
"Dinda!" teriak wanita ber tahi lalat itu, saat melihatnya, langsung di sergap oleh pria ber tato kalajengking tersebut.
"Berikan wanita itu kepada kami!" tegas pria bertato kalajengking tersebut, yang membuat Gabriel dengan berani dan tanpa basa-basi langsung melayangkan tinju ke arahnya.
Hal itu, membuat pria bertato kalajengking tersebut langsung menghempaskan tubuh Dinda ke arah depan, dengan dirinya yang menangkis semua pukulan Gabriel yang datang bertubi-tubi tanpa henti.
Melihat Gabriel yang menyerang sendirian, semua lelaki yang berada di dalam rombongan itu kecuali Vino, langsung ikut serta membantunya dengan menyerang manusia berbadan besar lainnya.
Namun, semua manusia berbadan besar itu, hanya berdiam diri tanpa melawan ataupun menangkis pukulan-pukulan mereka yang tak terasa sedikitpun.
Tubuh Dinda berputar-putar tanpa henti saat di hempaskan oleh pria bertato kalajengking tersebut.
Saat tengah serius berkelahi, Gabriel melihatnya, dan langsung menarik telapak tangannya sehingga tubuhnya berhenti berputar dan tertarik ke dalam ke dekapannya.
GLEK! 'Gabriel?' batin Dinda, terbelalak kaget melihat wajah tampan Gabriel yang sangat dekat dengan kedua bola matanya,
'Tampan sekali ..,' batin Dinda lagi, saat melihat wajah Gabriel yang mengarah ke depan dari samping.
"Pegangan!" tegas Gabriel, dengan gerakan cepat ia langsung menggendong tubuh Dinda, seraya mengarahkan kedua kaki jenjang wanita itu kepada kepala botaknya si pria bertato kalajengking itu.
BUGH! 'Hah?! tak bekerja?!' batin Gabriel tak percaya, saat melihat pria bertato kalajengking itu terdiam di tempat dan tak sedikitpun mundur ataupun terjungkal ke belakang.
"Bukankah, kekuatan dari kedua kaki jenjang nan montok wanita ini sangat keras dan kencang?" gumam Gabriel, hal itu membuat kedua pipi Dinda merona merah. Karena dirinya memakai celana jens yang Ketat dan di atas lutut, tentu sangat jelas terbentuk.
"Bawa mereka semua! tanpa tersisa!" tegas pria bertato kalajengking tersebut, dengan mengganti rencana yang sesungguhnya, setelah merasa marah dengan mereka yang berani melawan.
DOR! Pria tersebut melayangkan pelatuk pistolnya ke atas langit, hingga mengeluarkan suara yang sangat keras dan membuat perkelahian tiada arti itu terhenti.
Setelah mendengar perintah dari sang pemimpin mereka, semua manusia berbadan besar nan berwajah sangar itu yang berjumlah 6 orang.
Langsung menembakkan satu persatu rombongan pendaki itu dengan pistol berisi panah bius.
Mereka tak bisa mengelak ataupun menghindar, karena tembakan itu secara cepat, tanpa di sadari sudah tertancap dengan sempurna mengenai bahu serta tangan mereka.
Tubuh Vino yang sedang menggendong tubuh Alfarani itu pun terkena panah bius, dan berhasil membuat tubuhnya lemas dengan kedua pelupuk matanya secara perlahan tertutup.
"Alfarani!" kejut Gabriel, saat melihat tangan Vino yang telah terlepas dari tubuh Alfarani, ia segera berlari kencang menghampirinya.
SEPP! Tubuhnya telah tertancap panah bisu kecil yang mengenai bahunya, tubuhnya pun seketika terasa lemas namun ia masih berlari pelan mendekati tubuh Alfarani yang ingin terjatuh.
BRUK! Kedua tubuh manusia itu, terjatuh secara bersamaan di tempat yang sama, dengan tubuh Gabriel yang di tumpuk oleh tubuh Alfarani.
'Syukurlah, dia .., tidak terluka ...,' batin Gabriel, di tengah kesadarannya, dan kini matanya telah tertutup.
Selang beberapa menit, dengan merasakan ada sesuatu yang kasar nan tajam, yang mengenai wajah serta seluruh tubuhnya. Gabriel secara perlahan mulai sadar dan perlahan membuka pelupuk matanya.
"Tempat ..., apa ini?" gumamnya pelan, Dinda yang sedang terduduk ketakutan menoleh ke arahnya.
"Apa yang terjadi?" tanya Gabriel, kini tubuhnya sudah tak terasa lemas. Namun, ada sesuatu yang mengikat kedua kaki serta kedua tangannya yang berada di belakang punggung.
"Lihatlah sekeliling kita!" bisik Dinda, dengan tubuhnya yang meringkuk ketakutan.
Gabriel mengedarkan pandangannya ke sekeliling dengan susah payah, karena postur tubuhnya yang tengkurap itu membuatnya kesulitan untuk menoleh.
"Tempat jelek macam apa ini?" ujar Gabriel, saat melihat sekelilingnya terdapat jeruji besi yang sangat besar nan tinggi, dengan besi itu di kelilingi sesuatu yang terlihat kecil dan bergerak-gerak tiada henti.
Setelah mendengar apa yang di lontarkan nya, tak ada yang berani menjawab. "Hewan aneh macam apa itu?" tanya Gabriel, hanya dirinyalah yang berani bersuara.
"Hey! ada apa dengan kalian?!" gertaknya kesal, saat melihat teman-temannya yang sedang terduduk seperti Dinda itu terdiam tanpa bersuara.
CRIT!
CRIT! Terdengar suara hewan berkerumun, yang entah apa. Mulai mendekati tubuh Gabriel yang masih tengkurap.
"Su-suara apa itu?!" kejutnya, saat melihat sesuatu kecil yang tadinya berjalan-jalan di antara jeruji-jeruji besi, sekarang menghampiri dirinya.
SREK! "AKKH!" teriak Gabriel, saat hewan-hewan kecil itu menggigit-gigit kedua kakinya dengan sangat kasar sehingga membuat celana panjang yang ia kenakan itu robek, dengan bolongan sekecil biji jagung.
Gabriel terus meronta-ronta, dengan kakinya yang ia tendang kan berkali-kali ke arah para hewan itu.
Karena jumlah hewan kecil itu yang sangat banyak, membuat mereka dengan cepat menghabiskan celana panjang Gabriel hingga ke lutut.
"Aakhh! dasar hewan-hewan menjijikkan!" teriak Gabriel, kini ia tak bisa berhenti berteriak saat para hewan itu terus saja menggigit-gigit kulit betisnya yang kini sudah tak berbalut kain.
"Cobalah, untuk diam!" bisik Dinda, yang tak tega.
Setelah mendengarnya, Gabriel dengan segera menutup rapat-rapat mulutnya dan tubuhnya yang sebelumnya meronta-ronta menjadi patung.
Selang beberapa lama, setelah Gabriel terdiam. Para hewan itu pun akhirnya kembali berjalan ke arah jeruji besi besar itu.
"Hufhh ...," Ia menghembuskan nafas dengan lega.
"Terima kasih," bisik Gabriel kepada Dinda di sebelahnya, yang membuat hati Dinda berbunga-bunga saat melihat Gabriel tersenyum ke arahnya.
Gabriel kini terdiam, ia teringat sesuatu yang ketinggalan, "Alfarani!" gumamnya.
"Dimana, Alfarani?!" tanyanya dengan suara pelan kepada Dinda, membuat hati Dinda yang semulanya berbunga-bunga kini bagaikan menjadi turun hujan.
"Entahlah ..., kami pun setelah sadar, tidak melihatnya di sini ...," ujar Vino pelan nan lesu, yang berada tak jauh dari Dinda serta Gabriel.
'Dimana dia ...?' batin Gabriel khawatir.