Snouw White's magic

Snouw White's magic
EPS 14# KEJADIAN TAK TERDUGA!



"Hahh! Apa yang sebenarnya terjadi?!" Teriak Alfarani, saat kembali tersadar dan dirinya tengah berada di dalam kamar miliknya sendiri.


"Mengapa, beberapa hari ini mimpiku selalu aneh?" Batinnya seraya menoleh kearah kalender yang tergantung di sisi pintu kamarnya.


"APA!!" Kejutnya tak percaya, saat melihat angka yang di lingkarkan spidol berwarna merah menunjukkan tanggal 7 Mei 2017.


Sedangkan, hari di mana ia bersekolah setelah kejadian hujan es itu adalah tanggal 7 Januari 2017.


"Apakah aku tertidur selama lima bulan?!" Lirihnya tak percaya, seraya melihat ke arah jam dinding yang telah menunjukkan pukul 06.00 WIB.


"Astaghfirullah! aku lupa sholat subuh!" Gumamnya kembali, seraya dengan cepat melakukan aktivitas paginya setelah melaksanakan sholat subuh yang telah lewat dari waktunya.


"Nak!" Ujar sang Ibu, dengan wajah cemas. beliau menghampiri Alfarani yang baru saja keluar dari kamarnya.


"Ada apa, Ibu?" Tanya Alfarani, keheranan melihat ekspresi Ibunya tersebut yang terlihat sangat khawatir.


"Nak, kamu baik-baik saja, 'Kan?" Tanya sang Ibu, sembari mengecup berkali-kali dahi serta pucuk kepala Alfarani yang tak berbalut hijab.


"Iya, Bu. Alfarani, tidak apa-apa ..." Ujar Alfarani, seraya tersenyum kepada ibunya.


"Memangnya, apa yang telah terjadi kepadaku, Bu?" Tanyanya kembali,


"Lima bulan lalu kamu pingsan di sekolah, Nak. Dan teman-temanmu yang mengantarmu pulang," Ujar sang Ibu.


"Aku pingsan selama lima bulan?" Batin Alfarani, ia pun terdiam. "Dan mimpi itu? Apakah mimpi itu nyata?" Batinnya kembali.


"Alfarani, sudah baik-baik saja, Bu. Kalau begitu, Alfa berangkat ke sekolah dulu, 'ya?" Ujarnya seraya mencium punggung tangan sang ibu.


"Iya, Nak. tapi, kamu makan ini dulu dan bawa bekal ini juga." Ujar sang Ibu, seraya memberikan sebuah dua roti kepada Alfarani serta sebuah tempat makan.


"Iya, Bu. Aku berangkat. Assalamualaikum." Ujar Alfarani, seraya mengendarai motor matic meninggalkan pekarangan rumah.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, Ya Allah, lindungilah anakku di mana pun ia berada .." Lirih sang Ibu yang melihat anaknya pergi.


"Alfa!!" Teriak Rani, yang langsung berlari memeluk tubuh Alfarani yang baru saja turun dari motor.


"Ada apa?"


"Kamu, tidak kenapa-kenapa, 'kan?!" Tanya Rani, sembari mengecek tubuh Alfarani.


"Iya, Aku baik-baik saja."


"Alhamdulillah ..." Ujar Rani dengan lega.


"Jangan pingsan seperti itu lagi! Aku tidak mau melihatmu terluka!" Ujarnya khawatir.


Alfarani menggulung senyuman saat melihat ke panikan sahabatnya itu.


"In syaa Allah, Aku tidak akan mengulanginya." Ujarnya seraya menggandeng tangan Rani menuju kelas.


"Dia baik-baik saja, 'Kan?!" Batin Gabriel, saat melihat Alfarani baru saja memasuki kelas.


Niat hati ingin mendekati Alfarani, namun itu semua terhalang karena bell telah berbunyi dan Bu guru Ani yang sudah dalam perjalanan menuju kelas delapan E.


"Selamat pagi, semua."


"Pagi, Bu."


Hari ini, Bu Ani tidak melihat perbedaan di antara semua muridnya, termaksud kepada Alfarani yang ia lihat sudah tidak memakai masker dan terlihat pula wajah cantik dan bersinarnya.


"Wajahku? Bukankah, aku memakai masker?" Batin Alfarani, seraya menyentuh masker hitam yang memang telah terpasang di balik wajahnya.


"Aku memakai masker, mengapa Bu Ani bilang wajahku cantik? Bukankah, beliau belum melihat wajahku sebelumnya?" Batinnya kembali, keheranan.


Di saat mereka sedang sibuk mengerjakan soal yang di berikan Bu Ani, seorang siswa di dalam kelas delapan E tiba-tiba berteriak, "Gempa!!"


"Hahh! Gempa?!" Batin Alfarani, seraya terdiam untuk mencari tahu kebenarannya.


Dan ternyata benar! apa yang di katakan siswa itu, saat ini gempa yang memiliki magnitudo 7,4 yang sedang melanda wilayah Y, kota yang saat ini mereka tinggali.


"Kepada para siswa-siswi harap keluar dari kelasnya masing-masing sekarang!" Ujar seseorang lewat mic.


Semua guru mulai memberikan arahan kepada muridnya agar segera keluar dari ruangan kelas dan memastikannya agar tidak ada yang tertinggal.


"Gue takut! gue gak mau keluar!" Lirih Gabriel, dengan bersembunyi di bawah meja miliknya. Alfarani yang mendengar suara itu pun segera menoleh saat dirinya ingin keluar.


"Ada apa denganmu?! Kita harus keluar sekarang!" Tegas Alfarani, seraya berjongkok di depan meja Gabriel.


"Nggak! Gue takut! Gue punya trauma masa kecil!" Lirih Gabriel, dengan tubuh bergetar ketakutan ia memejamkan matanya.


"Lawan trauma mu itu! kita harus segera keluar!!" Tegas Alfarani, dengan tangannya yang terhenti saat niat hati ingin menarik Gabriel keluar dari sana.


"Nak! Ayuk, cepat! Kita keluar!" Ujar Bu Ani, seraya menarik tangan Alfarani menuju pintu kelas tanpa ia menyadari jika masih ada Gabriel di bawah meja itu.


"Bu! Masih ada satu siswa yang belum keluar!" Ujar Alfarani, saat tangannya terus di tarik oleh Bu Ani.


"Siapa?" Tanya Bu Ani dengan tubuhnya yang hampir terjatuh akibat tanah yang bergoyang-goyang tiada hentinya.


"Awas, Bu!" Teriak Alfarani, seraya mendorong tubuh Bu Ani untuk keluar dari kelas saat melihat tembok di bagian atas pintu itu retak dan retakan itu berjalan cepat mengelilingi tembok kelas delapan E.


BRUUKGH!


"Uhukk ... Uhuukk ..."


Debu bertebaran di mana-mana setelah tembok kelas delapan E telah roboh, dan hanya tersisa reruntuhan tembok yang tertumpuk di atas tanah kelas delapan E.


"Alfa!!" Teriak Rani, dengan butiran air mata telah membasahi pipinya saat melihat bangunan ruang kelasnya itu roboh dan ia tau jika Alfarani belum keluar dari sana.


Bu Ani yang telah berhasil menjauh dari reruntuhan itu pun hanya mengalami luka kecil di tubuhnya.


"Gabriel!!" Ujar Dino dan Indra saat menyadari Gabriel tidak ada di sisi mereka berdua.


"Hikss ... Hikss.. Alfa!!" Jerit Rani, seraya berlari menuju reruntuhan kelasnya itu, dalam ke adaan gempa yang belum berhenti.


"Rani, jangan!!" Teriak Dino, seraya menarik tangan Rani agar menjauh dari bangunan sekolahnya itu yang terlihat telah retak dan bergoyang. "Kita harus mencari tempat berlindung terlebih dahulu!"


"Tapi, Alfarani! Sahabatku, masih ada di dalam sana ...!!" Ujar Rani, dengan wajahnya memerah karena menangis tanpa henti.


"Kita harus pergi dari sini, SEKARANG!" Teriak seseorang dengan suaranya yang sangat kencang saat melihat bangunan sekolah SMPN 2 Rayakarta,


Semuanya ingin roboh ke arah mereka yang berada di tengah-tengah lapangan.


Mereka semua berlari berbondong-bondong menuju gerbang sekolah, namun kecelakaan tak dapat di pungkiri ...


BRUUKGH!!