Snouw White's magic

Snouw White's magic
EPS 22# KURSI ES?



"Kemana Rani?! apakah kamu yang telah menghilangkannya?!" ujarnya lagi, sembari memukuli dada bidang Fex dengan derai air bening yang terus saja membasahi pipi chubby nya.


Bugh! Dengan lembut Fex langsung menarik tubuh Alfarani masuk kembali ke dalam dekapannya, seraya mengelus lembut kepala pucuknya yang berbalut hijab.


"Jangan mengingatnya ... engkau hanya akan bersedih bila mengingat hal ini ..." lirih Fex, dengan elusan lembut tangannya itu tubuh Alfarani seketika tidak sadarkan diri.


"Lupakanlah segalanya ..."


Drept! "Hah! apa yang terjadi?" batin Alfarani terkejut, saat terbangun sembari melihat sekelilingnya, dan ternyata dirinya sedang berada di dalam tenda.


"Sudah jam berapa sekarang ...?" lirihnya seraya mengambil hp miliknya di sebelah bantal, dan jam tersebut menunjukkan pukul 04:00 WIB.


"Mengapa setelah terbangun ... aku tidak mengingat apapun yang ada di dalam mimpiku tadi?" batin Alfarani, seraya menoleh ke arah Kiana di sebelahnya yang tertidur pulas.


"Dia terlihat sangat kelelahan ..." batinnya seraya memakai jaket tebal berbulu miliknya lalu berjalan keluar dari tenda.


Terlihat sebuah api unggun di tengah-tengah tenda dengan ke adaan masih menyala, membuat Alfarani berjalan mendekatinya untuk mencari kehangatan.


"Udara di sini sangat dingin! Aku harus mencari aliran sungai untuk diriku mengambil wudhu sebelum melaksanakan sholat tahajjud ..." lirihnya sembari berjalan mencari tujuannya.


Di saat dirinya tengah berjalan menelusuri pepohonan dengan di temani lampu senter dari hp miliknya


Serta tangannya yang juga berkali-kali di gosokkan satu sama lain, dirinya mendengar suara aliran sungai dari arah barat.


"Mengapa lama kelamaan ... semakin terasa dingin?!" batin Alfarani, dengan tubuh menggigil kedinginan ia terus berjalan menuju asal suara tanpa tahu tempat apa yang ia lewati.


Sherp! Namun, setelah dirinya berhenti menggosokkan kedua telapak tangannya. Suara aliran sungai yang deras tadi seketika menghilang.


"Kemana suara itu?!" gumamnya kebingungan, seraya mengarahkan senter ponselnya ke bawah.


Whuss ... Angin dingin berhembus dengan kencang bagaikan menyisir di setiap kulit-kulit Alfarani dengan lembut nan terasa menusuk tulang-tulang.


"Astaghfirullah ... dingin sekali!" lirihnya dengan ke adaan tubuh menggigil hebat bersamaan dengan tangannya yang ia gosokkan kembali.


Akibat tidak tahan menahan suhu yang ada di sekelilingnya, Alfarani pun berjongkok sembari mengeluarkan hp Frillet agar dirinya bisa melihat dengan jelas,


Karena seperti biasanya, saat menjelang mentari terbit semua pegunungan di kelilingi oleh kabut tebal yang menutupi setiap keindahan apapun yang tercipta di dalamnya.


Dirinya pun yakin, jika sekarang dirinya tengah berada tak jauh dari tenda miliknya serta kawan-kawannya.


Namun ... di saat dirinya melihat sekelilingnya lewat perantara hp Frillet, tenda miliknya serta temannya itu pun menghilang, tak ada di sekitarnya.


"Aku berada di mana?!" batin Alfarani ketakutan, saat melihat sekelilingnya terdapat pepohonan tinggi nan hitam hingga rantingnya membentuk sesuatu yang menyeramkan karena tak berdaun sedikitpun.


Pohon-pohon besar berdiri berjejer seakan ingin menelannya dalam kegelapan, ia pun merasa takut dan kebingungan.


"Apa yang harus hamba lakukan, Ya Allah?" lirihnya tak berdaya dengan tubuhnya yang terjatuh lemas menduduki sesuatu yang dingin.


Brukk! "Dingin! ada apa ini?!" batinnya, secara refleks langsung berdiri kembali lalu melihat ke arah bawahnya.


"Kursi yang terbuat dari es batu?" ujarnya terkejut melihat es batu yang cukup besar dan secara tiba-tiba terbentuk menjadi sebuah kursi megah nan mewah.


"Sejak kapan ada kursi es di sini?" batin Alfarani keheranan karena sebelumnya ia melihat jika di sekelilingnya hanyalah kosong nan gelap saja.


Bongkahan es itu bagaikan terbentuk sendiri menjadi sebuah kursi megah nan mewah saat dirinya mengetahui sang putri ingin terduduk.