Snouw White's magic

Snouw White's magic
EPS 29# BINTANG KECIL.



"Majikan baru?" batin Doc yang sedang menelaah perkataan pria bertato kalajengking tersebut.


Suara Mobil Offroad memecahkan keheningan hutan dengan mentari yang semakin lama menutupi dirinya dengan awan gelap yang membendung air.


"Grumpy ... lihatlah di atas!" ujar Doc dengan telunjuknya mengarah ke atas di tambah matanya yang berbinar melihat ke atas langit.


Grumpy yang sedang terduduk bersila sembari melipatkan kedua tangan di dada itu, menoleh ke arah yang di tunjukkan Doc.


Terlihat sebuah guntur petir yang menyambar dengan keras dan cepat memancarkan sinar putih bergaris tak teratur di tambah dengan langit siang yang tadinya cerah seketika gelap gulita.


Kedua mata Grumpy berkaca-kaca serta mulutnya yang menganga dengan senyuman kecil terukir di sana, saat pertama kali melihat sebuah keajaiban yang aneh,


Namun, indah. Karena pancaran sinar putih itu juga menggambarkan gugusan-gugusan bintang yang berjatuhan ke suatu tempat secara bersamaan.


HUARKH! "Suaranya ... sama seperti tuan singa Toxia yang tengah marah!" gumam Doc, saat teringat hewan peliharaan tuan putri salju,


Singa Toxia adalah singa bersayap dengan warna bulunya putih bersih nan berkilau yang selalu memancarkan sinar berwarna ungu di saat tuan putri menaikinya, Namun ada suatu ketika dirinya marah.


Di saat tuan putri putri salju, Jia Li menghilang, singa Toxia meraung dengan sangat kencang, menggema ke seluruh sudut kerajaan setiap pagi-sore tanpa henti dan menyerang siapa saja yang mendekatinya.


Sehingga membuat kaisar Linxie , pemimpin di kerajaan Li. menyuruh semua pasukan serta jenderal terbaiknya untuk mengurung Singa Toxia di dalam sebuah penjara bawah tanah khusus.


Hingga kini, penjara bawah tanah itu masih menjadi tempat yang misterius. Tak ada siapapun yang berani memasuki termaksud kaisar Linxie sendiri.


Di tempat camping, lebih tepatnya di perkumpulan Gabriel serta Teman-temannya.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Gabriel kepada salah satu mahasiswi yang mengambil jurusan kedokteran.


Mahasiswi itu sedang memeriksa jantung Alfarani yang terdengar lemah menggunakan sebuah alat.


"Jantungnya sangat lemah! kasih dia selimut berlapis-lapis sampai hangat!" ujar mahasiswi itu.


Setelah mendengarkannya, Gabriel langsung berlari menuju tendanya seraya mengambil beberapa selimut yang ia punya untuk di ulurkan ke tubuh Alfarani.


Rintikan alunan hujan secara perlahan menyirami bumi dengan di sertai suara petir bergemuruh yang tiba-tiba datang tanpa kabar.


"Mengapa dia sangat khawatir dengan gadis itu?! yang entah datang dari mana asalnya ...." gumam Dinda yang sedang terduduk di dalam tendanya,


Sembari melihat Gabriel di depannya yang berlari ke sana kemari dengan bajunya yang telah basah kuyup.


"Air ..." terdengar suara lirih yang keluar dari kedua bibir ranum Alfarani yang terlihat pucat saat mereka telah berada di dalam tenda.


Gabriel yang selalu berada di sampingnya itu, langsung menuangkan segelas air putih ke dalam gelas di sebelahnya lalu membantu Alfarani yang masih tidak sadarkan diri untuk minum.


Secara perlahan ia segera menuangkan sedikit demi sedikit air minum tersebut ke dalam mulut Alfarani yang terbuka sedikit.


"Berikan dia minum yang cukup! itu dapat membuat obat bius yang ada di dalam tubuhnya semakin lama semakin menghilang seiring berjalannya waktu," ujar mahasiswi tersebut, yang di iyakan oleh Gabriel.


"Pertama kali gue melihat Gabriel sangat perhatian kepada seorang wanita ..." batin mahasiswi itu yang tersenyum melihat Gabriel yang sangat khawatir.


"Gabriel ...," panggilnya.


Gabriel tak menyahutnya sama sekali, karena dirinya sedang sibuk memberikan Alfarani minum.


"Din, Lo mau kemana?" tanya mahasiswi itu saat melihat Dinda berjalan ke arah belakang tenda di saat ucapannya tak di jawab.


"Apa yang dia lakukan sekarang?!" batin mahasiswi itu kembali saat melihat tenda yang di duduki oleh dirinya serta Gabriel dan wanita tersebut bergoyang-goyang.


Ia segera keluar dari tenda dengan jas hujan pula, seraya menghampiri Dinda di belakang tenda yang terlihat sedang berusaha merobohkan tenda tersebut.


"Apa yang lo lakukan, Dinda!" teriak mahasiswi itu terkejut melihat Dinda menarik dengan keras kayu yang terselip di tanah sebagai penahan tali tenda.


BRUKH! Dan akhirnya ... tenda pun roboh dengan Gabriel serta Alfarani yang masih berada di dalamnya.


"Astaga!" kejut semua orang bersamaan yang sedang duduk di dalam tenda mereka masing-masing, dan pandangan mereka yang tertuju ke arah tenda roboh tersebut.


Selang beberapa menit, barulah ada pergerakan dari kain bagian atas tenda dan terlihat ada seseorang yang keluar dari sana.


Gabriel menggendong tubuh Alfarani yang masih pingsan di dekapannya, dengan menatap tajam penuh kebencian ke arah Dinda.


Dinda yang di tatap dengan tatapan itu pun hanya bisa diam seribu bahasa dengan tubuhnya yang mematung.


"Dingin ..." lirih Alfarani yang sangat jelas terdengar oleh kedua telinga Gabriel, ia pun segera memeluknya erat seraya berlari ke arah tenda miliknya.


Alfarani merasakan kedinginan karena selimut tebal yang berlapis-lapis yang sebelumnya menempel di tubuhnya, masih berada di dalam tenda yang roboh tersebut karena Gabriel yang kesulitan mengambilnya.


Kini, baju yang di kenakan Alfarani telah basah kuyup hingga membuat tubuh sang empu terasa dingin sedingin es.


Gabriel yang melihat bibir pucatnya yang bergemerutuk, hanya bisa terdiam sembari menyelimuti tubuh Alfarani dengan jaket miliknya di dalam tenda.


"Dia ... harus mengganti pakaian basahnya!" batin Gabriel yang bingung, dengan tetap berusaha menjaga matanya yang mulai lihai melihat lekukan tubuh Alfarani yang terbentuk sangat indah.


"Jangan Gabriel! jangan di lihat!" batinnya yang terus saja memalingkan pandangannya dari melihat hal itu.


DUARK! Kali ini, terdengar langit menjerit dengan sangat keras tanpa henti, mahasiswi dan Dinda yang sebelumnya berada di luar tenda itupun segara masuk ke tenda mereka masing-masing.


Waktu seakan telah berhenti, semua makhluk di bumi mematung dari aktivitas yang tengah mereka lakukan.


Dengan beribu-ribu bintang kecil berkilau yang meluncur dengan sangat cepat, secepat kilat melewati beberapa tenda dan akhirnya mereka menemukan tujuan mereka bersama.


Seraya melesat masuk ke dalam sebuah tubuh seorang wanita yang sedang tidak sadarkan diri di dalam tenda,


SREP! tubuh Alfarani seketika itu, terangkat ke atas dengan melayang hampir mengenai atap tenda di tambah dengan pakaiannya yang semula basah kini menjadi kering dalam sekejap.


Bintang-bintang kecil itu setelah keluar kembali, langsung tertawa riya' mengelilingi tubuh Alfarani seraya menurunkan tubuh Alfarani secara perlahan ke atas tanah, "Putri salju telah kembali!" itu yang mereka ucapkan bersama-sama.