
Bongkahan es itu bagaikan terbentuk sendiri menjadi sebuah kursi megah nan mewah saat dirinya mengetahui sang putri ingin terduduk.
Dari kegelapan, terlihat sesuatu yang memancarkan Kilauan cahaya dari tubuhnya sembari berjalan mendekati Alfarani.
"Siapa itu!" Tegas Alfarani ketakutan, saat melihat Kilauan cahaya itu semakin lama semakin cepat mendekatinya.
"Ini aku ... Alfarani ..." lirih seseorang itu, dengan suaranya yang sangat familiar di pendengarannya.
"Kiana?!" tanya Alfarani, untuk memastikan jika dirinya tak salah mendengarnya.
Sreph! "Lihatlah! Apakah aku terlihat seperti Kiana!" Kilauan cahaya itu melesat cepat mendekati Alfarani dan kini mereka berhadapan satu sama lain.
"Astaghfirullah! Anda siapa?!" tegas Alfarani, dengan jantung berdetak kencang saat melihat dengan jelas wujud asli sesuatu di depannya itu.
Di depannya, berdirilah seorang nenek-nenek tua dengan kerutan yang nampak jelas di wajah tuanya yang lembek nan lonjong ke bawah.
Dengan tongkat aneh yang ujung atasnya terlihat lancip nan tajam lalu hal itu di genggam oleh salah satu tangannya,
Nenek tua itu memberikan satu buah apel berwarna merah tua kepada Alfarani dengan senyuman ramahnya, layaknya seperti di dalam dongeng putri salju.
Alfarani yang keheranan pun mengambil buah apel itu tanpa rasa curiga dan langsung memakannya. Namun, ia tidak jatuh pingsan layaknya putri salju dalam dongeng tersebut.
"Sepertinya ... Hal itu! tidak akan mudah untuk di dapatkan dari putri salju berhijab syar'i seperti dirimu!" teriak nenek tua itu, seraya menusuk perut Alfarani dengan tongkat yang ada di tangannya.
"Aakhh!!" Alfarani berteriak dengan sangat keras hingga membuat tubuh Kiana yang memeluknya itu pun terbangun dengan melompat cukup jauh dari tempat aslinya.
BRUKK!
"Auww!" Kiana akhirnya membuka sedikit kedua pelupuk matanya saat tubuhnya terpental ke sesuatu yang keras di bawahnya.
"Apa yang aku tumpuk ...?" gumamnya setengah sadar, sembari melirik sesuatu di bawahnya.
"Apa ... Ini ...?" lirihnya dengan pandangan yang masih sedikit buram, ia pun mengucek matanya.
"Ki ... Kiana ..." lirih seseorang di bawahnya yang terdengar merintih kesakitan.
"Astaghfirullah!" kejut Kiana tanpa sadar, ternyata dirinya berada di atas tubuh Rendra yang terbaring di depan tenda miliknya.
Ia pun secara refleks langsung berdiri dan melirik sekelilingnya, teman-temannya melihat dengan melotot tak percaya kepadanya.
GLEK!
"Tu-tubuhku bersentuhan dengan ... tubuh ..., nya?" batin Rendra yang terkejut bak patung.
"Cepatlah Bangun!" ujar Kiana pelan, yang merasa aneh dengan tatapan teman-temannya kepada mereka berdua.
Rendra tak menggubris ucapan Kiana, ia hanya bisa terdiam bak patung dengan mata tak berkedip.
"AKHHH!! TIDAK! MENJAUHLAH DARIKU!!" Secara tiba-tiba, terdengar suara teriakan Alfarani dari dalam tenda yang membuat Kiana khawatir.
"Apa yang terjadi padanya?!" gumam Kiana, seraya berjalan masuk kembali ke dalam tenda sembari menepuk-nepuk pelan pipi Alfarani.
PUKK ...
PUKK ...
"Alfarani ... bangunlah ..." ujar Kiana lembut, dengan mengernyitkan dahinya saat menyentuh dahi Alfarani yang terasa sangat panas.
"Panas!" batin Kiana cemas, seraya mencari obat pereda demam di dalam tas miliknya.
"Ren ... lu, tidak apa-apa?" tanya temannya, yang mendekati tubuh Rendra yang masih terbaring.
"Pinggang ... pinggang gue encok!!" lirih Rendra seraya berusaha untuk berdiri dalam ke adaan tubuh membungkuk sembari tangannya memegang kedua pinggang.
"Hahaha!! Lu, grogi hanya karena Kiana?!" teriak temannya itu tanpa sedikitpun memelankan suaranya hingga membuat Kiana yang berada di dalam pun dapat mendengarnya.
"Isshh! Diam, Lu!!" tegas Rendra, seraya berjalan dengan tertatih-tatih menggunakan tongkat kayu yang ia temukan di tanah menuju tenda miliknya.
"Wih! Rendra, si kakek tua sedang marah!" ledek temannya itu, seraya berlari menjauh darinya.
Setelah mendengarnya, Rendra tanpa basa-basi langsung mengejar temannya itu sembari terus memukulinya dengan tongkat, layaknya seorang kakek-kakek tua yang sedang memukuli cucunya.
"Cucu yang tak berakhlak!" tegas Rendra, dengan terus memukulinya yang kembali berlari mengelilingi pohon.
"Alfarani ... minumlah obat ini ..." ujar Kiana lembut, seraya menggoncangkan pelan dengan tubuh Alfarani yang terlihat bercucuran keringat dingin.
"TIDAK!! JANGAN!!" teriak Alfarani, lagi dan lagi yang membuat Kiana hampir saja kembali meloncat kaget.