
Secara perlahan Alfarani mulai membuka kedua pelupuk matanya yang sedikit demi sedikit memancarkan sebuah cahaya berwarna ungu berkilau yang tak di sadari oleh dirinya.
"Apa yang sudah terjadi?" Gumamnya seraya melirik sekelilingnya, itu ternyata adalah kamar miliknya.
"Alfa, Bangun! dan pergilah ke sekolah! Nanti kamu terlambat, Nak." Ujar sang ibu dari balik pintu kamarnya.
Setelah mendengarnya, Alfarani secara cepat menoleh kearah jam dinding di sebelah atas kirinya.
"Sudah jam 06.30 WIB!" Gumamnya tak percaya, jika setengah jam lagi bell masuk sekolah pasti telah berbunyi.
"Aku harus cepat pergi ke sekolah!" Ia segera bangun lalu secepat kilat mengambil handuk dan berlari menuju kamar mandi yang berada di belakang rumahnya.
"Ibu! Aku berangkat!" Ujarnya setelah siap dengan seragam olahraga di tambah dengan rok berwarna biru tua yang biasa ia kenakan saat hari Senin.
"Iya, hati-hati! Jangan ngebut-ngebut di jalan!" Ujar sang Ibu, yang sedang menyuapi sang adik sarapan.
"Baik, Bu. Assalamualaikum." Ujar Alfarani, seraya menarik motor maticnya sembari melajukan nya dengan kecepatan sedang.
"Sebenarnya apa yang sudah terjadi? Mengapa tiba-tiba aku terbangun di kasurku sendiri? Bukankah, sebelumnya aku sedang berjalan bersama Rani menuju kelas?" Batin Alfarani, yang merasa bingung dengan kejadian kemarin.
"Alfa!" Girang Rani, yang menyambut ke datangannya di depan kelas sembari berlari memeluknya dengan erat.
"Ada apa?" Tanya Alfarani, setelah dirinya turun dari motor dan berjalan menuju kelas.
"Kamu, tau gak?"
"Ndak, emang ada apa?"
"Kemarin hujan es! Dan mengakibatkan jendela kaca kelas kita rusak parah serta beberapa kelas lainnya pun sama." Jelas Rani.
'Hujan es ...? ' Batin Alfarani, sembari berfikir.
'Apakah karena itu? Aku merasakan tubuhku dingin, sedingin es kemarin?'
'Tetapi, kenapa pada saat itu pandanganku gelap? Apakah itu mimpi?'
'Tidak! tidak mungkin jika itu adalah mimpi, nyatanya di sekolahku hujan es, sudah pasti suhunya memang dingin.'
"Fa! Kamu, kenapa?" Ujar Rani, saat melihat Alfarani termenung di tempat.
Alfarani melihat ke arah Rani dengan melotot karena teringat sesuatu.
'Bagaimana dengan Fex? Siswa misterius itu?' Itulah yang ada di dalam benak Alfarani.
"Lalu, di mana kita belajar sekarang?" Tanya Alfarani, yang mencoba berfikir jernih. "Aahh! Tidak! Dia pasti baik-baik saja! Tetapi ... kenapa hatiku gelisah saat teringat tentangnya?" Batinnya khawatir.
"Di lapangan, dan sepertinya hari ini akan ada APEL," Jawab Rani,
APEL adalah sebuah acara perkumpulan para siswa-siswi di lapangan untuk mendengarkan amanat dari pemimpin saat apel atau juga bisa di sebut dengan Pengumuman.
Setelah para siswa-siswi berkumpul, dalam satu kelas dari kelas tujuh sampai dengan sembilan semuanya di absen oleh guru wali kelasnya masing-masing.
Kini, saatnya kelas delapan E di absen oleh guru wali kelasnya yang bernama Bu Resti.
"Alfarani?"
"Hadir, Bu!"
"Fex?"
Tidak ada jawaban, dan itu membuat Alfarani melihat sekelilingnya dan ternyata benar! siswa yang selalu memperhatikan dirinya itu tidak ada di sana.
"Kemana dia? Tidak biasanya dia bolos sekolah!" Batin Alfarani, dengan hatinya yang gelisah entah kenapa.
Cratt!
Bughh!
"AAKHH!!" Terdengar suara rintihan seseorang di dalam sebuah ruangan gelap gulita nan sempit.
Slepp!
Cratt!
"AAKHHH!!" Teriaknya merintih kesakitan saat merasakan sekujur tubuhnya mati rasa akibat cambukan seseorang yang terus saja mengenai punggung serta dadanya dalam ke adaan tak berbalut pakaian.
SEPH! Secara tiba-tiba, tubuhnya melayang keatas dengan lehernya yang terasa di cekik oleh sebuah kekuatan.
"Kau, tidak dapat menjaganya! Kau, tak pantas untuk hidup!!" Suara seseorang menggema di dalam ruangan sempit itu, sembari kedua tangannya telentang lalu dengan kekuatannya ia menarik tembok besar nan kokoh itu hingga tembok itu berjalan mendekati tubuh Fex,
Dengan tubuh Fex yang lemas, ia hanya bisa pasrah membiarkan orang di depannya itu menarik tembok tersebut seraya berkata, "Aku tidak akan membiarkanmu melukainya!"
Fex memejamkan kedua bola matanya seraya berkata kembali, "Aku berikan kepadamu, istriku ..."
Sebuah bola berwarna biru yang sangat bercahaya keluar dari dada Fex, hingga membuat sesuatu di depannya itu berteriak histeris karena kedua pelupuk matanya secara tiba-tiba tidak bisa melihat kembali.
"AAKHH! TIDAK BISA, DI BIARKAN BEGITU SAJA!" Teriak orang di depannya dengan matanya yang telah buta secara permanen seraya dengan cepat menarik kedua tembok di sisinya untuk menekan tubuh Fex sekencang-kencangnya!
BRAAKK! BREPKK!
Sebelum tembok itu menekan serta mengunci tubuh Fex, bola cahaya berwarna biru tersebut telah menghilang secepat kilat dan berjalan menelusuri sebuah lorong berwarna ungu yang bernama Great Powers Unite!
Serp! "Ada apa ini?!" Batin Alfarani, yang baru saja merasakan ada sesuatu yang masuk ke dalam tubuhnya secepat kilat, membuatnya bisa merasakan jika hati serta jantungnya secara tiba-tiba membeku!
Jantung membeku! dan artinya ia ...
Bruuk! "Alfa!!" Terdengar suara Rani berteriak sembari menggoncangkan tubuhnya yang terjatuh,