijab pendek, bernama Kiana yang melihat Alfarani terdiam di tempat ia berdiri.
"Iya, aku baik-baik saja." Jawabnya dengan tersenyum sembari membawa tas ransel besar di punggungnya.
"Kita jalannya pelan-pelan saja, 'ya?" Ujar Kiana seraya menggulung senyuman ke arah Alfarani.
"Iyah!"
Selang beberapa jam perjalanan mendaki, akhirnya mereka telah sampai pada tujuan mereka untuk berada di atas puncak gunung kartawara.
"Wahh!!" Teriak semua orang yang kagum akan ciptaan yang maha kuasa.
Brukk! Dengan sisa tenaga yang Alfarani punya, ia hanya bisa terduduk lemas sembari menaruh tas ransel besar di gendongannya itu di atas tanah.
"Beristirahatlah ... biar aku dan teman-teman lainnya yang membuat tenda." Ujar Kiana yang mengetahui jika Alfarani baru saja mengalami koma dua bulan yang lalu.
"Baiklah ..." Jawabnya dengan lemas.
Di saat orang-orang sibuk membuat tenda setelah beberapa menit istirahat, mereka di kejutkan oleh sesuatu yang tak di ketahui oleh orang-orang yang tinggal di kaki pegunungan.
"Astaghfirullah! Itu apa?!" Ujar Alfarani, dan membuat semua orang menoleh kearahnya yang sedang berjalanan mendekati ujung tanah puncak.
"Alfa, ada apa?" Tanya Kiana, yang turut penasaran dan akhirnya mengikutinya dari belakang.
"Jembatan kaca?" Gumam Alfarani, saat melihat ada sebuah jembatan kaca yang tertutup oleh awan.
"Jembatan?!" Teriak Kiana tanpa sadar.
"Ada apa? Ada apa?" Orang-orang yang turut penasaran itu berjalan mendekati mereka tak terkecuali sang pemimpin barisan pun.
Mereka yang datang hanyalah ingin melihat pemandangan indah dari atas puncak gunung kartawara, keindahannya yang tak ada di tempat lain menambah api semangat dalam diri para pendaki.
"Apakah jembatannya aman untuk di lewati?" Tanya semua orang yang ingin sekali berjalan melewati jembatan kaca yang di selimuti awan itu.
Seorang pemimpin barisan itu pun mengambil telefon satelit untuk menanyakan tentang jembatan kaca itu kepada para Porter, yang telah kembali ke tempatnya.
Telefon satelit adalah sarana telekomunikasi yang berwujud telefon tanpa kabel, telefon inilah yang bisa di gunakan saat berada di pegunungan dan hutan yang tak terdapat sinyal.
Di saat pemimpin barisan yang bernama Rendra, sedang menghubungi petugas Porter.
Tanpa aba-aba, ada seseorang yang langsung saja berlari kencang melewati lautan manusia sembari memasuki jembatan kaca yang tertutup awan itu.
"Hey! Apa yang kau lakukan?!" Teriak Kiana, saat melihatnya telah menghilang dari pandangannya oleh di sebabkan awan-awan putih itu.
"Jangan!! Jangan lewati jembatan kaca itu!!" Tegas Rendra, kepada para Teman-temannya di sana.
"Memangnya, kenapa?" Tanya seorang wanita berambut pendek sebahu, dengan wajah juteknya.
"Jembatan kaca itu ..." Ujar Rendra terhenti, saat mendengar arah suara dari balik jembatan kaca yang di selimuti awan itu.
"Hey! Ke Marilah! di sini tidak berbahaya!" Ujar seseorang yang sebelumnya telah memasuki jembatan berselimut awan itu.
"Hah? Itu, suara dia 'kan?" Banyak orang bertanya-tanya jika suara itu apakah benar suara Tino, teman mereka.
"Hey! Ke mari! tidak ada yang berbahaya di sini!!" Suara jeritan Tino terus saja mengusik pikiran mereka.
"Melewati jembatan ini apa tidak, 'ya?" Batin semua orang yang masih bimbang, namun rasa penasaran akan keindahan apa yang tercipta di dalamnya semakin besar di dalam diri mereka.
Satu persatu orang di sana mulai melangkahkan kakinya selangkah demi selangkah mendekati jembatan kaca itu, tanpa mendengarkan apa yang di katakan Rendra.
"Teman-teman! Jangan! Kita tidak tahu apa yang ada di dalam sana!!" Cegah Rendra, dengan berusaha meyakinkan teman-temannya.
"Astaga! Kalian!" Ujarnya kembali, yang kesal saat melihat teman-temannya telah melewati jembatan kaca berselimut awan itu, dan seketika rupa mereka pun tertutup oleh awan.
Kini, hanya tinggal Rendra, Alfarani serta Kiana yang masih berada di sana.
"Alfa! Jangan! itu mungkin berbahaya!" Ujar Kiana, saat melihat Alfarani berjalan selangkah mendekati jembatan kaca itu.
"Tidak ... Aku melihat sesuatu di sana ..." Lirih Alfarani, yang terlihat bengong dengan pandangannya lurus ke depan.