Snouw White's magic

Snouw White's magic
EPS 16# TELAH BERLALU.



"Jangan! Jangan dekati diriku!" tegas pria itu, dengan suara yang serak. Ia menatap lekat-lekat kedua bola mata Alfarani yang berwarna biru kehitam-hitaman.


"AAKHHH!!" Alfarani berteriak keras saat merasakan jari jemarinya lama kelamaan terasa terpotong oleh sesuatu yang panas nan menyakitkan!


"Gunakan kekuatanmu!!" tegas pria itu, yang tak tega namun ia tetap saja tidak bisa melepaskan diri dari rantai yang menjerat tubuhnya.


"Aakhh!! Allahuakbar!!" teriak Alfarani, sambil menutup kedua matanya serta mengernyitkan dahinya,


Terlihat wajahnya yang semakin lama semakin pucat menahan sebuah kekuatan yang terasa menyambar ke seluruh tubuhnya.


"Ya Allah ... Astaghfirullah! Sakit sekali!!" Alfarani terus saja berteriak histeris, saat menyadari kekuatan yang entah dari mana bagaikan mengusik sesuatu di dalam dadanya yang terasa panas.


"AAAKHHH!!" Sebuah kekuatan berwarna ungu berputar mengelilingi tubuh Alfarani, dengan sekejap mata dirinya menghilang tanpa jejak.


BLESH! "Ternyata, dia belum menyadarinya," batin pria itu, seraya menggulung senyuman di bibir tipisnya.


SERP! "Apa yang terjadi?!" Sebuah pertanyaan batin yang terus saja di lontarkan Alfarani setelah bangun dari mimpi-mimpinya yang terasa aneh!


"Ada apa denganku ... sebenarnya, apa yang telah terjadi kepadaku ...? Batinnya seraya melihat sekelilingnya nya dan melihat kearah dua sisinya ada sebuah gorden yang tertutup.


"Apakah, aku di ruang rawat ... Rumah sakit?" Batinnya kembali, seraya melirik tubuhnya yang tak ada lagi alat-alat apapun yang menempel di tubuhnya, hanya ada sebuah infusan di punggung tangan kirinya.


"Teman-temanku .... dan Rani ... Apakah itu mereka?" lirihnya saat mengira jika di kedua sisinya itu adalah teman-teman yang selamat seperti dirinya.


Dengan tubuh lemas, Ia mencabut alat infus itu sembari turun dari ranjang dan berjalan ke arah gorden itu seraya membukanya dengan cepat.


SREK! "Apa ... ini ...?" lirih Alfarani, saat ia melihat ranjang di sebelahnya itu kosong, tidak ada orang sama sekali di sana.


Namun, pandangannya teralihkan ke arah nama di bagian depan ranjang pasien itu, yang bertuliskan ...


Nama: Rani Amelia Sagita.


Penderita: Jantung.


"Penderita jantung?! Lalu ... Dimana dia berada sekarang?!" gumam Alfarani, sambil telapak tangannya menutup mulutnya tatkala terkejut.


"Suster! Pasien yang menempatkan ranjang ini, Rani! Dia, ada di mana? Dia sudah pulang, 'ya?!" Tanya Alfarani, yang berfikir jika Rani telah pulang dan telah kembali sehat.


"Pasien telah ..." Suster wanita yang ingin membersihkan ranjang pasien itu pun menjadi terdiam, ia tidak dapat melanjutkan ucapannya.


"Telah apa ....? Telah pulang, 'kan?!" Tanya Alfarani, dengan wajah bahagia yang bercampur cemas.


"Nona, sebaiknya anda jangan melepaskan alat infusnya, mari ... saya antar kembali ke ranjang." ujar Suster wanita itu,


Sembari mengalihkan topik pembicaraan dan menuntun tubuh Alfarani menuju kasur.


Namun, hal itu membuat Alfarani kesal, "Tidak, Sus! Saya hanya ingin tahu, apakah dia benar-benar sudah pulang dan kembali sehat?!"


Melihat suster wanita itu tetap diam, Alfarani berjalan menuju ke sisi gorden lainnya sembari membukanya.


Srekk! "A-apa ... ini ..." batin Alfarani, saat ia melihat seorang lelaki yang terbaring di sana dengan wajahnya yang telah rusak parah, kepalanya pun hampir pecah, di tambah dengan tangan kirinya yang telah putus.


Dengan setiap kulitnya yang terkelupas berlapis-lapis hingga memperlihatkan daging manusia asli, yang kental dan merah tua.


Bau busuk darah yang menyengat membuat Alfarani ingin sekali muntah di sana, namun dirinya hanya mengerutkan hidung dengan butiran air mata kembali meluncur secara perlahan dari kedua bola matanya.


Glek! " Dia ... kan ... DINO!!" gumamnya yang terkejut dengan terpaku di tempat dan tak percaya melihat penampilan Dino yang sangat menyeramkan.


"NGGAK! YA ALLAH!" teriaknya terus-menerus, dengan dahinya yang ia benturkan berkali-kali ke besi ranjang pasien Dino, hal itu membuat suster tersebut kebingungan.


Butiran air bening terus saja membasahi pipi mulusnya secara perlahan-lahan, hingga hijabnya basah karena tetesan air matanya itu.


'Gelang?' batin Alfarani, saat kedua bola matanya tertuju ke arah sebuah gelang yang di genggam dengan lemah oleh telapak tangan kanan Dino.


Secara refleks, tangannya segera meraih dan menarik secara perlahan gelang tersebut dari genggaman lemah telapak tangannya Dino,


Tanpa merasa jijik sedikitpun, ia mengusap-usapkan gelang tersebut yang telah tertutupi oleh darah kental,


'Gelang ini!' Ia menyatukan kunci yang terdapat di gelang tersebut kepada gelang yang ia kenakan, yang juga terdapat sebuah gembok di sana.


KREK! Gembok itu terbuka lebar menjadi dua bagian, yang satunya memperlihatkan sebuah foto, dan lainnya memperlihatkan sebuah jarum pentul.


Ia mengambil hal itu yang tadi sempat terjatuh setelah di buka, "Jarum pentul?" gumamnya, dengan ingatan akan kejadian jarum pentul itu terulang kembali di dalam ruang memori otaknya.


Flashback On.


"Auww! sakit, Alfarani!" ujar Rani, sembari mendengus kesal kepada Alfarani di depannya yang sedang memasangkan jarum pentul, di bagian leher hijabnya.


"Maaf, aku tak sengaja," jawab Alfarani, saat dirinya tengah kesulitan menusukkan jarum pentul tersebut, dan hal itu membuatnya berkali-kali tanpa sengaja membuat jarum pentul itu mengenai kulit leher Rani.


"Auww! pelan-pelan!" rengek Rani, dengan memelas.


"Iya, maaf ...,"


"Akhh! Alfarani!" bentak Rani tanpa sengaja, saat tusukan jarum pentul itu kini terasa sangat menyakiti lehernya, dari pada sebelumnya.


"Astaghfirullah! lehermu berdarah, Rani!" kejut Alfarani saat melihat di balik hijab pendek Rani yang semula berwarna putih kini terlihat berwarna merah.


"Apa kamu ingin membunuhku?!" gertak Rani, dalam ke adaan tangannya menyentuh lehernya, ia langsung berlari menuju toilet.


"Rani, tunggu!" ujar Alfarani, sembari mengikutinya.


"Ma-maaf kan, aku. Rani ...," ujar Alfarani yang merasa sangat bersalah, saat melihat Rani yang tengah mengobati luka lehernya dari balik kaca depan toilet.


Tatapan tajam Rani mengarah kepadanya dari balik kaca, "Maaf ...," ujar Alfarani lagi, seraya pergi dengan kepala menunduk.


"Alfarani ...!" panggil Rani, yang membuat tubuh Alfarani berhenti di tempat, tanpa menoleh.


"Sudahlah ..., tidak kok! kamu tidak salah, itu adalah kesalahanku yang memaksamu untuk memakaikan hijab ku yang menggunakan jarum pentul, saat dirimu sudah bilang tak bisa memakai jarum pentul," ujar Rani yang memeluk tubuh Alfarani dari belakang.


"Alfa, kalau aku mati lebih dulu dari pada kamu, kamu harus tetap bisa bertahan hidup di dunia yang kejam ini, yah? JANJI?!" ujar Rani kembali, dengan mengulurkan jari kelingkingnya.


"In syaa Allah, JANJI!" jawab Alfarani dengan menjepitkan kedua jari kelingking mereka berdua.


Flashback off.


"Hikss ..., hikss ..., aku BERJANJI!" ujar Alfarani dengan suara serak nan sesenggukan, bulir-bulir air mata kian semakin banyak lolos dengan perlahan-lahan tanpa henti dari pelupuk matanya yang bulat nan indah.


"Bagaimana dengan teman-temanku lainnya?!" lirihnya, yang tak kuasa menahan keseimbangan tubuhnya dan akhirnya terjatuh dengan lemas ....


Brukk!


"Bagaimana dengan teman-temanku lainnya ...?" ulangnya lagi, dengan pandangan yang semakin lama semakin pudar.