Snouw White's magic

Snouw White's magic
EPS 37# BEREBUT?



'Queen dari kerajaan Li, sang putri salju!'


Di tempat camping sekelompok para mahasiswa di puncak gunung Gracia.


Terlihat Alfarani terbaring dalam ke adaan tak sadarkan diri untuk kedua kalinya di dalam tenda.


Setelah hal tak terduga terjadi semalam, selang beberapa jam lamanya, Gabriel dan Alfarani telah keluar di saat portal Ruang kegelapan telah hancur dan mereka kembali ke tempat camping saat para temannya tengah tertidur pulas.


Kecuali, Indra. yang tak bisa tidur lalu beranjak bangun saat mendengar suara orang terjatuh di luar tenda.


"Gabriel!" ujarnya tak percaya, saat melihat Gabriel yang sedang menggendong tubuh Alfarani setelah mereka terdorong keluar dari portal Ruang kegelapan yang sebelumnya terbuka di dalam kegelapan hutan.


"Bantu, gue!" ujar Gabriel, saat Indra menghampirinya dengan wajah berseri-seri.


Indra membantunya dengan membuka resleting salah satu tenda kosong milik Gabriel di sana,


Setelah Gabriel menaruh tubuh Alfarani secara perlahan di dalam tenda, ia pun keluar. Indra yang tak bisa menghilangkan rasa khawatirnya itu langsung saja memeluk tubuhnya dengan erat.


"Jangan pergi seperti itu lagi!" tegas Indra di dalam pelukannya.


Gabriel mengernyitkan dahinya dan tak membalas pelukannya, ia hanya terdiam dengan rasa ke canggungannya.


"Apa ini ..., tidak ada yang salah?" gumam Gabriel, seraya mendorong perlahan tubuh Indra.


Wajah Indra terlihat sangat memperihatinkan, seperti seorang anak kecil laki-laki yang kehilangan bonekanya.


"Hey! jangan bilang Lo suka sama gue?!"


"Hah?! apaan ..., enggaklah!" ucap Indra yang juga menjadi merasa geli berada di dekat tubuh Gabriel.


"Hahaha! gue kira Lo, gay!" Gabriel tertawa terbahak-bahak, membuat telapak tangan Indra menutup mulutnya.


"Jangan berisik! semuanya sedang tidur ..," ujar Indra dengan matanya celingak-celinguk melirik satu persatu tenda di sekeliling mereka, dan ternyata tak ada pergerakan apapun.


"Ekhem!" Gabriel Berdehem, membuat Indra menoleh ke arahnya.


Kedua bola mata Gabriel melirik ke arahnya dan telapak tangannya yang menutupi mulutnya secara bergiliran, sebagai isyarat.


"Astaga! menjijikkan sekali!" ujar Indra, seraya mengelapkan telapak tangannya yang telah terkena ludah Gabriel ke bajunya.


Saat menjelang pagi, semua orang telah bersiap-siap untuk pulang untuk kembali melakukan perjalanan yang cukup jauh nan melelahkan pastinya.


"Siapa yang membawa Alfarani?" tanya wanita ber tahi lalat di bawah matanya, saat melihat Alfarani yang masih tak sadarkan diri di dalam tenda Gabriel.


"Gue saja!" ujar seorang pria, yang sebelumnya mengajak Alfarani untuk sholat.


Ia segera berjalan mendekati tenda Gabriel seraya berjongkok untuk menaruh tubuh Alfarani di atas punggungnya dengan bantuan wanita ber tahi lalat itu.


Setelah tubuh Alfarani telah menempel di belakang punggungnya, ia segera menggendong tas ransel yang cukup besar miliknya di depan.


"Berhenti!"


Saat dirinya telah berdiri, ada seseorang yang mengeluarkan suara yang cukup keras ke arahnya.


"Turunkan, dia kembali!" tegas Gabriel, kepada pria tersebut setelah dirinya berjalan menghampiri mereka.


Pria itu menoleh ke arahnya dengan sinis, "Apa Lo bisa di percaya untuk membawanya?!" tanya pria itu, yang merasa curiga dengan apa yang akan di lakukan Gabriel saat Alfarani berada di sisinya.


"Bisa! sekarang, turunkan dia!" tegas Gabriel, namun pria itu tetap saja diam dan tak menurutinya.


"Tidak! kau, tak bisa di percaya!" tegas pria tersebut, kini pandangan mereka saling bertemu dengan tatapan tajam nan mencurigai satu sama lain.


"Kau, juga! tidak dapat di percaya!" tegas Gabriel dengan suara serak nan berat.


Wanita ber tahi lalat itu, yang berada di tengah-tengah mereka, menyadari satu hal yang pasti. Bahwa, mereka berdua sama-sama menyukai Alfarani.


"Sudah, sih! enggak usah di isyaratkan terus menerus! gue tau kok, kalau kalian sangat menyukai Alfarani. 'ya, kan?" ujar wanita tersebut, yang sengaja mengencangkan nada suaranya.


Dan membuat Gabriel langsung menutupi mulutnya dengan telapak tangan, "Pelan kan suara Lo!" bisiknya.


Tanpa mempedulikan ucapan yang di lontarkan wanita ber tahi lalat itu, pria tersebut langsung saja pergi menggendong tubuh Alfarani menjauh dari mereka.


"Woy! mau di bawa kemana?! awas saja bila kau bermacam-macam dengannya!" teriak Gabriel saat melihat pria itu membawa Alfarani keluar dari tempat camping, ia pun segera mengikutinya.


Semua teman-temannya yang menyadari kelakuan aneh dari kedua lelaki yang tengah di landa asmara oleh seorang wanita Sholeha, hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Kecuali, Dinda!


'Wanita itu lagi!'


Setelah sampai di tempat yang sangat indah, pria itu menaruh tasnya di tanah lalu terduduk di atas batu besar yang berada di pinggir sungai bersama Alfarani yang masih setia berada di punggungnya.


"Woy!" ujar Gabriel, yang tak di gubris oleh pria itu.


Gabriel menghampirinya dengan berdiri di atas batu besar tersebut seraya berkata, "Sebenarnya ..., gue telah menyukainya selama bertahun-tahun lamanya setelah kejadian gempa bumi yang di mana melanda sekolah SMP kami,"


"Setelah hari di mana ia di nyatakan hilang setelah kejadian itu, hatiku terasa remuk saat setengah jiwa semangatku untuk hidup telah pergi meninggalkanku selamanya ..., Namun, hatiku tetap setia menyimpan namanya di lubuk hatiku yang paling dalam,"


Pria itu terdiam, menatap aliran sungai yang deras.


"Dan kini aku dapat melihatnya kembali, dan tanpa ia sadari, ia sedang berada di punggung seorang pria yang sangat aneh!" ujar Gabriel, dengan penuh tekanan saat kata terakhirnya.


Pria itu masih saja tak menjawab, ataupun melirik sekilas ke arahnya.


Gabriel yang tak mendengar jawaban apapun darinya, menjadi terdiam menatap lekat-lekat wajah cantik Alfarani yang terlihat sangat dekat di sebelahnya karena wajah sang bidadari itu mengarah ke arahnya.


"Pufftt ..., Hahaha!!" setelah beberapa menit lamanya pria itu terdiam, ia akhirnya tertawa terbahak-bahak.


"Apa yang lucu?" tanya Gabriel, kini pandangannya melihat ke arah wajah pria itu.


"Sejak kapan, Lo dan gue saling berbicara dengan sebuah ucapan 'Aku?" tanya pria itu, sembari mengarahkan senyuman kecil ke arah Gabriel.


Gabriel terdiam dengan kedua bola matanya mengarah ke seseorang yang tengah bersembunyi di balik pohon besar, di sebrang sungai dengan jarak yang cukup jauh.


"Siapa itu ...?" gumam Gabriel,


Pria itu menarik kembali senyumannya, sembari menoleh ke arah yang di lihat oleh Gabriel.