Snouw White's magic

Snouw White's magic
EPS 18# SESUATU!



"Tidak ... Aku melihat sesuatu di sana ..." Lirih Alfarani, yang terlihat bengong dengan pandangan lurus ke depan.


"Alfa!" Ujar Kiana, yang ingin mengikuti Alfarani namun hal itu di cegah oleh Rendra.


"Jangan ...!" Peringatan Rendra dengan telapak tangannya menggenggam tangan Kiana.


"Wah!! Indah sekali pemandangan di atas sini! Rendra! Ke marilah!" Teriak teman-temannya yang telah berada di jembatan berselimut awan itu.


Kiana menatap Rendra sembari mengangguk dan berkata, "Kita periksa! apakah di sana tidak berbahaya ..."


"Hmm ... Baiklah," Jawab Rendra, seraya berjalan secara perlahan menuju jembatan berselimut awan itu.


"Wah!! OMG!! Bagus banget!" Jerit Kiana histeris saat melihat pemandangan di balik awan itu sangat lah indah.


Namun, karena awan yang terus saja menyelimuti mereka, mereka harus berhati-hati untuk melangkah.


"Indah sekali! Tidak sia-sia kita mendaki gunung kartawara!" Ujar temannya Rendra, yang bernama Niko.


Senter hp adalah satu-satunya penerang jalan mereka menuju ujung jembatan kaca itu, yang bawahnya terdapat kaca tembus pandang dan terlihat tanah berselimut salju.


Bagaikan mereka tidak berada di atas jembatan yang bawahnya jurang gelap, melainkan sebuah tanah bersalju yang jaraknya hanya sejengkal dengan jembatan.


"Indah sekali ..." Lirih Alfarani, dengan mata berkaca-kaca melihat pemandangan di atas jembatan,


Terlihat dari balik jejeran bukit-bukit, sang mentari memberi salam kepada mereka dengan Suryanya yang amat menyilaukan mata memandang.


"Maa syaa Allah ... Indah sekali ciptaan mu, Ya Allah ..." Lirih Alfarani, yang terpana melihat keindahan alam Indonesia.


Walau awan menutupi sedikit demi sedikit pandangan mereka, namun dengan kamera hp khusus nan canggih, itu semua bisa terlihat dengan jelas.


"Indah sekali, 'yah?" Tanya Kiana, yang berada di sebelahnya sembari memandang dari samping wajah cantik Alfarani yang terlihat alami.


"Iyah! Aku tidak ingin melupakan kenangan terindah ini ..." Lirih Alfarani, dengan pandangannya terus menatap lurus ke depan dengan mata berbinar.


"Dia ... sangat cantik!" Batin Kiana, yang terpana melihat wajah cantik Alfarani.


"Akkh!" Rintih Alfarani, saat merasakan ada sesuatu yang tiba-tiba masuk ke dalam mata kirinya yang membuatnya memejamkan mata.


"Ada apa?! Coba, sini! Aku lihat!" Ujar Kiana, seraya menangkup kedua pipi chubby Alfarani sembari meniupkan mata kirinya.


"Apakah sudah tidak ada yang terasa mengganjal di matamu?" Tanya Kiana, setelah melihat Alfarani membuka matanya yang mengeluarkan setetes air bening.


"Iya, sudah tidak apa-apa." Ujar Alfarani,


TESS ...


Di saat air mata itu menetes mengenai jembatan kaca itu, seketika di dalam ingatannya muncul sesuatu yang menyeramkan.


"Haahh!!" Kejutnya tak percaya, saat melihat sesuatu yang tiba-tiba muncul di depannya.


"Kamu, kenapa, Alfa?!" Tanya Kiana, yang merasa khawatir.


"Haah! Hahh! Apa itu tadi?" Gumam Alfarani dengan nafas memburu, ia menoleh ke arah Kiana di sampingnya.


"Ada apa?" Tanya Kiana kembali.


Di lain tempat, lebih tepatnya di pegunungan Gracia yang bersebelahan dengan gunung Kartawara. terlihat rombongan orang-orang pendaki yang sedang beristirahat setelah perjalanan.


"Haahh! Lelah sekali!" Ngeluh seorang lelaki berjaket tebal nan berwajah tampan sedang terduduk lemas di atas batang pohon yang telah tumbang.


"Woy! Gabriel! Ngopi sini!" Teriak Indra, sahabat SMP satu-satunya setelah Dino tiada.


"Yoi! Ngopi-ngopi bro!" Ujar Gabriel yang sedang berjalan menuju pos persediaan makanan, sembari menawarkannya kepada teman-teman lainnya.


"Dia tampan banget!!" Bisik seorang wanita yang satu kuliah dengannya, bernama Dinda kepada temannya.


"Iya, deketin deh! Gue jamin lu pasti di terima langsung!" Ujar teman wanitanya.


"Iyalah! Sudah pasti! Karena kan gue cantik dan imut!" Ujar Dinda, mahasiswi berambut panjang sepinggang.


Dengan bando bunga yang senantiasa menempel di atas pucuk kepalanya sebagai ciri khas dirinya.


"Ups! Sorry!" Ujar Gabriel, saat dirinya sedang menyeruput kopi yang panas dan tanpa sengaja memuncratkannya ke arah baju tebal yang Dinda kenakan.


"Ish! Udah dandan secantik ini, tubuhku jadi bau kopi karenanya!" Batin Dinda kesal, namun usaha untuk mendapatkan Gabriel lebih besar dari pada rasa kesalnya.


"Gue akan maafkan! Tetapi ... Dengan satu syarat!" Ujar Dinda lantang.


"Apa?" Tanya Gabriel, yang terlihat tak peduli saat melihat Dinda mengibaskan rambut panjangnya.


"Lu! Harus menembak gue di depan teman-teman untuk menjadi pacar lu!" Ujar Dinda, dengan menarik kecil sudut bibirnya ke arah teman perempuannya, sombong.


"Wih! Sombong dia!" Bisik teman-teman wanitanya yang tertawa kecil sembari menonton seperti apa kelanjutannya.


"Sorry! Gue dah punya cewek!" Ujar Gabriel, dengan menatap sinis ke arah Dinda yang berkali-kali mengibaskan rambutnya.


"Siapa?!" Tanya Dinda yang marah mendengar jawaban Gabriel kepadanya.


"Dia ... Lebih cantik dari pada dirimu!" Ujar Gabriel, seraya menoleh ke arah teman lainnya yang memanggil namanya.


"Woy! Gabriel! Sini!"


"Iya! Gue ke sana!" Jawabnya seraya berjalan meninggalkan Dinda yang mematung di tempat.


"Cih! Dasar lelaki tidak tahu diri! Jarang-jarang ada berlian secantik ku ini bisa di dapatkan!" Gumam Dinda, yang di dengar oleh Gabriel.


"Cih! berlian? dari hongkong kali! mana ada berlian yang di dapatkan dengan sangat mudah sepertimu yang murahan!" Batin Gabriel tanpa menoleh.


"Puuftt! Hahaha!" Teman perempuannya yang sudah tidak tahan menahan tawa akhirnya mereka tertawa dengan terbahak-bahak tanpa henti.


"Kalian!! Menertawakan Ku?!" Kesal Dinda, seraya berlari ke arah mereka sembari memukuli pelan tubuh mereka.


"Hahaha! Bisa-bisanya Dinda, cewek cantik jelita seperti mutiara di tolak mentah-mentah sama cowok tampan! Hahaha!" Ujar temannya, yang bernama Mia.


"Ih! Gue benci kalian!!" Tegas Dinda, sembari memeluk pohon di sebelahnya untuk menutupi wajahnya yang telah merah merona karena malu.


"Hahahaha! Pipinya udah merah pastinya itu!" Ujar Mia, yang membuat Dinda memukuli wajahnya tanpa menoleh.


"Ada apa?" Tanya Gabriel, kepada teman-temannya dan Indra yang berada di sana.