Snouw White's magic

Snouw White's magic
EPS 33# ADA SESUATU DI BELAKANGMU!



'Semoga saja tulang punggungnya tidak patah, setelah menggendong tubuh Niko,' batin Kirana sembari memakan makanan miliknya, yang terdapat beberapa buah serta tempat nasi yang ia siapkan sebelum pergi.


SREK! "Berat banget! dia makan apa sih?!" ngeluh Kirana setelah dirinya selesai makan, ia harus menyeret tubuh Rendra yang tinggi nan kurus, dengan kedua tangan Rendra pun yang bergelantungan di bahunya.


"Kita harus cepat! malam akan segera tiba!' tegas Vania, saat melihat mentari telah berganti warna menjadi oranye di ufuk barat.


Waktu telah menunjukkan pukul 17:45 WIB. Setelah kembali sampai di tempat camping, Vania dan Kirana menaruh tubuh kedua laki-laki tersebut di dalam salah satu tenda tanpa melihat sekitarnya.


Baru saja pandangan mereka mengedar ke sekelilingnya, dahi keduanya mengernyit keheranan.


"Kemana semuanya pergi?" tanya Vania serta Kirana secara bersamaan, dengan saling menatap tak percaya satu sama lain.


"Apakah mereka pulang lebih dulu, tanpa menunggu kita?!" gertak Vania sangat kesal, seraya berjalan memeriksa semua tenda satu persatu untuk memastikannya.


Pandangan Kirana teralihkan ke arah sekumpulan barang-barang dirinya serta Teman-temannya yang tergeletak di sisi kanan tenda milik Rendra, yang sebagai tempat perkumpulan barang.


Bahwa di sana, tidak ada satupun barang yang hilang ataupun di bawa oleh pemiliknya karena ia sangat jelas mengetahui barang-barang penting yang di gunakan bagi teman-temannya.


'Tetapi, mengapa barang-barangnya ... masih sangat lengkap?' batinnya keheranan, seraya berjalan perlahan ke arah sekumpulan barang tersebut.


"CK! dasar para pengkhianat!" teriak Vania, setelah mengecek semua tenda. Yang ternyata memang benar-benar kosong, tidak ada siapapun.


"Van ....," ujar Kirana, dan membuat Vania yang kakinya sedang menendang-nendang setiap atap tenda milik Teman-temannya itu, langsung menoleh kearahnya.


"Ada apa?"


"Ke Marilah ...," ujar Kirana, yang membuat Vania berjalan mendekatinya dengan penuh tanda tanya.


"Lihatlah ini ...," ujarnya lagi, sembari memperlihatkan sebuah gambar foto yang di ambil oleh mereka di saat awal sampai di puncak, ada sesuatu menyeramkan tengah bersembunyi di balik tubuh Alfarani!


DEGH! 'Alfarani?!' batin Vania dengan pandangannya melirik ke arah kedua bola mata Kirana dari samping, yang terlihat telah berkaca-kaca.


'Semoga Alfarani selalu berada di dalam lindungan mu, Ya Allah ...,' batin Kirana yang tak kuasa menahan rasa takut dan khawatir di dalam dirinya, tentang hal yang akan terjadi kepada Alfarani.


Vania memeluknya dengan erat, "Doakan saja yang terbaik untuknya ...," ujarnya lembut, yang membuat kedua pelupuk mata Kirana secara perlahan meneteskan air bening hingga melewati pipinya.


Di lain tempat, lebih tepatnya di tempat camping Teman-temannya Gabriel.


Gabriel menatap punggung Alfarani yang terduduk dengan melamun di depan api unggun di saat mentari telah terbenam dan waktu magrib pun tiba.


'Sebenarnya ... apakah di tempat ini, ada orang yang kukenal walaupun hanya satu?' batin Alfarani yang masih bingung, mengapa ia tidak mengingat siapapun di sini, sedangkan ia berada di sisi mereka?


الله أكبر!


الله أكبر!


"Sudah adzan! bagi yang beragama muslim, mari kita sholat berjamaah bersama," ujar seorang lelaki yang keluar dari tendanya, seraya menghampiri Alfarani.


"Siapa namamu?" tanyanya dengan mengulurkan tangan ke arah Alfarani.


"Alfarani," jawab Alfarani dengan mengatupkan kedua tangannya.


"Sholat, yuk?"


"Baiklah ..., wudhu nya di mana, ya? tanya Alfarani bingung, yang tak tahu tempatnya.


"Mari ..., saya antar kan," jawab lelaki tersebut, seraya mengajaknya ke seseorang yang bertugas menjaga persediaan air agar lebih hemat.


'Andaikan, diriku menganut Islam, sudah pasti diriku yang di lemparkan senyuman kecil manisnya itu ...!' batin Gabriel yang merasa kesal, saat menyadari Alfarani menarik sedikit sudut bibirnya untuk pertama kalinya kepada seorang lelaki non mahramnya.


Di saat Alfarani berwudhu pada bagian membasuh muka yang ketiga kalinya, seakan ingatannya kembali berputar dengan cepat dari saat ia bertemu dengan para kurcaci hingga bertemu dengan Fex.


'Astagfirullah!' batinnya yang terkejut, dengan tubuhnya yang sekejap berhenti untuk mengingat kembali ingatan yang muncul tersebut.


"Ada apa?" tanya seorang wanita berkaca mata, saat sedang memegangi sebotol air di tangannya yang di tuangkan kepada tangan Alfarani untuk berwudhu.


Karena berwudhu sambil berbicara hukumnya makruh. Alfarani hanya menggeleng, seraya melanjutkan wudhu nya sampai tuntas lalu berdoa selepas wudhu.


أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ اجْعَلْنِى مِنَ التَّوَّابِينَ وَاجْعَلْنِى مِنَ الْمُتَطَهِّرِينَ


Asyhadu allaa ilaaha illallah wahdahu laa syariika lahu. Wa asyhadu anna Muhammadan Abduhu wa rasuluhu. Allahumma-j alnii minat tabinna waj alnii minal mutathohiirina waj alni min ibadati shalihin.


Di saat Alfarani berjalan membelakangi wanita itu, kedua bola mata wanita tersebut terbelakak kaget melihat ada sesuatu menyeramkan tengah mengikuti Alfarani dari belakang.


"ADA SESUATU DI BELAKANGMU!" tegas wanita berkaca mata itu, yang membuat Alfarani menoleh ke arahnya.


"Hahh?!" wanita berkaca mata itu langsung pingsan, tak sadarkan diri dengan tubuhnya yang terjatuh ke tanah serta sebotol air ditangannya itu pun tumpah.


BRUUK!