Snouw White's magic

Snouw White's magic
EPS 12# ANEH!



Alfarani yang masih dalam ke adaan bingung, tanpa sengaja tatapannya menangkap sesosok wanita berbaju putih dan berambut panjang sekaki yang sedang terdiam membelakangi dirinya serta menghadap pojok tembok ruang UKS.


"Dia ... siapa?" Batin Alfarani, seraya turun dari ranjang pasien lalu berjalan perlahan mendekati sesosok itu yang terlihat pula ikut menjadi patung.


Telapak tangan Alfarani menyentuh bahunya yang berlumuran darah dan secara tiba-tiba ada sebuah cairan merah yang keluar dan memuncratkannya kearah wajahnya yang berbalut masker.


Cratt! Dan pastinya kedua bola Alfarani pun berkedip saat menerima muncratan darah tersebut.


Sherp! Saat baru saja Alfarani membuka kedua pelupuk matanya, pertama yang ia lihat adalah sebuah kepala putus mengarah ke arahnya dari sosok wanita di depannya yang tubuhnya masih membelakangi dirinya.


Dengan wajahnya yang berlumuran darah, mata merah padamnya yang melotot sempurna kearah Alfarani hingga salah satu bola matanya tergantung keluar dari tempatnya.


Terlihat senyuman dari bibir lebar nan robek sosok itu yang sangat lebar melebihi kedua pipinya hingga membuat telinganya putus.


"Hihihi!!" Suaranya yang melengking nan keras memenuhi sudut ruangan dan hal itu dapat membuat telinga Alfarani terasa hampir ingin meledak!


"Aakhh!!" Alfarani berteriak keras sembari telapak tangannya menempel di kedua telinganya.


BRAK! Seperti ada sebuah angin kencang yang berhembus mengenai sesosok itu membuat dirinya tak kuasa menahan tubuh dan akhirnya terhempas ke suatu tempat dengan cepat.


"Kamu, kenapa Alfarani?!" Ujar seorang guru di sana yang telah kembali normal seperti semula.


Haah! Hahh! "Kemana dia pergi?!" Lirih Alfarani, dengan mencari sesosok itu yang telah menghilang dari pandangannya.


"Siapa, Nak?" Tanya Bu Resti, saat melihat wajah Alfarani yang cemas.


"Hmm ... tidak ... mereka pastinya tidak akan percaya ..." Batin Alfarani, yang terdiam.


"Apakah hari ini semua murid kembali pulang ke rumahnya masing-masing?" Tanya Alfarani, yang mencoba mencari topik baru.


"Iya, Nak. sekolah akan ada perbaikan, dan ada kemungkinan kalian akan libur selama dua minggu hingga sekolah ini kembali bisa di pergunakan kembali." jelas Bu Resti.


"Saya sudah baik-baik saja. Saya pamit dulu, Bu. Assalamualaikum." Ujar Alfarani, saat melihat Bu Resti ingin menghentikan langkah mereka.


"Baiklah, Nak. hati-hati di jalan. Wa'alaikumussalam." Ujar semua guru di sana kepada mereka.


"Ada apa, Ran?" Tanya Alfarani, saat melihat Rani terburu-buru menggandeng tangannya menuju parkiran motor.


"Fa, Jujurlah! Apa yang sebenarnya terjadi kepadamu sebelumnya?" Tanya Rani, yang masih khawatir dengan ke adaan sahabatnya itu.


"Aku, tidak apa-apa."


"Bohong! Dan sekarang, kenapa tanganmu dingin, sedingin es batu?" Tanya Rani, setelah memegang tangan Alfarani yang memang terasa sangat dingin. bagaikan, dirinya sedang memegang es batu tanpa memakai kain.


"Tanganku?" Batin Alfarani, sembari menyatukan kedua telapak tangannya.


Srepp! "Ada apa ini?" Batinnya, saat tangannya terasa seperti tersengat listrik setelah di satu kan.


"Tempat apa ini?" Batinnya kembali, keheranan melihat sekelilingnya yang berubah drastis, dengan Rani yang telah hilang pula dari hadapannya.


"Hahh! Mengapa aku selalu berada di tempat yang sangat aneh seperti ini?!"


"Dan sekarang ... mengapa tiba-tiba aku berada di atas kuda?!"


"Aku 'kan tidak tau caranya menunggangi kuda, dan mengapa ada sebuah alat panahan di tanganku?!"


Kuda putih bersih nan berambut indah yang ia tunggangi sangat serasi dengan dirinya yang cantik jelita di tambah dengan dress biru muda berkilau yang ia kenakan, layaknya seorang ratu.


Bruuk! Karena dirinya yang tak bisa mengendalikan kuda tersebut, akhirnya kuda putih itu terjatuh dengan dirinya yang berguling-guling di atas rerumputan hijau yang sangat indah.